Istri saya ngentot cowok lain dikamar pengantin kita

Istri saya ngentot cowok lain dikaman pengantin kita, cerita sex, seks dewasa, cerita porno | Opi melonjak – lonjak gembira melihat ayahnya pulang, tapi pria yang duduk di kursi roda itu bereaksi negatif, dia diam saja tanpa ekspresi, tangannya bergerak lemah mengelus rambut Opi dengan wajah masam. Melihat wajah lesu suaminya Alisa menggigil menahan emosi, ingin rasanya dia menangis melihat Hendra yang terus saja memperlihatkan ekspresi pahit terutama kepada dirinya.


Tapi apa yang bisa dia lakukan? Dia hanya mampu memberikan dorongan doa agar suaminya itu bisa cepat sembuh dan kembali menjadi suaminya seperti Hendra yang dulu. Beberapa hari sebelum pulang Hendra sudah mulai bisa tersenyum dan bercanda, lalu entah kenapa, tiba – tiba saja senyum itu hilang dan berganti dengan kemuraman dan wajah penuh emosi yang tidak berkesudahan. Dalam hati kecilnya Alisa merasa Hendra memendam kekecewaan dan rasa marah kepadanya, tapi kenapa?

Cerita dewasa Kamar pengantinku yang ternoda vagina masuk istri yang selingkuh payudara ku dihisap
Klik untuk memperbesar gambar

Atas ijin dokter, Hendra sudah diperbolehkan pulang dan menerima rawat jalan, karena pertimbangan finansial dan kenyamanan, pihak keluarga membawa Hendra pulang hari ini. Sayangnya entah kenapa Hendra yang pada hari – hari terakhir memperlihatkan wajah optimis berubah total, ia terlihat enggan pulang ke rumah. Ketika Dodit menanyakan hal ini pada Alisa, istri Hendra itu hanya bisa menggeleng dan mengangkat bahu tanda tak tahu. Alisa sudah mencoba menanyakannya langsung tapi Hendra tak menjawab, ia bahkan menggeram marah ketika Alisa terus bertanya. Itu sebabnya Alisa memilih diam dan berpura – pura semua baik – baik saja. Ia yakin suatu saat nanti, Hendra akan kembali seperti semula. Paling tidak Hendra sudah pulang ke rumah.

"Tas – tasnya Bapak langsung dibawa ke kamar, Bu?" tanya supir yang membawa tas berisi baju dan perlengkapan Hendra.

"Iya, Mas Rudi." Angguk Alisa. "Letakkan saja di samping tempat tidur Bapak, nanti biar saya yang membereskan."

"Baik, Bu." Kata Rudi sambil bergegas membawa barang – barang itu masuk ke dalam rumah.

Rudi? Ya. Rudi yang dulunya adalah penjual bakso keliling kini telah resmi diangkat sebagai supir keluarga Hendra. Alisa memutuskan untuk menyewa Rudi karena kondisi Hendra yang masih memerlukan perawatan secara intensif. Dia tidak mempercayai Pak Bejo untuk melakukan tugas – tugas yang penting lagi, itu sebabnya dia menyewa Rudi. Memang tidak mudah mempercayai orang yang baru saja ia kenal, tapi Rudi sudah mengenalkan diri dan jujur tentang masa lalunya. Setelah beberapa kali membeli bakso dan akrab dengan Rudi, Alisa memutuskan bahwa lelaki tua kurus ini orang yang dapat dipercaya. Tentu saja Rudi tidak pernah mengatakan kalau dia adalah mantan napi sehingga memperoleh kepercayaan Alisa.

Rudi memang orang asing bagi keluarga Alisa, tapi mungkin akan lebih baik menyewa orang asing yang benar – benar membutuhkan pekerjaan daripada membiarkan pria brengsek seperti Pak Bejo merajalela di rumahnya. Masa lalu Rudi yang masih simpang siur, memang membuat Alisa sedikit merasa was – was, tapi pada dasarnya setiap orang bisa berubah, kenapa tidak memberi kesempatan pada orang ini untuk membuktikan kesungguhannya bekerja pada Alisa dan keluarga? Tentu saja Rudi tidak lantas dengan mudah menceritakan masa suramnya ketika harus mendekam di bui. Ia sengaja menyimpan cerita itu untuk dirinya sendiri, karena kalau sampai Alisa tahu, sudah pasti dia tidak akan bekerja bagi ibu muda yang sex i itu lagi.

Karena berbagai pertimbangan pula, Alisa meminta Rudi tinggal di kamar pembantu yang ada di kebun belakang, sebuah kamar yang terpisah dari rumah utama.

Rudi bersiul sambil membilas Toyota Avanza milik Alisa dengan riang gembira. Lagu – lagu ceria ia dendangkan dengan siulan merdu. Ia akan membuat mobil ini bersih dan cantik seperti majikannya. Panasnya terik matahari yang bersinar tak membuat mantan napi itu gerah, ia bahagia sekali bisa bekerja sebagai supir pribadi Alisa. Walaupun baru memperoleh pekerjaan itu selama beberapa hari, tapi Rudi berniat akan menjadikan pekerjaan ini pekerjaan terakhirnya. Kalaupun gagal dan dipecat, paling tidak sekali dalam hidupnya ia bisa tinggal di rumah yang sama dengan wanita secantik Alisa. Siapa yang tidak ingin selalu berada di dekat seorang wanita yang semolek bidadari?

Rudi bekerja dengan gembira, ia mengoleskan sabun, membilas, menyemprot dan membersihkan mobil dengan perasaan berbunga. Pekerjaan sudah hampir selesai ketika hari mulai siang.

Saat itulah sebuah suara serak mengagetkannya.

"Siapa kamu? Ngapain kamu di sini?"

Rudi berbalik ke belakang dan melihat sesosok tubuh gemuk menghampirinya. Ini dia orangnya, Bejo Suharso. Orang yang ia lihat malam itu, preman kampung yang meniduri Alisa di pos kamling tempo hari. Orang yang telah membuat kehidupan Alisa berubah menjadi neraka. Pandangan kedua laki – laki itu segera beradu, tapi karena teringat statusnya sebagai orang baru, Rudi memilih untuk mengalah. "Nama saya Rudi, Pak. Saya supir baru di sini."

"Supir baru?" Pak Bejo mulai gelisah, kenapa Alisa menyewa supir baru? Apakah dia dengan sengaja hendak menyingkirkannya? Dasar lonthe tidak tahu diri! Sudah diberi kenikmatan malah mau membuangnya begitu saja! Perek itu harus diberi pelajaran! Pak Bejo berkacak pinggang, "ohhh… kalau begitu perkenalkan, nama saya Bejo Suharso. Saya tinggal di dekat sini."

Kedua orang itu bersalaman dan memegang tangan masing – masing dengan sangat erat. Entah siapa yang memulai, keduanya beradu kuat saat bersalaman, seakan menunjukkan siapa yang memegang kendali. Pak Bejo kaget juga melihat kekuatan Rudi, ia tidak mengira supir kurus itu akan membalas jabat tangannya dengan sekuat tenaga.

"Kalau butuh apa – apa, bilang saja sama saya. Saya sudah sering bantu – bantu kok." Kata Pak Bejo. "Keluarga Pak Hendra sudah saya anggap keluarga sendiri."

"Iya Pak." Walaupun kurus, Rudi tidak kalah kuat dibanding Pak Bejo. Supir baru Alisa itu cuma nyengir sewaktu Pak Bejo menegangkan rahang tanda geram sambil menarik tangan dengan kasar.

Alisa mendesah di ruang kerja, ia menatap layar netbooknya dengan malas. Pekerjaannya menumpuk. Ia memang sudah menduga perawatan Hendra di rumah sakit akan memakan banyak biaya dan waktu, tapi ia tidak menduga pekerjaannya yang tertunda akan menumpuk begitu banyaknya. Alisa meregangkan tangannya ke atas, lelah sekali rasanya. Ah, seandainya saja Mas Hendra mau memijatnya…

Satu tangan gemuk tiba – tiba saja meraih pundak Alisa dan mulai memijit bahunya yang pegal. Awalnya Alisa mengerang lirih karena keenakan, tapi lalu terdiam saat tahu siapa yang datang.

"Capek ya, sayang? Tenang saja. Akan kubuat tubuhmu rileks supaya nanti malam bisa melayaniku sampai pagi." Kata Pak Bejo sambil menurunkan kepala tepat di samping kepala Alisa, tak lupa pria tua itu menyunggingkan senyum menjijikkan. Sambil terkekeh, Pak Bejo mengecup pipi Alisa yang halus.

Alisa berontak ketika ia sadar siapa yang datang. "Tidak perlu. Terima kasih. Pekerjaan saya banyak sekali hari ini. Pak Bejo ada perlu apa? Kenapa masuk ke ruang kerja saya? Jangan lupa sekarang ada Mas Hendra di rumah ini! Pak Bejo tidak boleh berbuat seenaknya lagi!" Alisa berdiri dan melangkah menjauh dari Pak Bejo. Walaupun tubuhnya bergetar karena takut, tapi untuk pertama kalinya sejak diperkosa, ia berani melawan.

Pak Bejo geram, wajahnya memerah karena marah. "Begitu ya sekarang? Berani kamu melawan? Dasar lonthe! Habis manis sepah dibuang! Setelah semua jasa – jasaku selama ini, kamu berani – beraninya menyewa seekor anjing untuk menjaga rumahmu!?"

Ingin muntah rasanya Alisa mendengar Pak Bejo memaki-makinya dan mengungkit-ungkit jasa yang sebenarnya tak ada artinya dibandingkan perlakuan kasarnya pada Alisa. Tapi ibu muda yang cantik itu menahan diri dan berpura – pura bodoh. "Apa maksud Pak Bejo? Menyewa siapa?"

"Siapa laki – laki yang sedang mencuci mobil di luar?"

"Mas Rudi maksudnya?"

"Kenapa kamu menyewa supir baru?"

"Saya butuh supir."

"Buat apa? Kan ada saya?"

"Saya butuh supir yang bisa mengantar Opi dan Mas Hendra kapan saja dibutuhkan. Pak Bejo belum tentu ada setiap hari. Lagi pula…"

Pak Bejo mendengus. "Aku tidak suka orang itu. Kamu pecat saja."

Alisa mengerutkan kening dengan marah. "Pak Bejo! Saya memang sudah Bapak peras habis – habisan, luar dalam, tapi saya tidak mau Pak Bejo mendikte apa yang boleh saya lakukan dan apa yang tidak! Saya bukan budak! Rudi saya sewa karena Mas Hendra masih belum kuat menyetir sendiri! Siapa yang akan mengantarkan Opi? Siapa yang akan merawat mobil? Saya…"

PLAK!!

Bekas tangan memerah terasa perih di pipi Alisa.

"Lonthe tidak tahu diri!" geram Pak Bejo mendekati Alisa. "Kalau aku bilang pecat ya pecat! Susah amat sih!"

Titik airmata siap menetes di pelupuk mata Alisa, tapi istri Hendra itu berusaha tegar. Ia tidak akan mau lagi menjadi bulan – bulanan laki – laki bejat ini. Semua kejadian pahit yang telah menimpanya adalah karena ia dan suaminya menaruh kepercayaan terlalu besar kepada preman kampung ini untuk bisa keluar masuk rumah mereka. Hal itu tidak boleh diteruskan dan tidak boleh terjadi lagi! Cukup sudah!

"Pak Bejo…" desis Alisa dengan segenap kekuatan, suaranya terdengar bergetar karena menahan diri dari rasa takut yang amat dalam. "Saya ingin Bapak segera keluar dari ruang kerja ini dan…"

Pak Bejo tidak tahan lagi. Dengan geram ia mendorong tubuh lemah Alisa ke dinding. Pak Bejo menekan kedua tangan Alisa di belakang punggungnya sendiri. Karena eratnya tekanan Pak Bejo, kedua tangan Alisa terkunci dan tidak mampu digerakkan. Setelah tubuh molek Alisa terkunci, Pak Bejo lantas menjepit leher Alisa dengan lengannya yang gemuk. Istri Hendra itu tidak bisa bergerak. Ia mencoba berontak untuk melawan tapi sia – sia saja, tenaga mereka tidak sebanding. Perbedaan kekuatan jelas terlihat. Pak Bejo telah mengunci tubuhnya.

"Baiklah, manis. Aku tidak tahu sejak kapan kamu punya keberanian untuk melawanku. Apalagi kamu cantik sekali kalau sedang marah. Tapi…" Pak Bejo berbicara dengan nada pelan namun penuh ancaman. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Alisa, si molek itu bahkan bisa merasakan hembusan nafas berat dan bau yang keluar dari hidung dan mulut Pak Bejo, "aku tidak akan mengulang lagi semua yang aku katakan, jadi aku ingin kamu mendengarkan aku baik – baik. Setuju?"

Alisa mengangguk lemah.

Pak Bejo tersenyum menghina. Ia mencoba mencium bibir Alisa, namun ibu rumah tangga yang cantik itu tidak mau membuka mulut, ia terus meronta dan menolak. Sayang desakan lengan Pak Bejo di leher sangat menyesakkan nafasnya, mau tak mau Alisa merintih kesakitan. Ketika mulutnya membuka sedikit, lelaki tua gemuk itu langsung menempelkan bibirnya di bibir mungil Alisa. Pak Bejo bahkan menggigit kecil bibir bawah wanita cantik yang hanya bisa meringis kesakitan itu.

"Besok…" kata Pak Bejo dengan suara berat setelah puas menciumi bibir Alisa, "aku ingin tikus kurus itu mengepak semua barang – barangnya dan meninggalkan rumah ini. Aku tidak peduli bagaimana caranya kamu menyuruhnya pergi, yang penting aku tidak mau melihat muka jeleknya di tempat ini lagi! Mengerti?"

Alisa diam, ia tidak menjawab.

Pak Bejo mendengus, ia mengecup bibir Alisa beberapa kali lagi. "Huh. Alisa… Alisa… apa sih hebatnya orang itu sampai – sampai kamu mempertahankannya mati – matian? Memangnya dia itu siapa kamu? Jangan – jangan kamu juga sudah tidur sama dia? Dasar lonthe… sopir sendiri juga mau."

Alisa meronta lagi dan membelalakkan mata dengan marah. Ia geram namun tak bisa mengeluarkan kata – kata karena lehernya ditekan sangat keras oleh lengan Pak Bejo. Matanya berlinang, air matanya siap tumpah kapan saja.

"Aku kangen sama bibir kamu yang mungil itu. Bukan bibir atas lho, tapi bibir bawah. Ha ha ha ha!" kata Pak Bejo sambil tertawa terbahak. "Nanti malam semprot pakai parfum biar wangi, aku mau pakai kamu sampai pagi! Ha ha ha!"

"Apa ada masalah di sini?"

Terkejut dengan suara yang tiba – tiba saja muncul dan mengagetkannya, Pak Bejo melepaskan kuncian pada Alisa. Setelah berhasil lepas, Alisa langsung menghempaskan diri ke sofa yang berada tak jauh darinya dan terbatuk, ia duduk sambil berusaha menenangkan diri, nafasnya terasa sesak sekali. Alisa memicingkan mata dan menahan lehernya yang sakit. Si cantik itu mencoba melihat siapa yang datang… Mas Hendrakah?

Bukan! Ternyata Rudi!

"Heh, supir! Mending kamu urus urusanmu sendiri! Apapun yang aku omongin sama Bu Alisa sama sekali bukan urusanmu! Tahu!?" bentak Pak Bejo sambil melotot.

Rudi hanya tersenyum melihat pria bertubuh gempal itu membentaknya, mantan napi itu jelas bukan orang yang mudah digertak, ia menjawab bentakan Pak Bejo dengan tenang. "Bu Alisa itu majikan saya. Tentunya sebagai karyawan yang baik dan mengabdi, saya tidak ingin ada hal – hal yang buruk menimpa beliau." Pandangan mata Rudi menusuk tajam ke arah Pak Bejo. Keduanya saling menatap, siap mengeluarkan pukulan. Suara Rudi berubah menjadi geram, wajahnya mengeras. "Bukan begitu, Pak Bejo?"

Alisa ketakutan sekaligus bingung melihat situasi ini, keributan sedikit apapun akan mengundang perhatian Mas Hendra yang sedang berisitirahat walaupun kamarnya jauh dari ruang kerja Alisa, kedatangan Mas Hendra kemari saat itu adalah hal terakhir yang ingin dia lakukan. Ia tidak ingin Hendra tahu perbuatan bejat Pak Bejo kepadanya selama ini. Alisa mendorong Rudi dan Pak Bejo yang sudah sangat dekat dan saling mengancam agar menjauh satu sama lain. "Sudah! Sudah! Kalian bisa membuatku gila kalau begini caranya, tolong pelankan suara kalian! Mas Hendra dan Opi ada di dalam! Kalau kalian mau ribut, bukan di sini! Jangan sekarang!"

"Baiklah." Pak Bejo mendesah, "tapi kalau boleh aku memberi usul, lebih baik supir baru ini diberi pelajaran tambahan soal tatakrama, Bu Alisa. Apalagi di kampung kita dia bukan siapa – siapa. Aku tidak ingin ada hal – hal yang buruk menimpanya. Kecelakaan sering terjadi di wilayah ini."

Rudi menggemeretakkan gigi dengan geram, dia tahu itu ancaman, tapi melihat wajah Alisa yang menatap mereka khawatir, dia diam saja. Demi majikan yang sangat ia kagumi, Rudi mengalah.

Pak Bejo melangkah dengan penuh kemenangan meninggalkan ruang kerja, dengan sengaja ia menyenggol pundak Rudi sambil meringis menantang. Pak Bejo berjalan keluar rumah dengan bersiul – siul santai.

Tetes air mata mulai leleh di pipi Alisa. Betapa lelahnya ia dengan semua ini, betapa inginnya dia lepas dari semua masalah yang membebani pikirannya. Perih pula rasanya tamparan Pak Bejo yang masih terasa menyengat di pipinya.

"Maaf kalau saya lancang, Bu. Tapi tadi saya sudah mencuri dengar percakapan Ibu dengan Pak Bejo, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Rudi dengan lembut. "Benarkah…"

Alisa kaget mendengar pertanyaan nekat dari supirnya itu, ia bangkit dan mengusap air matanya yang menetes. Wajahnya yang cantik berubah menjadi ketus, "Dengar baik – baik, Mas Rudi. Aku ingin kamu tahu kalau aku bisa mengatasi semua persoalanku sendiri. Aku tidak suka karyawanku tahu rahasia – rahasiaku, jadi lebih baik kau lupakan semua yang kamu dengar hari ini, atau besok kamu angkat barang – barangmu dan pergi dari rumah ini! Mengerti?"

Rudi kaget, tapi ia lalu tersenyum lembut karena tahu tentunya saat ini Alisa sedang kacau dan sangat kalut. Wanita jelita itu tentunya masih sangat terbawa emosi. "Saya tidak berani lancang. Tentu saya tahu apa yang harus saya lakukan, Bu. Saya tidak akan mengungkit kejadian ini lagi di masa mendatang. Ibu bisa percaya pada saya."

"Bagus!"

Alisa meninggalkan Rudi sendiri, ia berjalan keluar dengan langkah tegas, tapi getaran kaki Alisa tidak bisa mengelabui Rudi.

Pria tua itu duduk di sofa dengan tenang sambil menatap kepergian majikannya yang jelita. Ia tidak peduli apa yang akan terjadi besok, ia harus menolong si cantik itu lepas dari genggaman Pak Bejo yang bejat. Kalaupun ia harus dipecat karena usahanya, ia tidak akan menyesal karenanya.

Ia harus melakukannya, karena sejak melihat Alisa di Pos Kamling malam itu, Rudi telah jatuh cinta.

Ia akan melawan Pak Bejo. Demi Alisa.

Alisa ambruk di ranjang kosong di dalam kamarnya dan menangis tersedu – sedu. Bagaimana caranya dia bisa lepas dari semua ancaman Pak Bejo? Dia tidak ingin disakiti lagi, dia tidak ingin diperkosa setiap hari. Tapi kalau dia nekat melawan Pak Bejo, dia khawatir akan keselamatan Opi dan Mas Hendra, belum lagi di rumah ini juga ada Anissa dan Dodit. Preman kampung seperti Pak Bejo selalu mengancam keselamatan keluarganya, oleh karena itu Alisa tidak berani berbuat gegabah. Apa dia harus pindah rumah? Alasan apa yang sebaiknya disampaikan pada Hendra agar mereka bisa pindah dari lingkungan ini tanpa membuka semua nista yang telah ia perbuat? Bagaimana caranya meyakinkan Mas Hendra agar pindah ke tempat lain tanpa membuka aib bahwa istrinya sendiri telah diperkosa?

"Kamu kenapa?"

Alisa berbalik, ia terkejut mendengar suara itu… suara Mas Hendra!

"Mas?"

Di hadapan Alisa, Hendra yang sedang duduk di atas kursi rodanya tengah menyantap setangkup roti tawar dengan keju, ia baru saja kembali dari ruang tengah menonton acara TV kesukaannya. Walaupun wajah Hendra masih ketus dan sepertinya acuh tak acuh, tapi Alisa senang sekali! Ini pertama kalinya sejak mereka pulang ke rumah suaminya mau menyapa!

"Kamu sudah lebih baik, Mas?" tanya Alisa dengan semangat, "akan aku buatkan lauk untuk makan ya. Sepertinya Mas sangat lapar…"

"Aku tadi tanya kamu kenapa." Nada suara Hendra sama sekali tidak enak didengar, ketus dan keras.

"A – aku tidak apa – apa… mungkin hanya kecapekan." Jawab Alisa dengan gugup.

"Ya sudah." Hendra mengayuh roda kursinya dengan tangan, berbalik, dan meninggalkan Alisa sendirian saja di kamar.

Alisa menatap kepergian suaminya dengan wajah sendu.

"Mas…?"

Tidak ada jawaban, Hendra telah pergi tanpa mempedulikannya.

Alisa menundukkan kepala. Tubuhnya ambruk ke lantai dan ia kembali menangis tersedu – sedu. Kenapa di saat satu hal kacau, yang lain juga jadi ikut berantakan?

Alisa meregangkan tangannya yang pegal. Saat ini ia sedang duduk di kursi yang berada di beranda halaman belakang rumah, tempat yang langsung menghadap ke kebun belakang. Kebun belakang ini cukup luas dan dikitari oleh tembok tinggi yang mengisolasinya dari tetangga sekitar, tidak akan ada tetangga yang bisa melihat keadaan di kebun Alisa yang asri. Hijaunya tanaman, harum wangi bunga yang semerbak, burung yang berkicau dan selintas hinggap, serta langit yang biru cerah, membuat suasana hati Alisa lebih riang dari biasanya.

Hari ini wanita cantik yang juga seorang wanita karir itu sedang libur. Dodit dan Anissa pergi mengantarkan Mas Hendra check – up rutin di rumah sakit sedangkan Opi sudah diantar Rudi ke sekolah. Akhirnya ia bisa istirahat sebentar tanpa gangguan dari siapapun. Setelah beberapa saat melihat suasana kebun belakang yang menyejukkan, ibu muda yang jelita itu memutuskan untuk melakukan senam sebentar. Semua stress yang harus ia hadapi membuatnya lelah, ada baiknya dia melepas semua penat dengan berolahraga.

Alisa mengenakan tanktop putih ketat yang menampilkan kemolekan lekuk tubuhnya, tanktop mungil itu hampir – hampir tidak sanggup menahan kemontokan buah dada Alisa yang ukurannya cukup lumayan, ia memang sengaja mengenakan tanktop agar bisa lebih rileks berolahraga, karena ketatnya tanktop, Alisa sengaja tidak mengenakan bra. Selain tanktop, sebuah celana ketat pendek yang juga berwarna putih ia kenakan agar lebih mudah bergerak. Paha Alisa yang putih mulus bagai pualam terlihat sangat sex i dalam balutan seadanya celana mini yang sangat ketat itu.

Hari ini ia tahu tidak akan ada seorangpun yang bisa masuk ke rumah, termasuk Pak Bejo yang tengah pergi keluar kota karena ada urusan keluarga, jadi ia benar – benar sedang sangat bebas. Itu sebabnya dia berani mengenakan baju ketat ini.

Sambil memasang headset di telinganya, Alisa menyalakan IPod untuk memutar lagu sembari ia berolahraga. Untuk beberapa saat lamanya, Alisa berlari di tempat atau memutar kebun, melakukan peregangan badan, lalu berlari lagi, senam sebentar, angkat berat sedikit, meregangkan badan lagi, lalu berlari lagi. Ia melakukannya berulang kali, lebih lama dari waktu yang dianjurkan.

Seandainya ada orang yang melihat, mereka pasti akan heran melihat olahraga yang dilakukan Alisa. Ada kesan kalau si cantik itu tidak hanya sekedar melakukan olahraga namun mendorong kemampuannya melebihi batas maksimal, seakan hendak menghukum diri sendiri entah atas alasan apa. Dampaknya jelas terlihat, karena memaksakan diri, keringat mulai deras mengalir di pelipis Alisa, jauh lebih deras dari keringat biasa. Nafasnya kembang kempis dan tidak teratur, jantungnya juga berdebar lebih kencang.

Alisa tidak mau tahu dengan kondisi badannya yang mulai tidak karuan, ia makin memaksakan diri. Ia hanya menganggap kalau itu semua terjadi hanya karena akhir – akhir ini ia jarang berolahraga. Sayangnya ia lupa kalau manusia tetap punya batasan. Tubuhnya terlalu lemah dan pikirannya sudah terlalu lelah. Ia tidak sadar kalau ia belum mampu berolahraga seberat itu.

Perlahan, Alisa makin lemah. Badannya makin susah digerakkan. Pandangan matanya kian berkunang – kunang, semuanya jadi kabur. Kepalanya juga sangat berat dan pusing sekali. Entah kenapa rasanya Alisa ingin tidur saat ini juga.

Lalu semuanya gelap.

Alisa pingsan di kebun rumahnya.

Alisa mencoba membuka matanya, tapi rasanya berat sekali. Ia mendengar suara seseorang memanggilnya. Di mana ini? Kenapa berat sekali rasanya bangkit dari tidur? Tunggu dulu… ini bukan tempat tidurnya, ia tidak sedang berada di ranjang, ia sedang berada di rerumputan… ia sedang berada di kebun! Ya! Alisa ingat sekarang! Dia tadi pingsan karena kelelahan!

Perlahan fokus Alisa mulai kembali, matanya terbuka perlahan, sinar terang seperti menembus ke dalam batok kepalanya, nyeri sekali. Untungnya Alisa tidak perlu membuka mata terlalu lebar untuk tahu siapa yang datang.

"Bu Alisa? Ibu tidak apa – apa?" tanya Rudi khawatir, keringat yang mengalir di tubuh Alisa adalah keringat dingin. Rudi mengetahuinya ketika ia mencoba mengusap keringat yang menetes di dahi majikannya dengan menggunakan punggung tangannya. Rudi merinding ketika merasakan betapa lembut dan halusnya kulit wajah Alisa. Rudi mengulang pertanyaannya ketika Alisa tak segera menjawab pertanyaannya. "Ibu tidak apa – apa? Ibu bisa bangun?"

Alisa mencoba bangun dan menggelengkan kepala, namun ia tidak tahan dan berbaring lagi. "Ohh, pusing sekali." Keluhnya.

"Ibu berbaring saja. Biar saya yang membawa Ibu ke kamar!"

"Ti – tidak usah! A – aku…" belum sempat Alisa menolak, Rudi sudah mengangkat tubuh Alisa dan menggendongnya masuk ke dalam rumah utama. Kaget juga Alisa melihat kekuatan sesungguhnya dari supir tua yang terlihat kurus, lemah dan keriput ini. Dengan sekali angkat, tubuh indah Alisa sudah digendongnya. Karena lemah dan tak mampu bergerak, Alisa hanya bisa mengalungkan tangannya di leher Rudi. Untuk pertama kali, tubuh keduanya bersentuhan dengan sangat dekat.

Alisa bisa merasakan kerasnya kulit Rudi yang berwarna gelap. Nafas pria perkasa yang sedang menggendongya terasa hangat menerpa wajah Alisa. Mau tak mau Alisa membuka mata dan menatap langsung wajah keras supirnya yang sudah mulai keriput. Rudi hanya mengenakan kaos yang tipis, liatnya kulit sang lelaki jantan itu membuat Alisa merinding. Ia salah menduga, ia mengira supirnya itu adalah seorang pria lemah. Kini, dalam gendongannya, Alisa merasa terlindungi dan mendapat kehangatan yang selama ini ia cari dari sosok suaminya, perlindungan dan rasa hangat yang sudah lenyap dari Mas Hendra. Eh, apa yang dia pikirkan? Alisa memejamkan mata lagi. Gara – gara pingsan, pikirannya melantur kemana – mana!

Gejolak semangat Rudi bangkit ketika mencium harum wangi tubuh Alisa. Rudi semakin kagum, tidak hanya cantik, Alisa ternyata juga sangat harum. Namun yang membuat gairah kelelakiannya tak kuat bertahan adalah mulusnya paha Alisa yang memang jenjang dan luar biasa indah. Sebuah kaki yang pas bagi tubuh yang sangat sempurna. Ia berusaha keras agar keindahan wanita yang sedang ia gendong tidak membuatnya kehilangan fokus. Ia harus tetap bertahan dan mengantarkan Alisa ke kamar, jangan sampai jatuh hanya gara – gara tergiur kemolekan majikannya… tapi… ini benar – benar di luar dugaan Rudi, Alisa mengalungkan tangannya di leher Rudi dan bergantung sepenuhnya kepadanya. Dada Alisa yang montok dan tidak mengenakan bra itu kini menempel seutuhnya di dada Rudi! Dada Bu Alisa! Dada yang selama ini ia impikan! Rudi meneguk ludah, toh ia lelaki biasa. Merasakan kenyalnya payudara Alisa menempel di dadanya membuat lututnya ngilu, kalau saja tidak ingat situasinya, Rudi bisa – bisa ikut pingsan karena pelukan Alisa ini!

Dengusan nafas Rudi yang kian menguat membuat Alisa sedikit tidak enak, jangan – jangan Mas Rudi malu karena pakaian ketat yang ia kenakan? Apalagi dia tidak mengenakan BH! Habisnya… dia tidak mengira dia akan pingsan! Kalau dia tahu dia tidak akan mengenakan baju dan celana yang ketat dan minim seperti ini! Tapi ya sudahlah, tidak apa – apa, untuk kali ini saja. Apalagi Mas Rudi juga sudah menolongnya.

Akhirnya Rudi meletakkan Alisa di pembaringannya yang kosong.

Alisa menderu nafasnya yang masih tak teratur, begitu juga Rudi, walaupun untuk alasan yang lain.

"Te… terima kasih." Kata Alisa malu – malu. Ia mencoba tersenyum, wajahnya yang cantik mulai memerah kembali setelah sempat pucat selama pingsan tadi. "Aku khilaf. Berolahraga terlalu berlebihan, padahal tubuhku lemah karena tidak pernah berolahraga. Jadi merepotkan Mas Rudi saja…"

"Tidak apa – apa, Bu." Rudi menundukkan kepala, ia tidak berani menatap langsung ke arah Alisa, takut dia akan terpesona. Dia takut akan menubruk tubuh gemulai yang sangat menggiurkan itu dan memperkosanya saat ini juga. Tidak. Dia tidak boleh jatuh ke dalam perangkap nafsu seperti Pak Bejo. Alisa terlalu indah untuk disakiti. Dengan suara lemah Rudi menjawab. "Sudah menjadi tugas saya sebagai karyawan ibu."

Alisa masih tersenyum, Rudi dan Pak Bejo memang dua orang yang sangat berbeda. Entah kenapa Alisa jadi membandingkan Rudi dan Pak Bejo, dalam bayangannya, mereka adalah dua sisi mata koin yang berlawanan dilihat dari kelakuan keduanya yang sangat berbeda. Dan lihatlah pria ini! Begitu lembut dan sopan dalam pembawaannya yang sederhana. Mungkin itu sebabnya Alisa jadi semakin tertarik pada sosok Rudi yang bersahaja. Wajahnya buruk, usianya lanjut, kulitnya gelap, tubuhnya kurus namun dia sangat kuat dan lebih penting lagi, berpikiran lurus.

"Mas… boleh saya minta tolong lagi?"

"Iya, Bu?"

"Tolong ambilkan minum di…"

"Oh iya! Maaf jadi lupa! Segera saya ambilkan!" Rudi yang tadi sempat khawatir pada kondisi Alisa jadi lupa diri karena terpesona kemolekan sang majikan. Ketika teringat kalau tadi Alisa pingsan iapun jadi malu sendiri. Bukannya merawat malah memperhatikan lekuk – lekuk tubuh majikannya! Dasar tidak tahu diri! Bergegas Rudi menuju dapur, mengambil segelas air putih dari dispenser, meletakkannya di tatakan lalu membawanya ke kamar Alisa. "Ini Bu, maaf saya tadi…"

"Tidak apa – apa, Mas. Saya sudah enakan kok. Kalau nanti sore masih lemas, saya minta diantarkan ke dokter saja."

"Baik, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu. Kalau ada apa – apa, panggil saya saja."

"Iya, Mas. Terima kasih banyak."

http://foto-video-cerita-dewasa.blogspot.com/

Rudi beranjak keluar kamar dan mengelus dadanya. Ia tidak sanggup lagi berlama – lama di kamar hanya berdua saja dengan sang bidadari. Kalau saja tadi pikiran jahatnya kambuh, ia pasti sudah menubruk Alisa dan menelanjanginya! Ah, betapa senangnya hati Rudi ia sudah berhasil mengalahkan nafsunya sendiri… tapi… Alisa memang benar – benar seorang dewi. Sangat cantik, sex i dan luar biasa mempesona. Dengan hati gembira mantan narapidana itu melangkah menuju kamarnya yang berada di kebun belakang.

Sementara itu, di dalam kamar, hati Alisa menjadi berdebar tak menentu saat sosok tubuh Rudi berjalan keluar. Kenapa… kenapa ia jadi seperti ini? Kenapa rasanya ia ingin terus berada dalam pelukan hangat Rudi? Kenapa ia ingin selalu bersamanya? Kenapa rasanya ia tidak rela Rudi meninggalkannya sendiri dalam keadaan lemah? Tubuh Alisa bergetar ketika ia mencoba melawan perasaannya sendiri yang tidak masuk akal itu, ia tidak ingin semua ini terjadi… tapi jangan – jangan… apakah ia sudah mulai tertarik pada supirnya sendiri? Ah tidak mungkin! Ia tidak akan pernah mengkhianati Mas Hendra, apalagi untuk seseorang seperti Rudi! Hilangkan jauh – jauh pikiran kotor itu!

Dengan geli Alisa menggelengkan kepala. Ini pasti gara – gara pingsan tadi, pikirannya jadi kacau dan berkeliaran dengan liar.

Alisa meminum air putih, memejamkan mata dan berusaha beristirahat.

"Haaaaaaaahhh!!!"

Hendra terbangun dari mimpi buruknya dan hampir saja terlempar karena terbangun dengan kaget. Ia mengambil handuk kecil dan menyeka keringat yang turun deras di dahinya. Nafasnya terengah – engah, berulangkali ia batuk kecil dan susah mengatur beratnya nafas. Tangannya mencengkeram erat gagang kursi rodanya ketika ia menatap foto pernikahannya dengan Alisa yang ada di atas meja rias.

Hendra mendengus kesal, ia tidak akan pernah memaafkan Alisa. Ia tidak akan pernah memaafkan Pak Bejo. Ia tidak akan pernah memaafkan siapa – siapa lagi! Tidak akan pernah!! Tidak akan pernah!!

Air matanya perlahan turun, ia tahu laki – laki sejati tak akan menangis, tapi hatinya begitu sakit, hatinya sangat terluka. Kenapa ia harus melihat secara langsung kemesraan antara Alisa dan Pak Bejo? Kenapa? Kenapaaaa??

Jantung Alisa berdegup kencang ketika ia sudah sampai di depan pintu kamar Rudi. Sendok dalam piring yang ada di tangannya sampai berderak kencang karena tangannya yang gemetar. Kenapa dia takut? Atau mungkin ini bukan rasa takut? Jangan – jangan ini gairah? Gairah yang sudah lama sekali tidak ia rasakan sejak pertama kali bertemu dengan Mas Hendra? Gairah yang sama ia rasakan ketika mereka pertama kali kencan, menikah atau bercinta? Kenapa dia merasa takut dengan gairah ini? Dia hanya mengantarkan roti kepada sopirnya. Kenapa dia harus takut?

Tangan mungil Alisa pelan mengetuk pintu kamar Rudi.

Sosok kurus hitam yang ia tunggu akhirnya membukakan pintu. Karena tidak menduga Alisa akan datang ke kamarnya, Rudi hanya berpakaian seadanya, ia tidak mengenakan baju dan hanya memakai celana pendek ketat.

"Ah, Bu Alisa? Ada apa ya, kok malam – malam begini? Ibu mau saya antar keluar? Sebentar, Bu… saya ganti pakaian dulu…"

"Ti… Tidak usah, Mas. Tidak perlu, saya tidak mau keluar kok," kata Alisa. "Saya hanya ingin mengantar roti ini untuk Mas Rudi."

"Terima kasih, Bu." Jawab Rudi sambil meraih kemeja yang ada di atas kursi. Kemeja itu sebenarnya sudah dicuci, namun belum disetrika, ia memakainya karena tidak enak berhadapan dengan Alisa dengan bertelanjang dada. Setelah memakai baju, Rudi menerima roti pemberian Alisa dengan sangat berterima kasih.

"Boleh saya masuk?"

Pertanyaan itu mengagetkan Rudi, tapi Alisa kan majikannya? Ia berhak masuk ke ruang mana saja di rumah ini. "Bo… boleh saja, Bu. Tapi kamar saya masih berantakan. Belum sempat dirapikan."

"Ah, tidak apa – apa." Alisa pun masuk ke kamar Rudi setelah sopirnya itu mendahului untuk merapikan beberapa bagian kamar. "Se… sebetulnya saya kemari karena saya ingin berterima kasih pada Mas Rudi yang telah membantu saya beberapa hari yang lalu sewaktu saya pingsan di kebun." Kata Alisa sambil menyerahkan roti kepada Rudi.

"Lho, itu kan sudah tugas saya, Bu. Tidak perlu repot – repot seperti ini."

"Terima kasih juga karena telah mengusir Pak Bejo malam itu." Lanjut Alisa dengan suara yang lirih.

"Ahhh…" Rudi menghela nafas. Ia meletakkan piring roti di meja, menarik sofa kecil dan mempersilahkan Alisa duduk. "Pak Bejo sebenarnya patut diberi pelajaran karena telah bertindak kurang ajar terhadap Ibu. Kenapa tidak dilaporkan saja kepada Pak Hendra, Bu?"

Alisa menggeleng dan tersenyum, "Mas Hendra sudah punya masalah yang jauh lebih berat dan menyita pikiran, kita tidak boleh membebaninya lagi. Aku juga tidak ingin Mas Rudi menceritakan peristiwa pingsannya aku di kebun kepada siapapun. Mengerti?"

"Mengerti." Angguk Rudi. "Walaupun kalau menurut saya, preman seperti Pak Bejo tidak perlu diberikan kunci rumah ini."

"Sebenarnya hanya Bu Bejo yang membuatku segan, Mas. Beliau sudah banyak membantu. Tanpa bantuan Bu Bejo, keadaan rumah ini pasti sudah berantakan."

Rudi tiba – tiba terdiam. Dengan langkah pelan ia mendekati Alisa, ia menatap wajah Alisa dengan pandangan aneh, lama dan sangat lekat, membuat Alisa menjadi tidak enak. "Kenapa, Mas? Ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Alisa risih.

"Ibu baru saja menangis?"

Alisa tertegun. Pasti gara – gara kantung matanya. Ia menunduk. "Iya."

"Kenapa?"

"Tidak apa – apa." Jawab Alisa sambil tersenyum.

Walaupun senyum itu sangat manis bagi Rudi, namun kegalauan hati majikannya lebih penting. Ia membungkuk di depan Alisa dan berlutut. "Bu. Saya ini sudah Ibu bantu lebih dari cukup. Ibu sudah mengangkat derajat saya dari orang tak punya apa – apa menjadi memiliki segalanya. Ibu sudah menolong mengembalikan harga diri saya… sekarang, saya mohon. Jika ada masalah, ibu bersedia menceritakannya kepada saya karena saya akan membantu ibu sekuat tenaga."

Kembali Alisa hanya tersenyum. "Terima kasih atas tawarannya, tapi benar kok. Saya tidak apa – apa."

Rudi mendesah kecewa, tapi ia lalu berdiri dan mengangguk. "Mudah – mudahan begitu, Bu. Tapi kalau ada apa – apa, silahkan Ibu minta saya untuk melakukan apa saja karena pasti saya akan mengerjakannya."

"Terima kasih." Alisa pun berdiri dan siap untuk kembali ke rumah utama. "Ya sudah kalau begitu, saya tinggal dulu ya, Mas?"

"Baik, Bu."

Berat hati Rudi melihat Alisa mengalami depresi dan menyimpannya untuk diri sendiri, seandainya bisa, dia ingin membantu, memeluknya dan memberinya kehangatan agar dia bisa merasa aman dan terlindungi.

Langkah Alisa mendadak terhenti sebelum melangkah keluar kamar. Ia tidak berbalik namun dari gerak tubuhnya Rudi tahu kalau majikannya yang jelita itu gemetar mencoba menahan tangis.

"Bu…?" tanya Rudi sambil mencoba maju mendekati Alisa.

"Semua yang aku lakukan salah. Mas Hendra tidak mau lagi bicara padaku, Pak Bejo selalu bersikap kurang ajar tanpa pernah mau berhenti, kakakku hilang entah kemana, adikku juga tidak bisa dihubungi. Semua yang aku lakukan salah, semuanya membuat aku bingung dan aku tidak ada tempat untuk menceritakannya. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Apa yang harus aku lakukan, Mas?" kepala Alisa menunduk dan ia menangis tersedu – sedu. Walaupun awalnya ragu untuk bercerita kepada sopirnya, Alisa kini membuka semuanya karena dia sudah tidak kuat menahan beban hidupnya. Kepada siapa dia akan berterus – terang kecuali kepada Rudi yang pernah menolongnya mengusir Pak Bejo.

Rudi menutup pintu dan memberanikan diri memutar tubuh Alisa berhadapan dengannya. Wajah cantik itu kini berlelehan air mata. Dengan gerakan reflek, Alisa memeluk sopirnya. Ia menangis tersedu – sedu di dada kurus Rudi.

Awalnya Rudi terkejut karena tiba – tiba Alisa memeluknya, namun karena ia tahu ibu muda yang cantik itu tengah dilanda dilema, iapun membiarkan saja Alisa luruh dalam pelukannya tanpa mengembangkan pikiran mesum. Berulangkali Rudi harus mengusir pikiran kotor karena dada Alisa yang ranum amat rapat di dadanya. Wangi harum rambut Alisa membuat Rudi terbang ke awan. Dengan berani Rudi mengelus rambut Alisa untuk memberikan ketenangan. Ia biarkan si cantik itu menangis tersedu hingga selesai.

"Mas…" desah takut Alisa melantun manja di telinga Rudi. Indah sekali bunyinya. Ia ingin Alisa terus memanggilnya dengan nada manja. Isak tangis Alisa mulai reda. Ia menatap ke atas, ke arah mata Rudi yang menatapnya lembut.

"Bu Alisa…" Rudi dengan berani mencium kening majikannya yang gemetar takut dan menggenggam jemarinya.

Tangan mereka kembali bersentuhan, jari jemari Rudi erat menggenggam tangan Alisa. Terlalu lama dan terlalu hangat. Mereka sadar hanya ada satu jalan untuk menyudahi ini semua, terjun ke dalam nafsu atau pergi tanpa berpaling. Alisa hanya terdiam, tapi bola matanya yang indah menatap tajam ke arah Rudi, sopir itu tentunya tidak akan melewatkan kesempatan yang ada di depan mata. Ia bergerak maju sedikit, lalu sedikit lagi, lalu lagi. Wajah mereka kini sudah sangat dekat hingga hanya seukuran kuku jari.

"Bu Alisa sangat cantik… sangat cantik sekali… selama ini saya selalu membayangkan bisa bersama dengan Ibu…" batin Rudi dalam hati.

Bibir mereka akhirnya bertemu. Mata Alisa tetap terbuka lebar pada awalnya, namun ketika lidah Rudi yang melumatnya mulai bergerak, ia memejamkan mata untuk menikmati ciuman dari sang sopir. Alisa melenguh kecil dan membalas ciuman Rudi. Mereka berdua saling mencium dan melumat, lama sekali. Keduanya sudah jatuh dalam jebakan nafsu. Mulut dan lidah bekerja bersamaan hingga menimbulkan rangsangan kenikmatan.

Kali ini Rudi sudah membulatkan tekad. Ia tidak akan berhenti apapun yang terjadi! Ia sudah tidak tahan lagi. Tubuh Alisa terlalu indah untuk dibiarkan begitu saja melenggang di depan matanya! Ia harus mencicipinya! Sekarang juga! Peduli amat kalau nanti dia bakal dipecat atau bahkan dipenjara! Biar bagaimanapun dia mencoba menahan diri, dia tetaplah seorang lelaki normal yang membutuhkan kehangatan seorang wanita dalam dekapannya. Godaan yang hadir dalam bentuk bidadari bernama Alisa ini terlalu berat untuknya.

Tapi saat ini Alisa dalam kondisi sadar. Ia tidak mau mengkhianati suaminya lagi. Ia sudah berdosa karena telah menerima Pak Bejo dan mau – maunya diperlakukan seperti budak. Tidak! Hal semacam itu tidak akan terulang lagi! Apa yang ia perbuat telah membuat Hendra semakin jauh dan ia tidak mau semakin terjerembab lebih dalam ke lembah nista! Ia ingin lepas dari semua masalah seperti ini, bukan malah terjun ke dalamnya! Alisa akhirnya berusaha menjauh dari sang sopir.

Ketika Alisa berusaha mendorong tubuh Rudi, ia baru teringat betapa kuatnya laki – laki yang terlihat kurus dan lemas ini. Alisa dilanda dilema. Di satu sisi perasaan Alisa berusaha mengingatkannya agar segera tersadar dari godaan dan teringat pada suaminya, namun sisi yang lain lagi – sisi yang lebih menuntut dan lebih kuat - mengeluarkan semua pancaran nafsu birahi yang selama ini ia simpan. Pria ini begitu kuatnya sehingga membuat fantasi Alisa melayang, apakah mungkin lelaki tua ini bisa memuaskan hasrat dan… ah… Alisa menggelengkan kepala. Tidak! Dia tidak mau terhanyut. Dia adalah wanita karir yang terhormat, ibu rumah tangga yang baik dan istri yang berusaha untuk setia. Ia ingin bangkit setelah semua yang ia alami dengan Pak Bejo, Alisa tidak mau jatuh lebih dalam ke jurang nista dengan menyerahkan tubuh ke supirnya sendiri! Sungguh tidak pantas!

Rudi mengangkat dagu Alisa, mulutnya turun ke bawah. Dengan satu gerakan, supir itu sekali lagi melumat bibir Alisa.

Semua sisi kesadaran Alisa hilang. Beradunya bibir mereka membuat sentakan luar biasa yang menghapus penolakan dalam tubuhnya yang haus kasih sayang. Ia balik mencium Rudi. Keduanya kini melupakan pikiran yang kalut dan membiarkan hasrat kebinatangan mengambil alih. Esensi diri terdalam yang hanya menuruti kenikmatan membuat keduanya lupa diri, melupakan status mereka sebagai supir dan majikan. Melupakan status sebagai istri dan ibu. Membiarkan tubuh mereka mereguk kenikmatan terlarang. Nafsu mengambil alih jati diri mereka.

Lidah Alisa bergerak lentur dan luwes seakan memiliki nyawa, bagaikan ular yang melata. Lidahnya menyambut kedatangan lidah lawan dengan tumbukan dan lumatan penuh nafsu yang menggelegak hebat. Alisa mengingkari perasaan dalam dirinya sendiri, perasaan bersalah yang tiba – tiba saja menghinggap. Ini… terlarang! Tidak seharusnya ia melakukan ini! Ia sudah menikah! Ia… ia… ia pernah diperkosa… dan…

Batin Alisa berkecamuk. Mata Alisa menutup dan perlahan membiarkan nafsunya menggelora. Ia ingin melawan, namun gejolak nafsu yang ditumpahkan oleh Rudi membuatnya takluk. Ciuman Rudi sangat memabukkan dan membuat pikirannya melayang. Alisa bingung, kenapa tubuhnya justru pasrah ketika pikirannya sangat kalut, ia tidak sadar bahwa tubuhnya ingin dibelai, ingin disayang, ingin menikmati indahnya permainan cinta yang bukan karena terpaksa.

Sudah lama sekali rasanya ia tidak dicium seperti ini oleh Mas Hendra.

Mas Hendra! Suaminya! Astaga! Alisa terbangun dari fantasinya. Ia sedang dicium oleh laki – laki yang bukan suaminya! Mata yang tadi terpejam mendadak terbuka. Wajah yang ada di hadapannya bukanlah orang yang seharusnya berhak menikmati keindahan tubuhnya! Alisa tengah menatap wajah Rudi! Supirnya! Rudi sedang menciumnya! Begitu kesadaran menguasainya kembali, Alisa mencoba bangkit dan berontak tapi tangan kuat Rudi mengingkari perlawanannya.

"Jangan Mas… suamiku…" tangan Alisa menghalangi tangan Rudi yang mencoba meraih buah dadanya. Rasanya seperti mengangkat tiang besi yang berat, hangat tapi berat. Usaha Alisa gagal, Rudi berhasil menangkup buah dada kanannya. Pria tua kurus itu segera meremas, memilin dan menggoyang payudara Alisa dengan bebas. Tidak ada perlawanan berarti yang dilakukan Alisa. Si cantik itu malah semakin mendesah tidak berdaya.

Alisa kecewa pada dirinya sendiri yang tidak kuat menahan godaan. Semudah inikah dia takluk pada Rudi? Orang yang tak lebih adalah supirnya sendiri? Orang yang ia angkat menjadi supir setelah sering berlangganan baksonya? Orang asing yang tidak dia kenal asal – usulnya! Alisa tidak ingin dikalahkan semudah itu… ia tidak ingin… ia tidak…

Lidah Rudi masuk ke dalam mulut Alisa dan pikiran si cantik itu kembali melayang ke awan. Semudah inikah dia takluk?

Rudi merasa bangga pada dirinya sendiri karena Alisa - istri Hendra majikannya yang cantik jelita dan tadinya setia itu kini mulai menyerah. Tangannya yang kurus dengan berani meremas buah dada Alisa yang montok, Rudi meremas dan memilinnya tanpa perlu takut. Walaupun sudah berstatus sebagai seorang ibu dan sudah digauli dua orang laki – laki lain, Alisa masih memiliki payudara yang kencang dan kenyal. Rudi sangat mengagumi tubuh Alisa, ia merawat tubuhnya dengan baik.. Lekuk tubuhnya masih sangat indah dipandang, ramping dan sex i. Kulitnya juga sangat halus dan mulus, kulitnya yang seputih susu membuat kenikmatan lain dalam menggelegak dalam hati mantan napi yang sudah sejak lama tidak bercinta itu.

Payudara Alisa yang indah itu sama sekali tidak melorot walaupun sudah dinikmati Hendra dan Bejo, bahkan menjadi sumber ASI bagi seorang anak yang sangat manis. Rudi menikmati keindahan susu Alisa sesuka hati. Ia menangkup, meremas, menggoyang, menimang dan membelai buah dada sang nyonya rumah tanpa ada perlawanan berarti. Jari – jari Rudi yang kurus menyentil puting payudara Alisa yang masih berada di balik kaos dan BH yang ia kenakan. Karena kaos tipis yang dikenakan Alisa berwarna putih, BH berenda warna ungu yang ia pakai saat itu bisa terlihat dengan jelas. Sambil terus menggoyang payudara sang bidadari, Rudi memberanikan diri menggigit bibir bawah Alisa dengan lembut.

Wanita jelita yang ada di dalam dekapan Rudi itu menggeliat, mencoba melawan untuk yang kesekiankalinya. Namun pria kurus berkulit hitam itu masih belum melepaskan ciuman ataupun remasannya. Untuk yang kesekian kalinya pula, Alisa kembali takluk pada ciuman Rudi.

Untuk beberapa saat lamanya, mereka berciuman dengan penuh nafsu.

Ketika Rudi akhirnya melepaskan remasan tangan pada susu Alisa, si cantik itu masih tetap menghamba pada ciumannya. Tubuh Alisa merinding dan menggigil karena tak kuat menahan nafsu. Rudi bukan orang bodoh, rangsangan hebat yang menaklukan Alisa ini pasti berkat sentuhan ringan namun efektif pada pentil buah dada sang ibu muda. Sekali lagi Rudi meremas payudara Alisa dan menggoyang puting payudaranya dengan jempolnya yang besar. Alisa menggeram dan merintih, tubuhnya gemetar tersambar kenikmatan.

Alisa mulai terengah – engah, ia kesulitan mengatur aliran nafasnya sendiri. Matanya yang tadi terpejam kini terbuka lebar, menatap pria yang bukan suaminya tengah menggumulinya dengan penuh nafsu. Bibirnya basah oleh lumatan bibir Rudi yang sedari tadi tak berhenti menciumnya, dadanya naik turun oleh nafsu birahi yang menggelora. Satu persatu pakaian Alisa dilucuti tanpa ada perlawanan berarti. Ketika Rudi melepaskan BH dan menyisakan rok serta celana dalam, barulah wanita cantik itu kembali tersadar… ia sudah setengah telanjang dalam pelukan supirnya!

"Apa yang… apa yang telah aku lakukan?! Jangan!! Tidak! Aku tidak mau! Sudah…! Aku mohon! Kita sudah terlalu jauh dan… dan…" Alisa kebingungan mencari kata – kata, ia tidak ingin mengucapkan kalimat vulgar yang hanya akan menambah nafsu Rudi. "Aku mencintai suamiku. Dia mencintai aku. Aku mohon… jangan tambah lagi dosaku…"

Tangan Rudi kini bisa menyentuh payudara Alisa yang sudah telanjang. Alisa menggeleng dan mencoba mendorong tangan sang supir. Usaha ibu muda itu tentu saja gagal, Rudi jauh lebih kuat dan Alisa sama sekali tidak mengeluarkan tenaga, bahkan sepertinya dia menginginkan Rudi menyentuhnya! Dia ingin supir itu melanjutkan niatnya!

Payudara Alisa segera tergenggam tanpa halangan oleh tangan buas Rudi. Diremas dan digoyangnya payudara istri Hendra yang jelita itu sesuka hati. Alisa merintih tak berdaya, ia tak mampu mengontrol tubuhnya sendiri. Sensasi hangat serangan Rudi membuatnya tenggelam dalam kenikmatan dan tak ingin melawan. Yang dilakukan Rudi sama sekali berbeda dengan Pak Bejo yang memaksakan kehendak, Rudi membuat Alisa keenakan sehingga justru Alisalah yang ingin meminta lebih. Alisa berusaha melawan keinginan dirinya sendiri yang tidak tahan ingin segera membuka kaki lebar – lebar agar Rudi bisa memasukkan penisnya ke dalam… tidak! Alisa tidak mau itu terjadi! Alisa harus melawan!

Rudi menatap penuh pesona ke pentil susu Alisa yang kini menjorok ke atas, benda mungil merekah itu seakan menantangnya. Sangat menggiurkan dengan warnanya yang gelap kecoklatan. Balon buah dada Alisa bagaikan benda pusaka yang masih terawat rapi. Dia tak boleh membiarkannya sia – sia! Kepala Rudi segera turun ke bawah, bibirnya melumat tanpa ampun pentil susu yang sedari tadi terus menantangnya itu!

Alisa melonjak kaget ketika mulut hangat Rudi menangkup puting payudaranya. Apalagi ketika bibir pria tua itu lalu mencium dan lidahnya menjilat seluruh balon buah dadanya! Akhirnya, tanpa dipaksa, Alisa mendorong dadanya ke depan agar Rudi bisa lebih leluasa menikmati dadanya. Gigi Rudi bahkan menggigiti daerah ujung pentilnya, membuat sensasi kenikmatan menjalar dari dada ke seluruh tubuh, bahkan jari kaki Alisa sampai merenggang karena keenakan!

"Oooooh!" lenguh Alisa menahan nikmat.

Rudi menyeringai dan menggerakkan giginya dengan tenaga. Rudi bisa merasakan tubuh Alisa yang gemetar dan menggelinjang karena rangsangan hebatnya pada puting susunya. Dengan sigap lidah Rudi melingkari pentil yang masih menonjol keluar. Hal ini membuat Alisa makin salah tingkah, tubuhnya melengkung ke belakang, matanya terpejam dan tanpa sadar wanita cantik itu menghunjukkan buah dadanya ke mulut sang supir yang terus merangsangnya.

Bertentangan dengan apa yang ia rasakan, Alisa menggunakan kedua tangannya untuk terus mendorong tubuh Rudi agar segera melepaskan pelukannya. Akhirnya Rudi bersedia mundur sesaat, ia melepaskan pentil payudara Alisa, lalu memperhatikan wajah Alisa, menikmati kecantikannya. Mata Alisa sangat indah, bercahaya dan penuh pengharapan. Buah dada kirinya yang belum tersentuh terlihat gersang dibanding buah dada kanan yang terus menerus diserang sejak tadi.

"Sudah… cukup! Aku… tidak bisa melanjutkan ini semua, aku harus pergi!" pinta Alisa dengan suara bergetar. Tangan si manis itu terus berada di pundak Rudi, menghalanginya mendekat. Tapi Alisa tidak melakukan apapun untuk menutup payudaranya yang telanjang. Rudi kembali menyeringai dan menurunkan kepalanya ke dada kiri Alisa.

"Jangan!" tangan Alisa mencoba mencegah Rudi agar tidak mendekat. Namun tangan ramping Alisa bukanlah penghalang berarti bagi supir tua berwajah buruk itu, dengan sigap ia menangkup pentil kanan Alisa dengan mulutnya dan kembali menyebarkan sengatan kehangatan ke seluruh tubuh sang ibu muda.

Demi dewa… Rudi sungguh sangat kuat! Alisa tak mampu berkutik. Si cantik itu hanya bisa megap – megap menggapai nafas ketika gigi Rudi mengunyah puting payudaranya, setelah pentil itu menonjol, lidah Rudi ganti menjilati sisi areolanya. Tubuh Alisa melenting ke belakang, ia berusaha melepaskan dadanya dari mulut Rudi, namun belum sampai payudaranya bebas, Alisa sudah terganggu oleh tangan sang supir yang dengan nakal menjelajah ke bawah roknya dan membelai ke atas menuju selangkangan!

Alisa ingin melepaskan diri dari pelukan Rudi, sungguh dia telah berusaha, namun supirnya ini telah memakunya di atas sofa. Alisa benar – benar tak berdaya di bawah rengkuhan sang lelaki kurus. Tubuh Rudi mengunci rapat kaki dan lengan Alisa sementara gigi, bibir dan lidahnya merangsang habis – habisan puting payudara istri Hendra itu. Belum lagi rangsangan yang datang dari bawah roknya… apa yang bisa dilakukan Alisa kecuali pasrah?

Tangan Rudi yang hangat berputar – putar di paha sang wanita pujaan, melaju ke atas tanpa halangan. Tangan hitam di atas paha putih mulus, sangat kontras. Rudi mengagumi seluruh tubuh Alisa, paha yang ia sentuh ini dulu adalah milik suaminya seorang, sebelum akhirnya Alisa jatuh ke jebakan maut Pak Bejo.

Ketika melihat Rudi lengah, Alisa melawan lagi. Bayangan wajah suami yang ia cintai mendatangi benaknya dan ia melakukan semua yang ia bisa untuk mendorong sang supir. Tapi… tapi… ini enak sekali…! Mas Hendra sekarang berubah menjadi laki – laki dingin yang tak berperasaan, padahal Alisa masih sangat membutuhkan belaian kasihnya! Apakah kini apa yang ia lakukan adalah hal yang salah? Membiarkan Rudi menguasai tubuhnya? Alisa butuh kehangatan seorang laki – laki! Ia tidak mau terus menerus melayani Pak Bejo… ia ingin melakukannya dengan orang yang dia suka! Hasrat birahinya selalu bergejolak… Alisa bingung saat ini, apakah dia diperkosa Rudi… atau justru membuka diri terhadap supirnya itu? Toh seandainya ia melayani Rudi, tidak akan ada orang yang tahu, kan? Batin Alisa berkecamuk. Ini enak sekali… apa yang harus ia lakukan? Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ini memang enak sekali…

Tidak ada orang yang akan tahu, kan? Termasuk Mas Hendra!?

Saat perang berkecamuk dalam batin Alisa, tangan Rudi leluasa masuk ke dalam celana dalamnya yang mungil dan membiarkan rok Alisa tetap di tempatnya. Kini ia lebih bebas bergerak merangsang sang nyonya majikan! Tangan Rudi meraih tempat yang lebih atas dan Alisa membiarkan laki – laki yang bukan suaminya ini membuka kakinya lebar – lebar. Tubuh wanita cantik itu menegang ketika Rudi menemukan bibir vaginanya yang lembut bagai sutra. Alisa melonjak kaget saat sang supir mulai membelai bibir kemaluannya secara perlahan – lahan.

Ya Tuhan! Tidak seharusnya ia mengijinkan Rudi melakukan ini! Tapi batin Alisa berkecamuk… benarkah dia yang mengijinkan? Rudi walaupun kurus jelas lebih kuat dan perkasa, bahkan mungkin lebih kuat dari Mas Hendra saat ia sedang sehat sekalipun! Tangan, bibir dan gigi Rudi dibiarkan bebas berbuat apa saja dengan tubuhnya, bagaimanapun caranya Alisa menolak, ia tidak mampu menahan keinginan Rudi. Namun… ia juga tidak diperkosa… ia mengijinkan Rudi menggumulinya!

Sekilas rasa takut menyambar batin Alisa. Setelah semua peristiwa mengerikan yang ia alami dengan Pak Bejo, ia tidak ingin kehilangan kontrol atas situasi lagi. Apa yang ia alami saat ini adalah karena ia kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Ia tidak ingin jatuh ke dalam kubangan yang lebih dalam. Hanya saja… saat ini, di atas sofa ini, Alisa jelas tidak sedang mengontrol apapun. Sensasi birahi berlebih membuat tubuhnya lemah atas semua rangsangan. Alisa tidak ingin mengkhianati suaminya… tapi apa yang Rudi lakukan sungguh membuatnya terbang ke awang – awang.

Satu jari telunjuk masuk ke dalam memek Alisa.

Wajah wanita cantik itu memerah karena malu saat ia menyadari memeknya sudah mulai basah. Sangat memalukan menjaga harga diri di hadapan supirnya kalau memeknya sudah mulai membanjir seperti ini. Dari wajahnya yang tersenyum, Alisa yakin Rudi juga sudah tahu hal itu. Tangan Alisa meraih lengan Rudi, ia berusaha mendorong tangan itu meninggalkan tubuhnya. Tapi Rudi jauh lebih kuat, bukannya tangan Rudi yang terdorong menjauh, malah justru tangan Alisa yang kini digenggam oleh sang supir.

Rudi membimbing tangan Alisa yang halus ke dalam selangkangannya. Jari – jari lentik Alisa segera bersentuhan dengan batang kejantanan yang hangat, besar dan panjang. Kaget, Alisa menarik tangannya mundur. Si cantik itu terkejut dengan kehangatan dan kerasnya batang kemaluan Rudi. Alisa tidak tahu sejak kapan Rudi mengeluarkan kemaluannya dari dalam celana. Rudi tidak menyerah begitu saja, supir nakal itu menarik kembali tangan Alisa dan membimbingnya lagi ke kontolnya yang besar dan hitam. Kali ini Alisa tidak melawan. Jari – jari mungilnya mengitari batang besar kontol Rudi.

Ukuran kontol Rudi ini pas sekali dalam genggaman tangan mungil Alisa, ukurannya yang besar tidak cocok dengan postur tubuh Rudi, tapi sangat mempesona ibu muda satu anak itu. Urat – urat yang mengitari batang kemaluan Rudi berdenyut dalam genggaman tangan Alisa, wanita cantik itu berusaha mencari cara untuk menghindari kekagumannya pada alat vital Rudi, namun seperti anggota tubuh yang telah dipasangi susuk, Alisa tidak bisa melepas pandangan dari kemaluan Rudi. Ingin sekali rasanya Alisa merasakan kontol Rudi itu di dalam memeknya, ia tidak yakin benda besar dan panjang ini bisa masuk seluruhnya, tapi… Alisa tidak akan mengijinkan Rudi menyetubuhinya. Ya. Itu pasti. Tidak mungkin. Tidak boleh.

Tangan Rudi meraih pergelangan tangan Alisa dan membimbingnya mengocok kemaluannya secara perlahan. Kontol Rudi yang hitam, besar dan panjang membuat Alisa sangat terpesona. Penis Rudi memang tidak segemuk milik Pak Bejo, tapi lebih panjang dan sangat keras. Panjangnya melebihi milik Mas Hendra. Hitam… besar… panjang…

Setelah beberapa saat membiarkan tangan Rudi membimbingnya, Alisa tidak membutuhkan dorongan apapun lagi untuk terus menikmati kemantapan alat kelamin Rudi, ketika Rudi melepas tangannya, Alisa masih terus mengocok kontol pria kurus itu. Apa yang dimiliki supirnya itu seakan – akan mengingkari hukum alam, bagaimana bisa orang sekurus dan sehitam Rudi memiliki penis yang seperti ini? Begitu besar dan panjang… tangan Alisa bergerak turun ke pangkal batang kemaluan Rudi, mengagumi ukuran kejantanan yang sebelumnya belum pernah ia lihat. Nafas Alisa makin berat, nafsunya mengambil alih, birahinya makin meningkat. Alisa tidak akan keberatan kalau benda ini dicoba dimasukkan ke dalam liang kenikmatannya… tapi… tapi…

Saat itulah Rudi mendorong jarinya yang panjang ke dalam bagian terlarang milik Alisa. Terpengaruh oleh rangsangan bertubi, Alisa mencoba menyikapi dengan kesadaran yang tersisa. Hanya ada satu konsekuensi yang akan ia peroleh jika mengijinkan Rudi melakukan rangsangan lagi, dan hal itu tidak boleh terjadi.

Alisa berusaha menyadarkan dirinya sendiri. Dia telah menikah. Dia mencintai Hendra, suaminya. Dia tidak mencintai Rudi, dia tidak mencintai Pak Bejo. Tubuhnya hanya milik Hendra, suaminya. Dia tidak boleh membiarkan ini semua berlanjut!

"Lepaskan aku!" tuntut si sex i itu. Tapi Rudi tidak menghiraukannya. Bibir pria hitam dan kurus itu masih terus memagut leher putih mulus milik Alisa. Jari jemari Rudi menusuk lebih ke dalam. Kaki Alisa menggeliat dan menjepit tangan Rudi, ia berusaha menarik tangan Rudi keluar dari selangkangannya.

"Ini sudah keterlaluan, kita tidak boleh melakukan ini! Aku ini istri orang!"

Rudi malah nyengir ketika dia diingatkan bahwa tubuh molek yang menggiurkan yang sedang menggeliat di bawah tubuhnya ini adalah milik laki – laki lain, tubuh seorang majikan bahkan! Dengan nekat Rudi memutarkan jarinya di bibir kemaluan Alisa yang makin lama makin basah, lalu menusukkan jarinya itu ke dalam memek Alisa lebih dalam lagi.

Ketika jari Rudi melesak masuk, tanpa sadar Alisa meremas kemaluan Rudi dengan kencang. Penis itu begitu besar dan keras, Alisa seakan tak mampu menggenggamnya utuh karena ukuran lingkarnya yang sangat besar. Dia tak pernah menduga orang sekurus Rudi memiliki penis yang sedemikian besarnya, ia sudah memperkirakan ukurannya, tapi penis milik Rudi ini melebihi semua imajinasi lliarnya. Batang kemaluan hitam besar milik Rudi berdenyut dalam genggaman tangan Alisa yang halus, si cantik itu bisa merasakan denyut yang bergerak di urat yang bertonjolan di batang yang terisi oleh desakan darah dan sperma yang siap diledakkan.

Rudi menarik jarinya dan merubah posisi. Ia mengangkat tubuhnya sehingga Alisa kini bisa melihat langsung ukuran sebenarnya batang kemaluan laki – laki yang baru saja menindihnya. Mata indah si cantik itu langsung terbelalak!

Luar biasa besarnya!

Jauh lebih besar daripada milik Hendra atau bahkan Pak Bejo!

"Ya Tuhan!" desis Alisa yang terkejut.

Rudi nyengir. Dia bangga dan bahagia melihat reaksi majikannya yang terkejut saat melihat ukuran kontolnya. Reaksi jujur yang ditunjukkan oleh Alisa sungguh sedap baginya. Rasa ketakutan karena tak ingin ketahuan, perasaan bersalah, nafsu yang menggelegak yang sangat terlihat di wajah Alisa adalah keindahan sempurna bagi Rudi. Inilah yang membuatnya terangsang hebat.

Alisa memang bukan seorang perawan, tapi Rudi memperkirakan tusukan pertama penetrasinya akan seret sekali, karena walaupun sudah pernah berkali – kali melayani nafsu binatang Pak Bejo, memek Alisa masih sangat mungil.

Alisa memandang penis Rudi dengan penuh ketakutan sekaligus kekaguman. Seakan ia berhadapan langsung dengan seekor ular kobra dan takut untuk menggerakkan tubuh sedikitpun. Bagi Rudi, menyaksikan konflik batin ibu muda yang jelita itu sungguh suatu kenikmatan yang tak terkira.

"Apakah ini yang anda inginkan selama ini?"

Alisa menatap Rudi bingung, apa maksud kata – katanya itu?

Rudi tersenyum dan mengulangi lagi ucapannya, "setelah selama ini ditiduri oleh laki – laki lemah seperti Pak Hendra dan laki – laki brengsek seperti Pak Bejo… apakah ini yang ibu inginkan? Kejantanan sejati seperti ini?"

Wajah Alisa memerah karena malu. Ia marah dan kesal pada sikap Rudi yang arogan, tapi memang benar apa kata supirnya itu – Alisa sangat tertarik mencicipi kejantanan milik Rudi yang luar biasa besarnya. Warna merah jambu karena malu menutup pipi hingga ke dada Alisa. Kejantanan sejati… kejantanan sejati… kata – kata itu terus berulang di otak Alisa yang dipenuhi kekalutan.

Tidak mungkin ada penis sebesar itu! Terlalu besar! Ini semua pasti rekayasa! Batin Alisa dalam hati. Kalau mau hiperbola, tidak mungkin ada penis yang batangnya hampir sama besarnya dengan pergelangan tangan Alisa! Ketika Rudi berpindah posisi dan kedua tangannya kini berada di bawah rok Alisa, ibu muda yang jelita itu bisa melihat dengan jelas batang penis Rudi!

Alisa terbata – bata melihat panjang penis Rudi. Tidak akan muat! Benda ini tidak akan muat masuk ke dalam kemaluannya yang mungil! Benda itu akan menghancurkan rahimnya! Batin Alisa lagi.

"Terlalu besar…" desis Alisa perlahan. Nafasnya kembang kempis, ada desakan berat di dalam dadanya, di tenggorokan dan dalam pikirannya. Panas menghentak – hentak membuat birahi Alisa meninggi, ada kehausan luar biasa yang ditimbulkan pemandangan indah yang diberikan Rudi pada lubang kemaluan Alisa. Rudi tersenyum penuh kemenangan ketika dia menarik celana dalam Alisa, wanita cantik itu menggerakkan pinggulnya tanpa sadar, memudahkan Rudi melucuti celana dalamnya yang mungil.

Alisa telah menyerah kepada supirnya…

Alisa telah ditaklukkan…

"Ya Tuhan! Apa yang… suamiku…"

Rudi tersenyum, lagi – lagi laki – laki kurus berkulit hitam itu menempelkan bibirnya ke bibir tipis Alisa, mengatupkan mulutnya ke mulut Alisa dengan satu ciuman penuh nafsu. Apapun kata – kata yang hendak diucapkan Alisa, semua permohonan dan penolakannya, luruh oleh ciuman itu. Alisa menggeser kepalanya mencoba menghindar dari ciuman Rudi, tapi gerakan itu justru membuat Rudi mendapatkan akses ke arah telinganya yang seputih pualam. Setelah gagal mencium Alisa, perhatian Rudi beralih ke arah lain. Bibir dowernya menyosor ke daun telinga Alisa. Lidah supir itu bergerak lincah menjelajahi tiap sudut bagian dalam telinga Alisa. Tubuh wanita cantik itu menggelinjang geli ketika merasakan sentuhan lembut lidah Rudi pada telinganya. Lidah Rudi bergerak lincah membuai Alisa sementara tangannya bebas bergerak di bawah roknya. Jari – jari nakal milik lelaki kurus itu membelai tiap jengkal paha putih milik istri majikannya.

Rudi tidak berhenti di bibir Alisa, lidahnya menjilat pipi dan telinga si cantik itu, masuk ke dalam daun telinganya, memutar dan merasakan tiap sisi kecantikan parasnya. Dada kurus Rudi bisa merasakan kehangatan yang dihadirkan buah dada Alisa yang menempel kepadanya, mendorongnya naik turun seiring emosi dan nafsu yang menggelora di badan sang ibu muda. Alisa tidak bisa menghindar dari rangsangan hebat yang dilakukan Rudi pada telinga dan pipinya, tubuhnya bergetar dan menggelinjang. Tangan Rudi merenggangkan kedua paha Alisa, mengangkat roknya sampai ke lekuk pinggul.

Pria itu memposisikan dirinya di antara kedua kaki sang majikan.

Alisa menyadari bahaya yang tengah ia hadapi. Godaan lidah Rudi yang terus menjilati wajah dan telinganya tak berbelaskasihan… sekaligus menggairahkan. Lelaki kurus berkulit gelap itu benar – benar tahu bagaimana caranya membuatnya bergairah! Sangat nakal, sangat… terlarang. Alisa memiringkan kepala, membuat telinganya jauh dari jangkauan lidah Rudi, ia menatap pria yang tengah menggumulinya dan hendak memintanya berhenti. Ia menatap mata Rudi… mata yang penuh dengan hasrat dan nafsu.

Nafsu birahi untuk menggauli tubuh indah majikannya.

Batin Alisa dipenuhi perasaan yang berkecamuk dan menggelora. Dia bingung, jantungnya berdebar kencang dan nafasnya kembang kempis naik turun. Bukannya menolak laki – laki yang bukan suaminya, Alisa malah menggoyang pinggul karena tak tahan godaannya. Ia malu sekali. Ia ingin memaki – maki dirinya sendiri yang tak mampu menahan birahinya, namun ketika mulut Rudi mencium bibirnya, Alisa tak mampu melawan sedikitpun. Bibirnya yang indah membuka sedikit untuk menerima serangan nafsu dari sang supir. Ketika lidah Rudi masuk ke dalam mulutnya, lidah Alisa menyambut dan keduanya segera bertemu dalam pertempuran nafsu.

Ujung gundul penis Rudi menyentuh bibir vagina Alisa, batang kemaluan laki – laki tua itu siap dilesakkan ke dalam liang cinta sang ibu muda yang jelita. Mata indah milik Alisa menyala karena kaget. Dengan pandangan bingung, wanita cantik itu menatap mata buas penuh nafsu milik Rudi yang sedang memeluk dan menciuminya.

Rudi menatap mangsanya dengan senyum penuh kemenangan. Dia sangat menyukai saat – saat seperti ini, saat di mana wanita yang hendak ia tiduri menatap tak percaya kepadanya. Mata Alisa terbelalak lebar karena tahu penis hitam milik sang supir sudah siap masuk ke dalam liangnya yang mungil. Rudi mendorong pantatnya ke depan dan melepaskan ciuman dari mulut Alisa.

"Ja – Jangan! Jangan…!! Kamu tidak boleh…" Alisa mencoba melawan.

Rudi menusuk lagi. Akhirnya ia benar – benar menembus gerbang kewanitaan Alisa.

"Ahhhhhhhh!!!" jerit Alisa tertahan.

Ia lalu berhenti. Rudi kaget sekaligus senang ketika tahu bahwa memek Alisa ternyata masih cukup sempit dan rapat, batang penisnya yang masuk ke dalam liang kenikmatan Alisa seperti dihimpit oleh dinding basah yang rapat dan nyaman, memberikan kehangatan yang lain daripada yang lain. Setelah tidur dengan Hendra dan Pak Bejo, memek mungil itu masih tetap seperti milik seorang pengantin baru. Rudi menggerakkan badan ke depan, menusukkan kontolnya ke memek Alisa lebih dalam lagi.

Masuknya batang penis Rudi yang menjajah vaginanya sedikit demi sedikit membuat Alisa secara refleks membuka kakinya lebar – lebar. Rudi mengangkat pinggul Alisa yang sex i dan mengangkatnya tinggi sementara dia melanjutkan niatnya menumbuk sang bidadari. Hampir tiga perempat bagian batangnya sudah masuk ke dalam, melewati bibir vagina Alisa yang basah dan merah. Rudi menusuk sekali lagi, menambah kedalaman batangnya.

"Ooooooh… jangan… aku tidak kuat lagi!"

Rudi tertawa penuh kemenangan dan mendorong kemaluannya lagi. Pinggul Alisa mulai tersentak – sentak tak teratur di bawah pelukan sang supir, kakinya yang jenjang meronta – ronta. Alisa mencoba mendorong tubuh Rudi, ia mencoba memberontak meskipun semuanya sia – sia, Rudi masih tetap bertahan. Justru karena Alisa memberontak, batang kemaluan laki – laki kurus itu makin membenam di dalam liang cintanya. Akhirnya si cantik itu menyerah, batang kemaluan sang supir sudah terlalu dalam terbenam dan memeknya sudah menangkupnya dengan erat, tak akan ada gunanya melawan apalagi mencoba mendorong Rudi. Dia harus rela disetubuhi Rudi.

Kalimat itu membuat gemetar seluruh tubuh Alisa. Dia tak mampu berbuat apa – apa lagi! Dia hanya bisa pasrah! Dia akan segera disetubuhi supirnya!

Nafsu birahi yang bercampur dalam benak sang ibu muda membuatnya sangat bergairah. Ada perasaan aneh yang menyapu tubuh Alisa, gairah sensasi birahi yang menyelimuti dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. Ia mulai terbiasa dengan ukuran kemaluan Rudi. Memeknya yang terus disiksa oleh kenikmatan mulai lengket pada batang penis sang supir, dinding memek Alisa mulai merenggang dan menyesuaikan dengan ukuran penis yang menginvasi.

Namun… ketika Alisa sudah bersiap, tiba – tiba saja Rudi berhenti.

Setelah beberapa detik tanpa ada gerakan, Alisa akhirnya sadar Rudi sudah berhenti menusuk. Ketika mata indah ibu muda yang cantik itu melihat ke tubuh yang menguasainya, Rudi rupanya tengah terdiam dan menikmati saat – saat yang sangat diimpikannya, yaitu saat penisnya masuk ke dalam memek Alisa. Vagina Alisa meremas batang penis yang ditusukkan ke dalam, menyebarkan sentakan birahi ke seluruh tubuh Alisa. Wanita cantik itu puas sekaligus malu karena bagian dalam tubuhnya seakan membelai batang kemaluan Rudi. Bagaimanapun caranya Alisa mencoba untuk mengendalikan tubuhnya sendiri.

Ketika Alisa melihat ke atas, ia melihat Rudi menatapnya tajam, merekapun saling bertatapan. Wajah Alisa memerah karena malu.

"Su… sudah semua? A… apa sudah masuk semua?" tanya Alisa.

Rudi menyeringai. "Belum."

Pria kurus berkulit gelap itu mengeluskan tangannya di lekuk pinggang Alisa, menikmati kehalusan kulit sang bidadari, naik ke atas, lalu menggenggam erat lengan mungil ibu muda itu.

"Belum, ini belum masuk semua," tambah Rudi. Ia ketawa dan menusuk lagi.

Betapa nikmatnya melihat wajah Alisa yang terkejut oleh jangkauan tusukannya. Kali ini Rudi memeluk erat Alisa supaya posisi mereka tidak berubah dan ia bisa menusuk lebih dalam. Rudi sangat menyukai cengkraman vagina Alisa yang seperti sarung tangan erat menangkup batang kemaluannya. Tusukan penis panjang itu bagai melawan dinding rahim Alisa dan menembus terus ke dalam rintangan yang sebelumnya belum pernah ditembus oleh penis lain.

"Ooooooh… Ya Tuhan… oooooh." Desah Alisa.

Rudi melepas satu tangan dan meraih rambut panjang Alisa, ia menjambak rambut si cantik itu dan membuat kepalanya tertarik ke belakang. Alisa berteriak kesakitan, tapi rasa sakit itu seiring dengan gelombang nikmat sodokan di selangkangannya. Vagina Alisa meremas penis Rudi tiap kali benda panjang yang keras itu masuk dan mencoba menjajah ke dalam.

Beberapa sat kemudian, Alisa bisa merasakan tamparan kantung kemaluan Rudi yang mengenai pantatnya. Saat itulah Alisa sadar, kalau kantung kemaluan Rudi telah menempel di pantatnya, itu artinya batang kemaluan sang supir telah masuk seluruhnya ke dalam memeknya! Secara insting, Alisa mulai menggoyang pantatnya.

Rudi menatap ke bawah, dia menikmati kecantikan alami Alisa, dia menikmati halusnya leher jenjang Alisa, dia menikmati matanya yang melebar dan nafasnya yang kembang kempis. Mata si cantik itu kabur, Rudi memberi kesempatan pada Alisa untuk mengembalikan kesadaran, ketika akhirnya mata indah itu menatapnya tajam, Rudi tersenyum penuh kemenangan pada Alisa. Wanita cantik itu membalasnya dengan senyuman lemah.

"Sekarang," kata Rudi, "saatnya menikmati memek Bu Alisa."

Mata Alisa terbelalak melebar, dia terkejut oleh situasi dan kata – kata kasar yang dikeluarkan sang supir. Tapi Rudi lebih terkejut lagi ketika dia merasakan kaki jenjang Alisa melingkar di pinggangnya.

Rudi tersenyum lagi, kali ini Alisa membalasnya dengan gugup.

Lalu Rudi mulai menyetubuhinya.

Alisa melenguh dan mengembik penuh nafsu ketika Rudi menarik diri dan kemudian menusuk dengan kekuatan penuh. Berulang kali Rudi mengangkat pinggulnya dan menjatuhkan diri ke dalam selangkangan Alisa yang terbuka lebar. Rudi menikmati kelembutan paha dalam Alisa yang bagaikan sutra ketika majikannya ini mengikat pinggulnya dan menariknya ke bawah. Majikannya yang sex i takluk akan kenikmatan birahi di bawah pelukannya! Apakah ada yang lebih nikmat daripada ini?

Tentu saja ada, bagi Rudi, kenikmatan puncaknya adalah ketika dia menyemburkan spermanya dan berharap ia bisa menghamili wanita sesempurna Alisa. Itu akan jadi hal yang terindah baginya.

Rudi merenggut pundak Alisa dan menikmati tiap jengkal kedalaman memeknya, ia terus mendorong penisnya dan mengobrak – abrik memek yang seharusnya hanya menjadi milik suami wanita cantik yang kini meringkuk dalam pelukannya. Bagi Rudi, sesaknya memek Alisa adalah surga yang menjadi nyata.

Kenikmatan yang terlalu berlebih membuat Alisa tak kuat lagi, ia melolong ketika cairan cintanya mengalir. Ratapan yang keluar dari mulut Alisa bertolak belakang dengan orgasme yang keluar dalam liang kenikmatannya. Rudi merasakan getaran pada tubuh indah yang kini berada di bawahnya, ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan lagi genjotannya.

"Jangan Mas… sudah… sudah cukup… aku sudah keluar… sudah…"

Rudi hanya tertawa dan meneruskan gerakan maju mundurnya.

"Oh Tuhan! Sudahlah, Mas! Sudah cukup… aku tidak kuat lagi… kamu dengar tidak? Aku sudah keluar… aku tidak kuat…"

Rudi tidak mempedulikan rengekan Alisa dan meneruskan gerakannya. Alisa menggeliat dan meronta, mencoba mendorong tubuh Rudi. Tapi pria kurus itu lebih kencang memegang tubuhnya, ia juga lebih kuat dan lebih bernafsu. Tiba – tiba saja tubuh Alisa mengejang, dengan satu lolongan kalah, Alisa sampai di puncak kenikmatannya yang kedua. Wanita cantik itu tersentak – sentak dan bergetar akibat sensasi luar biasa yang berasal dari tubuh bagian bawahnya. Si cantik itu tidak percaya, kaget dan terkejut… belum pernah ia mengalami hal seperti ini sebelumnya…

Alisa ambruk dalam pelukan Rudi, kalah dan pasrah. Tidak ada gunanya melawan. Rudi meneruskan aksinya menggoyang dan menusuk memek Alisa sekuat tenaga, memberikan serangan bergelombang di antara selangkangan sang wanita idaman yang mengikat pinggulnya dengan kaki yang jenjang.

Gelombang orgasme membuat Alisa lemas, ia tidak lagi melawan dan membiarkan Rudi melakukan apa saja dengan tubuhnya. Rudi adalah seorang pria kuat yang telah mengambil apa yang ia inginkan dan dari apa yang baru saja Alisa alami, ia gembira sekali Rudi menginginkannya.

Kehangatan yang lembek terasa di sekitar selangkangan dan pinggang Alisa, si cantik itu segera sadar kalau Rudi akhirnya mencapai puncak orgasme. Semprotan peju Rudi melesat jauh ke rahim Alisa, tubuh wanita cantik itu bergetar seakan menunggu – nunggu bibit unggul yang ditanam oleh pria kurus berkulit hitam yang bukan suami sahnya ini.

Rudi menarik kontolnya dengan pelan, batangnya yang tebal dan panjang penuh dengan lumuran cairan cinta yang tercampur dari keduanya.

Untuk beberapa saat lamanya kedua tubuh telanjang itu diam tak bergerak di atas sofa. Rudi mengguling ke bawah dengan lemas, ia meninggalkan Alisa yang masih diam tak bergerak. Sambil duduk dan menyalakan rokok Rudi melirik ke arah wanita jelita yang baru saja ia tiduri.

"Bagaimana? Ibu suka kan tidur sama saya?"

Alisa mendengus keras dan berbalik, ia lebih memilih menatap tembok karena tak ingin melihat wajah puas Rudi yang telah berhasil menidurinya. Seluruh pikiran Alisa terbagi menjadi dua bagian, saling bercampur dan bertarung. Alisa tidak bisa memilah diri dan memutuskan apakah kenikmatan luar biasa yang telah ia raih sebagai hasil memuncaknya birahi ataukah rasa putus asa yang sangat mendalam yang saat ini sebenarnya ia rasakan. Dia gagal menjadi wanita yang tegar dan mampu berjuang demi diri sendiri. Ia selalu ditekan oleh keperkasaan lelaki bejat seperti Pak Bejo dan kini oleh nafsu binatang supirnya sendiri. Alisa telah kalah dan ditundukkan.

Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi? Alisa tidak tahu dan dalam hati kecilnya ia mungkin tidak peduli. Dia hanya tahu kalau dia kini sedang berbaring di samping seorang laki – laki yang telah membuatnya terbang ke langit ke tujuh dengan permainan cinta yang fantastis, penuh rasa cinta yang menggebu dan nafsu yang membuncah. Dia tidak peduli kalau laki – laki itu bukanlah suaminya yang kini tergolek lemah tak berdaya di salah satu kamar. Alisa juga tidak peduli kalau laki – laki itu bukanlah pemerkosanya yang bejat dan tidak tahu diri. Dia tidak peduli.

"Sebaiknya Bu Alisa segera kembali ke kamar sendiri. Bapak mungkin sudah menunggu."

Alisa menatap laki – laki di sampingnya dengan pandangan lemah. Entah kenapa dia lebih ingin menghabiskan malam ini bersama Rudi daripada harus kembali ke kamar dengan Mas Hendra. Tapi itu pemikiran yang salah dan bodoh. Si cantik itu bergegas bangkit dan mengenakan pakaiannya kembali.

Suaminya pasti sudah menunggu! Dengan buru – buru Alisa mengenakan BH dan baju, ia mencoba mencari celana dalam tapi tak kunjung menemukannya. Dengan kebingungan Alisa mencari kesana kemari, di mana celana dalamnya? Kemana tadi Rudi membuangnya?

"Celana dalamku…? Mana celanaku, Mas? Jangan diam saja! Ayo bantu cari!"

"Seandainya kita hanya bisa bercinta malam ini, biarlah celana dalam Ibu menjadi benda yang bisa saya bawa sampai kelak saya pergi, saya akan menyimpannya sebagai benda paling berharga yang pernah saya miliki." Kata Rudi dengan tenang, "lebih baik sekarang Ibu kembali ke Pak Hendra."

Dengan langkah cepat Alisa keluar dari kamar Rudi, melewati taman dan masuk ke rumah induk, ia mencari Hendra ke kamar. Nafas Alisa yang kembang kempis mengejutkan Hendra yang tengah mengetik dengan laptop. Hendra sudah bangun? Jangan – jangan ia sedang menunggu Alisa? Sambil berusaha mengembalikan perasaannya yang kacau balau setelah disetubuhi Rudi, Alisa duduk di samping sang suami. Alisa berkeringat dingin, semuanya hancur. Dunianya kembali berantakan, bukan oleh ulah Pak Bejo… melainkan oleh ulahnya sendiri… yang tergoda laki – laki lain!

"Kamu baik – baik saja?" tanya Hendra dengan suara dingin. Ia hanya menatap Alisa sekilas dan melanjutkan lagi pekerjaannya.

Alisa memandang wajah Hendra dari samping dan menyesali perbuatannya. Ia sangat menyesal… ia telah bersalah kepada suaminya, ia telah mengkhianati cinta mereka. Bukannya berusaha meraih kembali hati suaminya yang tengah terpuruk, ia malah jatuh ke pelukan laki – laki lain! Ini lebih buruk daripada diperkosa Pak Bejo. Ini sama saja dengan selingkuh! Sudah pasti, kesalahan ada di pundak Alisa.

"Mmmm… aku baik – baik saja." jawab Alisa lirih.

"Kamu kok kebingungan begitu? Apa ada yang kamu pikirkan?"

"A… anu… aku… aku tadi sakit perut… dan… aku dari kamar mandi… dan…", Alisa tidak kuat menanggung ini semua, lagi – lagi dia harus berbohong kepada Mas Hendra. Yang lebih parah, kali ini dia menutupi ulahnya sendiri yang mau – maunya menerima rayuan Rudi dan bukan atas paksaan Pak Bejo. Dia benar – benar telah berubah menjadi seorang wanita gampangan! Ingin menangis rasanya Alisa kalau ingat apa yang baru saja terjadi.

"Kamu sakit perut?"

"Mmm… sudah baikan… aku tidak apa – apa."

"Tidur saja kalau sakit."

"Iya mas…"

Tidak ada percakapan lagi di antara mereka. Hendra meneruskan pekerjaannya tanpa mempedulikan kehadiran Alisa. Dengan tubuh yang masih gemetar ketakutan Alisa berbaring di ranjang dan mencoba memejamkan mata. Pengkhianatannya dan tanggapan dingin Hendra membuat tubuhnya menggigil.

Tanpa sepengetahuan Hendra, setetes air mata mengalir di pipi Alisa, sementara setetes air mani yang tersisa mengalir di pahanya.

Pojok pos ronda di gang keempat sebelah selatan rumah Pak Bejo sering digunakan sebagai tempat berkumpulnya para preman kampung. Tempat ini sebetulnya sudah tidak pernah dipakai lagi karena warga kampung lebih memilih menggunakan pos ronda yang ada di dekat perumahan, yang pernah dipakai Pak Bejo menggauli Alisa. Apalagi karena para preman sering sekali menggunakan pos ronda ini sebagai markas mereka kalau sedang bermain judi atau mabuk – mabukan, maka tempat ini makin ditinggalkan dan dilupakan. Lokasinya juga agak jauh dari rumah lain dan menempel di belakang gedung sekolah bertembok tinggi, berbatasan dengan sebuah gang kecil yang langsung menuju ke jalan besar. Jarang ada yang berani melewati gang kecil ini, karena kalau ada yang lewat, para preman langsung beraksi meminta retribusi. Karenanya, warga kampung lebih memilih memutar lewat perumahan daripada harus melewati gang kecil ini. Tidak ada lagi orang menyebut tempat ini Pos Ronda, mereka kini menyebutnya Pos Preman.

Di tempat inilah Pak Bejo biasa menghabiskan waktunya.

Namun hari itu lain, hanya ada tiga orang saja yang berada di pos preman itu, Badu, Jabrik dan Kribo, ketiganya anak buah Pak Bejo. Botol minuman keras berserakan, asap rokok mengepul tinggi, pemandangan yang biasa bagi warga kampung, walau sesungguhnya bukanlah pemandangan yang sehat. Ketiga anak buah Pak Bejo itu sedang asyik dengan kegiatan masing – masing sambil tertawa – tawa. Entah apa ada yang lucu ataukah syaraf mereka sudah terpengaruh minuman keras.

Jabrik dan Badu sedang bermain kartu sambil melempar – lempar uang ribuan, sementara Kribo sibuk menikmati gambar artis – artis berdada sentosa yang ada di dalam majalah khusus pria dewasa yang tadinya ia rampas dari tas seorang anak SMA. Dari ketiganya, Kribo adalah yang paling ditakuti, tubuhnya besar dan wajahnya sangar. Bisa dianggap kalau dia ini tangan kanan Pak Bejo. Perhatian Kribo yang sedang membuka – buka majalah terusik ketika dia melihat ada satu sosok masuk ke gang mereka.

"Sst… duit! Duit!" bisik Kribo pada Badu dan Jabrik.

Kedua orang yang tadinya asyik dengan kartu mereka bangun dan memasang wajah sangar.

"Siapa yang lewat?" bisik Badu.

"Bukan orang kampung." Jawab Jabrik. "Gak kenal."

"Abisin aja." Kata Kribo sambil kembali menatapi kemolekan artis yang pernah tampil di iklan sabun mandi berpose menantang di dalam majalah. Kalau hanya urusan kompas – mengompas mending dia berikan saja kepada dua temannya itu, dia malas berurusan dengan hal – hal sepele.

Badu dan Jabrik tertawa – tawa lagi karena mereka akan kembali menuai uang. Anehnya, sosok yang baru saja datang itu bukannya menjauh saat melihat mereka, dia malah mendekat bahkan berjalan dengan langkah yang sangat cepat menuju mereka. Aneh sekali!

Bruk!!!

Tiba – tiba saja orang itu menendang Badu!

Tubuh Badu yang tak siap terlempar jauh menubruk tembok. Nasib yang sama menimpa Jabrik yang juga terkejut melihat temannya terlempar.

Brak!!!

Jabrik terlempar terkena tendangan dan jatuh tepat di samping Badu. Kedua orang itu meringis kesakitan. Melihat kedua temannya terkapar, Kribo dengan kesal melempar majalah yang ia baca dan mencabut pisau lipat dari saku di celananya. Dia berjalan pelan ke arah Badu dan Jabrik, lalu membantu mereka berdiri. Tiga lawan satu, kelihatannya tidak seimbang tapi kedua kawannya sudah jatuh, orang ini harus diwaspadai. Kribo meludah dan menatap orang itu dengan pandangan seram. Badu dan Jabrik yang melihat Kribo sudah memegang pisau ikut – ikutan menyiapkan pisau lipat mereka.

"Siapa kamu!? Kurang ajar! Berani – beraninya menantang kami! Jangan sok jago! Tadi kami belum siap! Ayo maju!" teriak Badu, walaupun menantang, ia sebenarnya gentar juga, dengan tangan gemetar ia mengacung – acungkan pisau yang ia pegang ke arah orang yang tiba – tiba saja datang.

"Banci! Beraninya pakai senjata!" ejek orang itu sambil mencibir.

Badu menggerutu geram ketika orang tak dikenal itu maju tanpa mempedulikan pisau yang ia pegang. Badu tidak takut, toh dia tidak sendirian. Kedua kawannya yang lain juga sudah siap menyerang lelaki asing itu. Ketika komando Badu diteriakkan, mereka bertiga menyerang membabi buta. Tapi dengan mudah dan sigap ia menghindari semua serangan mereka. Orang itu sebenarnya tidak besar dan kekar, bahkan kurus dan sangat hitam, wajahnya juga terlihat tua dengan keriput yang tidak bisa disembunyikan. Tapi orang ini sangat liat dan lincah, gerakannya cepat dan efektif, semua diperhitungkan masak – masak, sepertinya dia sudah sering melakukan pertarungan jalanan semacam ini.

Ketika serangan mereka dengan mudah dapat dihindari, Badu, Jabrik dan Kribo merubah strategi dan mengepung sang lawan yang tidak bersenjata. Kali ini mereka mengunci posisinya dari semua sisi.

Kribo berteriak kencang sambil menyergap maju, ia menusuk – nusukkan pisaunya ke kepala sang lawan. Orang yang ia serang berputar cepat menggunakan tumit kanan dan melambaikan tangannya dengan keras - memukul tangkai pisau yang dipegang Kribo. Kaget karena tiba – tiba saja kehilangan senjata, Kribo lengah. Dengan cepat sang lawan menggunakan lengan bawahnya untuk mendesak leher Kribo dan menjatuhkannya ke bawah. Kribo terbanting dengan keras dan berteriak kesakitan. Kribo masih belum mau kalah, ia mencoba menyepak lawannya menggunakan kakinya yang bebas. Namun orang itu bukan orang biasa, ia melompat dan menubruk tubuh Kribo dengan sangat keras. Satu pukulan di rahang dan satu sodokan sikut di perut Kribo membuat pria berambut afro itu berteriak kesakitan. Kribo tak mampu bergerak lagi.

Melihat Kribo gagal merubuhkan sang lawan, bahkan berhasil dibekuk dengan sangat mudah, membuat Badu dan Jabrik saling berpandangan dengan bingung. Dari mereka bertiga, Kribo adalah yang paling kuat, ulet dan susah dilawan. Kalau Kribo saja jatuh, apalagi mereka berdua! Keduanya berteriak kencang dan lari ketakutan. Mereka lari terbirit – birit seperti baru saja melihat hantu.

Lawan mereka, tentu saja bukan hantu.

Orang yang mereka hadapi adalah Rudi. Dulu narapidana, lalu penjual bakso, sekarang supir.

Pria tua kurus itu geleng – geleng melihat sifat pengecut Badu dan Jabrik yang meninggalkan Kribo seorang diri. Ia melirik ke bawah dan melihat Kribo meringis kesakitan, ia mengembik minta ampun. Kribo tak bisa melarikan diri karena tubuhnya tak bisa digerakkan. Perutnya mulas karena sodokan sikut dan rahangnya seperti mau copot.

Rudi mendengus, ia mencengkeram kaos Kribo dan mengangkatnya ke atas.

"Dengar aku baik – baik dan jangan sampai lupa menyampaikan pesanku ini, bocah ingusan," gertak Rudi. Ia menjelaskan tiap kata dengan mendorong tubuh sang preman ke pagar besi yang tumpul, pasti sakit sekali rasanya. "Aku akan melepaskanmu, dengan syarat kau mau menyampaikan pesan kepada Bejo Suharso. Mengerti? Mengerti tidak? Bagus! Bilang sama dia kalau Rudi tidak takut menghadapi berapapun anak buah yang dia punya, karena aku juga punya anak buah. Teman – temanku yang sudah lepas dari penjara akan senang sekali kalau mereka punya ‘kantung pasir’ yang bisa dipukuli untuk melepas penat selama dipenjara. Dia hanya preman kampung yang sok aksi. Bilang sama dia kalau dia sampai berani mendekati keluarga Hendra lagi aku tidak akan segan menghajarnya. Mengerti?"

"I – iya, bang… ngerti… nanti saya sampaikan… ke… uhhh… ke Pak Bejo."

Rudi melempar tubuh Kribo ke tong sampah yang langsung terguling berantakan. Ia meninggalkan tubuh Kribo dan mengelap tangannya ke kaos yang ia kenakan.

Dengan langkah yakin Rudi meninggalkan Kribo yang sudah tak berdaya.

Hari ini, lagi – lagi Hendra memilih untuk berangkat ke kantor dengan diantar oleh Rudi. Dia menolak diantar Alisa ataupun mengerjakan pekerjaannya di rumah, padahal pihak kantor sudah memberikan kompensasi pada Hendra agar dia mengerjakan saja tugas – tugasnya di rumah. Jurang antara pasangan suami istri serasi ini memang makin melebar. Hendra sudah berubah, ia bukan lagi sosok yang tenang dan mencintai istrinya, bahkan ada kesan kalau Hendra benci sekali pada Alisa. Entah apa sebabnya.

Sore itu, Alisa yang sedih pulang ke rumah dengan kelelahan. Tadi Mas Hendra sudah SMS kalau dia akan pulang besok, malam ini Mas Hendra ingin berkunjung ke tempat saudara dan menginap di sana, pulang kerja langsung dijemput oleh Anissa dan Dodit yang baru saja berangkat. Setelah memandikan, makan dan menidurkan Opi, Alisa bersantai – santai di ruang tengah.

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam ketika Alisa menyaksikan sinetron di televisi dengan pikiran yang menggelayut. Entah sinetron apa yang sedang diputar di televisi itu, Alisa sama sekali tidak memikirkannya, ia hanya sedang pusing memikirkan semua masalah yang menimpanya. Bukannya berkurang malah bertambah semakin ruwet. Tapi mungkin itu juga gara – gara dia sendiri yang lengah.

Alisa menggelengkan kepala, dalam benaknya kini berulang – ulang adegan permainan cintanya dengan Rudi yang tak bisa hilang. Ia tahu ia hanya bisa sekali itu saja bermain cinta dengan Rudi dan memang sudah menjadi niat Alisa untuk tidak mengulanginya lagi. Besok, Alisa memutuskan untuk memecat Rudi, ia tidak ingin mengulangi kesalahannya menjadi budak Pak Bejo yang bejat itu. Hanya sekali itu saja ia mau melayani Rudi… ya, hanya sekali itu saja ia… mmm… tapi… kenapa rasanya ia rindu sekali pada pelukan laki – laki tua itu? Kenapa… tidak! Tidak boleh! Ia tidak mau!

Benak Alisa yang kacau memang diakibatkan oleh retaknya hubungannya dengan Hendra dan perubahan mental akibat berulangkali ditiduri Pak Bejo, gairah sex ual Alisa menjadi meledak – ledak, ia membutuhkan permainan cinta yang tidak pernah lagi disediakan oleh Hendra. Rudi yang tiba – tiba saja hadir dalam kehidupannya adalah sosok yang sama sekali berbeda dengan Pak Bejo. Rudi mungkin tidak setampan Hendra, tubuhnya cenderung kurus dengan wajah jelek yang keriput dan kulit yang gelap terbakar matahari. Tapi anehnya… ada sesuatu yang lain dalam diri Rudi yang membuat Alisa merinding jika berdekatan dengannya. Mungkin akibat terlalu sering berkencan dengan Pak Bejo membuat pandangan Alisa terhadap seorang laki – laki bergeser. Ia tidak lagi menganggap ketampanan adalah segalanya.

Alisa menggelengkan kepala, ia sudah melamun terlalu jauh.

"Kesepian ya, sayang?"

Alisa terkejut mendengar suara jelek itu. Suara Pak Bejo!! Alisa segera membalikkan tubuh dengan cepat, benar! Pak Bejo ada dibelakangnya! Kurang ajar! Kapan dia masuk? Bagaimana dia bisa masuk? Oh iya, dia masih memegang duplikat kunci rumah!

"Sejak kapan Pak Bejo ada di dalam rumah?" desis Alisa geram. "Keluar! Bapak tidak diundang masuk ke rumah ini!"

"Ha ha ha, sejak kapan aku butuh undangan untuk menikmati memek kamu yang manis itu, sayang?" tawa Pak Bejo sambil mengelap air liurnya yang menetes. Ia benar – benar sudah rindu pada tubuh molek Alisa. Ibu muda cantik itu memiliki tubuh yang sangat menggiurkan dan membuatnya kangen. Seperti seorang perantau yang ingin selalu kembali pulang ke rumah, sekali merasakan kehangatan tubuh sang bidadari, dia ingin selalu menikmatinya. "Tahu rasa kamu sekarang! Sendirian saja di rumah tanpa Mas Hendramu yang cacat dan supirmu yang sok jago itu!"

Tanpa menunggu aba – aba dari siapapun, Alisa bergerak cepat dan segera berlari menuju kamar. Kalau ia sudah sampai di kamar, dia akan mengunci pintu sehingga Pak Bejo tidak bisa masuk.

Sayang, laki – laki tua gemuk itu lebih cepat.

Dengan gerakan tak terduga yang lincah Pak Bejo menubruk Alisa. Tidak menunggu lama, pria tua itu dengan paksa mencoba membuka baju sang ibu muda. Alisa mencoba berteriak, namun mulutnya lalu dibekap oleh Pak Bejo, ia bahkan tidak bisa meronta karena eratnya pelukan sang preman kampung. Nasibnya kini ada di tangan Pak Bejo! Lagi – lagi dia akan diperkosa!

Pak Bejo mendengus – dengus seperti babi, nafsunya sudah memuncak hingga ke ujung ubun – ubun. Dia sudah tidak tahan, sekali dia bisa memasukkan penisnya ke memek Alisa, dia akan memuntahkan semua pejuhnya di dalam perut ibu muda yang cantik itu! Dia akan hamili istri Hendra yang molek itu! Kalau sudah hamil, Alisa pasti akan selalu merindukan ayah anaknya!

Alisa yang tak berdaya meringkuk dalam pelukan Pak Bejo. Air matanya kembali mengalir walaupun mulutnya kini terkatup rapat. Ia tetap tidak mau membuka mulut saat Pak Bejo menyorongkan bibirnya untuk mencium bibir mungil Alisa.

Pak Bejo yang sudah tak tahan melucuti bajunya sendiri, ia melepaskan celana dan membuka kancing bajunya, ia ingin segera menelanjangi Alisa ketika tiba – tiba… terdengar suara dari jarak yang tidak begitu jauh.

"Lepaskan Bu Alisa! Bajingan tengik!"

Suara itu lagi! Sial banget! Itu suara Rudi! Pak Bejo menoleh dan mendesis kesal. "Kurang ajar!! Lagi – lagi kamu! Lonthe ini milikku! Dasar Anj…"

Plaaaaaaaaakkkk!!!

Belum sampai Pak Bejo menyelesaikan kata – kata yang ia ucapkan, Rudi sudah menamparnya dengan sangat keras. Begitu kerasnya hingga tubuh Pak Bejo terlempar dari atas tubuh Alisa. Si cantik itu meringkuk ketakutan, dia lega sekali melihat kedatangan Rudi.

"Sudah saya bilang, lepaskan! Jangan salahkan saya kalau saya jadi gelap mata! Saya minta dengan sangat untuk yang terakhir kalinya, tolong hormati majikan saya! Jangan berani – berani mendekatinya lagi! Selama ada saya disisinya, tidak akan saya biarkan siapapun juga menyakitinya! Mengerti!? Saya harap Pak Bejo sadar kalau Pak Bejo sudah tidak dibutuhkan lagi oleh keluarga ini! Pergi jauh – jauh dan jangan pernah kembali lagi!!" bentak Rudi dengan galak.

Melihat ketangguhan dan kekerasan hati Rudi, Pak Bejo mau tak mau gentar juga melihatnya. Ia sudah mendengar berita Kribo yang dihajar oleh lelaki ini tempo hari. Dengan langkah gemetar, preman tua itu meninggalkan Alisa dan Rudi.

"Kau… kau… bajingan! Tunggu pembalasanku! Tunggu saja!" Pak Bejo memegangi pipinya yang memerah karena kerasnya tamparan Rudi. Pria gemuk itu langsung berlari tunggang langgang tanpa mempedulikan pakaiannya yang masih belum dikenakannya dengan benar.

Rudi mendengus. Orang seperti Pak Bejo kadang memang tidak boleh diberi hati. Dia harus diberi pelajaran supaya tidak memperlakukan orang lain dengan semena – mena. Dasar preman kampung tidak tahu diri! Belum cukup rupanya dia menghajar anak buahnya tempo hari. Rudi menengok ke belakang dan melihat ke arah Alisa yang duduk bersimpuh dengan lemas. Pakaiannya terkoyak dan matanya berkaca – kaca. Dia memandang ke arah Rudi dengan pandangan yang tak bisa dijelaskan dengan kata – kata.

Dengan lembut Rudi berjongkok di depan Alisa, dia merapikan rambut dan baju Alisa. "Orang itu sudah pergi, Bu. Semua akan baik – baik saja mulai sekarang. Saya akan melindungi ibu."

"Sudah pergi…?"

"Iya. Pak Bejo sudah pergi, semua pasti baik – baik saja. Ibu tidak apa – apa kan?"

Alisa menggeleng. Dia masih belum bisa mempercayai kejadian yang baru saja ia alami.

"Bagus kalau begitu. Mari saya bantu berdiri." Kata Rudi sambil mencoba mengangkat lengan Alisa.

Tapi Alisa tak bergeming, ia memandang ke arah Rudi dengan pandangan yang sayu dan lemah. Matanya yang berkaca – kaca kini mulai meneteskan air mata. Wanita cantik itu akhirnya tak kuat lagi, ia menangis dan berteriak keras dalam pelukan Rudi.

Dengan lembut Rudi mengelus – elus punggung dan rambut majikannya yang sangat indah. "Jangan khawatir, Bu. Mulai sekarang saya akan selalu melindungi Ibu. Orang itu tidak akan saya ijinkan mendekati Ibu lagi. Saya tidak akan membiarkan orang itu menganggu wanita yang saya cintai."

Tadinya Alisa terus saja menangis, menumpahkan semua kekesalan dan penat yang ia rasakan dalam pelukan supirnya. Namun ia tersentak ketika mendengar kata – kata cinta keluar dari mulut Rudi. Alisa mundur dari pelukan Rudi, ia menghapus air mata yang leleh di pipi. Keduanya terdiam beberapa saat lamanya, saling memandang dan mendalami perasaan masing – masing.

"Ka… kamu… apa yang kamu…?" tanya Alisa dengan terbata – bata.

"Saya mencintai Bu Alisa." Jawab Rudi dengan bersungguh – sungguh.

"Be… benarkah?"

Rudi mengangguk, sudah kepalang basah, ia tidak akan mundur lagi. Ia benar – benar telah mencintai Alisa. Tidak masalah kalau ia ditolak dan harus mengundurkan diri menjadi supir keluarga karena toh Alisa telah berkeluarga, yang penting, ia telah melindungi wanita yang ia cintai dan membuktikan cintanya tidak hanya sekedar keinginan yang berlandaskan nafsu semata.

Alisa masih terus menatap mata Rudi dengan pandangan berlinang. Lalu… dengan kekuatan yang entah datang dari mana, Alisa menyorongkan kepala ke atas, menarik kepala Rudi ke bawah, dan mencium bibirnya dengan lembut.

Rudi kaget sekali melihat reaksi Alisa ini, ia tidak mengira majikannya itu akan menciumnya. Namun Alisa adalah wanita yang sangat diidam – idamkannya. Mendapat ciuman dari Alisa bagaikan mendapat anugerah yang tak ternilai harganya. Rudi membalas ciuman Alisa dengan sapuan lembut di bibir. Mereka saling melumat dan memberikan nafas, menyapu bibir dan lidah dengan kelembutan. Setelah lama tak merasakannya, baru kali inilah Rudi sadar, ia telah memperoleh apa yang telah ia damba selepas kehidupan kelamnya, ia telah memperoleh cinta.

Setelah cukup lama mereka berciuman lembut, Alisa akhirnya melepas bibir Rudi.

Rudi terdiam tak mampu bicara, bibirnya bergetar karena merasakan keindahan yang telah lama ia idam – idamkan.

"Mas…"

"I… Iya, Bu?"

"Maukah kamu tidur lagi denganku?"

Pandangan mata Rudi terbelalak kaget.

Ketika masuk ke kamar Rudi, Alisa baru sadar kalau ternyata kamar supirnya itu sangat bersih dan rapi. Ia tidak sempat memperhatikan ketika masuk ke tempat ini tempo hari. Barang – barangnya disusun di pojok, tempat tidurnya juga sangat bersih, sepreinya harum seperti baru dicuci. Kamar yang sebelumnya dijadikan gudang itu juga sangat wangi. Alisa jadi semakin kagum dengan pria yang telah menyelamatkannya dari cengkraman Pak Bejo ini. Walaupun punya masa lalu yang bisa dibilang tidak menyenangkan, Rudi adalah pria yang mengagumkan. Rudi memang telah menceritakan masa lalunya yang kelam, menjadi seorang penghuni bui karena kesalahannya yang fatal. Kini Rudi ingin memperbaiki kesalahannya itu.

Bagaikan pengantin yang baru saja menikah, tanpa diminta Rudi mengangkat tubuh Alisa dan meletakkan tubuh indahnya dengan lembut di atas ranjang. Walaupun awalnya kaget, namun Alisa menuruti saja kemauan lelaki tua perkasa itu. Kain seprei yang bersih dan harum membuat Alisa tidak merasa jijik, ia bahkan sangat kagum dengan kerajinan dan kebersihan Rudi, sungguh sangat jarang laki – laki seperti ini. Rudi duduk di samping Alisa yang terbaring. Dengan berani istri Hendra itu menyentuh pundak laki – laki kurus dan tua yang rebah disampingnya. Ia menyentuh pundak Rudi tanpa melepaskan pandangan dari mata pria yang pernah berjualan bakso itu. Tangan lembut Alisa meraih bagian belakang kepala Rudi dan menariknya ke bawah, lalu bibir sex i si cantik itu mengecup bibir sang supir.

Ciuman lembut Alisa yang tulus mengoles bibirnya bagaikan obat untuk semua lelah, gelisah dan keluh kesah yang pernah Rudi keluarkan seumur hidupnya. Olesan lembut bibir mungil majikannya itu juga membuat tubuh Rudi bagaikan disentak aliran listrik berjuta volt, seandainya dia adalah sebuah baterai hidup, Rudi sudah langsung tercharge dengan energi hingga penuh. Bibir mereka berdua saling mengelus, saling menimang, beruntai, berjalin, menikmati sentuhan pelan dan nikmat yang tak bisa diungkap dengan kata.

"Mmmhh…" desah Alisa manja. Ia memejamkan mata dan membiarkan bibir Rudi menari di atas bibirnya yang lembut, membiarkan bibir tebal dan keras sang sopir menyelimuti bibirnya yang ranum. Olesan bibir Rudi tidak seperti bibir Hendra yang lembut atau bibir Pak Bejo yang kasar dan menuntut.

Lama pagutan bibir mereka tak saling lepas, Rudi mulai mengeluarkan lidahnya yang bagai ular. Lidah Rudi membuat Alisa makin tak berkutik dan tenggelam sepenuhnya dalam pelukan sang sopir.

"Mas?" tanya Alisa ketika bibir mereka lepas sejenak.

"Hmm?"

Alisa tak buru – buru menjawab karena kembali menikmati lidah dan bibir Rudi.

"Aku… mhh… mmhh… mau… tanya…"

"Hmm?"

Kembali bibir Rudi menggelayut di bibir sang kekasih namun kali ini Alisa menolaknya.

"Iiihhh… Mas nakal! Aku kan mau tanya sesuatu yang penting, jangan digangguin dulu!"

"Habis bibir kamu menggemaskan, mungil dan mengundang, aku jadi tidak tahan." Kata Rudi sambil tersenyum. "Baiklah, kamu mau tanya apa, sayang?"

"Bagian mana dari tubuhku yang paling Mas Rudi suka? Akan langsung aku berikan sekarang juga." Kata Alisa sambil menggigit bibir bawahnya dengan genit.

"Aku suka semuanya."

"Ah, jawaban gombal."

"Kalau begitu… aku suka dari ujung kaki sampai ujung rambut."

"Hi hi hi, aku nggak percaya. Mana ada yang suka ujung kaki aku."

"Aku suka."

"Bohong."

"Eh, gak percaya? Baik aku buktiin!"

Rudi membalik badannya dengan cepat tanpa mempedulikan protes Alisa yang tertawa.

"Aku kan cuma becanda, Mas!"

Rudi membuktikan kesungguhannya dengan menciumi jempol dan jemari kaki Alisa. Si cantik beranak satu itu adalah wanita yang amat memperhatikan kebersihan, sehingga Rudi tidak sedikitpun merasa jijik karena kaki Alisa sangat mulus dan bersih. Mirip kaki seorang bayi yang lembut dan suci. Rudi mencium dan menjilat – jilat kaki sang kekasih dengan sepenuh hati. Alisa bergetar karena rangsangan Rudi ini.

"A… aku percaya, Mas… aku percaya…"

Sambil tersenyum puas Rudi mengelus lembut betis sang bidadari. Tentu saja pria tua itu tidak berhenti sampai di situ saja. Ia mengeluskan tangannya dari bawah ke atas, naik ke arah paha mulus Alisa. Kaki Alisa yang jenjang membuat Rudi terkagum – kagum, begitu mulus, indah dan putih, sangat sedap dipandang. Alisa memiliki karunia yang sangat lengkap dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, semua indah dan sempurna.

Tapi bidadari itu kini tengah dilanda nafsu birahi yang meledak – ledak, ia tidak mau tangan Rudi hanya mengelus – elus betis dan pahanya saja, ia ingin lebih. Sambil berbaring di ranjang, Alisa memberanikan diri mengelus batang kemaluan Rudi yang masih tersembunyi di balik celana. Tangannya yang lembut bergerak naik turun dengan perlahan, membuat sekujur tubuh Rudi merinding keenakan. Siapa yang tidak mau penisnya dikocok wanita semolek Alisa? Hanya dengan melihat pandangan mata Alisa yang berbinar, Rudi tahu kalau Alisa merindukan permainan cinta yang sebenarnya, bukan perkosaan brutal ala Pak Bejo, atau hubungan dingin tanpa perasaan seperti yang ditunjukkan Hendra. Rudi akan membuat si cantik ini menikmati sex yang indah bersamanya.

Perlahan Rudi menurunkan celana berikut celana dalamnya. Batang kemaluannya menegak kencang di hadapan wajah cantik Alisa.

"Mas… aku ingin… mmm… boleh aku…?" tanya Alisa malu – malu. "Mmm… bolehkah?"

Alisa tidak melanjutkan kata – katanya saat ia melihat Rudi mengernyit keenakan. Elusan lembut jemari Alisa pada batang kemaluan Rudi membuat mantan penjual bakso itu bergetar dan menggelinjang tak kuasa menahan nafsu. Hal itu membuat Alisa tersenyum tertahan, seperkasa apapun Rudi, ia ternyata tidak tahan dengan jari – jarinya yang lembut.

Sembari menikmati elusan lembut jemari Alisa pada penisnya, Rudi melucuti pakaian yang ia kenakan. Ia ingin bersentuhan langsung dengan kulit mulus Alisa, tanpa terhalang baju mereka. Seakan mengerti kemauan Rudi, Alisa mengikuti dengan melucuti pakaiannya sendiri. Ia berhenti sebentar mengelus penis Rudi untuk membuka baju. Pria tua itu mengerang kecewa ketika Alisa berhenti menyentuh kemaluannya, namun karena ia mendapati Alisa sudah tak berbusana ketika ia membuka mata, Rudi tak mengeluh sedikitpun.

Rudi berdecak kagum ketika kembali bisa menikmati keutuhan tubuh molek Alisa. Benar – benar seorang bidadari yang turun dari langit, sempurna tiada duanya. Bila dibandingkan dengan bintang sinetron, mungkin Alisa lebih cantik dan sex i, kini bayangkan jika tubuh sesempurna itu dipersembahkan untuk pria seperti Rudi! Pandangan matanya tak ingin lepas dari kesempurnaan Alisa, wajah cantik lembut dengan rambut yang terurai indah, kulit mulus seputih susu yang memancarkan keharuman mewangi, payudara sempurna yang sintal dan menggairahkan, pinggang ramping, pantat bulat, semua – untuk Rudi.

Alisa diam saja tanpa mempedulikan kekaguman Rudi kepadanya dan meneruskan ‘pekerjaannya’ memainkan kemaluan Rudi.

Rudi buru – buru sadar dari rasa kagum yang membuatnya terbengong – bengong dan segera kembali ke posisi semula, ia berbaring dan membiarkan wajah Alisa tepat berada di depan penisnya sementara ia sendiri berhadapan langsung dengan kaki sang bidadari. Saat itulah pria tua yang perkasa itu menurunkan wajahnya hingga ke kaki sang bidadari. Alisa meringis keenakan saat Rudi beraksi, tanpa malu – malu pria tua yang pernah berjualan bakso itu menjilati dan menciumi ujung – ujung jemari kaki Alisa. Rudi melakukan aksinya dengan sangat pintar dan membuat Alisa menggelinjang, ibu muda satu anak yang statusnya adalah istri orang itupun tak kuasa menahan desahan demi desahan yang terus menerus keluar dari bibir mungilnya.

"Auhhhhhmmm, Masss… geli mass… jangan… aaaaahhhh…" tangan Alisa tak beranjak dari batang kemaluan Rudi, terus meremas dan mengocok penisnya yang besar dan hitam sementara sang supir mencumbu dan mengulum jari – jari kaki dan betisnya. Melihat Alisa keenakan, Rudi menarik kaki wanita cantik yang mulus dan jenjang itu ke bawah. Jengkal demi jengkal sisi – sisi kaki Alisa dicumbui dengan buas oleh Rudi, si cantik itu makin tak tahan dibuatnya, kakinya bergerak tak menentu arah, menyepak kesana kemari. Rudi tersenyum, dengan tangannya yang berotot dipegangnya kaki Alisa erat – erat, lalu dijilatinya seluruh bagian kaki Alisa yang sangat putih dan indah itu.

"Aaaahh, Massss… ouuuhhh, jahaaaat… geli ahhhh!!"

Rudi melanjutkan ciuman dan jilatannya tanpa memperdulikan desahan manja sang ibu muda. Alisa memejamkan mata menahan nafsunya yang menggelegak hebat karena foreplay yang dilakukan oleh Rudi. Semua perasaan jijik yang selama ini dipelihara karena tidur dengan laki – laki yang tidak ia sukai ia lepaskan dengan bebas bersama Rudi. Laki – laki ini memang bukan Hendra, tapi paling tidak ia bukan Pak Bejo. Alisa melenguh dan mengembik tanpa malu, membiarkan suaranya lepas menyebar ke seluruh penjuru rumah. Seluruh penat dan stress karena masalah Pak Bejo dan Hendra membuat Alisa menyerahkan seluruh tubuhnya pada Rudi.

Rudi kini tak hanya menggunakan lidah dan mulutnya saja, tangannya bergerak menyentuh paha Alisa dan mengelus – elusnya lembut. Tak pernah ia membayangkan sebelumnya kalau ia mampu melakukan hal ini selepas keluar dari penjara, yaitu mengelus – elus paha mulus seorang wanita cantik dan terhormat seperti Alisa.

Istri Hendra itu masih memejamkan mata, ia membiarkan saja tangan Rudi bergerak nakal menyusuri pahanya yang putih mulus sampai ke pangkal paha. Setelah bagian bawah kaki Alisa yang jenjang basah oleh ciuman dan jilatan bibir dan lidah Rudi, kini giliran paha mulus Alisa yang diserang.

Ibu muda satu anak itu membuka pahanya lebar – lebar memperlihatkan keindahan bibir kemaluannya yang merekah merah muda, kuncupnya yang mungil mempesona Rudi. Ia kagum Alisa masih memiliki bentuk vagina yang indah padahal sudah memberikan keperawanan pada Hendra, melahirkan Opi dan tidur berkali – kali dengan Pak Bejo.

Jari jemari Rudi bergerak lincah menyusuri daerah sekitar kemaluan Alisa tanpa sekalipun menyentuh bibir vaginanya. Tubuh Alisa menggelinjang karena menahan nafsu yang kian lama kian tak tertahankan. Sekali – sekali Rudi menyentuhkan jarinya ke bibir kemaluan Alisa seakan tak disengaja.

"Ahhhh!! Ahhh!!" desah Alisa manja, tubuhnya bergetar hebat tiap kali Rudi memancingnya. Tak tahan oleh perlakuan sang supir, Alisa melenguh panjang, kepalanya bergerak makin tak terkendali ke kanan kiri sementara matanya masih terus terpejam. Melihat gerakan erotis dan lenguhan manja sang majikan, Rudi makin berani. Dengan nekat pria kurus berkulit gelap itu mendorong kepalanya masuk ke pangkal paha Alisa.

"Aaaaaaaaaaahhhh!!!" Alisa kembali mengeluarkan desahan panjang.

Rudi terus melaksanakan niatnya menguasai daerah kemaluan Alisa dengan bibir dan lidahnya. Hisapan, ciuman dan jilatan silih berganti menyerang sang ibu muda. Belum sampai kemaluan Rudi masuk, liang cinta Alisa sudah mulai basah. Bahkan Rudi bisa melihat tetesan air cinta mengalir tipis dari bibir mungil kemaluan sang kekasih. Alisa mengangkat pantatnya, meminta bibir Rudi terus mengelus bibir vaginanya. Dengan lembut Rudi menyusuri rambut kemaluan Alisa yang lembut. Rudi paling suka dengan wanita seperti Alisa, dia merawat rambut kemaluannya dengan mencukurnya rajin, baunya juga sangat wangi dengan aroma khas. Rudi sengaja menggoda Alisa dengan menghembuskan nafas ke liang memeknya tanpa menyentuh. Alisa tak tahan lagi, dia sodorkan bibir kewanitaannya ke mulut Rudi.

Dengan kedua jarinya, Rudi membuka sedikit mulut kemaluan Alisa. Iapun segera mencari titik kelemahan sang ibu muda - klitorisnya. Ketika tonjolan kecil yang mematikan itu berhasil ditemukan, Rudi memperlancar aksinya menaklukkan Alisa. Jilatan, hisapan dan sedotannya membuat tubuh Alisa melonjak – lonjak bagai kuda liar yang sangat binal. Rudi bahkan harus memegang erat tubuh Alisa agar tak terlonjak jatuh dari ranjang. Rudi melumat lembut kelentit sang wanita cantik yang ada dalam pelukannya, ciumannya lalu beralih ke sisi luar bibir vagina dan akhirnya ke bawah, masuk ke dalam liang cintanya. Sekali lagi Alisa melonjak ke atas dan mendesis dengan keras, wajahnya yang cantik terlihat histeris namun ia berusaha keras menahan teriakannya.

"Mas! Sudah, Mas! Aku tidak kuat lagi! Masukkan! Ayo! Masukkan…"

Rudi tidak begitu saja menuruti permintaan Alisa. Ia mainkan dulu lidahnya di bibir memek Alisa. Gerakan kaki sang bidadari makin tak tertahan, ia menendang kesana kemari tanpa sasaran. Kepalanya berpaling ke kanan dan kiri dengan mata terpejam dan keringat yang terus bercucuran. Alisa mengambil bantal dan menggigit ujungnya untuk menahan kenikmatan yang terus ia rasakan. Ketika Rudi menyedot cairan cinta yang menetes keluar dari memek Alisa, rasa gelinya ia alirkan dengan menggigit ujung bantal.

Lidah Rudi makin berkuasa. Ia mendorong lidahnya masuk ke memek Alisa, menjilat dinding yang ada di dalam, menari dan bergoyang tanpa ampun. Jari jemari Rudi membuka sedikit bibir memek Alisa agar lidahnya bisa lebih leluasa.

"Sudah, Mas! Sudah cukup! Aku tidak tahan lagi!" desis Alisa untuk yang kesekiankali.

Rudi mengangkat kepala dan tubuhnya, kini ia membenamkan bibirnya ke telinga sang bidadari. Orang yang pernah menjadi narapidana itu terus membisikkan kata – kata mesra ke telinga Alisa, sementara tangannya asyik memainkan pentil susu yang sudah sangat menjorok keluar. Istri Hendra itu sudah sangat bernafsu, wajahnya memerah karena sangat menginginkan kemaluan Rudi. Ia mengelus dada Rudi dan meminta dengan pandangan memelas. Rudi tahu apa yang diinginkan oleh majikannya yang jelita itu, ia segera mengambil posisi.

Rudi kembali mengincar klitoris milik Alisa. Benda mungil yang menjorok tepat di dalam area kemaluan sang bidadari itu dijilatnya ke kanan dan kiri, digerakkan naik turun. Bagi seorang wanita, titik kelemahan inilah yang membuatnya tak tahan menerima godaan laki – laki. Begitu pula bagi Alisa, tubuhnya melejit dan pantatnya diangkat tinggi – tinggi, cairan cintapun meleleh membasahi bibir kemaluan si cantik itu. Ketika Rudi nekat menyeruput cairan cinta Alisa, istri Hendra itupun menggelinjang keenakan dan meronta.

"Masssss… ahhhhh… ooooohhhhmmm… jangan dimaininnnn…" Alisa merem melek keenakan, dia sudah tidak tahan lagi. "Ayo masukkan, Mas! Cepeeeet!! Aku tidak tahaaaan!!" rengeknya manja.

Dengan hati – hati Rudi menaiki tubuh sempurna milik Alisa, putihnya kulit mulus Alisa yang bagai pualam membuat pria tua kurus itu terkagum – kagum. Kontras sekali kulit bidadari ini dengan kulitnya yang hitam legam. Apalagi melihat payudara sempurna yang tak puas – puas remas dengan gemas. Betapa kagetnya Rudi ketika Alisa nekat menarik batang kemaluannya yang sudah mengeras.

"Ouuuughhhh, besar sekali… ehmmmm… masukin, Masssss!! Cepeeettt!!"

Tentu saja Rudi tidak ingin begitu saja menyodokkan penisnya ke memek Alisa walaupun dia sangat ingin. Dengan gerakan ringan, digoyangkan ujung gundul penisnya ke bibir kemaluan Alisa tapi selalu ditariknya batang kemaluan itu ketika Alisa ingin membimbingnya masuk ke dalam.

"Aaaahhh! Gimana sih!! Ayoooo, aku sudah tidak tahaaaann!!!" rengek si cantik.

Dengan hati – hati batang kemaluan Rudi ditarik oleh Alisa masuk ke dalam liang kemaluannya. Bagi Rudi, ini yang namanya mimpi menjadi kenyataan. Sang majikan yang cantik jelita dan sex i sangat bernafsu menikmati kemaluan supirnya yang buruk rupa, kurus dan hitam legam. Alisa sudah tidak ingat lagi statusnya sebagai istri Hendra ataupun ibu Opi, ia hanya ingin disetubuhi saat ini - – disetubuhi oleh penis raksasa Rudi!

Penis Rudi melesak masuk dengan mudah karena memek Alisa sudah sangat basah, cairan pelumas yang keluar di dalam liang kenikmatan Alisa membanjir dengan deras, memudahkan batang kemaluan Rudi melesak masuk ke dalam. Alisa mengerang dan menggoyangkan kepalanya ke kiri dan kanan, ia menderita dalam kenikmatan. Ketika melihat Alisa sedikit kesakitan, Rudi menunda menyodokkan penisnya, tapi Alisa justru mengangkat pantatnya, ingin segera digenjot.

Rudi memaju mundurkan pinggulnya dengan perlahan, ia takut menyakiti vagina Alisa. Tapi wanita cantik itu sudah terlalu tenggelam dalam kenikmatan birahi yang tanpa ujung. Rudi tak puas – puasnya memandang kecantikan dan kemolekan wajah dan tubuh Alisa. Lekuk tubuhnya yang sempurna, buah dadanya yang kenyal, pinggang ramping dan kulit putih mulus sang majikan. Ia bagaikan berada di awang – awang, tak percaya ia ternyata berhasil menikmati keindahan tubuh istri Hendra yang sangat sex i ini.

"Masss… aku nggak tahan… terussss… aaaahhhh…" Alisa merengek manja.

Rudi tidak mampu menjawab karena merem melek keenakan. Memek Alisa meremas – remas kemaluannya, memilin dan menggilingnya dalam liang kenikmatan yang sempit dan lembab. Ia tidak menyangka memek ibu satu anak ini masih begitu sempit dan nikmat, penisnya seakan disedot ke dalam tubuh Alisa. Memek si cantik itu lama kelamaan makin basah oleh cairan kenikmatan yang keluar dari dalam, membuat goyangan penis Rudi seakan menumbuk liang yang becek.

Desahan manja dan kecantikan Alisa membuat Rudi makin tak kuat menahan nafsunya. Dengan penuh tenaga pria tua kurus berkulit gelap itu mempercepat gerakan menumbuknya. Alisa makin kebingungan, sakit sekaligus enak sekali rasanya, ia tidak tahu harus berbuat apa. Alisa hanya bisa mengimbangi gerakan memilin Rudi dengan menggerakkan pinggulnya maju mundur. Kemaluan Rudi yang ukurannya sangat besar memenuhi liang kenikmatannya dengan penuh, hanya dengan menggerakkan pinggulnya sedikit, penis itu sudah sampai di ujung terdalam dinding memek Alisa, si cantik itupun belingsatan dan merem melek keenakan.

Tempat tidur Rudi makin tak berbentuk, sepreinya acak – acakan, bantal dan gulingnya terjatuh entah kemana. Makin lama, kedua insan yang sedang bercinta itu semakin dekat ke puncak kenikmatan. Rudi berusaha keras menahan orgasme, ia tak ingin terlalu cepat mengeluarkan air maninya, ia masih ingin menikmati memek Alisa yang nikmatnya bagaikan surgawi. Tapi ia tak bisa mengingkari kekuatannya sendiri, dengan sekuat tenaga, Rudi menyodokkan penisnya berkali – kali ke dalam memek Alisa yang menjerit – jerit penuh kenikmatan. Akhirnya Rudi mengeluarkan satu lolongan panjang, ia meremas bahu Alisa kuat – kuat. Ia hampir sampai di puncak kenikmatan.

Alisa yang tahu Rudi sudah hampir orgasme juga tak mau kalah, ia menggerakkan tubuhnya dengan gerakan menggila dan mendaki jalan nikmat menuju puncak. Alisa sudah tidak peduli lagi dengan posisinya sebagai majikan Rudi ataupun statusnya sebagai istri Hendra dan ibu satu anak. Ia hanya ingin memuaskan birahinya secara alami, tanpa paksaan, tanpa tuntutan. Alisa mengangkat kakinya dan mengapit pinggul Rudi, ia sodokkan pantatnya ke atas untuk melesakkan penis Rudi lebih dalam lagi. Akhirnya si cantik itu sampailah ke ujung perjalanan permainan cinta ini, ia mengerang tanpa terkendali.

"Masssss! Massss! Aku mau keluaaaaaar!!" jerit Alisa panik, ia tak kuat lagi menahan orgasme. "Ahhhhhh! Aaahhhh!!!"

"Ahhhhmmm!! Ayo sayang! Kita sama – sama keluar! Aaahhh!!! Alisaku sayaaaang!!"

Semprotan demi semprotan air mani mengalir deras di dalam memek Alisa, bercampur dengan cairan cinta yang memancar dari dalam. Cairan kental meleleh dari ujung bibir kemaluan sang ibu muda, membuktikan penyatuan kedua tubuh insan berlainan jenis ini.

Desah nafas kelelahan berpacu dari mulut Alisa dan Rudi yang masih berpelukan dalam ketelanjangan, keringat deras membanjir di seluruh tubuh mereka, kemaluan Rudi masih bertahan di dalam liang lembut Alisa. Untuk beberapa saat lamanya, mereka berdua hanya terdiam, membiarkan waktu berlalu dan mencoba memperoleh kembali nafas mereka yang kembang kempis.

Tangan Rudi menggenggam erat tangan Alisa, untuk sesaat sekalipun, ia tidak mau melepaskannya. Ia ingin terus bisa melakukan ini, ia ingin terus bisa menikmati keindahan tubuh sang majikan… ah bukan… ia ingin terus bisa menikmati tubuh indah sang kekasih pujaan. Ya, walaupun di mata orang luar mereka adalah majikan dan sopir, tapi Rudi dan Alisa kini resmi menjadi sepasang kekasih.

Mata mereka saling berpandangan, mencoba menyelami perasaan masing – masing. Rudi tahu, walaupun ada kepuasan dalam diri Alisa, namun matanya yang indah itu tak bisa berbohong. Ia menyimpan kesedihan yang teramat dalam. Rudi tahu apa yang mereka lakukan ini salah, Alisa adalah istri sah Hendra dan ia mungkin telah menggoda wanita cantik itu untuk berselingkuh. Mungkin apa yang mereka berdua rasakan bukan cinta, mungkin hanya nafsu… tapi… seandainya diijinkan, ia ingin selalu bersama… selamanya.

Alisa menatap mata Rudi tajam, entah kenapa ia terlihat ragu hendak mengungkapkan sesuatu. "Mas, aku… bolehkah aku menanyakan sesuatu? Sebenarnya aku malu… tapi…"

"Boleh saja, sayang. Mau tanya apa?"

"Mas… emmm, sudah capek belum?… emm… mau… lagi?" Alisa mengedip genit dan tersenyum manja.

Rudi tertawa geli. Ia memeluk bidadarinya erat – erat tanpa sedikitpun keinginan melepas tubuh indahnya. "Apapun yang kamu minta, sayang. Apapun yang kamu minta."

Dengan manja Alisa mengangkat tangan Rudi dan membiarkan jemarinya mengelus pantatnya yang bulat, Alisa kemudian menggoyangnya tanpa merasa malu. "Mau coba dari belakang?" tanya si cantik itu dengan senyum nakal.

Ini bukan kali pertama baginya, dan jelas bukan yang terakhir.

Istri saya ngentot cowok lain dikamar pengantin kita

Istri saya ngentot cowok lain dikamar pengantin kita, cerita sex, seks dewasa, cerita porno
Istri saya ngentot cowok lain dikamar pengantin kita
Istri saya ngentot cowok lain dikamar pengantin kita, cerita sex , Istri saya ngentot cowok lain dikamar pengantin kita, cerita sex, seks dewasa, cerita porno, bacaan porno, kisah seks, cerita bokep cerita dewasa, Istri saya ngentot cowok lain dikamar pengantin kita


Aktifkan javascript tekan (F5), untuk membuka halaman
klik link cerita
serta membuka gambar lebih besar.
Cerita seks dewasa update setiap hari.
http://foto-video-cerita-dewasa.blogspot.com/