Kontol Ayah Ngentot Memek Anak Kandung, Cerita Sex

Kontol Ayah Ngentot Memek Anak Kandung, Cerita Sex - Berdiri di depan pintu rumahku, Mirna mendekatkan kepalaku ke arahnya dan berbisik di telingaku, "Ayah boleh mendapatkanku jika ingin." Dia memberiku sebuah kecupan ringan di pipi, dan berbalik lalu berjalan menyusul suami dan anaknya yang sudah lebih dulu menuju ke mobil. Yoyok menempatkan bayinya pada dudukan bayi itu, dan seperti biasanya, terlalu jauh untuk mendengar apa yang dibisikkan istrinya terhadap ayahnya.

Mirna melenggang di jalan itu dengan riangnya seperti seorang gadis remaja yang menggoda saja. Yoyok gak mengetahui ini juga, ini hanya untukku.

Mungkin kamu mengira aku terlalu mengada-ada soal ini, tapi nyatanya apa yang Mirna lakukan itu tidak hanya sekali saja. Dan sejak aku gak terlalu terkejut lagi, aku jauh dari rasa bosan soal itu. Aku merasa ada getaran pada kontol ku, dan pikiran yang wajar 'andaikan' berputar di benakku.

Kontol Ayah Ngentot Memek Anak Kandung, Cerita Sex

Cerita sex  Ayah boleh mendapatkan memek ku jika ingin, dientot papa, ayah ewe vagina ku di masukin penis besar

Mirna adalah seorang wanita yang mungil, tapi ukurannya itu gak mampu menutupi daya tarik sex ualnya. Sosoknya terlihat tepat dalam ukurannya sendiri. Dia mempunyai rambut hitam pekat yang dipotong sebahu, yang dengan alasan tertentu dia biasanya mengikatnya dengan bandana. Dia memiliki energi dan keuletan yang sepengetahuanku gak dimiliki orang lain. Cantiklah kalau ingin mendeskripsikannya. Dia selalu sibuk, selalu terburu-buru tapi selalu kelihatan manis. Dia masuk dalam kehidupan kami sejak dua tahun lalu, tapi dengan cepat sudah terlihat sebagai anggota keluarga kami sekian lamanya.

Yoyok anakku bertemu dengannya saat dia masih di tahun pertamanya kuliah. Mirna baru saja lulus SMU, mendaftar di kampus yang sama dan ikut kegiatan penataran mahasiswa baru. Kebetulan Yoyok yang bertugas sebagai pengawas dalam kelompoknya Mirna. Seperti mereka bilang, cinta mereka adalah cinta pada pandangan pertama.

Mereka menikah di usia yang terbilang muda, Yoyok 23 tahun dan Mirna 19 tahun. Setahun kemudian bayi pertama mereka lahir. Aku ingat waktu itu kebahagian terasa sangat menyelimuti keluarga kami. Suasana waktu itu semakin mendekatkan kami semua. Mirna sangat jenaka, selalu tersenyum riang, dan juga menyukai bola. Dia sering menggoda Yoyok, mereka benar-benar pasangan serasi. Dia selalu menyemangatinya. Yoyok memerlukan itu.

anak kandung di entot kontol ayah kandung cerita sex sedarah

Yoyok dan Mirna sering berkunjung kemari, membawa serta anak mereka. Mereka telah mengontrak rumah sendiri, meskipun gak terlalu besar. Aku pikir mereka merasa aku membutuhkan seorang teman, karena aku seorang tua yang akan merasa kesepian jika mereka gak sering berkunjung. Di samping itu, aku memang sendirian di rumah tuaku yang besar, dan aku yakin mereka suka bila berada di sini, dibandingkan rumah kontrakannya yang sempit.

Ibu Yoyok telah meninggal karena kanker sebelum Mirna masuk dalam kehidupan kami. Sebenarnya, tanpa mereka, aku benar-benar akan jadi orang tua yang kesepian. Aku masih sangat merindukan isteriku, dan bila aku terlalu meratapi itu, aku pikir, kesepian itu akan memakanku. Tapi pekerjaanku di perkebunan dan kunjungan mereka, telah menyibukkanku. Terlalu sibuk untuk sekedar patah hati, dan terlalu sibuk untuk mencari wanita dalam hidupku lagi. Aku gak terlalu memusingkan kerinduanku pada sosok wanita. gak terlalu.

Bayi mereka lahir, dan menjadi penerus keturunan keluarga kami. Kami sangat menyayanginya. Dan kehidupan terus berjalan, Yoyok melanjutkan pendidikannya untuk gelar MBA, dan Mirna bekerja sebagai teller di sebuah bank swasta. Kunjungan mereka padaku gak berubah sedikit pun, cuma bedanya sekarang mereka sering membawa beberapa bingkisan juga. Tentu saja, di samping itu juga perlengkapan bayi, beberapa popok, mainan dan makanan bayi.

Beberapa bulan lalu Mirna dan bayi mereka datang saat Yoyok masih di kelasnya. Dia duduk disana menggendong bayinya di lengannya. Dia sedang berusaha untuk menidurkan bayinya. Aku gak tahu bagaimana, tapi pemandangan itu entah bagaimana menggelitik kehidupan sex ualku.

"Jadi, ayah, kapan ayah akan segera menikah lagi?" dia bertanya dengan getaran pada suaranya.
"Aku gak tahu. Aku kelihatannya belum terlalu membutuhkan kehadiran seorang wanita dalam hidupku. Lagipula, aku telah memiliki kalian yang menemaniku."
"Aku tidak bicara tentang teman. Aku sedang bicara soal sex ." matanya mengedip ke arahku saat dia bicara.
"Apa?"
"Ayah tahu, sex ." dia hampir saja tertawa sekarang.
"Saat pria dan wanita telah telanjang dan memainkan bagiannya masing-masing?"
"Ya, aku tahu sex ," aku membela diri.
"Lagipula kamu pikir darimana suamimu berasal?"
"Yah, aku hanya khawatir ayah sudah melupakannya. Maksudku, apa ayah gak merindukannya?"
"Terima kasih atas perhatianmu, tapi aku sudah terlalu tua untuk hal seperti itu."
"Hei! Pria gak pernah bosan dengan hal itu. Setidaknya begitulah dengan puteramu."
"Anakku jauh lebih muda dariku, dan dia mempunyai seorang istri yang cantik."
"Terima kasih, tapi aku masih tetap menganggap ayah membutuhkannya," dia menekankan suaranya pada kata 'ayah'.
"Terima kasih sudah ngobrol," kataku, masih terdengar sengit.

Ada sedikit jeda pada perbincangan itu, saat dia masih menekan kehidupan sex ualku. Aku pikir bukanlah urusannya untuk mencampuri hal itu meskipun kadang aku membayangkannya juga. Dia pandang bayinya, yang akhirnya tertidur, dan memberinya sebuah senyuman rahasia, sepertinya mereka berdua akan berbagi sebuah rahasia besar. Masih memandangnya, tapi dia berbicara padaku..

"Ayah boleh memilikiku jika ayah menginginkanku."
"Apa!!?"
"Aku serius." Mirna menatapku.
"Ayah boleh memilikiku. Ayah adalah seorang pria yang tampan. Ayah membutuhkan sex . Di samping itu, aku bersedia, kan?"

Aku pikir dia sedang bercanda. Tapi wanita yang menggoda ini tidak sedang main-main. Tapi tetap saja gak mungkin aku melakukannya dengan isteri dari anakku.

"Terima kasih atas tawarannya, tapi kupikir aku akan menolaknya." suaraku terdengar penuh dengan keraguan saat mengucapkannya.

Mirna mencibirkan bibir bawahnya, aku gak bisa menduga apa yang sedang dirasakannya. Dia tetap terlihat menawan, dan aku merasa Yoyok sangat beruntung. Dia bicara dengan pelan..

"Lihatlah, Yoyok gak akan tahu. Maksudku, aku gak akan mengatakannya kalau ayah juga begitu. Dan bukannya aku menawarkan diriku pada setiap lelaki yang kutemui. Aku bukan wanita seperti itu dan aku bisa mengatur untuk sering berkunjung kemari. Dan aku tahu ayah menganggapku cukup menggoda, kan, sebab aku sering melihat ayah memandangi pantatku."

Aku gak mungkin menyangkalnya. Mirna mungkin gak terlalu tinggi, tapi dia memiliki bongkahan pantat yang indah di atas kedua kakinya.

"Ya, pantatmu memang indah. Tapi itu bukan berarti kalau aku ingin berselingkuh dengan menantuku sendiri." Dia berhenti sejenak, tapi Mirna gak akan menyerah begitu saja.
"Yah, tapi jangan lupa, Ayah boleh mendapatkanku jika ingin."

Dan itulah awal dari semua ini..

Seiring minggu yang berlalu, entah di sengaja atau tidak, dia seakan selalu menggodaku, membuat puting susunya menyentuh dadaku saat dia menyerahkan bayinya padaku. Atau dia masukkan jarinya di mulutnya saat Yoyok gak melihat, dan menghisapnya dengan pandangan penuh kenikmatan padaku. Suatu waktu dia duduk di lantai dengan kaki menyilang dan sedang bermain dengan bayinya, dia memandangku tepat di mata, tersenyum, dan menyentuh pangkal pahanya di balik celana jeansnya. Aku gak akan melupakan itu. Dan dia entah bagaimana selalu menemukan cara untuk berduaan denganku walaupun sesaat, dan dia memberiku ciuman singkat yang penuh gairah, tepat di bibir. Itu semua dilakukannya berulang-ulang.

"Ayah boleh mendapatkanku jika ingin," dia berbisik di belakang Yoyok saat suaminya itu sedang memasukkan DVD pada player.
"Ayah boleh mendapatkanku jika ingin," dia berbisik saat mendekat untuk menyodorkan minuman padaku.
"Ayah boleh mendapatkanku jika ingin," dan dia selalu kembali membisikkannya setiap kali dia berpamitan.

Sekarang, aku bukanlah terbuat dari batu, dan aku gak akan bilang tingkah lakunya itu tidak memberikan pengaruh terhadapku. Mirna sangat manis dan mungil, dan melahirkan bayinya gak membuatnya berubah seperti kebanyakan wanita. Dia tetap langsing, dan manis, dan dia menawarkan dirinya untuk kumiliki. Tapi aku gak akan memulai tidur dengan menantuku sendiri, gak peduli semudah apapun itu. Setidaknya itulah yang tetap kukatakan pada diriku sendiri.

Beberapa minggu yang lalu kami semua berkumpul di rumahku untuk melihat pertandingan bola. Aku mengambil beberapa kaleng minuman dan sedang berada di dapur untuk menyiapkan beberapa makanan ringan saat Mirna muncul dari balik pintu itu.

"Hai!" sapanya, membuka pintu dan masuk ke dapur.
"Ayah sudah siap untuk pertandingan nanti?"
"Hampir. Aku sedang membuat makanan untuk keluarga besar kita, dan aku punya beberapa wortel untuk cucuku. Aku pikir dia akan suka dan warnanya sama dengan kesebelasan yang akan bertanding nanti, kan?"
"Aku pikir dia gak akan peduli. Di samping itu bukankah ada hal lebih baik yang bisa ayah kerjakan untukku?" Mirna tertawa.
"Jangan menggodaku. Aku seorang kakek dan aku akan lakukan apa yang menurutku akan disukai oleh cucuku."

Aku memandangnya. Mirna berdiri di sana memakai bandana merah kesukaannya diatas rambutnya yang sebahu. Dia memakai kaos yang sedikit ketat yang gak sampai ke pinggangnya, dan pusarnya mengedip padaku di balik kaosnya. Kancing jeansnya membuatnya kelihatan seperti anak-anak di era bunga tahun 60-an, dan dia memakai sandal dengan bagian bawah yang tebal yang mana menjadikannya lebih tinggi tiga inchi. Kuku kakinya dicat merah senada dengan lipstiknya, dan itu menjadi mencolok dengan sangat menarik di balik denimnya.

Dia selalu suka mengenakan perhiasan, dan dia memakainya pada leher, telinga, pergelangan tangan dan bahkan di jari kakinya. Dia membuatku berandai-andai jika saja aku masih remaja, jadi aku dapat memacari gadis sepertinya. Mungkin suatu waktu nanti aku harus pergi ke kampus dan mencari gadis-gadis. Khayalanku terhenti saat menyadari kalau Yoyok dan bayinya ternyata tidak mengikutinya masuk.

"Mana anggota keluargamu yang lainnya?" aku bertanya ingin tahu.
"Mereka akan segera datang. Yoyok pergi ke toko perkakas untuk membeli peralatan mesin cuci yang rusak. Dia ingin membawa serta anak kami. 'Perjalanan ke toko perkakas yang pertama bersama ayah', kurasa yang dikatakannya padaku." dia tersenyum.
"Apa ayah mempermasalahkan saat pertama kalinya mengajak Yoyok ke toko perkakas?"
"Aku gak ingat," aku berkata dengan garing. Mirna mendekat padaku, dan menaruh tangannya melingkari leherku.
"Ini kesempatan ayah. Ayah boleh mendapatkanku jika ingin."

Mirna memandangku tepat di mata dan mengangkat tubuhnya dan menciumku panjang dan keras. Aku ingin mendorongnya, tapi aku gak tahu dimana aku harus menaruh tanganku. Aku gak mau menyentuh pinggang telanjang itu, dan jika aku menaruh tanganku di dadanya aku pasti akan menyentuh puting susunya. Saat aku terkejut dan bingung, aku temukan diriku menikmati ciumannya. Ini sudah terlalu lama, dan aku merasa telah lupa akan rasa lapar yang mulai tumbuh dalam diriku. Akhirnya aku menghentikan ciuman itu, mundur dan melepaskan tangannya dari leherku.

"Kita gak boleh melakukannya." aku mencoba menyampaikannya dengan lembut, tapi aku takut itu kedengaran seperti rajukan.
"Ya kita boleh."

Mirna kembali menaruh lengannya di leherku dan mendorong bibirku ke arahnya. Ada gairah yang lebih lagi di ciuman kali ini, dan akhirnya penerimaanku. Kali ini saat kami berhenti, ada sedikit kekurangan udara di antara kami berdua, dan aku semakin merasa sedikit bimbang. Mirna memandangku dengan binar di matanya dan sebuah senyuman di bibirnya.

"Ayah menginginkanku. Aku bisa merasakannya. Ayah gak mendapatkan wanita setahun belakangan ini, dan ayah gak mempunyai tempat untuk melampiaskannya. Dan aku menginginkan ayah. Jadi ambillah aku."

Pada sisi ini aku gak mampu berkomentar. Aku menginginkannya. Tapi aku gak dapat meniduri menantuku, bisakah aku? Tapi aku menginginkan dia. Aku merasa pertahananku melemah, dan saat Mirna menciumku lagi, aku jadi sedikit terkejut saat menyadari diriku membalas ciumannya dengan rakus.

"Mm. Itu lebih baik," katanya saat kami berhenti untuk mengambil nafas.

Mirna menarik tangannya dari leherku dan mulai melepaskan kancing celanaku saat menciumku kembali. Lalu dia mundur jadi dia bisa melihat saat dia melepaskan kancing jeansku, menurunkan resletingnya, dan merogoh ke dalam untuk mengeluarkan barangku. Aku terkejut saat melihat itu jadi tampak lebih besar di genggaman tangannya yang kecil. Itu sudah gak disentuh wanita selama setahun, dan bereaksi dengan cepat, menjadi keras dan cairan precumnya keluar saat dia mengocoknya dengan lembut. Mirna mundur dan duduk pada pantatnya. Saat kepalanya turun, dia menempatkan bibirnya di pangkal kontol ku yang basah.

"Aku rasa aku menyukai bentuknya," bisiknya.

Lalu kemudian dia membuka mulutnya dan dengan perlahan memasukkan kontol ku ke dalam mulutnya. Ke dalam dan lebih dalam lagi kontol ku masuk dalam mulutnya yang lembut, hangat dan basah, dan aku merasa berada di dalam memek yang basah dan kenyal saat lidahnya menari di kontol ku. Akhirnya aku merasa telah berada sedalam yang kumampu, bibirnya menyentuh rambut kemaluanku dan kepala kontol ku berada entah di mana jauh di tenggorokannya.

kontol ku tanpa terasa mengejang, dan pinggangku bergerak berlawanan arah dengannya, dan bersiap untuk menyetubuhi wajahnya. Tapi Mirna perlahan menjauhkan mulutnya dariku, menimbulkan suara seperti sedang mengemut permen. Saat dia bangkit untuk menciumku lagi, aku mengarahkan tanganku di antara pahanya. Aku gosok jeansnya dan dia menggeliat karenanya.

"Mm, itu nikmat," katanya.
"Tapi biar aku membuatnya jadi lebih mudah.", lanjutnya.

Mirna melepaskan kancing celananya dan menurunkan resletingnya, memperlihatkan celana dalam katunnya yang bergambar beruang kecil. Diturunkannya celananya dan melepaskannya dari tubuhnya. terlihat dibawah di area gelap dimana memek nya bersembunyi, dan kemudian aku sentuh perutnya yang kencang dan terus menurunkan celana dalamnya.

Mirna mengerang dalam kenikmatan saat tanganku mencapai sasarannya dibalik celana dalamnya. memek nya serasa selembut pantat bayi, dan aku sadar kalau dia pasti telah mencukurnya sebelum kemari. Terasa basah dan licin oleh cairan memek nya dan membuatku kagum bahwa itu gak menimbulkan bekas basah di luar jeansnya. Saat tanganku menyelinap ke balik bibir memek nya dan menyentuh klitorisnya yang mengeras, dia memejamkan matanya dan menekan berlawanan arah dengan jariku.

Mirna menaruh salah satu tangannya di leherku dan mendorong kami untuk ciuman intensif berikutnya saat tangannya yang lain mengocok kontol ku dan tanganku terus bergerak dalam memek nya. Saat kami berhenti untuk bernafas, Mirna mundur dan mengatakan sesuatu yang mengejutkan..

"Yoyok datang!"

Aku segera melepasnya dan menuju jendela. Ya, mobil Yoyok terlihat di jalan sedang menuju kemari. Mirna pasti melihatnya melewati bahuku saat kami saling mencumbui leher. Tiba-tiba perasaan bersalah datang menerkam karena hampir saja ketahuan. Aku gak percaya apa yang hampir saja kami lakukan. Dengan tergesa-gesa aku kenakan kemabali celanaku, tapi Mirna menghentikanku dan menangkap tanganku dan melanjutkan kocokannya.

"Hei, tidak boleh. gak semudah itu ayah boleh mengakhirinya. Aku telah menunggu terlalu lama untuk ini."
"Tapi Yoyok hampir datang! Dia akan melihat kita!" Mirna mengeluarkan kontol ku dan berjalan ke arah meja dapur.
"Ini perjanjiannya," katanya.
"Aku gak akan mengadu pada Yoyok tentang apa yang baru saja kita lakukan kalau ayah dapat dapat mengeluarkan seluruh peju ayah yang panas dalam memek ku sebelum dia sampai kemari." Sambil berkata begitu, dia menurunkan celananya hingga lutut dan membungkuk di meja itu.
"Dia segera datang!" hampir saja aku teriak.
"Tidak." Mirna membentangkan kakinya sejauh celananya memungkinkan dan dia memandangku lewat bahunya.
"Dia harus menggendong bayi dan mengeluarkan semua barangnya. Biasanya dia memerlukan beberapa menit. Sekarang kemarilah dan setubuhi aku."

Mirna telah telanjang dari pinggang hingga kaki, dan dia memohon padaku agar segera memasukkan diriku dalam tubuhnya. Aku menatap dua lubang yang mengundang itu. Pantatnya begitu kencang dan aku gak terusik saat melihat lubang anusnya yang berkerut kemerahan, dan di bawahnya, bibir memek nya yang merah, terlihat mengkilap basah. Kakinya gak sejenjang model, tapi lebih kecil dan terasa pas, dan aku membayangkan bercinta dengannya beberapa jam. Tanggannya bergerak ke belakang di antara pahanya dan menempatkan tangannya pada memek nya. Dengan dua jarinya dilebarkannya bibir memek nya hingga terbuka, dan aku dapat melihat lubang merah mudanya mengundang kontol ku agar segera masuk.

"Ayo," katanya.
"Ambil aku."

Aku gak tahu apa dia sedang bercanda saat mengatakannya. Yoyok atau bukan, rangsangan ini lebih dari cukup untuk mereguk birahinya. Aku melangkah ke belakang menantuku dan menempatkan kontol ku di memek nya. Saat aku mendorong kontol ku melewati memek nya yang sempit, aku dapat merasakan jari Mirna menahannya agar tetap terbuka, dan dia melenguh saat aku memegang pinggangnya dan memasukkan kontol ku padanya.

Mirna telah sangat basah hingga aku dengan mudah melewati memek mudanya yang sempit. Aku mulai mengayunkan barangku di dalamnya, sebagian didorong oleh nafsu akan tubuh menggairahkannya dan sebagian oleh rasa takut jika Yoyok memergoki kami. Mirna mengerang, dan aku dapat merasakan jarinya menggosok kelentit dan bibir memek nya sendiri. Nafasnya mulai tersengal, dan setelah beberapa goyangan dariku, dia segera orgasme. Suara rengekan pelan keluar dari bibirnya saat dia mencengkeram pinggiran meja dengan kuat, dan letupan orgasmenya menggoncang kami berdua saat aku menghentaknya.

Itu cukup untuk menghantarku. Aku gak berhubungan dengan wanita dalam setahun ini, dan aku belum pernah mendapatkan yang sepanas Mirna. Aku menahan nafas dan mendorong seluruh kelaki-lakianku ke dalam dirinya. Kami mematung, dan kemudian peju ku menyemprot dengan hebat jauh di dalamnya. Serasa aku telah mengguyurnya dengan peju yang panas. Dia mengerang dalam nikmat, menggetarkan pantatnya di seputar kontol ku saat aku mengosongkan persediaan benihku. Dia melemah seiring dengan habisnya peju ku, dan kami akhirnya berhenti bergerak, kecuali untuk mengambil nafas.

Takut Yoyok akan datang sebelum kami sempat melepaskan diri, aku keluarkan diriku darinya dengan bunyi plop yang basah, lalu mundur menjauh dan mengenakan celanaku. Mirna masih tetap berbaring tertelungkup di atas meja merasakan kehangatan peju , pantat telanjangnya masih tetap memanggilku. Aku lihat peju ku dan cairannya mulai meleleh keluar dari memek nya. Aku palingkan muka dan melihat Yoyok hampir sampai di pintu belakang, bayi di tangan yang satu dan belanjaan di tangan lainnya. Aku berbalik dan memohon pada Mirna.

"Ayolah!" kataku.
"Kamu telah dapatkan keinginanmu. Dia hampir sampai kemari."

Mirna bangkit, tatapan matanya masih kelihatan linglung. Dia bergerak ke depanku, menjadikanku sebagai penghalang dari pandangan suaminya saat dia dengan tergesa-gesa memakai celananya.

"Apa kalian sudah siap untuk pertandingannya?" tanya Yoyok sambil membuka pintu.
"Ya," aku menjawab dari balik punggungku saat aku diam untuk menghalangi Mirna yang menaikkan resletingnya. Setelah dia selesai, aku segera berbalik untuk menyambut Yoyok.
"Ini," katanya, menyodorkan bayinya padaku dan meletakkan belanjaannya di atas meja dapur.
"Urus ini, aku akan mengambil popok bayi."

Yoyok melangkah ke pintu yang masih terbuka, dan aku menghampiri Mirna. Dia masih terlihat sedikit linglung.

"Tadi hampir saja," kataku.
"Mari, biar aku yang menggendongnya."

Aku berikan bayinya. Mirna memberiku pemandangan seraut wajah dari seorang wanita yang puas sehabis bercinta, dan memberiku ciuman yang basah.

"Masih ada satu hal lagi yang harus kuketahui," katanya.
"Apa itu?"
"Kalau aku ingin lagi, bisakah aku mendapatkannya besok?"

Dan dia melenggang begitu saja tanpa menunggu jawabanku yang hanya melongo bengong. Dia yakin kalau aku akan bersedia..


Ayah Ngentot Memek Anak Kandung, Cerita Sex, cerita porno, bokep terbaru, sex sedarah, Ayah Ngentot Memek Anak Kandung, Cerita Sex, cerita porno, bokep terbaru, sex sedarah
Kontol Ayah Ngentot Memek Anak Kandung, Cerita Sex
Kontol Ayah Ngentot Memek Anak Kandung, Cerita Sex, cerita sex , Kontol Ayah Ngentot Memek Anak Kandung, Cerita Sex, cerita porno, bokep terbaru, sex sedarah, bacaan porno, kisah seks, cerita bokep cerita dewasa, Kontol Ayah Ngentot Memek Anak Kandung, Cerita Sex


Aktifkan javascript tekan (F5), untuk membuka halaman
klik link cerita
serta membuka gambar lebih besar.
Cerita seks dewasa update setiap hari.
http://foto-video-cerita-dewasa.blogspot.com/