Ngentot Suster Cantik Sexy Dan Imut Part 2

Ngentot Suster Cantik Sexy Dan Imut Part 2 - Tangan kananku mulai mengelus jembut dan turun ke bawah ke lipatan selangkangan sampai menemukan liang yang mulai licin berlendir, jariku pun mengelus dan mengorek apa saja yang ada di sana.


Lydia merintih cukup keras, “Paaaah, lama nggak begini ya paaaah …, ooooccchh … aaaargghhhh ….”. T-shirtku yang masih kupakai dilepasnya, lalu dadaku yang sudah telanjang dengan rakusnya diciumi oleh Lydia. Aku yang gantian menggelinjang kegelian enak. “Aduuuh …, kamu pinter merangsang ..”. Tak kalah dengannya, dasternya pun kulepas melalui kepalanya, sehingga sekarang kami berdua telanjang bulat. Pemandangan itu makin menaikkan birahi berlipat-kali karena kami bercumbu persis di depan cermin rias, sehingga seperti nonton blue-film.


Suster cantik, imut dan manis nakal saat bertugas. meremas foto payudara suster ngentot waktu dirumah sakit, kontol masuk tempik
Rupanya Lydia sudah tak tahan lagi sehingga, tanpa permisi kontolku yang persis berada di depan vaginanya segera dimasukkannya ke liangnya. Aku yang juga tak sabar karena sudah begitu kangen dengan tempiknya, setuju saja. Dengan masih duduk di atas meja rias, Lydia sambil bertelekan dengan satu tangan di atas meja, tangan satunya menarik pantatku ke tubuhnya, sehingga cepat terbenamlah kontolku dalam-dalam ke tempiknya yang memang sejak tadi sudah siap. “Aaaachhh paaaaah … eeenaaaak …. Goyang paaah …. Aku kangeeen … ayo paaaah …”. Lydia memang tak pernah menyembunyikan ekspresinya ketika bersetubuh. Dia ucapkan semua yang dirasakannya secara lepas-bebas. Itulah yang membuatku makin lengket padanya. Sekarang kedua tangannya disandarkan pada meja, dadanya membusung dengan kepala agak terkulai ke belakang, betul-betul pemandangan yang indah dan begitu sex i. Kocokan kontolku kukontrol ritmenya, mundur sampai hampir terlepas, dan cepat kumasukkan lagi dalam-dalam, begitu di dalam kuputar dengan pangkal pubis kugeserkan ke klitorisnya. Begitu berkali-kali. Kurasakan enaknya gerakan ini, Lydia pun merasakan hal yang sama, dia makin mengerang dan merespons dengan memutar pinggulnya sambil menjepit pantatku dengan kedua kakinya. Keenakan, lebih-lebih dengan adanya tambahan rangsangan bayangan di cermin, aku menjadi mendengus, “Narsiiih … kamu enaaak Narsiiih …. Kita bikin anak di sini ya…. Ssshhh …”. “Iya paaah … aaaachhhh …. Teeeruuuus … teeeruus paaaah … “.

Merasa mau orgasme, kuhentikan gerakanku, sebab aku nggak mau mendahului Lydia yang belum sampai (aku kasihan pada Lydia kalau aku duluan selesai). Lydia kuminta turun dari meja, kontol kucabut, dan Lydia kuminta berbalik menghadap cermin. Pemandangan menjadi makin indah. Kurenggangkan selangkangannya sambil sedikit membungkuk, dan kumasukkan kontolku dari belakang. Lydia agak malu melihat dirinya di cermin dalam keadaan bugil disetubuhi seperti itu. Wajahnya yang malu-malu dengan keadaan polos seperti itu makin manis dan meningkatkan birahiku, apalagi melihat kedua susunya yang berukuran tak begitu besar itu menggantung bagus. Setelah kontolku masuk, tubuhnya agak kutegakkan, kedua tanganku kubawa ke depan dan kedua susunya kuraba dan sedikit kuremas, lehernya kujilat dari belakang, sehingga Lydia melenguh kembali, “Aaaduuuh paaaah … kamu pintaaar paaah … aaku … aakuu … eeenaaak paah ..”. Tangan kiriku kuturunkan ke bawah mengocok kelentitnya, bersamaan dengan kocokan kontolku di vaginanya. Perlakuan itu kupertahankan beberapa lama sampai Lydia betul-betul nggak tahan, geliatannya menjadi tak teratur, dan teriakannya (betul-betul teriak!) makin keras, “Aaarrgghhhh paaaah, akuuu maaauu saaampaaai paaaah, ayo teeruuss ….”, ibu jariku yang ada di dadanya dibawanya ke mulut dan diempotnya. Pemandangan di cermin makin asyik. Akhirnya, aku nggak tahan, “Aaayoo Siiih, aku keluuuaaar…” “Aakuu juugaaa paaaah … aaaccch oooooocccchhh …… hhh … hhhh …. Papa saaayaaaang …. Oooocchhh … “, desahnya juga. Air maniku menyemprot beberapa kali, diterima dengan denyutan otot vagina Lydia yang nikmat. Tubuhku dan tubuh Lydia sama-sama berkelojotan di depan cermin. Wajahnya kutolehkan agak ke samping dan kucium mesra bibirnya … lama sekali …

Merasa capek, Lydia kubawa berbaring ke tempat tidur, kuambil selimut dan kututupkan pada kedua tubuh kami, lalu kupeluk dia berhadapan sambil kucium. Dia akhirnya tertidur dalam dekapanku.

Rupanya aku ikut tertidur. Begitu terbangun, kulihat jam di dinding menunjukkan pukul sembilan malam lebih. Lumayan lama aku tertidur. Lydia kulihat masih pulas, suara napasnya halus dengan ritme yang teratur. Capek sekali rupanya dia setelah mengalami perjalanan jauh dari Mg. Kucium pipinya dan kuelus rambutnya dengan rasa sayang. Wajahnya tetap manis.

Cerita dewasa Ngentot Suster Cantik Sexy Dan Imut Part 2

Aku pipis dan membersihkan diri ke kamar mandi, dan ketika kulihat meja makan, di sana sudah tertata rapi makanan malam (pasti ditata oleh pak atau bu penjaga villa). Pikirku, “Jangan-jangan penjaga villa mendengar ‘keramaian’ di kamar tadi. Ah, biarin.”. Aku menyeduh kopi dan secangkir teh manis hangat untuk Lydia. Tiba-tiba Lydia sudah ada di belakangku dengan berdaster. Kuajak dia makan bersama, karena perut kami sudah lapar.
Setelah makan malam, kami duduk-duduk di sofa kamar tamu sambil berangkulan, kepala Lydia di sandarkan ke bahuku. Inilah pengalaman pertama kami bisa menikmati suasana sesantai ini.
Malam itu pula aku mendengar segala problema Lydia yang menyangkut kehidupan keluarganya. Ayah Lydia ternyata sudah beberapa lama, sejak Lydia di SMP, meninggalkan keluarganya tanpa kabar berita, sehingga Lydia dan adik-adiknya (Lydia adalah sulung) kurang mendapatkan kasih sayang seorang ayah.
Katanya, dari diriku, selain mendapatkan kepuasan sex , dia telah mendapatkan kasih sayang penuh, yang selama ini didambakannya. Selain itu, aku dinilainya sebagai lelaki sejati yang bisa memperlakukan wanita dengan baik. Sikapku halus, galant dan menghormati wanita. Dia selama ini juga memperhatikan bagaimana sikapku terhadap wanita-wanita lain, seperti terhadap istriku, teman kantor, tetangga, atau pasien.
Kepribadian dan perilaku suaminya, Bakdi, dinilai sangat jauh tak sebanding denganku. Bakdi kekanak-kanakan, dan sangat tergantung pada orangtuanya. Lydia mengaku pernah mendapatkan perlakuan sex ual secara semena-mena dari suaminya. Misalnya, beberapa kali Bakdi, ketika sedang berhubungan sex ual, memaksa memasukkan seluruh kepalan tangannya yang besar ke dalam vagina Lydia. Aneh. Hal itu sangat menyakitkan baik secara fisik maupun mental, yaitu melecehkan harga dirinya sebagai wanita. Lydia merasa diperlakukan seperti pelacur oleh suaminya sendiri. Perlakuan-perlakuan semacam itu sudah dialami Lydia sejak beberapa bulan setelah menikah. Namun, karena baktinya pada sang suami, Lydia tidak banyak memprotes, dia hanya menangis saja. Dia sudah pernah menceritakan keadaannya kepada ibunya, tetapi ibunya meminta Lydia untuk tetap sabar. Demikian pula soal kehamilannya yang tak kunjung tiba, padahal dia sudah kawin lebih dari dua tahun.
Ketika Lydia menceritakan semuanya itu, tak terasa air matanya meleleh, dan akhirnya tersedu. “Aku kepingin mempunyai suami seperti papa Wawan. Istrimu sangat beruntung ya pa, mendapatkan suami seperti kamu. Tapi, aku nggak mau mengganggu kehidupan rumahtangga papa. Aku hanya ingin ikut merasakan kasih sayang papa yang tulus padaku. Tak lebih.”, katanya. “Jujur aku katakan, Lydia juga selalu ingin berhubungan sex yang nikmat. Aku nggak pernah mendapatkan kepuasan sejati dari suamiku yang kasar itu. Mungkin aku hipersex karena aku nggak pernah merasa puas. Terus terang, dulu sebelum ketemu papa Wawan, aku sering mempermainkan kemaluanku sendiri untuk mendapatkan kepuasan. Itu pun nggak selalu berhasil. Jadi pa, aku sangat berterima kasih padamu, karena setiap berhubungan dengan papa aku selalu bisa orgasme. Terima kasih pa”, katanya lagi sambil mengusap air matanya dan merebahkan diri ke pangkuanku. Sambil menghapus air matanya dengan tangan dan jilatan lidahku, aku menjawab: “Lydia, kamu jangan memujiku berlebihan. Rumput di halaman tetangga selalu kelihatan lebih hijau.”
“Ah, nggak juga pa. Aku sudah pernah berpacaran dengan orang lain, dengan teman sekolah ketika di sekolah perawat dulu, atau dengan mas Totok tetangga di depan rumah itu. Semuanya nggak ada yang punya sikap seperti papa. Juga, maaf, aku mau terus terang lagi, aku sudah pernah main sex ketika berpacaran dengan mas Totok beberapa kali, tapi toh aku belum pernah merasa puas seperti yang kualami dengan papa.”, jawabnya. Aduh, senangnya bukan main aku mendengar kata-kata Lydia seperti itu.
Rambut Lydia kuelus dengan lembut. Lydia masih berbaring dipangkuanku di sofa. Malam makin larut dan dingin. Birahiku timbul kembali. Dengan perlahan kuelus susu Lydia dibalik daster yang tak berBH itu. Lydia pun menggeliat. Dadanya diangkat dan bibirnya direkahkan ingin kucium. Tak ayal kusambut bibirnya yang basah itu, dan kulumat dengan penuh nafsu birahi. Tali dasternya kembali kubuka dan susunya kuremas-remas. Tanganku yang lain menyusur kakinya ke atas dan ketika sampai di lipatan vaginanya, jariku kuelus kedalam liangnya yang sudah kembali basah dan licin. Sebaliknya Lydia mulai mencari kontolku dibalik celana kolor yang kupakai. Tangannya dimasukkan ke balik kolor itu, dan kontolku mulai dipermainkannya dengan trampil. Aku tak tahan, lehernya kucium. Lydia mengerang lagi seperti biasanya, “Aaaachhhh paaaaah … eeecch ..ssh …”. Mendengar itu aku makin panas, seluruh lehernya kujilat, dan kuberi cupang merah di bagian kiri lehernya. Aku berani memberi cupang, karena toh selama seminggu ini Lydia pasti nggak akan ketemu suaminya.
Lydia menarik kontolku keluar dari kolor, kemudian diciumnya kontolku dan dijilat-jilat setengah dikulum. Kenikmatan mulai terasa. Lydia mulai pintar mengulum kontol. Aku segera berputar mengarahkan mulutku ke vagina Lydia dan sambil kontol masih tetap dikulumnya. Tanpa melepas dasternya lidahku kujulurkan ke tempik Lydia, dan kuisap liangnya yang berlendir itu. Lydia melepas isapan pada kontolku mengerang, “Paaaah, aaaarrrgghhh paaah … eeenaaaak paaaah ….”. Tak kupedulikan erangannya, kucari kelentitnya dan kuisap pula, sambil satu jariku kumasukkan ke vaginanya untuk mengorek dinding dalam depannya. Lydia menggeliat tak teratur dan makin menjerit, “Paaah … sudaaaah paaaah … aku nggaaaak kuuuaaaat …. Suuudaaaah …”. Rupanya dia terangsang hebat. Aku masih tak peduli. Korekan jariku kuteruskan ritmis, dan mulutku berpindah ke paha dalamnya, kujilat-jilat menyusuri sepanjang paha ke atas bawah dan sedikit kugigit kecil. Gelinjang Lydia makin menghebat, kontolku sudah dilepas, dan tangannya meremas kuat kain pinggiran sofa, “Aaach paaa, aaaayooo paaah… masukkan saja, aku nggak tahaaan … paaaah …”.
Kasihan juga mendengar erangannya itu, kuputar tubuhku sambil melepas t-shirt dan kolorku (terasa sekali dinginnya hawa pegunungan), Lydia pun membuang dasternya. Di sofa itu pula kulebarkan paha Lydia, kumasukkan kontolku tanpa ampun ke tempiknya. Lydia mendesah kenikmatan, juga aku, “Ssshhhhh, Lydiaaa…”.
“Paaaah … aku jangan ditinggal ya paaaah … papah masih sayang Lydia paaaaah? …. Oooooccchhhh iiiichh …”, desah Lydia sambil pantatnya diangkat sehingga kontolku makin tandas masuk ke dalam tempiknya yang sempit enak itu. “Yaa, aakuu … aakuu maakiin sayaaang kamuu … kamu eeenaaaak … “. “Paaapaaah ….”.
Aku yakin erangan Lydia terdengar di luar karena begitu kerasnya tak terkendali.
Posisiku sedikit kuubah, aku agak duduk dengan satu kaki kutaruh di lantai dan kaki lain kutekuk lutunya, pantat Lydia sedikit kuangkat dan kutahan dengan tangan. Gerakan kontol kukontrol penuh dengan memaju-mundurkannya dibantu tanganku yang memaju-mundurkan pantat Lydia. Aku bisa melihat masuk-keluarnya kontolku di tempik Lydia. Karena sempitnya tempik Lydia, maka ketika setiap kontolku kutarik keluar, bibir depan vagina Lydia ikut tertarik keluar. Begitu seterusnya. Pemandangan asyik itu jelas makin menaikkan birahiku ke ubun-ubun. Lydia makin terengah-engah. Jeritannya makin menjadi-jadi, “Oooooiiichhh paaaah, ayo cepet paaah, goyang cepeeet paaaah ….”. Tangan Lydia makin mencengkeram kuat pinggiran sofa menahan birahi. Tangan kiri kupakai meremas susunya yang bergoyang-goyang indah. Lydia menggeliat dan merintih, mulutnya terus mendesis dan matanya terpejam. Kepalanya mulai bergoyang juga. Aku kembali merebahkan dadaku padanya, dan kuhangatkan tubuhnya, kedua tangannya sekarang mencengkeram punggungku, tanganku ikut melingkari punggungnya. Kontolku terus kukocok sambil kugeserkan pangkalnya ke kelentit yang terasa menegang. Keringat kami mulai bercucuran, sehingga melicinkan gesekan kulit dari dada sampai ke pubis. “Aaadduuuuh paaaah, kamuu … eeeenaaak …. Paaaah …”. “Kamu juga Siiiiih …”.
“Aaaayooo paaaah bikinkan anak paaaaah ….. aaakuuu pingin anaaaak paaaah …”. “He’eeh Siiih … kubikinkan anak Siiih …”.
Lydia memindahkan tangannya dari punggungku, ganti dia pegang kedua paha belakangnya dengan kedua lutut ditekuk, sehingga selangkangannya terbuka lebar-lebar. Dia rupanya sudah begitu enak menikmati permainan itu. Tempiknya terus digoyang-goyang. “Paaaah …. Aaakuuu eeenaaakk sekali …. Teruuuus paaaah …. gooooyaaang Lydia teeeruuuus paaaah … ooooccchh … Yaaa … aaampuuuuuun …. oooooooocchhhh …. ”
Tapi, kali ini kontolku agak tahan, belum ada tanda-tanda orgasme. Masih di sofa, posisi Lydia kubalik, dia di atas aku di bawah. Dengan tertelungkup, kedua paha Lydia kulebarkan, dengan satu kakinya menyentuh lantai. Dengan lutut sedikit kutekuk aku masih sanggup mengontrol gerakan. Dengan posisi itu rupanya Lydia lebih enak. Buktinya gerakan kocokan vaginanya makin cepat, aku pun menaik-turunkan kontolku sambil kedua tanganku memaju-mundurkan pantat Lydia. Lydia makin cepat saja bergoyang, “Aaaaaah paaaah … akuuu muuuulaaaai saaaampaaaai lagiiii paaaah …. “. “Teruskaaaan Siiiih, akuu juga enaaak …. , desisku yang memang merasa enak juga.
“Aaaayoooo paaaah … paaah aaaakuuuu saaaampaaaai paaaah ….”, betul-betul Lydia sudah sampai secepat itu setelah posisinya di atas. Dia menggeliat dan merebahkan seluruh tubuhnya yang berkeringat banyak ke tubuhku, padahal udara sedingin ini. Sayang, aku belum orgasme. “Aaaduuuh paaaaah, aku sampai duluan, padahal papa belum apa-apa. Nggak apa-apa ya pah …?” “Nggak apa-apa Sih, nanti juga kamu bakal kugarap habis-habisan supaya aku bisa orgasme habis-habisan juga”. “Ih, papa jahat …”, katanya tetap di atas tubuhku sambil mencubit pantatku, lalu dia mencium bibirku lembut.
Agar tak kedinginan, kuajak Lydia masuk kamar. Dan kami kembali berselimut sambil tetap bugil berpelukan berhadapan, sekali-sekali berciuman mesra. Tidurlah sayangku, tidurlah …
Kami tertidur sampai pagi.
Agar dingin tak terlalu menyengat, semua lampu kamar, yang tadi malam hampir semua kumatikan, kali ini kunyalakan sehingga suasana terang benderang.
Dari kamar mandi kami berpelukan rapat lagi, masih bertelanjang bulat di bawah selimut. Hawa dingin menerobos masuk ke dalam kamar. Hawa seperti ini, ditambah dengan pergesekan tubuh kami yang telanjang, membuat nafsu birahi kembali menggelegak, apalagi pada permainan kedua tadi malam aku belum orgasme, sehingga aku berhasrat melampiaskan ‘dendam’ di subuh yang sangat dingin ini.
Aku mulai menciumi bibir Lydia sambil menggeser-geserkan dada kami yang telanjang, selangkangan kami saling bergesekan, kontolku langsung bersentuhan dengan bibir vaginanya, sehingga kontolku terbangun kembali dengan sempurna. Lydia juga sudah terangsang, lidahnya mulai mencari langit-langit mulutku. Tanpa sadar selimut kami sudah terjatuh sehingga tubuh-tubuh bugil kami tak tertutup apa-apa lagi. Ketika kulihat cermin besar di sepanjang lemari dinding, makin menggelegaklah nafsuku, melihat tubuh-tubuh bugil kami yang saling berpelukan tertampang jelas di cermin itu. Lydia melihat itu agak tersipu, tapi rupanya dia juga makin terangsang, buktinya, lipatan selangkangannya makin digesekkan pada selangkanganku yang kontolnya sudah ngaceng.
Aku menindihnya kembali sambil terus menggesekkan bagian tubuh kami, rasanya enak, apalagi udara begitu dingin. Lydia sudah mengangkangkan pahanya lebar-lebar. Aku gesekkan terus kontolku ke permukaan bibir tempiknya. Cukup lama. Lydia sudah merintih. “Paaah …. Masukkan saja paaah ….”. Tanpa kulakukan manipulasi lagi pada susu, tempik dan kelentit, birahi Lydia sudah sampai di puncak. Udara dingin itulah rupanya yang menyebabkannya.
Segera saja kumasukkan kontolku pelan-pelan ke dalam tempiknya yang sudah basah (betul juga, Lydia sudah terangsang berat). Dan agar agak sensasional, aku bergeser sambil memegangi pantat Lydia agar kontolku tak terlepas dari vaginanya, lalu kusandarkan punggungku pada pinggir bagian kepala tempat tidur sedikit terduduk, kakiku kuselonjorkan, sehingga Lydia duduk di pangkuanku dengan kontolku terbenam pada tempiknya. Lydia kuminta bergerak maju-mundur yang kubantu dengan gerakan tanganku pada pantatnya. Sementara mulutku menjilati kedua puting susunya yang persis ada di depan wajahku. Lydia, lagi-lagi mulai mendesis, “Ooooooh paaaah …. Aaaaduuuh ….. “. Sementara kami bergoyang maju-mundur, kulirik cermin besar di lemari dinding. Aduh, menggairahkan sekali. Kira-kira kalau adegan ini difilmkan, rasanya akan laku keras, sebab si wanitanya manis dan begitu sex i dengan tubuh yang merangsang nafsu lelaki mana pun. Gerakannya pun pasti membuat siapa pun akan tidak tahan lama untuk segera ejakulasi.
“Lydia, lihat itu di cermin, kamu sex i banget …”, kataku. Lydia melihat cermin, dan tanpa kuduga, dia melenguh dan mempercepat gerakan maju-mundurnya yang disertai gerakan memutar permukaan pubis atasnya agar kelentitnya langsung bergesekan dengan pangkal kontolku, tangannya makin erat merangkul leherku, “Aaaaaah paaaah … aaaaah …. Iiiichhh paaaah …”. Mungkin akibat melihat bayangan menggairahkan di cermin itu, Lydia tambah bernafsu. Aku ikut memutar pinggulku sehingga pangkal kontolku bisa bergesekan langsung dengan permukaan kemaluan Lydia bagian atas. Aku merasakan betapa nikmatnya posisi ini. Tanpa sadar aku telah mencupang beberapa tempat di sekitar pentil susu Lydia, baik susu kanan mau pun kiri. Biarin, pikirku. Beberapa cupang merah-biru di tubuh Lydia makin membuat nafsuku meninggi. Tambah sex i dan hot.
“Aaah, Lydia…. Kamu hebat!”.
“Papah yang hebat … ooooooh paaaah …..”, erang Lydia.
Posisi ini tak bertahan terlalu lama, karena membutuhkan enersi yang cukup besar. Lydia kubaringkan kembali miring membelakangiku menghadap cermin lemari dinding. Lalu, selangkangannya kurenggangkan lebar, dan kontolku kumasukkan dari belakang. Bayangan di cermin makin membuatku bernafsu, sebab dari cermin itu kami bisa melihat keluar masuknya kontolku ke tempik Lydia. Tanganku yang bebas kupakai untuk meraba dan menggesek-gesek kelentit Lydia, sedang mulutku melumat leher samping dan telinganya. Merasakan perlakuan yang makin merangsangnya itu, Lydia tanpa sungkan berteriak keras di pagi subuh itu, “Oooooiiihhhhh paaaaah, aaaakuuuu eeeenaaaak paaaaaaaaaah …… paaaaah eeenaaaak ….. masukkan semuaaanyaa paaaaah …. seeemuuuaaaaa …”.
“Siiiih … aakuuu cinta kamuuu Siiiih …. Hhhh hhhhhhehhh …”, bibirku mendesis keenakan.
“Iiiyaaaa paaaah …. Aaaakuuuu ciiintaaaa paaaapaaah … akuuuu cintaaa … oooooochhhh … paaah”.
Dari leher, lidahku turun ke punggung, kujilati dan kugigit yang bisa kugigit. Punggungnya menjadi merah-merah juga. Kali ini hampir seluruh bagian tubuh Lydia terlukis bekas gigitan dan cupangku merah-biru. Di leher ada cupang di bagian depan dan samping , di daerah susu kanan dan kiri, di pangkal paha bagian dalam, di punggung atas dan tengah. Saya nggak tahu bagaimana nanti Lydia menyembunyikan cupang yang ada di lehernya dari penglihatan teman-teman sepelatihannya di Mg.
“Paaaah, aaaakuuuu saaaampaaaai laagiii … paaaaah …. Ooooooh … aaaah … paapaaaah …”, tiba-tiba dia mendesah keras sambil menggelinjang meregang. Lemas. Oh, Lydia sudah orgasme duluan, padahal rasanya aku hampir juga.
Aku tidak mau kehilangan momentum lagi untuk orgasme, aku ingin secepatnya orgasme juga. Maka, tak peduli Lydia sudah lemas karena orgasmenya, dia kuangkat dan kubaringkan telentang ke atas tubuhku dalam posisi membelakangiku. Kontolku yang masih tegang tetap menerobos tempiknya dari belakang. Lydia yang sudah lemas itu kukocok tempiknya dengan kontolku yang makin liar. Aku lihat bayangan di cermin, makin asyik adegan itu, terlihat betapa indahnya tubuh Lydia di atas tubuhku telentang sambil susunya kuremas dari belakang dan kontolku masuk maju-mundur dari belakang, kepala Lydia terkulai ke belakang dengan jari-jari meremas seprei kasur, sambil mulutnya kulumat dengan mulutku dari samping. Ah, menggairahkan sekali …
Lydia hanya bisa bergumam lirih, “Hhhhhehhh hhhh sssshh …. Paaaah … paaaah … aku nggaaak kuuuaaaat paaaah ….”. Kurasakan tempiknya berdenyut-denyut, sehingga kontolku pun merasakan enaknya dipijat-pijat.
Remasan tangannya pada seprei makin menguat, sampai seprei itu tertarik. Dalam hatiku, apakah Lydia mulai bernafsu kembali?
Ternyata benar, pantatnya digerakkan maju-mundur sehingga kontolku seperti diperas-peras, “Oooooh eeenaaaak…. Betul begitu….”. Lydia makin bergoyang tidak hanya maju mundur, juga berputar-putar. Sementara kontolku bergerak dari belakang, tanganku mengucek klitorisnya lagi dari depan. Terus kuucek. Lydia menggelinjang kembali dengan kerasnya, seprei makin tertarik. “Ooooooh paaaah … kamu jaaahaaaat paaaah …. Eeeenaaaak paaaah …. Oooooh ….”.
Aku sudah mulai tak tahan. Rasa geli sudah melanda sekujur tubuhku. Akhirnya aku mendesah keras ketika air maniku memuncrat ke dalam tempik Lydia, “Lydia… aakuuuu keluuuaaaar ….. hhhheh hhhhh ….”. Lydia juga ikutan meregang dan mendesah, “Paaaah …. Aaaakuuuu juuugaaaa …. Oooooooohhhhh …. Terima kasih paaaah ….”.
Kedua tubuh kami melemas tak bertenaga lagi. Kontolku lepas dengan sendirinya dari tempik Lydia, sementara masih memuncratkan spermanya di luar sehingga membasahi jembut dan paha Lydia, juga meleleh di seprei.
Segera Lydia kubaringkan ke sampingku dan kupeluk lagi erat-erat sambil kuciumi dahi, pipi dan bibirnya dengan rasa sayang yang tak terhingga. Semalaman ini aku telah merasakan kenikmatan yang tak ada taranya.
Hari sudah mulai terang …
Sepagian kami bercengkerama dan bercumbu sambil menikmati pemandangan alam sekitar lewat jendela kamar yang kubuka lebar-lebar. Beberapa kali di hari itu kami bergelut memadu cinta sepuasnya. Dan siangnya, setelah matahari mulai turun, Lydia dengan berat hati kuantar ke terminal bus kembali ke Mg.
Sejak tahun ketiga masa dinasku di puskesmas itu, aku tinggal sendirian di rumah dinas, keluargaku (istri dan anak) tinggal di rumah yang kami beli di S, agar istri tidak kecapekan pulang pergi ke kantornya yang berada di S. Sebelumnya, anakku lebih banyak dibawa neneknya yang tinggal di J. Selama sisa masa dinasku itu, aku jadikan Lydia sebagai pengganti istriku.
Selama ini perselingkuhanku aman-aman saja, meski ada staf priaku yang agak-agak curiga, karena dia hampir memergokiku menggeluti Lydia di kamar tidur rumahku pagi hari sebelum jam kantor buka.
Di pagi hari itu, seperti biasanya, ketika suami Lydia sudah pergi ke pabrik, pembantuku belum datang (biasanya pukul 7), seperti hari-hari sebelumnya Lydia ke rumahku menemuiku untuk meminta ‘jatah sperma pagi’, tetapi agar tidak mencurigakan dia membawa makanan untuk sarapan buat, sebab pembantu rumahtangganya memang diminta istriku untuk menyediakan sarapan pagi buatku setiap hari. Biasanya dia datang ke rumah sudah memakai baju dinas melalui pintu belakang.
Pagi itu, begitu datang langsung kuajak masuk ke kamar tidur (ada dua tempat yang biasa kami pakai nge sex , yaitu kamar tidur atau kamar periksa). Kedua pintu rumah, belakang dan depan, tak pernah kututup kalau Lydia ke rumah, agar tidak membawa kecurigaan orang lain.
Untuk kegiatan ’sex harian’ seperti ini kami tak banyak melakukan foreplay, sebab waktunya sempit dan situasinya tak aman benar.
Begitu masuk ke kamar tidur, pintu kamar kukunci, dan langsung Lydia kupeluk dan kuajak tiduran di ranjang, rok bawahnya kusingkap jauh-jauh ke atas, sehingga tempik Lydia terpampang indah (seperti biasanya, Lydia datang tanpa bercelana dalam, celana dalam di simpannya di saku rok, dan baru dipakai menjelang pulang). Hari itu aku hanya memakai sarung dan kaos oblong. Sarungku dan celana dalamku kulepas, sedang kaos oblongku kusingkap saja sampai ke leher, kemudian kutindih Lydia yang sudah merenggangkan selangkangannya lebar, lalu kontolku yang sudah siap menunggu, tanpa berlama-lama kumasukkan ke dalam liangnya. Kancing kemeja dan BH Lydia kubuka tanpa kulepas, kuremas tetekya dan kulumat bibirnya, sampai dia merintih lirih, “Aaaaaacchhhh paaaah … cepeeeet kooocoook yaaang …. Cepeeet … “. Kontolku kugerakkan dengan irama beraturan sementara nafasku memburu.
Karena terburu waktu, aku dan Lydia tak terlalu lama mencapai orgasme (menurut pengalamanku, stress, misalnya akibat desakan waktu, ternyata bisa berperan dalam mempercepat datangnya orgasme, tapi pada penyebab stress lain kadang-kadang justru sebaliknya), kurang lebih setelah sepuluh menit. “Aaaaahhhh Siiih, aaakuuu keeluuuaaar … “, desisku lirih. Badanku mengejang, yang diikuti dengan mengejangnya tubuh Lydia. “Aaaakuuu juuuugaaa paaaah …. Hhhh hhhhh sssshh … iiicchhh ….”. Aku menciumnya kembali, dan sejenak kubiarkan semprotan maniku beberapa lama di vaginanya. Denyutan otot tempiknya terasa di ujung kontol. Aku hampir selalu puas dengan Lydia, sebab Lydia cepat orgasme, padahal menurut pengakuannya dia sukar terpuaskan oleh suaminya, sehingga dulu aku cukup cemas bakal sukar memuaskannya.
Setelah beristirahat sejenak dengan kontol yang kubiarkan tetap berada di liang tempiknya, kubantu dia membersihkan tempiknya dari lelehan spermaku dengan tissue.
Lydia segera merapikan pakaiannya, tetapi toh tampilan wajahnya tidak sempurna betul karena ada bekas jilatan lidahku. Kemudian kami keluar dari kamar. Tapi, astaga … begitu aku mengantarkan Lydia ke luar dari pintu belakang, kami ketemu salah satu staf priaku Joko. “Oh, mbak Lydia … “, katanya, sedikit curiga karena melihat Lydia ada di rumahku sepagi itu dengan rias wajah yang tak sempurna, apalagi melihatku di rumah hanya pakai kaos dan sarung yang tak terpakai rapi. Sambil gelagapan, Lydia menjawab, “Oh .. eh, dik Joko … eh … saya mengantar sarapannya pak dokter. Biasa tiap pagi dik … Perintah ibu boss … hihihi ..”, sambil ketawa kecut. Lydia bergegas meninggalkan rumahku. Ternyata Joko kebetulan pagi itu ke rumah guna minta bantuanku mengobati ayahnya yang sakit cukup parah di rumahnya. Untungnya, Joko nggak datang ketika aku masih asyik bergelut dengan Lydia di dalam kamar. Juga, cukup beruntung bahwa yang curiga adalah Joko, sebab seorang lelaki biasanya tidak mudah mengobral rumor seperti halnya perempuan (maaf ya buat kaum perempuan … ).
Sejak itu aku lebih berhati-hati ketika bergelut dengan Lydia di rumah. Aku lebih sering menggunakan kamar periksa dan menyetubuhinya di atas bed periksa yang walau sempit dan tinggi, tetapi sedikit lebih aman.
Yang terang, aku nggak pernah menghentikan kebiasaanku bercinta di pagi hari, kecuali kalau ada halangan yang berarti, misalnya sedang menstruasi, atau keadaan tak memungkinkan karena misalnya suaminya ada di rumah. Itu menjadi tugas rutinku, selain karena aku menginginkannya, itu juga kebutuhan Lydia sendiri. Pokoknya kami berdua sudah bak suami-istri dalam persoalan sex . Menurut pengakuan Lydia, dia pusing kalau tak sempat bersetubuh denganku, sekali pun malam harinya dia sudah disetubuhi suaminya habis-habisan.
Di kemudian hari, yang membuat kebiasaan rutin kami bersetubuh di rumah bisa berlangsung dengan lebih mulus, adalah karena bantuan pembantu Lydia. Pembantu Lydia bernama mbok Nah, seorang janda yang sudah agak tua, antara 55-60 tahun. Begitu dekatnya Lydia dengan mbok Nah (dia sudah ikut sejak Lydia masih gadis, ketika baru tinggal di rumah dinasnya), sehingga hampir tidak ada rahasia Lydia yang tidak diceritakannya ke mbok Nah, termasuk perselingkuhannya denganku. Mbok Nah senang dan menyetujui perselingkuhan itu, dan dia sangat membantu kami untuk melampiaskan hasrat sex ual di hampir setiap pagi itu, dengan cara menunggui kami yang sedang bersetubuh di luar kamar dan sekaligus mengawasi dan menyamarkan kami kalau-kalau ada orang datang ke rumah. Sulit dipercaya, tapi nyatanya begitu.
Cuma, memang, persetubuhan di rumah tak pernah memuaskanku 100 persen, sebab situasinya tak bebas, sehingga kami tetap mencari peluang untuk bercinta di tempat lain yang jauh lebih aman.
Anehnya lagi, Lydia tak kunjung hamil, padahal sudah milyaran spermatozoaku yang normal menyerbu rahim dan ovariumnya. Tak adakah spermatozoa yang mampu menembus ovumnya? Padahal, aku dan Lydia sangat menginginkan seorang anak, buah cinta kami. Pernah Lydia kuminta memeriksakan diri ke seorang dokter obgyn, dan dia dinyatakan normal.
Ada beberapa kali pengalaman menarik yang berhubungan dengan ’sex radio’. Aku dan Lydia masing-masing memiliki radio komunikasi handy-talky (HT).
Di suatu siang, setelah makan dan sholat, sambil bersarung tanpa baju, aku berbaring di tempat tidurku. Aku melamun. Tiba-tiba muncul ide di benakku untuk bermain sex jarak-jauh dengan Lydia (jadi, sejak dulu aku sudah memelopori semacam ‘cybersex’ itu jauh sebelum aktifitas ini populer). Kuhidupkan HT-ku, aku menuju frekuensi tempatku biasa mojok dengan Lydia (pada frekuensi yang sangat rendah), tanpa antena terpasang. Kupanggil-panggil Lydia. Setelah beberapa lama, Lydia merespons panggilanku. Aku tanya dia, apakah suaminya sudah datang. Ternyata belum. Lalu kuminta Lydia membawa HT-nya ke kamarnya dan menguncinya dari dalam.
“Lydia, mau nggak kamu membuka pakaian sekarang sampai telanjang?, mintaku. “He, apa-apaan pa? Sinting kamu pa.”, sahutnya.
“Sudahlah, mau apa enggak? Kalau mau, ayo, buka saja semua pakaianmu, dan tiduran di ranjang, sambil terus memonitorku. Aku di sini sudah telanjang lho.”, kataku sambil melepas sarungku sampai aku telanjang bulat sendirian di tempat tidur. “Iya deh, aku buka baju ya.”, sahutnya lagi di seberang sana.
“Sudah pa, aku sudah telanjang bulat-lat … Malu, ah, pa”, katanya genit, “Terus ngapain?”.
“Nah, kalau sudah, raba dan remas susumu dengan tangan satumu seolah-olah yang meremas itu adalah tanganku. Pokoknya anggap aku ada di sampingmu sekarang ini, dan anggaplah aku lagi menggumuli kamu. Aku juga anggap kamu ada di bawahku kutindih dan kugeluti. Ayo, Lydia. Hhh ssssshh hhhhehhhhh ….”, aku mulai mendesis sambil tanganku yang satu mengelus kontolku sendiri.
“Yaaah paaaah, aku sudah meremas susuku paaaah. Ssssshhh ….”, desah Lydia.
“Terus Siiih, kalau mendesah, mendesahlah yang keras. Aaaah, mulai eenaaak… “. “Aku juga paaaah, aaakuuu eeenaaaak paaaah … , sssshh. Aaakuuu masukkan ke lubang Lydia yaaaaang … Eeenaaak ….”, mulai terdengar rintih Narsi. Walau tanpa melihat, aku yakin Lydia mulai menggosokkan jarinya sendiri ke tempiknya, sebab dulu sebelum ketemu aku, dia mengaku sering bermasturbasi. Membayangkan hal itu dan membayangkan bagaimana tubuh bugil Lydia yang indah menggeliat, aku makin terangsang, “Hhhhhh sssshhhh ssss , aaakuuu terangsang … teeeeruuuusss ….”. “Iii iiiyaaaa paaaah .. aakuu teeerusss … Kaamuu juugaaaa teeerusss paaaah … aaaacchhhh ….”, sahutnya di sana.
“Teeeruuus …. Kontolku terasa eeenaaak ….”. “Aaaaah paaapaaa, aakuuu pingiin kontolmu paaaah … maasukkan paaaah ….. aakuuu suudaaah basaah paaaah … sssshhhhh … paaaah … “, Lydia terus mengerang.
Birahiku makin terangkat ke atas ubun-ubun, “ooh… akuu tambah eenaaak …. Kumasukkan dalam-dalam ke lubangmu ya ….”. “Iiyaaa paaaah …. Aaakuu .. akuu suuudaaah nggaaak taaahaaan paaaah … masukkan paaaah ….”. Aku membayangkan kontolku mengocok liang vagina Lydia, “, kukocok teruus ya …. Kaamuuu eeenaaak … “. “Paaah … kaaamuuu juuugaaa eenaaak paaaah …. Aaaargggghhhh paaaaah … koooocoook paaaah …. Aaakuuu maaauuu saaampaaaai paaaah … kooocoooooooook laagiiiiiii ….. oooochhhh … “, kudengar teriak Lydia di telingaku.
Mendengar desahan dan rintihan yang merangsang seperti itu, aku sudah merasa nggak tahan, aliran nikmat di ujung kontolku mulai terasa memuncak, “Aaaaah … aaakuuuu hampiiiir …. … “. Di seberang sana Lydia merintih juga, “Aaaakuuu juugaaa paaaah … aayoooo sama-samaa paaah … oooochhh … saaayaaang … “.
“Aaaduuuh … aakuuu keeeluuuaaaar …. Hhhhhh ssssshhh hhhh ….”, tiba-tiba air maniku memuncrat-muncrat ke atas, membasahi tanganku, perutku, dan sebagian ada yang memuncrat jauh ke seprei kasur. “Ooooiiiiiccch yaaaaang … Lydia juuugaaaa paaaah … paaaaah eeenaaak ….. akuuu saaampaaaiiii … hhhhh ooooiiiccch ….”. Dan, suara Lydia menghilang, rupanya HT-nya terlepas dari tangannya. Tanganku terus mengocok dan memijat-mijat kontolku yang masih berdenyut dan mengeluarkan sisa-sisa spermaku. Aku puas.
Tiba-tiba, suara Lydia memanggil di HT-ku, “Pa, terima kasih, aku puas sampai lemes pa. Ini pengalaman pertama bagiku. Kamu juga puas pa?”
“Ya, . Aku sangat puas. Kamu pintar merangsangku di HT ini . Tapi kamu pura-pura mainnya atau betulan ?”, selidikku, sambil masih terengah-engah. “Ah, papa koq nggak percaya sih, aku sampai lemes. Tanganku basah semua ini lho. Kalau nggak percaya papa ke sini. Kalau perlu kita lanjutkan mainnya di tempat tidurku. Ayo ke sini.”, godanya centil.
“Kalau begitu, terima kasih ya Sih, kapan-kapan kita coba lagi. Selamat tidur siang ya sayang … “.
Aku tertidur kecapean, masih telanjang bulat sendirian di ranjang.
Selama hampir lima tahun aku dinas di puskesmas itu, tak terbilang lagi, sudah ratusan adegan cinta super panas antara aku dan Lydia. Aku tak pernah bosan padanya. Lydia selalu bisa menyediakan ‘menu baru’ dalam bermain sex . Aku juga banyak mengkreasi berbagai posisi dalam bersetubuh. Kami adalah tim yang kompak dan inovatif dalam bercinta. Aku selalu kangen dia.
Hubungan intim yang panas antar aku dan Lydia kekasihku yang kusayangi ini justru berhasil meningkatkan kualitas hubunganku dengan istri. Dalam seminggu aku dua kali pulang ke S berkumpul dengan keluargaku. Kehidupan dalam keluargaku makin harmonis. Aneh? Aku berhasil menambah seorang bayi cantik yang lahir dari rahim istriku.
Sebaliknya Lydia tidak kunjung hamil.
Suatu hari, menjelang masa dinasku habis di puskesmas itu, aku punya janji dengan Lydia, tanpa sepengetahuan suaminya, untuk mengantarkan salah seorang adik perempuannya, Ningsih, yang akan mengikuti ujian masuk universitas di M. Sabtu sore Lydia dengan adiknya kujemput di rumah teman adiknya, dan kami bertiga langsung meluncur ke M. Sampai di M sudah malam, kami mencari hotel dan memesan satu kamar ber-AC dengan sebuah tempat tidur besar untuk kami gunakan bertiga.
Setelah makan, kami tidur. Besok kami harus berangkat mengantar Ningsih melihat tempat ujian.
Posisi tidur: aku di sisi luar, Lydia di tengah, dan adiknya di sisi dalam dekat dinding.
Dini hari aku terbangun, kulihat Lydia dan Ningsih sudah pulas membelakangiku.
Merasakan tubuh Lydia bersinggungan dengan tubuhku, birahiku timbul. Tanganku kananku rupanya tadi secara sengaja ditaruh Lydia di bawah lehernya dan jari-jariku digenggamnya. Jari-jari tangan itu kulepas dari genggamannya pelan-pelan, lalu kurabakan ke permukaan dada Lydia yang tanpa BH. Lehernya mulai kuciumi. Pelan-pelan bagian belakang baju tidurnya kusingkap ke atas sampai kelihatan pantatnya. Astaga, ternyata Lydia juga tak memakai celana dalamnya. Rupanya aku dan dia sudah sehati, sehingga tahu apa keinginan masing-masing, sehingga selalu siap bertempur setiap ada peluang.
Celana pendekku kupelorot, dan kukeluarkan kontolku yang sudah menegang (aku sengaja tak bercelana dalam), kutempelkan pada belahan pantat Lydia. Mungkin karena kena gesekan benda hangat di pantatnya, Lydia mulai menggeliat terbangun. “Hayo, papa mulai nakal.”, katanya, masih terkantuk. “Biarin, aku kepingin banget koq.”, timpalku, sambil mulai meremas susunya dari luar baju tidurnya. Lydia jadi betul-betul terbangun. “Ssssstt, hati-hati lho … jangan sampai Ningsih terbangun. Kalau ketahuan ‘kan malu.”, katanya. “Biarin ketahuan, toh adikmu sudah tahu kalau kita pacaran.”, godaku, sementara jari tangan kiriku sudah menjelajah ke bibir vagina Lydia lewat sela-sela pantatnya. “Aaaah paaah … naaakaaal sekali kamuu paaah ….”, Lydia mulai merintih pelan. Sambil terus mengorek liang vaginanya, aku melumat bibir Lydia dari samping. Tangan kiri Lydia memijat-mijat dan mengelus kontolku dengan halus, dengan tetap tubuhnya masih membelakangiku untuk mengawasi adiknya.
Jari-jariku yang ada di dada, langsung menyelusup ke dalam susunya melalui leher baju tidur Lydia yang rendah. Putingnya kupilin-pilin dan kuputar-putar dengan lembut. Sementara jari-jari tangan satunya mengubek-ubek liang tempiknya yang sudah licin basah, sambil sekali-kali satu jari mengelus lubang anusnya. Lydia mulai menggeliat dan mendesis sangat lirih, “Oooooch yaaaang … kaaamuuuu naaaakaaaaaal … paaaah … mmmmppphhhh hhhhh”. Dia mencoba menahan desahannya, takut Ningsih terbangun. Kelihatan Lydia agak kesukaran menahan diri, sebab kalau sedang dirangsang atau disetubuhi dia biasa berteriak cukup keras. Kasihan melihatnya. Tapi bagaimana lagi, masa’ kami bercumbu dilihat adiknya sendiri. Nggak lucu dong.
Agar tidak kelamaan menahan birahi seperti itu, kontolku yang sudah ngaceng lama itu, kuselipkan ke bibir vaginanya dari belakang, dan tangan kiriku berpindah ke depan, mencari kelentitnya yang agak mengeras dan menggeseknya agar dia cepat orgasme. Tanganku bergerak di bawah baju tidur yang bagian depannya tetap menutupi kemaluan Lydia, agar bila sewaktu-waktu Ningsih terbangun tidak terlihat kemaluan kakaknya sedang dimasuki sebuah kontol. Kaki kiri Lydia agak diangkat dan diletakkannya di atas sisi luar paha kiriku, sehingga selangkangannya merenggang, untuk memudahkan pergerakan kontolku di dalam vaginanya. Kontolku kumaju-mundurkan dengan perlahan-lahan. Nikmat sekali rasanya. Lydia makin mendesah lirih, “Mmmmmfffhhh … hhhhhehhhh … shhhh …. Ayoooo paaaah … “. Pinggulnya pun mulai digoyangnya pelan. Asyik betul.
Inilah pengalaman pertamaku bersetubuh dalam situasi ‘berbahaya’ yang sewaktu-waktu bisa disaksikan orang ketiga. Tetapi nafsu yang sudah memuncak seperti ini tidak banyak punya pertimbangan lain.
Terus secara teratur kontol kukocok, maju-mundur, ke kanan-kiri, dan kuputar-putar. Aku mulai merasakan denyutan otot vagina Lydia yang masih cukup ketat. Vagina yang belum pernah dilewati kepala bayi. Vagina yang masih senikmat vagina perawan. Vagina yang membuatku selalu ketagihan selama hampir lima tahun.
“Aaaarrgghhhh paaaah … mmmmffffhhh … hhhhh … yaaaaaang … “, Lydia terus merintih. Dia mulai tak bisa mengendalikan diri. Erangannya mulai mengeras. Tapi kulirik, Ningsih tak terbangun. Atau pura-pura tidur? Mungkin saja. Ah, peduli amat. Biarin kalau Ningsih tahu. Nafsu yang sudah di ubun-ubun, ternyata sudah tak mengenal malu lagi.
Aku menahan diriku untuk tak mendesah. Lydia lah yang justru nggak bisa tahan.
Permainan ini kukendalikan sepenuhnya. Kontolku masih bergerak teratur dan pelan. Jariku terus mengorek bagian depan bibir vagina dan kelentit bergantian, sedang dada Lydia terus kuremas dan kugosok. Telinga belakangnya kujilati dengan lidahku. Posisi terus kupertahankan seperti itu, sebab tak mungkin menerapkan posisi lain.
Lydia merintih agak keras, “Paaaaah … akuuuu suuuuudaaaah nggaaaak taaahaaaan … mmmfhhh ssssh sshhhhh hhh …. Papaaah … “. Goyangan pinggulnya makin tak beraturan. Lydia menggeliat, dengan tangan kirinya mencengkeram paha kiriku kuat-kuat.
Agar tak terlalu ribut. Ibu jari kiri ku kumasukkan ke mulut Lydia. Seperti bayi, jempolku dikulumnya kuat-kuat, sambil mendesah terus, “Mmmmmfffhh … mmmmfhhh … aaaacchhhh iiiichhhh … “.
Kontolku terus kukocok. Belum juga orgasme.
Lydia makin liar. Kepalanya bergoyang-goyang seperti orang kesakitan. Tangan kanannya menarik seprei, sehingga tubuh Ningsih di sampingnya agak bergoyang sedikit terseret. Gelinjang Lydia makin menghebat. Lydia betul-betul liar, rupanya dia tak terlalu peduli lagi ada adiknya di sampingnya. “Aaaaachhhh paaaah … mmmmmmfffh …. Hhhh ….”.
Melihat Lydia makin liar seperti itu, aku makin terangsang. Gerakan kontolku kupercepat, dan kuputar dan sekali-sekali kubenamkan dalam-dalam ke dasar vaginanya. Aku mulai mendesis, “Hhhhhhh … hhhhh … ssshhhhh … “.
Mendadak, Lydia setengah berteriak melepaskan ibu jariku dari mulutnya, “Paaaah … aaakuuuu ….. suuuudaaaaaah ….. suuuudaaaaah …. Hhhhhhh sssshhhh … paaaaah ….”. Cepat-cepat mulutnya kubungkam dengan bibirku agar teriakannya tak berlanjut. Paha kiriku dicakarnya kuat, dan, astaga … seprei tempat tidur dicengkeramnya kuat sehingga tubuh adiknya tertarik sampai punggungnya bersentuhan dengan tanganku yang sudah kembali meremas susu Lydia. Pikirku, mustahil Ningsih tak terbangun.
Merasakan denyutan kuat tempik Lydia pada saat orgasme itu, aku hampir bersamaan mencapai saat yang paling nikmat itu. Air maniku menyemprot kuat di dalam vagina Lydia. Pantatnya kutarik kuat ke belakang sehingga kontolku bisa betul-betul terbenam di dalamnya. Aku pun sudah tak peduli kalau Ningsih ternyata tahu apa yang kami lakukan. Aku ikut melenguh, “Aku keluuaaaar Siiiih … aaah eenaaaak … hhhhh … “. Lydia terengah-engah, masih dipelukanku. Seperti biasanya setiap mengakhiri persetubuhan, kukulum bibir Lydia dengan rasa sayang. Jari-jari tangan kanannya kugenggam mesra dengan jari-jari tangan kiriku.
Sejenak beristirahat, kukenakan lagi celana pendekku. Kemudian kuambil tissue di meja, dan kubersihkan vagina Lydia dari lelehan spermaku. Lydia mencubit tanganku dengan tersenyum sambil bergumam lirih , “Kamu bener-bener nakal pa. Sinting … “. Aku tertawa kecil mendengarnya.
Aku tidur kembali.
Paginya kami antar Ningsih ke kampus sebuah universitas di M untuk melihat tempat ujian masuk. Ningsih kelihatan biasa saja, dan dia bisa ngobrol tanpa kikuk baik denganku mau pun kakaknya. Aku merasa lega. Rupanya Ningsih tak tahu apa yang kulakukan bersama kakaknya tadi malam.
Setelah dari kampus, kami antar Lydia ke tempat kos adik perempuan lainnya, Narti, yang kuliah di M ini juga. (Hebat Lydia, karena dia lah yang membiayai adik-adiknya belajar di perguruan tinggi)
Ningsih ditinggal di sana, agar bisa belajar dan besok akan diantar Narti ke tempat ujian.
Siang itu, saya dan Lydia bebas dari ‘gangguan’ adiknya, sehingga nanti bisa melanjutkan permainan cinta yang tak pernah membosankan itu. Hari Minggu ini kami merencanakan menginap lagi, dan besok Senin subuh kembali ke puskesmas untuk bekerja. Kemarin aku sudah menelpon istriku kalau akhir minggu ini aku nggak bisa pulang ke S dengan alasan ada suatu acara para dokter di hari Minggu, dan aku janji untuk pulang ke S hari Senin sore besok.
Siang itu kuajak Lydia jalan-jalan mengelilingi kota M, kemudian kembali ke hotel.
Sesampai di kamar hotel, Lydia tampak seperti kebingungan, dan berkali-kali kaya’ salah tingkah. Aku jadi heran.
“Mengapa Sih, kamu koq aneh, seperti bingung?”, tanyaku. “Ah, enggak. Aku cuma ngantuk pa.”, jawabnya. Lalu dia ke kamar mandi, cukup lama, tapi kubiarkan saja. Dari kamar mandi, dia kemudian berbaring. Agak aneh, bahwa dia nggak mencium aku seperti biasanya kalau mau tidur. Tapi aku nggak terlalu memikirkannya. Kubiarkan dia tidur sampai sore. Aku menonton televisi, sampai tertidur juga.
Sekitar pukul 4 sore aku bangun, kulihat Lydia juga sudah bangun tetapi masih berbaring. Dia kuganggu, dengan kujawil teteknya. “Jangan pa … geli … “, sambil memegang tanganku agar tidak melanjutkan pekerjaannya. “Lho kenapa Sih, marah ya?”, tanyaku.
“Jangan kecewa ya pa. Menstruasiku datang siang tadi. Coba pa pegang selangkanganku, aku sedang pakai soft-tex Bagaimana pa, apa kita pulang saja? Soalnya ‘kan percuma di sini nggak bisa main.”, katanya.
“Oooo, gitu toh … Begitu saja koq nggak terus terang dari tadi sih? Ya nggak apa-apa toh, perempuan itu selalu menstruasi setiap bulan, itu ‘kan wajar. Mengapa mesti pulang sekarang, apa tujuan kita ke sini cuma mau main?”, jawabku tenang, padahal dalam hatiku ya agak kecewa karena sisa waktu ini nggak bisa kugunakan untuk bercumbu seperti tadi malam.

cerita dewasa terpanas hot sex suster http://foto-video-cerita-dewasa.blogspot.com/

“Nggak apa-apa ya pa. Aku memang nggak pingin pulang sekarang, aku masih ingin semalaman bersama papa. Sebetulnya, meski pun aku sedang menstruasi, aku tetap pingin main koq pa. Sungguh, aku masih kepingin. Tapi menurut kesehatan ‘kan dianjurkan nggak usah melakukannya. Juga katanya menurut agama nggak boleh.”, ujar Lydia lagi. “Memang bener. Dusahakan menghindari main pada saat haid, kecuali kalau yakin penis dan vagina kita betul-betul bersih. Tapi kalau soal agama, kita ini sudah melanggar ajaran agama sejak lama Sih.”, kataku sambil tersenyum kecut.
Sore itu Lydia kuajak nonton bioskop dan makan di restoran di dekat alun-alun. Sejak di dalam gedung bioskop kami bermesraan terus.
Sepulang dari jalan-jalan kami kembali ke kamar hotel. Kulihat waktu sudah pukul 9 malam.
Sebelum tidur, bibir Lydia kukecup sayang, sambil mengucapkan selamat tidur. Tapi, tak dinyana, Lydia memeluk leherku dan lidahnya menerobos masuk ke dalam mulutku dan dengan ganas lidahku dipilin-pilinnya. Tentu saja aku terangsang dengan perlakuannya, kulakukan ciuman dalam. Akibatnya Lydia mulai mendesah, “Ooooch sayaaaang …. Aku dirangsang ya yaaang ….”. Ajakan itu tak kusia-siakan. Tanganku mulai meraba teteknya, baju tidurnya kupelorot ke bawah melalui bahunya dan kedua tangannya, sehingga telanjanglah bagian dadanya. Puting susunya kusergap dengan ganas. Seluruh areola buah dadanya kuempot dan kujilat. Lekukan di antara kedua tetek, kugigit-gigit ringan. Lydia merintih cukup keras, “Aaaaach paaaah …. Aku suudaaaah terangsang paaaah …. “. Dia dengan sigap melepas kaosku. Lalu dijilatinya kedua dadaku. Satu tangannya mencari kontolku di bawah yang masih tertutup celana pendek berikat-tali. Talinya dilepas, dan tangannya menerobos ke balik celana, dirabanya kontolku, dan dipijatnya dengan lembut. Dielusnya kontolku memanjang dari buah pelir menuju glans di ujung kontol. Rabaannya bukan main nikmat, “Aaah … eenaaak Siiih ….”. Celanaku kulepas saja, agar Lydia bisa lebih bebas memanipulir kontolku, dengan harapan aku bisa orgasme melalui manipulasi tangan atau mulutnya, karena kupikir aku nggak bakal orgasme melalui persetubuhan, sebab dia dalam keadaan menstruasi. Agar aku lebih terangsang, baju tidur Lydia kupelorot dan kulepas sama sekali melalui kakinya. Tinggallah celana dalam yang masih dipakainya dengan di dalamnya terdapat pembalut wanita yang menutupi vaginanya. Keadaan itu tak mengurangi kesex iannya. Menurut pengamatanku dari waktu ke waktu tubuh Lydia makin indah saja. Teteknya makin kencang dan agak membesar, mungkin karena Lydia lebih gemuk dari sebelumnya sehingga lebih tubuhnya makin berisi. Betul-betul tubuh idaman lelaki. Kakinya yang indah masih ditumbuhi bulu-bulu agak lebat yang tak pernah dicukurnya, sehingga menambah birahi. Apalagi melihat ketiaknya yang sedikit berbulu hitam halus, ah, sungguh merangsang darah lelakiku. Perlahan mulutku menyusur ke bawah menuju pusarnya, dan kujilati lubang dangkal pusar itu. Lydia mendesah, “Oooocchhh yaaaang … geeliiiii …. Oooooch … “. Mukaku terus turun ke bawah, kulewati saja selangkangannya yang tertutup pembalut dan kujilati sisi dalam pahanya. Kontolku kugesek-gesekkan ke kedua tetek Lydia. Enak rasanya. Dibantu tangan Lydia, sambil dielus-elus, ujung kontolku digosok-gosokkannya ke pentil susunya. Aku merasa nikmat, aku ingin orgasme dengan cara begitu. “Teeruuus Siiih … gosok teruus seperti itu ya yaaang … “, pintaku. Sementara jilatan dan kenyotan ringanku pada paha mendekati lipatan selangkangannya juga makin menghebat. Akibat perlakuanku itu, Lydia menjerit, “Paaah …. Aaakuuu nggaaaak kuuaaat ….”. Tak tahan karena manipulasiku lidahku di sekitar selangkangannya, Lydia akhirnya minta, “Paaah, aku ditindih sajaaa paaaah … aaayooo paaaah …. Cepeeet … “. Kuturuti permintaannya, Lydia kutindih, dan selangkangannya kurenggangkan agar kontolku bisa berada di lipatan paha atas itu. Kucium Lydia dengan penuh nafsu. Lydia menggeliat, dengan menggesek-gesekkan selangkangannya yang berpembalut itu ke kontolku, “Aaakuuu nggaaaak taaahaaan yaaaang … “.
Birahiku sudah tak terkontrol lagi, kontolku kucoba kumasukkan melalui sela-sela celana dalam Lydia, agar bisa menyentuh bibir vaginanya. Agak sulit masuk ke sana. Lydia rupanya juga ingin aku bertindak lebih dari itu, tiba-tiba tangannya masuk ke celana dalamnya dan disingkirkannya pembalut wanita penutup vaginanya yang berfungsi mencegah mengalirnya darah menstruasi keluar.
“Ayoo paaaah, masuukkan saajaaa paaaah … “. Begitu penghalang itu tak ada. Celana dalam Lydia kusibak dari sisi kanan tanpa kulepas, dan kucoba masukkan kontolku ke vagina Lydia. Pelan tapi pasti dengan bantuan dorongan pinggulku, kontolku masuk ke vaginanya. Terasa agak becek memang, tetapi tetap enak. “Nggaak apa-apa….? Aku sudah masuk … “. “Teruuus saja paaaah … nggak apa-apa …. Oooooochhhh ….”, jawabnya sambil mengerang.
Mendengar jawaban itu, kukayuh kontolku dalam-dalam. Becek-becek enak. Lydia makin meregang dan menggeliat, “Teeeruuuus paaah …. Gooooyaaaang …. Aaaarrrghhhhh ….. ooooch … “. Lidahku menjilati bagian leher samping Lydia, sehingga makin menggeliatlah dia tanpa beraturan. “Aaaayooo paaaah …. Teeeeruuus … sssshhhh …. Oooochhh … aakuuu cintaaa paaaapaah Waaawaaaan … ooooocchhh ….”.
Cukup sensasional juga rasa vagina yang becek seperti ini. Denyutan otot dalam vagina Lydia mulai terasa. Ujung kontolku seperti dipijat nikmat. “Eeeenaaaak saaaayaang … aaakuu saaaayaaaang kamuu Siiiih ….. kaaamuuu eeenaaak … “, lenguhku, sambil makin keras mengocok dan memutar kontolku di dalam tempiknya. Kedua jari tangannya yang berada di kasur kugenggam sayang.
Makin menghebatlah gerakan Lydia, dadanya menggeliat membusung, pantatnya diangkat-angkatnya sehingga ujung kontolku makin terasa ditekan-tekan enak. Satu tangannya melapas genggamanku dan ganti meremas seprei kasur, matanya terpejam dengan mulut yang merekah komat-kamit sekali-sekali merintih. Sungguh pemandangan yang menggairahkan darah lelaki mana pun.
Akhirnya waktunya tiba, hampir bersamaan kami berdua meregang dan menggelinjang, dibarengi semprotan maniku berkali-kali ke dalam vagina Lydia yang basah oleh darah menstruasi, “Aaah Siiiih … aakuuu keeluuuuaar … “. “Oooooooch iiiiiichhhhh …. Paaaaaaaah ….. aaaarggghhhhh ….”, teriak Lydia sembari tangan satunya mencakar punggungku kuat-kuat, dan kemudian lemas terengah-engah.
Oh, enaknya, terasa sekali denyutan ritmis otot tempik Lydia yang memijat-mijat kontolku.
Kuciumi Lydia, dari buah dadanya yang basah oleh peluh kami berdua, sampai leher dan seluruh wajahnya.
Seprei tempat tidur basah oleh darah menstruasi bercampur dengan air maniku yang meleleh keluar. Juga celana dalamnya.
Ah, aku sayang kamu Lydia …
Itulah beberapa adegan persetubuhan liar yang mengesankan antara aku dan Lydia yang penuh kasih sayang. Ratusan adegan lain yang pernah kami lakukan tentu tak mungkin cukup diceritakan di sini.
Sekarang aku sudah tak lagi pernah bertemu dengan Lydia. Aku dengar akhirnya dia cerai dari Bakdi suaminya, dan tetap tidak punya anak. Ada kabar dari seorang teman, bahwa Lydia telah menikah lagi dengan seorang duda yang beranak tiga. Katanya, Lydia hidup cukup berbahagia dengan suaminya yang sekarang. Tempat dinasnya pun sudah pindah dari puskesmas itu.
Sampai saat ini aku masih mengenangnya. Aku tetap merasa bahwa cinta Lydia tulus padaku. Sebaliknya juga, rasa sayangku tulus padanya. Sayang, kami tak mungkin bersatu. Di samping Lydia, aku tetap mencintai istri dan anak-anakku dengan sepenuh hati.

Ngentot Suster Cantik Sexy Dan Imut Part 1, cerita dewasa, seks porno, bacaan seru, bacaan sex dewasa, cerita bokep baru
Tamat.
Ngentot Suster Cantik Sexy Dan Imut Part 2
Ngentot Suster Cantik Sexy Dan Imut Part 2, cerita sex , Ngentot Suster Cantik Sexy Dan Imut Part 1, cerita dewasa, seks porno, bacaan seru, bacaan sex dewasa, cerita bokep baru, bacaan porno, kisah seks, cerita bokep cerita dewasa, Ngentot Suster Cantik Sexy Dan Imut Part 2


Aktifkan javascript tekan (F5), untuk membuka halaman
klik link cerita
serta membuka gambar lebih besar.
Cerita seks dewasa update setiap hari.
http://foto-video-cerita-dewasa.blogspot.com/