Gangbang Memek Ayam Kampus Lagi Dugem Dientot

Gangbang Memek Lagi Dugem Dientot, Temanku panggil gue Karina. badanku cukup jangkung untuk ukuran wanita, terakhir kuukur 172 cm, dgn berat 48kg dan ukuran bra 36C. Rambutku lurus sebahu, wajah lonjong, dan kulit putih krn gue WNI keturunan. Saat ini masih kuliah di fakultas sastra di salah satu universitas swasta di B* dan ngekost tidak jauh dari kampusku.

gue termasuk gadis yg sering ke salon dan modis, maka gue udah tidak asing dgn tatapan nakal cowok-cowok di kampus kalau gue memakai pakaian yg ketat atau agak sexy, apalagi ketika ngedugem dimana gue memakai pakaian yg lebih terbuka. Dalam percintaan, secara jujur kuakui gue bukan type yg setia. gue udah mempunyai pacar yg sedang kuliah di Amerika sehingga kami jarang bertemu, kami udah berjalan lebih dari tiga tahun dan gue mencintainya, namun darah muda dalam diriku melibatkanku dalam beberapa hubungan one night stand dgn teman kuliah maupun teman dugem, bagiku semua itu hanya hubungan badan tanpa merubah perasaanku pada pacarku.

Kisahku ini terjadi pada libur akhir semester. Waktu itu teman kostku udah banyak yg pulang, di kostku hanya tersisa seorang pria, dan dua wanita termasuk diriku. yg dua itu tidak pulang krn ikut semester pendek, namun gue belum pulang krn waktu itu di rumahku tidak ada siapa-siapa berhubung kedua orangtuaku sedang menghadiri pernikahan di kota lain dan kakakku satu-satunya udah dua tahun yg lalu menikah dan ikut suaminya. Jadi pemikiranku lebih baik kutunda kepulanganku sampai papa dan mamaku pulang 2-3 hari lagi, daripada kesepian di rumah mendingan kuisi waktuku untuk having fun bersama teman-temanku di B*. Malam itu gue ngedugem di salah satu tempat dugem di jalan Cihampelas. Teman-temanku mencekoki minuman sementara gue tidak kuat minum, mereka bilang untuk merayakan kenaikan IPK-ku. gue mabuk sehingga dalam perjalanan pulang dgn mobil Ocha gue numpang ke WC di rumah Risa waktu sampai di rumahnya krn tidak tahan mau muntah. Setelah muntah akupun masih pusing-pusing sehingga terpaksa gue minta Risa untuk menginap di rumahnya semalam saja daripada pulang ke kost dalam keadaan sempoyongan, kan ga enak dilihat. cerita seks Gangbang Memek Lagi Dugem Dientot

Singkat cerita akupun menginap di rumah Risa malam itu dan baru terbangun besoknya, hari Minggu jam sebelasan. Kepalaku masih agak berat.
“Lu orang sih, nyuruh gua minum terus, aduh kaya mau mati aja kemarin rasanya tau !” omelku pada Risa.
“Hihihi, gapapa lah Na sekali-kali aja, kan kita baru selesai semester nih !” jawabnya tertawa kecil mengingat keadaanku kemarin.
Akhirnya setelah makan sedikit, Risa mengantarku pulang ke kostku di daerah Sukamekar. Kumasuki pintu gerbang kostku, suasanya sepi seperti beberapa hari terakhir. Di depan pos jaga gue berpapasan dgn Gunawan, pegawai/ penjaga kostku yg berusia dua puluhlimaan sedang ngobrol-ngobrol dgn dua orang pemuda yg kira-kira sebaya dengannya, gue tidak tahu siapa mungkin temannya yg penduduk sekitar sini. gue tersenyum kecil sebagai basa-basi dan mereka membalasnya.

Terasa sekali mereka memandangi badanku yg masih memakai pakaian sexy semalam berupa sebuah rok putih sejengkal di atas lutut dan tank top berdada rendah yg memperlihatkan sedikit belahan dadaku. gue mempercepat langkahku ke tangga, di dekat tangga akupun berpapasan lagi dgn pegawai kostku yg lain, si Acep yg masih berusia SMA, sekitar enambelas tahun, orangnya agak culun, berambut cepak dan kerempeng, dia sering bertugas membelikan barang pesanan dan mengantar makanan untuk kami, para penghuni disini.
“Eh…Neng, baru pulang yah !” sapanya sambil cengengesan.
gue hanya menjawab iya saja lalu menaiki tangga, instingku mengatakan kalau dia berusaha mengintip rokku yg mini ketika gue naik, sempat terlihat sekilas olehku ketika sampai di lantai dua dan membelok. Sampai di kamar, gue langsung membuka pakaianku dan masuk ke kamar mandi, langung kubuka shower dan kuguyur badanku dgn air dingin, segar sekali rasanya, udara di luar waktu itu lagi panas ditambah lagi panas alkohol masih sedikit terasa dari dalam badanku.

Selesai mandi, gue keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan apapun sambil mengelap rambutku dgn handuk. Kuambil celana dalam kuning dan kupakai. gue tidak menemukan baju barongku yg biasa kupakai tidur di gantungan di pintu, baru ingat kalau baju itu udah kutaruh di tempat cucian. krn malas mencari baju lain di lemari, akupun lantas melempar diriku ke kasur. Biar saja tidur hanya dgn celana dalam, apalagi cuacanya lagi panas, kipas anginnya juga kumatikan. Kututupi badanku dgn selimut dan kupeluk guling kesayanganku untuk melanjutkan tidurku yg masih belum puas ditambah masih sedikit pening, maklumlah orang ga kuat minum di suruh minum banyak ya gini nih jadinya. Entah berapa lama gue tertidur lelap sekali sampai kurasakan ada rasa geli pada badanku, secara refleks tanganku menepis dan menggulingkan badan ke arah lain. Namun perasaan itu datang lagi dgn lebih hebat, kali ini juga kurasakan pada paha dan dadaku seperti ada yg mengenyot. Kali ini gue terbangun dan kaget sekali melihat ternyata benar-benar ada orang yg sedang mengenyot dadaku dan seseorang lainnya sedang menjilati pahaku. Spontan akupun menjerit, namun sebuah tangan membekap mulutku dari belakang. Ketika gue meronta, gerakanku langsung terkunci oleh tangan-tangan yg memegangi kedua tangan dan kakiku.

gue mengedip-ngedipkan mata memperjelas pandanganku, gue makin terperanjat dgn keempat wajah menyeringai diatasku, wajah yg tak asing bagiku. yg dua adalah pegawai kostku, Gunawan dan Acep dan dua orang temannya yg kutemui di bawah tadi. gue tidak habis pikir bagaimana mereka bisa masuk sini, padahal pintu udah kukunci, namun sekarang bukan waktunya memikirkan itu, sekarang harusnya memikirkan apa yg harus kulakukan menghadapi situasi ini.
“Halo Neng, maaf yah kita masuk sini diam-diam abis ga tahan liat body Neng yg bahenol !” kata Gunawan.
“Emmphh…eemhhh !” gue berusaha berteriak walau mulut masih dibekap sambil meronta ketika Gunawan meraba payudaraku.
“Udahlah Neng, ga usah ngelawan terus, disini lagi gak ada siapa-siapa kok !” sahut orang yg membekapku yg berambut agak bergelombang dan matanya besar.

Dalam situasi makin kritis seperti ini gue mulai berpikir ulang, gue pernah membaca berita tentang pembunuhan di kost, melawan mereka yg sedang kalap mungkin saja malah mencelakakanku, bukankah lebih baik pasrah saja menuruti mereka. Lagipula gue ini kan bukan perawan dan pria yg pernah main denganku bukan hanya pacarku, bedanya cuma mereka sama-sama WNI keturunan dan yg empat ini bukan. Yah, anggap saja tambah pengalaman sex lah, begitu pikirku positif. yg masih membuatku risau adalah apakah gue sanggup melawan empat orang sekaligus mengingat seumur hidup gue selalu bermain konvensional satu lawan satu. Mungkin sekaranglah waktunya bagiku untuk mencoba rasanya digangbang. Seiring dgn birahiku yg mulai naik, rontaanku pun berangsur-angsur berkurang berganti menjadi kepasrahan. Darahku berdesir dan bulu-buluku merinding ketika tangan-tangan itu menggerayangi badanku, ciuman dah jilatan juga menghujani badanku. Salah seorang teman Gunawan tadi menarik lepas celana dalamku. Keempat orang itu menelan ludah menyaksikan keindahan badanku yg udah telanjang bulat, terutama Acep sepertinya ini baru pertama kali dia melihat badan wanita secara nyata.

“Anjrit, jembutnya lebat banget euy !” kata Gunawan sambil merabai memek ku yg berbulu lebat namun rapi, krn sering kucukur rapi tepiannya agar tidak keluar-keluar kalau memakai baju renangku yg sexy.
Teman Gunawan yg rambutnya gondrong sebahu menciumi payudaraku, digigit dan disedot-sedotnya putingku yg sensitif. Kuncian mereka terhadapku mengendur dan tangan yg membekap mulutku juga udah lepas. Kepalaku menggeleng-geleng ketika Gunawan mau menciumku, namun dia lalu memegangi kepalaku sehingga gue tak bisa lagi menghindari mulutnya. Rangsangan yg datang bertubi-tubi membuatku semakin horny dan mulutku pun membuka menerima serangan lidah Gunawan, mau tak mau gue harus beradaptasi dgn bau mulutnya. Kumainkan lidahku mengimbangi lidahnya yg menari-nari di mulutku. Ketika asyik berciuman dgn Gunawan setidaknya ada dua jari yg bermain di memek ku, gue tidak tahu siapa itu krn gue biasa memejamkan mata kalau berciuman agar lebih menghayati, selain itu tangan yg menggerayangiku ada empat pasang sehingga tidak sempat mengenalinya satu-satu.

Lama juga Gunawan menciumiku, itu dia lakukan sambil tangannya menjelajahi lekuk-lekuk badanku, hampir lima menit kira-kira, begitu mulutnya lepas gue akhirnya lega bisa kembali menghirup udara segar walau dgn nafas udah memburu.Ketika kubuka mata, kulihat di sebelah kananku teman Gunawan yg matanya besar itu sedang mengenyoti payudaraku dgn rakusnya, dia udah membuka pakaiannya, gue melihat kontol nya yg udah tegang itu menggantung di selangkangannya, bentuknya panjang dgn kepalanya disunat. Iihhh…geli sekaligus terangsang membayangkan gue harus mengulum dan dimasuki benda itu. Si Acep sedang menjilat dan meraba badan bagian sampingku (sekitar perut, paha, dan dada), dia juga masih memakai kaos oblongnya namun celananya udah dibuka, kontol nya yg juga bersunat lumayan juga untuk seumuran dia. Ternyata yg daritadi mengorek memek ku adalah si pemuda gondrong, kini dia bahkan mendekatkan wajahnya ke sana dan uuhh…lidahnya menyentuh bibir memek ku dan terasa menggelitik nikmat badanku sampai menggeliat krn itu. gue bingung apa yg kualami saat itu termasuk perkosaan atau bukan, dibilang ya bisa juga krn awalnya mereka yg memaksa, namun dibilang tidak juga bisa krn toh gue juga mulai menikmatinya.

“Memeknya enak, wangi loh mmm…ssluurrpp !” sahut si gondrong di bawah sana.
“Oh, ya…nanti juga saya mau nyicipin yah, makannya cepet !” kata Gunawan.
“Jangan lama-lama yah, nanti kita kebagiannya bau jigong lu” timpal si mata besar
Kini Acep udah mencaplok payudaraku dgn mulutnya, walau kelihatan culun jilatannya membuat putingku makin menegang. Gunawan juga membuka pakaiannya hingga telanjang. Wah, anunya juga ga kalah gede dari kedua temannya, tinggal milik si gondrong saja yg belum kulihat krn dia masih sibuk menjilat memek ku. gue harus mengakui enak sekali diperlakukan seperti ini, dalam sex satu lawan satu gue tidak pernah merasakan bagian-bagian sensitifku dimainkan dalam saat bersamaan.
“Uuhh-eeemm….aaahh !” gue tak tahan untuk tidak mendesah ketika lidah si gondrong menyapu bibir memek ku, bukan cuma itu, jarinya pun ikut keluar masuk di sana.
Hal itu berlangsung sekitar lima menit lamanya, kemudian Gunawan mengambil posisinya.
“Hayo sini, saya juga mau rasain, gantian dong !” katanya menyuruh si gondrong menyingkir.

Langsung Gunawan melumat bagian selangkanganku itu dgn bernafsu, tangannya memegangi kedua pahaku sambil mengisap dan menjilat, mulutnya terbenam di kerimbunan bulu memek ku, gayanya seperti makan semangka saja. Serangannya lebih mantap dari si gondrong yg cenderung monoton, lidah si Gunawan sepertinya agak panjang sehingga ketika menyusup ke dalam memek benda itu menyentuh klitorisku juga menjilati dinding memek ku, kontan akupun makin menggelinjang tak karuan. Ketiga orang lainnya tertawa-tawa dan berkomentar jorok melihat reaksiku, mereka pun makin bersemangat mengerjaiku. Payudaraku sedikit nyeri ketika dipencet-pencet si mata besar dgn gemasnya. Si gondrong yg kini udah membuka bajunya berlutut di sebelahku memegangi kontol nya untuk disodorkan padaku.
“Diisep Neng, enak loh !” suruhnya sambil menggosokkan kepala kontol itu ke wajah dan bibirku.
Walau sebenarnya geli dgn kemaluannya yg hitam dgn kepala kemerahan itu, gue tertantang juga untuk mencobanya, maka kugenggam batang itu dgn tangan kiri dan kuawali dgn menyapukan lidah pada kepala kontol nya. Dia langsung mendesah keenakan karenanya. Entah kekuatan apa yg membuatku demikian liar, padahal sebelumnya dekat-dekat orang seperti mereka saja gue enggan, apalagi untuk ML.

Awalnya gue sangat tidak nyaman dgn aroma kontol nya, namun mau tidak mau gue harus membiasakan diriku. gue berusaha tidak menghirupnya dan kuemuti dalam mulut sambil sesekali mengocok dgn tangan, kesempatan itulah yg kupakai untuk mengambil udara segar. Sementara rasa geli pada memek ku kian menjalari badanku, rasanya seperti mau pipis. badanku menggelinjang, gue tidak tahan lagi dan mencapai orgasme pertamaku, dari memek ku keluarlah lendir yg dijilatinya dgn lahap.
“Eh-eh, gantian dong, saya juga mau ngerasain pejunya si Neng !” kata si Acep
Acep menggantikan posisi si Gunawan, dia menjilati sisa-sisa cairan memek ku. Jilatannya tidak selihai Gunawan, maklum krn dia masih hijau, baru pertama kalinya menikmati wanita. Dia lebih suka menyentil-nyentil klitorisku dgn lidahnya yg memberi rasa geli. Sekarang Gunawan berlutut di sebelah ku dan meraih tanganku digenggamkan ke kontol nya. Keras dan hangat, begitulah kesan pertama begitu jari-jariku melingkari batang itu. Mulailah gue mengocok kontol itu dgn tangan kiriku dan yg kanan memegangi milik si gondrong sambil mengoralnya. Si mata besar masih menyusu dgn nikmatnya pada payudaraku, sepertinya dia ketagihan dgn payudaraku yg montok itu.

Acep tidak lama menjilati memek ku, posisinya digantikan oleh si mata besar yg tidak sabar menunggu giliran, krn paling kecil diapun mengalah pada temannya. Si mata besar mencium memek ku dgn bernafsu dan terkesan terburu-buru. gue dibuatnya semakin bergairah melayani kedua kontol yg menodongku, secara bergantian kukocok dan kuoral menirukan apa yg pernah kulihat di film porno di rumah temanku. Rasa jijikku pada kontol hitam yg kepalanya seperti jamur itu perlahan-lahan sirna. Gunawan mengungkapkan ekspresi nikmatnya dgn meremas payudaraku yg digenggamnya, sedangkan si gondrong sambil menekan-nekan kontol nya ke mulutku ketika gilirannya dioral seolah tidak rela melepaskannya. Ditambah lagi Acep sedang asyik memainkan putingku, benda mungil berwarna merah kecoklatan itu dia pilin-pilin dgn jarinya sesekali juga dijilati. Si mata besar pun tidak lama-lama menjilati memek ku, dia lalu bangkit berlutut diantara kedua pahaku dan menempelkan kepala kontol nya di bibir memek ku.

Kuhentikan sejenak aktivitas terhadap dua kontol dalam genggamanku untuk memperhatikan kontol si mata besar mendesak memasuki memek ku. Kutahan nafasku sambil menggigit bibir, proses penetrasi itu kuresapi dalam-dalam. Setelah masuk sebagian dia menghentakkan pinggulnya sehingga kontol itu menghujam sampai mentok, spontan gue pun menjerit kecil dan merapatkan pahaku.
“Waaah…enak pisan, sempit oi !” katanya setelah berhasil membobol memek ku.
Tanpa buang waktu lagi dia menggenjotku, kontol itu keluar-masuk memek ku. gue meneruskan kocokanku terhadap si gondrong dan Gunawan, rasa nikmat yg menjalari badanku semakin membuatku bersemangat mengocok kedua kontol itu. Si Acep juga makin seru mengisapi payudaraku sampai basah kuyup oleh ludahnya juga oleh ludah orang-orang yg tadi mengisapnya. Tak lama kemudian, ketika gue sedang mengulum kontol Gunawan, sesuatu yg basah dan hangat menerpa wajah dan leherku dari samping. Ow, ternyata si gondrong udah keluar, kulepas sejenak kontol Gunawan dari mulutku, semprotan berikutnya makin membasahi wajahku begitu gue menengok menghadap todongan benda itu.

“Uhh…isepin yah Neng !” lenguhnya seraya menjejali mulutku dgn kontol nya.
Dalam mulutku kontol itu masih menyemburkan isinya dan itu kuhisapi tanpa memikirkan rasa jijik lagi walaupun baunya yg agak menyengat, mungkin krn saking terangsangnya sampai tidak sadar gue jadi seliar itu. Sampai sejauh ini ponselku yg kutaruh di meja sana udah berdering sekali dan dua SMS udah masuk, kubiarkan saja krn tanggung. gue dapat merasakan kontol si gondrong menyusut dalam mulutku dan pemiliknya terengah-engah.
“Yee, payah lu, belum nojos udah ngecrot !” ledek Gunawan pada temannya.
“Enak pisan sih anjrit, sampe ga tahan !” balas si gondrong
Sekarang si mata besar mengajak ganti posisi, mereka lalu membalikkan badanku hingga telungkup. Akhirnya ganti posisi juga pikirku, gue udah gerah daritadi berbaring telentang sambil dikerjai mereka, punggungku panas sekali rasanya dan benar saja keringatku udah membasahi sprei dibawahku tadi. Perutku diangkat dari belakang hingga posisiku seperti merangkak. Kutengokkan kepalaku ke belakang dan kulihat si mata besar kembali memasukkan kontol nya ke memek ku.

Tusukan-tusukan kembali kurasakan, kali ini lebih cepat dan dalam. Di depanku si Acep berlutut minta giliran merasakan mulutku. Akupun membuka mulut mempersilakan batang itu memasukinya. Kuemut benda itu tanpa menghiraukan lagi baunya, tidak terlalu besar namun cukup keras, namanya juga barang ABG. gue melirik ke atas melihat anak itu merem-melek menikmati kulumanku, lucu juga reaksinya yg amatiran itu.
“Gimana Cep, asyik ga diemot kontolnya ?”
“Si Acep udah gede euy !”
Celoteh-celoteh yg ditujukan pada si Acep itulah yg sempat kudengar waktu itu. Sambil terus mengoral Acep, akupun selalu menggoyang pantatku mengikuti genjotan si mata besar, terus terang rasanya enak sekali seperti diaduk-aduk. Payudaraku yg menggelayut sedang dipegang-pegang si gondrong yg sedang mengistirahatkan kontol nya. Tangan kananku menggenggam kontol si Gunawan dan mengocoknya pelan.
“Pelan-pelan aja kocoknya Neng, ga pengen cepet-cepet ngecrot sih !” demikian katanya.
Sibuk sekali gue jadinya dan udara sekitarku serasa makin panas krn dikerubuti empat orang ini, mana badannya lumayan bau lagi. Hanya birahi yg meninggilah yg mengalihkanku dari semua itu.

Sekitar lima belas menit menggenjotku, si mata besar sepertinya mau keluar, kelihatan dari sodokannya yg makin cepat.
“Annjjiiinngg…aaahhh !” lenguhnya panjang diiringi semprotan spermanya di dalam memek ku yg tak bisa kutolak.
Sialan juga nih orang pikirku, sembarangan main buang di dalam, ga minta ijin atau omong dulu kek padahal gak pake kondom, untung waktu itu gue tidak dalam masa subur, kalo iya kan amit-amit harus hamil sama orang-orang ginian. Begitu kontol nya lepas, gue merasa cairan hangat meleleh membasahi paha atasku. Gunawan langsung mengambil alih posisinya menusukkan kontol nya padaku seolah dapat membaca apa yg ada dalam hati kecilku yg masih ingin digenjot krn belum mencapai klimaks alias tanggung. Si Acep yg masih kuoral nampaknya makin menikmati saja, tanpa sadar dia memaju-mundurkan pinggulnya seakan sedang menyebadani mulutku. Dia mengeluarkan spermanya dalam mulutku saat Gunawan menggenjotku dgn ganasnya sehingga gue tidak bisa konsentrasi mengisap kontol itu, maka cairan itupun meleleh sebagian di pinggir bibirku.

Setelah Acep melepas kontol nya yg telah kubersihkan dari mulutku, lengan Gunawan mengangkat dadaku sehingga kini gue berlutut, Gunawan tidak berhenti menggenjotku sambil menopang badanku dgn lengannya yg melingkari perutku. Si mata besar sambil mengistirahatkan senjatanya menggerayangi payudaraku yg membusung dalam posisi itu. Si gondrong memintaku kembali mengoral kontol nya yg udah mulai bangkit lagi, sepertinya dia suka dgn pelayanan mulutku. Kugenggam kontol nya yg disodorkan padaku, ih…masih lengket-lengket bekas spermanya tadi, sedikit jijik gue dibuatnya namun juga tak kuasa menolaknya. Serta merta kumasukkan benda itu kemulutku, kujilati sisa-sisa spermanya hingga bersih. Di dalam mulutku benda itu semakin mengeras dan bergetar.
“Pelan-pelan aja Neng, buat persiapan ngejos di bawah nanti !” katanya.

Tak lama kemudian badanku kembali mengejang, seperti ada yg mau meledak di bawah sana. gue melepas kulumanku untuk melepaskan desahan yg tak bisa kutahan lagi, lendirku pun kembali keluar bersamaan dgn badanku. Orgasme kali ini terasa lebih panjang, Gunawan masih menggenjot sampai 2-3 menit kemudian hingga akhirnya diapun menghujam kontol nya lebih dalam dan mempererat pelukannya. Dia menggeram dan memuntahkan spermanya ke dalam memek ku, hangat kurasakan di dalam sana. Kami break sebentar sekitar lima menitan. Saat itu Gunawan dan Acep memperkenalkan dua orang itu kepadaku, yg gondrong namanya Amad dan yg matanya melotot itu namanya Ifud, memang benar keduanya adalah teman mereka yg tinggal di pemukiman penduduk tak jauh dari sini.

Gunawan juga bercerita bagaimana mereka bisa masuk sini. Ternyata mereka iseng mengintipku waktu keluar dari kamar mandi tanpa busana tadi lewat lubang angin diatas pintu kamarku dgn memakai bangku tinggi. Tadinya sih hanya sekedar mau ngintip, namun tak lama kemudian waktu Amad dan Ifud mau pulang mereka ingin ngintip yg terakhir kali dan menemukanku telah terlelap hanya dgn memakai celana dalam dan selimut yg tersingkap. Situasi kost yg sedang sepi dan nafsu setan mendorong mereka berencana memperkosaku. Maka setelah yakin gue benar-benar tidur, Gunawan mencongkel kaca nako yg tepat di sebelah pintu lalu meraih grendel sehingga mereka bisa masuk dan terjadilah seperti ini. gue sebenarnya marah mendengar semua itu, lancang sekali mereka berbuat begitu, ini kan pemerkosaan namanya, namun mau marah gimana juga toh gue menikmatinya, salahku juga berpakaian mencolok di depan mereka. gue menatapi mereka satu-persatu yg memandangi badan telanjangku dgn tatapan kesal sekaligus berhasrat. Tidak tau mau omong apa deh, soalnya perasaanku benar-benar campur aduk sih.

“Bentar yah, mau cuci muka dulu” kataku sambil bangkit dan melangkahkan kakiku dgn gontai ke kamar mandi.
Di sana gue mencuci mukaku dari cipratan sperma agar aroma yg menyengat itu hilang. Keluar dari kamar mandi, kembali gue duduk di kasur dikelilingi mereka. udah tanggung untuk dihentikan, jadi kuikuti saja deh permainan mereka. Kali ini si Acep yg masih hijau itu minta diajari cipokan.
“Boleh yah Neng, soalnya saya pengen ngerasain dicium cewek itu kayak apa sih, apalagi cewek cakep kaya Neng” pintanya, mukaku memerah krn malu dan juga tersanjung akan pujiannya.
“Cium-cium-cium !” teman-temannya yg lain menyorakinya
“Sssttt…jangan keras-keras dong, ada yg tau gimana !” kataku memperingatkan sehingga mereka mengurangi volumenya.

gue memejamkan mataku seperti kebiasaanku berciuman menunggu Acep menciumku, pertama-tama gue merasa bahuku dipegang lalu menempellah bibirnya dgn bibirku. Teknik ciumannya benar-benar amatiran, kaku dan membosankansekali, sehingga gue yg berinisiatif memainkan lidahku baru dia mulai bisa membalasnya, gue melingkarkan tangan memeluknya dan percumbuan kami makin panas.

Selama percumbuan itu juga gue merasakan tangan-tangan lain berkeliaran di sekujur badanku, mengelusi punggung, paha, payudara, dll. Tidak jelas siapa yg melakukan krn gue memejamkan mata, yg jelas darahku mulai bergolak lagi krn belaian ditambah kometar-komentar jorok mereka. Ada seseorang memelukku dari belakang dan menjilati leherku, oohh...benar-benar sensasional, demikian rasanya pertama kali dikeroyok.

Lama juga gue berciuman sambil digerayangi, nafasku sampai naik-turun ga karuan karenanya. Setelah itu si Amad gondrong meminta jatahnya, dia berbaring telentang dan menyuruhku membenamkan kontol nya pada memek ku. Akupun naik ke atas kontol nya, benda itu kugenggam dan kueluskan pada memek ku dulu supaya nafsu si Amad mendidih. Kemudian baru gue mulai menjebloskannya perlahan-lahan.
“Ahhh...eeegghh !” desahku saat memasukkan kontol itu, gue memejamkan mata dgn bibir membuka.
Setelah terasa mentok, akupun perlahan menaik-turunkan badanku. Amad juga mendesah kenikmatan krn kontol nya dihimpit dinding memek ku.

Gerak naik-turunku semakin cepat sehingga payudaraku ikut bergoncang-goncang. dgn gue yg memegang kendali, si Amad kelihatan kelabakan, dia mendesah-desah gak karuan. Kelihatan sekali pengalaman sex nya masih dibawahku. Dia julurkan tangannya meraih payudara kiriku, sepertinya dia gemas melihat payudaraku yg juga naik-turun itu. Dua orang lainnya duduk menonton liveshow kami, Gunawan sebelumnya telah turun ke bawah untuk memeriksa keadaan dan berjaga-jaga di pos jaga dekat gerbang. Tak lama kemudian si Ifud mendekatiku dan berdiri di sebelah menyodorkan kontol nya yg langsung kugenggam. Jadilah gue bergaya woman on top sambil mengocoki kontol Ifud.

Gangbang Memek Lagi Dugem Dientot, cerita seks, cerita dewasa gangbang, cerita sex dugem ayam kampus
Gangbang Memek Lagi Dugem Dientot

Amad, ternyata tidaklah setangguh yg kukira, tampang boleh sangar kaya preman, namun dia orgasme dalam waktu yg relatif singkat, isi kontol nya tertumpah dalam memek ku. gue paling senang ML di saat safe seperti ini, bebas dari rasa was-was walau pasanganku buang di dalam. Tanpa malu-malu lagi, kupanggil si Acep agar menuntaskan birahiku. gue duduk di kasur membuka kedua pahaku seakan mempersilakan anak itu menusuknya, gue harus membimbing kontol nya memasuki memek ku krn ini pertama kalinya bagi dia.

Setelah kepalanya menekan bibir memek ku, kusuruh dia mendorong pantatnya.
“Ohhh...yess !” desahku ketika kontol perjaka itu menghujam ke dalam.

Selanjutnya yg kurasakan adalah gesekan-gesekan antara kontol nya dgn dinding memek ku. Acep pun semakin menikmati persebadanan pertamanya itu dgn makin cepat menusuk-nusukkan kontol nya hingga akhirnya kitapun orgasme bersama atas bimbinganku tentang mengatur tempo genjotan. Sisa waktu sekitar sejam lebih kedepan gue terus disebadani mereka baik secara bergilir maupun barengan. Hingga akhirnya kami semua pun kelelahan bersimbah peluh.

Wajahku sekali lagi belepotan sperma krn salah seorang membuangnya di sana ketika orgasme. Sejak itu mereka sering memintaku melakukan hal yg sama lagi, terutama Acep dan Gunawan. Terkadang memintanya agak memaksa pula. Memang sih awal-awalnya gue cukup menikmati, namun lama-lama kesal juga krn mereka makin gak tau diri, misalnya pernah satu malam Gunawan mengetuk pintu minta jatah lagi, sehingga mengganggu tidurku.

gue sampai pernah marah dan mengancam akan melapor ke pemilik kost sehingga mereka agak ngeper, terutama setelah Gunawan keceplosan ngomong tentang itu ke pamannya yg menengoknya dari kampung, sehingga pria paruh baya itu juga sempat minta jatah padaku (kalau sempat akan kuceritakan juga). gue tidak ingin hal ini tercium kemana-mana, apalagi sampai ‘kecelakaan’ gara-gara mereka, maka kuputuskan setelah sewaku habis bulan itu, gue pindah ke kost lain yg agak jauh dari tempat itu hingga saat ini.

Terkadang terbesit di benakku ingin mengulangi lagi keroyokan seperti itu, namun ah...tidaklah, terlalu berisiko tinggi terhadap imej dan kesehatan nantinya. Bulan September lalu gue sempat bertemu lagi dgn si Gunawan ketika sedang berjalan di dekat kost lamaku itu, kelihatannya di baru dari membeli sesuatu.
“Neng, udah lama yah !” sapanya sambil senyum cengengesan.
gue membalas dgn senyum kecil saja sambil terus melangkah agak jutek.
“Siapa tuh Na ? masa lu kenal sama yg gituan ?” tanya seorang temanku yg jalan bareng.
“Ohh, itu cuma babu di kost lama gua, masih inget gua juga dia yah” jawabku santai.
“Naksir ke lu kali” timpal temanku yg lain disusul tawa kami. Nantikan cerita sex kami lainnya...

Gangbang Memek Lagi Dugem Dientot, cerita seks, cerita dewasa gangbang, cerita sex dugem ayam kampus, Gangbang Memek Lagi Dugem Dientot, cerita seks, cerita dewasa gangbang, cerita sex dugem ayam kampus
Gangbang Memek Ayam Kampus Lagi Dugem Dientot
Gangbang Memek Ayam Kampus Lagi Dugem Dientot, cerita sex , Gangbang Memek Lagi Dugem Dientot, cerita seks, cerita dewasa gangbang, cerita sex dugem ayam kampus, bacaan porno, kisah seks, cerita bokep cerita dewasa, Gangbang Memek Ayam Kampus Lagi Dugem Dientot


Aktifkan javascript tekan (F5), untuk membuka halaman
klik link cerita
serta membuka gambar lebih besar.
Cerita seks dewasa update setiap hari.
http://foto-video-cerita-dewasa.blogspot.com/