Ngentot Vagina Cewek Single Masih Anget

Ngentot Vagina Cewek Single Masih Anget - Cerita ini berawal ketika kantor gue mengadakan jalan-jalan dan saat itu tujuan kita adalah hotel di Puncak. Adalah salah satu teman bernama Santi yg masih single juga sama seperti gue. Dia berumur satu tahun dibawah gue dan belum berkeluarga juga. Terus terang gue heran melihat dia.

Secara fisik Santi orangnya tergolong cantik, rambut panjang sebahu, wajah oval, kulit kuning langsat cenderung putih mulus, dgn buah dada yg besar menantang. Dan yg paling membuat gue berdehem dalam hati kalau melihat pinggul dan pantatnya yg besar dan membulat mencetak celana dalam ukuran mini yg selalu dia pakai jika di kantor. Itu selalu gue perhatikan setiap hari bahwa ukuran roknya selalu kekecilan dgn pinggul yg indah jika sedang berjalan.

Satu minggu sebelum berangkat jalan-jalan, kita sempat makan siang bersama disebuah restoran dalam gedung kantor kita. Setelah ngobrol kesana kemari akhirnya subject pembicaraan mengarah ke jalan-jalan.
gue bertanya, "Ntar jalan-jalan gimana kamu?".
Santi menjawab dgn wajah yg lesu, "Ach, nggak tau juga Di, gue lagi bete nich, kayaknya kesana lumayan buat nyegerin pikiran gue."
"Lho emangnya ada apa,"tanyaku menyelidik.
"gue abis putus ama cowok ku soalnya dia selingkuh, maen belakang, lalu ketauan ama gue,"celetuknya dgn muka sedikit memerah menahan marah.
"Ya udah," sambungku "Ntar gue temenin kamu disana biar ngelupain dia."
Dia tersenyum sambil bilang, "Tapi gue lagi mo sendiri Ardi."
gue tak kalah gesit menjawab ucapannya, "Iya Santi, gue juga lagi mo sendiri aja en rencana ntar gue mo sewa kamar sendiri aja, kalau kamu mau gabung aja kita bisa ngobrol ampe malem keluarin semua unek-unek yg ada dikepala kita masing-masing."

gue terus menjelaskan rencanaku minggu depan dihotel tersebut. Dan tak diduga respon dari Santi, "Oleh juga tuh Di, gue emang butuh itu enak kali yah ngobrol ngobrol kita berdua sampe malem". "Iya, sekalian kalau kamu mau, gue juga nggak keberatan ngelonin kamu tidur," candaku kepadanya.
"Ha, gila kamu" mata Santi memancarkan arti yg tidak dapat gue cerna.

Cerita seks Ngentot Vagina Cewek Single Masih Anget

Satu hari sebelum berangkat kita didata ulang oleh panitia, menyangkut pembagian kamar tidur. Sudah menjadi tradisi kantor kita, bahwa satu kamar berdua, dan diatur oleh nomor nomor kamar yg ada. gue berdua dgn teman gue Hendra, dan Santi waktu itu terdata satu kamar bersama Wina. Dan tibalah waktunya bahwa kita satu kantor berangkat menuju hotel ada hari Sabtu bersama sama dgn menggunakan satu bis besar. Kantor kita hanya berjumlah total 50 orang bersama orang asing juga. Rupanya dalam batas akhir sebelum naik ke bis, ada dua orang yg batal ikut karena alasan keluarga, mereka adalah Tiara, dan Wina. Wina?, bukannya Wina satu kamar dgn Santi, dan berarti nanti Santi sendirian dong dikamar. Pendulumku langsung bereaksi mendengar kabar tersebut. Sambil mengisi waktu, kita banyak bersenda gurau dalam perjalanan hingga akhirnya tiba tepat makan siang di hotel. Setelah kita makan dgn lahap, kita diberikan kunci kamar oleh panitia dan langsung check-in ke dalam kamar masing masing.

Sore harinya kita memanfaatkan kolam renang yg ada di hotel untuk bermain main. Dapat gue lihat Santi yg sudah memakai pakaian renang yg seksi. Uh, bukan main indahnya, gue betul betul terangsang melihat keadaan Santi seperti itu. Otak kotorku mulai bekerja supaya bagaimana dapat tidur dengannya malam ini. Dalam kumpulan laki laki ada Pak Kardi yg nyeletuk kepada teman laki laki berkata, "Waduh si Santi kalo abis berenang gue mau tuh mandiin dia." Sambil matanya juga tak lepas dari gerakan pantat Santi yg berlenggang lengok kekiri kekanan mengikuti irama langkahnya.

Ketika Santi sudah selesai bermain dikolam renang dan akan kembali ke kamarnya, akupun mengikutinya seakan akan akupun sudah selesai dan ingin mandi. Sambil berjalan dibelakangnya, gue melihat celana dalam mini berenda yg dipakai Santi tercetak jelas oleh baju renang tipis yg berwarna ungu.
"Waduh, kok cepet selesainya Santi," celetukku sambil berjalan disampingnya.
Santi menjawab, "Habis gue nggak tahan airnya terlalu dingin."
Sambil dia menyilangkan tangannya dikedua belah dadanya yg padat montok tersebut.
"lalu kamu ngapain juga selesai," tanya dia lanjut.
"Akh, gue udah bosen mendingan mandi air hangat terus nunggu makan malam, khan enak tuh".
Lalu pembicaraan kita terpisah ketika Santi harus mengambil arah kekiri dan gue kekanan sambil berucap, "Sampai nanti ,. dagg".

Waktu menunjukan pukul delapan, setelah perut gue isi dan kenyang sekali rasanya. Makan malam dihotel ini terasa nikmat sekali. gue melihat sudah beberapa kali Santi menguap dan kemudian pamit dari kerumunan anak anak untuk pamit ke kamar. Dalam perjalanan ke kamarnya, dia ada melihat gue dan kemudian mengerdipkan mata seperti memberi tanda ke gue. dgn sedikit tegang gue berpura pura seolah gue pun capek setelah bermain seharian dgn teman kantor dan ingin tidur.

Pada sore hari gue sudah memberitahu ke Hendra (teman sekamar gue) bahwa mungkin gue akan begadang keluar hotel, jadi nanti dia tidak kawatir atau curiga kepada gue. Dalam perjalanan dari restoran ke cottage agak jauh.
Santi berjalan kecil sendiri dan gue dgn cepat mengejarnya, dan menyapanya,
"Santi, udah ngantuk ya sayang, mau tidur.."
Santi menyahut, "Iya nih, nggak tahu kenapa nich badan semua jadi pegel semua, mungkin tadi renangnya kebanyakan kali." Sambil berkata begitu, dia mengusap usap belakang lehernya sambil kepala digelengkan kekiri lalu kekanan.
"Makanya kamu juga sih terlalu over berenangnya, kamu kebanyakan diliat ama temen temen cowok lagi pas kamu berenang," sahutku.
"Hm, gue tahu, justru karena mereka gue jadi lebih semangat," kata Santi sambil masih tetap mengusap leher belakangnya.
"Kamu mau gue pijit pijit kecil Santi," kataku sedikit berani.
"Hhh, boleh juga, tapi cuman di leher sama sekitar pundak yah," sahutnya sedikit lemah.
Tak lama kita sudah tiba didepan pintu kamar Santi. Setelah dia membuka pintu kita berdua langsung masuk, gue sempat melihat pada sudut mata Santi ketika dia tutup pintu, matanya seperti melihat kiri kanan takut takut kalau ada orang disekitar yg melihat kita.

Dalam kamar Santi mempersilahkan gue duduk sambil dia permisi sebentar ke toilet. Sambil menunggu Santi gue menonton TV yg ada dikamar. Tidak begitu lama, Santi sudah keluar dan telah berganti baju tidur daster. Daster yg dipakai berwarna kuning dgn ukuran yg dapat gue katakan mini. Kenapa demikian? Daster tersebut hanya sebatas setengah pahanya saja dan berenda kuning juga, kemudian di pundaknya hanya mengenakan satu tali saja. Buah dada yg ranum menantang sekali dgn dua puting yg mencuat. Gila bukan main, dia sudah tidak memakai BH, tapi masih memakai celana dalam.

Celana dalam itu jelas tercetak menerawang tembus pandang dari daster kuning tersebut. Celana dalam Santi juga dalam ukuran yg sexy, mini CD warna putih, kontras dgn daster yg dipakai. Sebelum gue memberi komentar, Santi sudah berbicara,
"Ardi, kamu jangan salah sangka dulu, gue pakai ini supaya kamu mudah pijat leher dan pundak gue, lagi pula gue juga tidak bawa baju tidur lain selain yg ini, mudah-mudahan kamu tidak keberatan."
"Oh, tentu tidak dong Santi, suka suka kamu aja, yg penting bajunya jangan menggangu pijat memijat," kataku sambil menelan ludah beberapa kali.
Santi tersenyum lagi dan berkata, "Kamu pijet gue pake kaos lengan panjang apa tidak mengganggu, apa lagi nanti kamu naik ke ranjang kalau perlu, keliatannya celana panjang kamu juga ganggu, apa nggak lebih baik ganti yg pendek atau dilepas sekalian?"
gue bengong atas ucapannya, lalu gue katakan, "Betul juga Santi, gue buka kaos aja deh," sambil gue mengangkat koas gue sehingga gue sudah bertelanjang dada, dan kemudian Santi melihat ke celana panjang gue sambil mulutnya sedikit dimonyongkan. gue pun membuka celana panjang gue, dan hanya tertinggal celana boxer gue. Santi tersenyum puas setelah melihat gue akan mudah nanti memijitnya. Dia langsung naik ke ranjang dan berbaring terlungkup, sambil memanggil nama gue, "Di, ayo dong mulai, badan Santi makin pegel nih". Mendengar rengekan Santi gue langsung naik ke ranjang dan memulai aktivitas dgn memijit Santi.

Sungguh sempurna tubuh Santi dari belakang. Mimpi apa gue semalam sehingga Santi begitu pasrah memberikan sajian gratis seindah ini. Kulit yg mulus dgn pinggang ramping, pinggul yg besar dgn buah pantat yg membulat mumbul tinggi. Dapat kulihat dgn jelas belahan pantat Santi yg dibalut dgn CD mininya. Sebentar saja tangan gue sudah memijat bagian leher yg tegang, dan seeskali kebawah meijat pundaknya. Santi terkadang bersuara mendesah ketika tangan gue sedikit keras memijitnya,
"Uh, oh, hmm," desahnya putus putus, membuat gue makain panas saja.
Adik kecil dibalik celana boxerku sudah mengacung keras siap tempur, entah apa yg sedang dipikir Santi sekarang.

Kemudian setelah kurang lebih 4 menit, Santi minta dipijit agak kebawah. dgn yakin tangan gue kedua duanya merayap ke bawah, dari arah ketiak terus turun kebawah. Sambil sekali kali jari jemari gue dgn nakalnya menyentuh dari samping kedua bukit ranum yg mengembung keluar kesamping karena tertindih tubuhnya. gue terus terang sudah tidak ada pikiran positif, otak ngeres gue terus bermain main fantasi, hingga suatu ketika,
"Di, pijatan kamu enak deh sekarang Santi minta dipijat bagian depan ya sayang," sahut Santi sambil membalikan tubuhnya kedepan.

Waduh mak bukan main saat itu gue betul betul tidak tahan gue langsung meraba kedua belah susunya yg tegak menjulang, hal yg membuat Santi langsung kaget.
"Sandi,.! gue minta tolong kamu untuk pijat gue kenapa kamu memanfaatkan itu dgn meraba tubuh gue," hardiknya.
Langsung gue kaget, gue kira dia minta lanjut dalam permainan tersebut ternyata dia memang betul betul minta dipijit. Langsung gue minta maaf kepadanya,
"Waduh maaf deh Santi, gue kelepasan, maklum deh tubuh kamu ranum sekali, sexy apalagi dgn itu (sambil menunjuk kedua buah dada Santi) yg mancung bikin gue jadi geregetan mau iseng."
"Maaf ya sekali lagi Maaf," kataku dgn penyesalan.

Santi yg melihat gue begitu agak melunak tapi kemudian dia menangis sambil berkata, "uhh, hh, hg hg hg,. emang setiap laki laki yg mau sama Santi cuman mau tubuh Santi aja, ini juga terjadi dgn cowok Santi yg dulu, maunya making love terus sama Santi, nggak ada perasaan sama sekali."
gue terhenyak, ternyata wanita didepan gue ini memang sudah pernah melakukan hubungan suami istri sebelum menikah, dan pendulumku kembali kontak. dgn gaya yg gentle gue memeluk dia dari belakang dalam posisi duduk, tangan gue berada di perutnya sambil berkata,
"Santi, gue tuh memang udah salah, kamu Maafin ya, gue janji pokoknya malem ini kita cuman sayang sayangan aja deh nggak sampe kelewatan," kataku menenangkannya.

Dia menengok ke belakang hingga wajahnya dekat sekali denganku dan berucap,
"Bener ya janji, kamu cuman kelonin gue aja nggak sampe kebablasan?".
gue mengiyakan dgn anggukan kepala sambil mencium kecil pipi kanannya.
Dia tersenyum, kemudian membalas mencium kecil bibirku. gue pun serta merta tangan kanan mulai naik dari perut meraba buah dada yg menggantung tersebut. Santi menutup mata merasakan kenikmatan tersebut, kemudian dgn itu juga gue mencium bibirnya yg sensual, sambil sesekali kuhisap bibir bawahnya dan lidahku menjelajah ke rongga giginya dan menghisap lidahnya.

Santi benar benar menikmatinya, maka setelah melihat lampu hijau seperti itu, kedua tanganku sudah berada pada dua buah dada ranumnya. Oh alangkah nikmatnya tanganku bermain disana, meremas remas sambil kupelintir kedua puting susunya dgn ibu jari dan telunjukku. Santi terkadang bergetar tubuhnya ketika kombinasi yg kulakukan yaitu meremas sambil memuntir puting susunya. "Ah, Ardi kamu pinter bikin gue terangsang ya, ingat lho kita nggak boleh lebih jauh dari ini," kata Santi mengingatkanku.
"Iya dong sayang gue pasti inget, khan ada kamu juga yg ngingetin!"

Sambil berkata begitu gue membaringkan tubuhnya diranjang dan gue dari belakang langsung ke depan menindihnya sambih terus melanjutkan meremas dan mencium bibir sensual nan menggairahkan tersebut. Santi masih terus mengingatkan, tapi bahasa tubuhnya lain. Alat kelamin kita sudah bersentuhan, dimana batang kemaluanku yg sudah keras menggesek bibir luar kemaluannya dan gerakan kita seperti orang yg sedang bersenggama. gue mendorong kebawah, Santi mendorong pula pantatnya yg tembem keatas, gue tarik pinggang gue, dia pun demikian.

Ketika mulut gue sudah mulai menjalar kedadanya dia mulai protes.
"Sandi, kamu nggak boleh kesana sayang, ohh, hh!" desah Santi tapi tangannya sama sekali tidak menutupi dadanya.
gue menjawab dgn lembut, "Santi sayang, kalau peting cium atau jilatin nenen aja boleh dong, khan nggak kenapa napa?" gue mencoba tawar menawar dengannya.
"Ohh, kamu katanya kelonin gue, kok sekarang kita peting sih? " rajuknya dgn muka bersemu merah menahan birahi yg terpancar keluar dari tubuhnya. Tanpa menunggu alasan lagi dari si cantik itu langsung mulutku menjilat puting susu yg memerah muda, karena birahi sambil gue menyedot putingnya bagaikan anak kecil yg sedang netek keibunya. Santi menggigit bibir sendiri menahan luapan emosinya yg meletup letup kian besar. Oh nikmatnya tiada tara menjilati dan menyedot susu seorang Santi.

Kaki Santi sudah menyepak kesana kemari membuat daster yg dikenakan tidak bisa menutupi bagian bawahnya. Terus terang sambil menjilat, gue memperhatikan gundukan yg tembem di bawah pusar yg bagai kue apem mumbul dgn sedikit bulu bulu kemaluannya yg menyembul keluar menambah indahnya pemandangan tersebut. Pinggulnya bergerak tak menentu membuat indahnya pemilik gundukan tersebut.
"Hhh, Sandi.. hh enak sayang", erang Santi.
Mendapat respon seperti tangan gue secara reflek mulai turun menjelajah dari buah dadanya ke bawah perut, mengusap daerah pusar yg rata nan halus, kemudian turun lagi dibawah pusar yg ditumbuhi bulu bulu halus, kemudian meraba daerah selangkangan Santi yg wow bukan main empuknya.

gue tekan sekali sekali sambil kuremas secara acak. Hal ini menyebabkan gerakan pinggul Santi yg makin panas. Suasana alam puncak pada malam hari yg dingin, tidak dapat membuat tubuh kita berdua kedinginan malah justru sebaliknya. gue dapat melihat butiran butiran keringat birahi yg menetes dari dahi Santi yg sedang membasahi rambut panjang dan indah itu.
Oh.. gue benar benar makin terbawa emosi birahi yg menggebu. Santi antara sadar dan tidak masih mengingatkan gue,
" Di, kamu nggak boleh buka CD gue yah.. kita khan udah janji cuman peting aja," katanya sambil menahan sesuatu dalam tubuh yg bergelora.
"Oke Santi, gue buka daster kamu aja yah, liat tuh udah nggak karuan bentuknya sayang," sahutku mencoba menawar.
Dan berhasil. Santi sendiri yg meloloskan dasternya, dia angkat dari bawah dan dinaikkan lewat lehernya. Berarti keadaan kita sekarang hanya masing masing tinggal celana dalam saja. kita langsung berpelukan sambil berciuman panjang, oh nikmatnya dapat memeluk Santi dalam keadaan begini. Kulit kita langsung bersinggungan tanpa ada pemisah lagi. Setelah pelukan plus ciuman gue rasa cukup, tanganku mulai bermain ke arah selangkangan Santi dgn mengusap lembut naik turun melewati belahan vaginanya. Dari luar celananya gue bisa merasakan bahwa didalam sudah lembab sekali, tentu banyak cairan yg sudah keluar dari lubang vaginanya. Vagina Santi benar benar tembem gue rasa kalau gue benamkan milikku ke dalamnya pasti nikmat sekali.

Karena Santi menggunakan CD mini yg memang kurang bahan untuk menutupi kemaluannya, jari gue dgn mudahnya dapat melesat masuk melalui samping selangkangan dan bermain di sana, sebentar kemudian keluar lagi tanpa sempat Santi protes pada gue untuk tidak boleh melakukannya. Sesekali jari gue bermain pada bibir vaginanya agak lama setelah dia membuka suara,
"Di, jangan nanti gue keterusan.. ohh," sambil meliukan pinggangnya bergoyang goyang.

gue tetap tenang mengelus bahkan saat tangannya ingin mengeluarkan tanganku dari dalam CDnya seluruh jariku masuk dan meremas vagina Santi dgn lembut. Hal ini membuat Santi melenguh keras, dan lupa untuk melarang gue. Sambil tangan-tangan meremas vagina Santi, tangan kiri masih terus aktif memerah susu ranum baik yg kiri maupun yg kanan sambil dibantu oleh mulutku untuk mengisap bibir dan salah satu puting susu yg nganggur.

Jari tengahku mulai memainkan aksinya dgn mengilik klitoris Santi. Benar saja, klitoris itu sudah membesar dan basah. Santi menggeliat tak tentu arah sambil mendesah,
"Oh.. Sandi enak sekali sayang, nghh.. kamu udah nggak boleh lebih dari itu ya.."
Ternyata alam sadar Santi masih ada, dia masih ingat bahwa kita hanya boleh peting. gue berkata sambil berbisik ditelinganya.
"Santi sayang.. CDnya dibuka ya biar kamu nggak kegencet, liat tuh CD kamu kekecilan nggak bisa nampung pantat kamu yg bulat besar sama vagina kamu yg tembem, lagian kamu juga udah basah, khan sayang ntar CDnya jadi lengket."
Awalnya dia tidak mau, tapi gue katakan lagi.
"Santi.. nggak kenapa napa deh sayang.. khan gue masih pake boxerku, jadi cuman kamu aja yg telanjang, kalau gue tidak."

Akhirnya Santi setuju, gue loloskan CD mini putih berenda itu, dan kali ini gue benar benar melihat Santi dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun, dgn keadaan birahi tinggi. Bukan main indahnya bentuk vagina Santi, dia mempunyai bulu vagina yg lebat denga bulu-bulu halus semua warna hitam. Bulu-bulu tersebut nampak rapih, karena dalam keadaan lurus tidak keriting seperti wanita kebanyakan. Mulutku mulai menjalankan aksinya, gue mulai menyusuri ke arah pusarnya terus turun dan berhenti tepat dibawah vaginanya.

Santi sedikit jengah dan berkata, "Oh, kamu jangan liat punya kayak gitu dong.. gue kan malu" sambil tangannya mencoba menutupi.
Tapi dgn cepat tanganku menahannya dan langsung bibirku mencium bibir luar vaginanya sambil kuhisap-hisap kedua belah bibir vagina Santi.
Dia benar benar kelojotan," Ah Sandi, gila kamu, oh.. enak banget, hmm.. oh iya bener gitu sayang.. ohh.."
gue makin berani kusapukan lidahku naik turun sambil tak lupa klitoris yg sebesar kacang tanah itu gue emut emut dan didalam bibirku gue kedut kedutkan. Lidahku mulai merangsek masuk ke dalam lubang vagina Santi yg memang benar benar sudah basah. Wangi semerbak yg tercipta karena napsu biharinya membuat gue makin berlipat ganda untuk keinginan menyetubuhinya. Dalam keadaan yg gamang tersebut kepala Santi tersentak kekiri dan kekanan menahan luapan cinta yg tak kunjung reda, gue diam-diam melepas celana boxerku sambil bibir tak lepas dari vaginanya.

Cukup mudah untuk melepas celan boxerku karena memang celana dalam dgn kondisi longgar. Satu kali tarik dgn tangan kiri, lolos sudah dan gue sudah telanjang bulat bersama Santi, tanpa dia sadari. gue bisa melihat dan merasakan Santi hampir sampai titik orgasme, dan gue mulai dgn menuntun batang kemaluanku yg sudah siap tempur dgn topi baja yg mengkilap. Kedua belah kaki Santi gue lebarkan sambil tangan kiriku mempermainkan klitorisnya dgn ibu jari dan tangan kananku mengarahkan batang kemaluanku ke lubang vagina Santi.

Santi masih antara sadar dan tidak ketika kepala penisku bertemu dgn lubang depan yg merah menganga. Kepala penis langsung seperti kena hisap alat yg kuat oleh lubang vagina Santi. Santi mulai merasa aneh karena dia merasakan lain, bukan jari tanganku dan bukan bibirku yg bermain di kemaluannya. dgn sedikit membuka mata dia melihatku. gue tidak mau dia nanti memberontak menolak keadaan ini, langsung gue peluk dia sambil sedikit gue goyangkan tanpa gue mendorong masuk ke dalamnya. Cukup kepala penis saja yg terjepit di dalam vagina Santi.

Santi melotot kearahku dan dia berbicara dgn suara serak,
"Sandi.. kok kamu masukin, khan kita udah janji sayang cuman peting, nggak boleh begini dong." tapi dalam bahasa tubuhnya pinggul dia tetap mengimbangi gerakanku yg naik turun menggesek vaginanya.
"Santi.. gue cuman masukin kepalanya aja sayang, kamu juga ngerasainkan?"
Tambahku, "Itu juga udah cukup buat kita, lagi nggak usah dimasukin semua.. kamu enak khan diginiin?" sambil gue goyang kekiri dan kekanan. Kepala penisku benar benar dijepit erat oleh vagina Santi.

Santi merem melek keenakan, dan tangan Santi akhirnya memelukku dan mengimbangi gerakanku. Baru gue tahu kalau dalam keadaan begini Santi benar benar dapat berkata vulgar, karena tiba tiba dia berkata,
"Di, penis kamu enak banget sih hangat kena vagina Santi."
"Oh, Santi ini mah nggak seberapa sayang," kataku.
Setelah kurang lebih tiga menit kita seperti itu, gue merasakan pantat Santi menaik lebih tinggi, seakan akan ingin merasakan lebih batangku. Maka akupun mulai sedikit demi sedikit mendorong lebih dalam, ternyata makin panas gerakan kita berdua, dan walhasil seluruh batangku terbenam di dalam vagina Santi. Dan gue rasa Santi pun mengetahui hal itu, dan dia mulai meracau lagi,
"Oh Ardi.. enak banget penis kamu masuk semua ke dalem vaginaku sayang.. hh"
"Ohh, Di.. dorong lagi biar makin dalem sayang.."

Bukan main, gue makin nafsu saja mendengar erangan dan kata-kata vulgarnya. gue pun tidak mau kalah sambil memompa gue bertanya,
" Santi.. penis Sandi lagi ngapain vaginanya Santi sayang?"
"Hhh, skh.. hh penis kamu lagi ngentotin vagina gue sayang," sambil Santi meremas pantatku gemas.
gue pura pura tidak mendengar ingin dia mengulang lagi kata katanya,
"Ha.. lagi ngapain sayang?"
"Lagi dientot sayang..ohh nikmatnya.."
gue bertanya lagi, "Emang Santi mau dientot ama Sandi?"
Santi menyahut "Iya sayang Santi ketagihan nih mengentot sama kamu, abis penis kamu mantap, nikmat, enak rasanya."

Sambil begitu gue benar-benar merasakan jepitan-jepitan halus dari dinding vagina Santi. Benar benar wanita yg tercipta sempurna untuk bersenggama. Lubang vaginanya mempunyai jepitan yg kuat dgn variasi batang kemaluanku di dalam seperti dirayapi oleh jutaan semut, jadi seperti terkena setrum kecil, tapi hangat dgn sebentar-bentar vagina tersebut mencucup kembang kempis menyedot seluruh batang kemaluanku.

Setelah lebih 20 menit kita bersenggama dgn ucapan ucapan vulgar, Santi sudah hampir mendekati klimaksnya.
"Ayo Sandi, gue udah mau keluar, entot terus gue iya teken biar kena klitorisku oh.. benar begitu sayang.. aduh, enak bener ngentot ama kamu."
Gila juga nih perempuan, kalo dalam keadaan birahi begini omongannya jadi vulgar seperi ini. Akupun merasakan intensitas kedutan vagina Santi makin tinggi, dan sepertinya akupun ingin melepaskan kenikmatan bersama Santi sayangku.
"Oh, Santi.. enak banget vagina kamu ada empot ayamnya sayang, rasanya legit, rapet, peret, oh, gue mau klimak sayang, gimana nih didalam atau diluar," kataku dalam keadaan yg kejang kejang nikmat.
Lalu dijawab oleh Santi, "Didalem aja Sandi biar enak, gue juga mau ngerasain disemprot ama penis kamu, dan mungkin besok lusa ada dapet haid, jadi aman," desah Santi yg juga menahan amukan dalam gelora birahi yg siap meledak beberapa saat lagi.

Akhirnya gue merasakan batang kemaluanku diremas kuat sekali oleh otot vaginanya, gerakan pinggul Santi terhenti, sambil pantatnya ditinggikan gue mengocok sedikit memberikan nuansa lain dalam vaginanya, lagi Santi menggeram dan..
"Oh sayang gue klimaks, ouh.. ahh. nggh ahh enak.. enak hh.."
gue pun tak tahan penisku diremas dan disedot oleh vagina Santi, dgn satu dan dua kali sentakan penisku menyemportkan sperma jauh langsung masuk kedalam rahim Santi, dan yg semportan kedua tak kalah nikmatnya. Gerakan kita seperti begitu kompak, ketika gue menyemprotkan sperma, vagina Santi menyedot kencang hingga kita berdua merasakan nikmat senggama yg sangat indah.

Puas gue selesai klimaks dan begitu juga Santi, ketika gue ingin melepas penisku, Santi mencegahnya.
"Biarin didalam dulu sampe ngecil dan keluar sendiri yah."
Akhirnya kita berbaring menyamping dgn keadaan kemaluan kita masing-masing masih menyatu, masih dapat gue rasakan kedutan dalam vagina Santi tapi sudah melemah, dan batangku mulai berangsur-angsur mengecil dan akhirnya lepas dgn sendirinya dari vagina Santi.

Waktu sudah menunjukan pukul 1 pagi, setelah kita selesai mandi berdua di dalam bathup, dan ketika gue mau kembali ke kamarku Santi menahannya, dan dia minta sekali lagi untuk bermain cinta. Akupun melayaninya. Katanya mumpung ada waktu. Ronde kedua kita lakukan lebih hot lagi karena yg kedua dilakukan tanpa takut-takut seperti yg pertama, dan kita akhiri dgn klimaks bareng dgn sempurna.

Ngentot Vagina Cewek Single Masih Anget, cerita seks, cerita dewasa bacaan porno, bokep terbaru cerita sex
Ngentot Vagina Cewek Single Masih Anget

Sepulangnya dari puncak, hubunganku dgn Santi makin hangat, tapi kita selalu menutupi di kantor dgn berpura pura bahwa antara kita tidak ada hubungan apa-apa hanya sebatas teman kerja. Padahal kalau ada waktu di kantorpun kita peting. gue berkerja di bagian komputer, Santi bagian Settlement. Kalau salah satu dari kita ingin dipeluk, maka kita memberikan kode untuk menuju ruang komputer yg tidak ada orang, kemudian kita ketempat yg paling pojok supaya aman dan berpelukan. Biasanya kita berpelukan sambil mengusap usap apa yg perlu diusap, biasanya gue meremas gemas pantatnya, dan meremas lembut buah dadanya, sambil dibarengi dgn ciuman bibir dgn sedikit panas. Setelah kita puas, Santi biasanya keluar lebih dulu dari ruang komputer, dan tidak lama kemudian baru gue.

Rasa ingin bersenggama dgn Santi demikian besar, begitu juga Santi yg ingin sekali bercinta dgn gue. Akhirnya gue mencari kost-kostan yg dekat dgn kantor yg fungsinya kalau istirahat makan siang kita dapat mencuri waktu berdua kekostan gue dan kita berdua saling melepas hasrat terpendam dan setelah selesai kita dapat dgn cepat kembali ke kantor, dan untuk makan siang kita membiasakan ngemil di kantor, jadi tidak begitu lapar.

Demikianlah cerita gue, yg sekarang Santi sudah meninggalkan gue karena dia mendapat pekerjaan baru dan sudah menikah dgn pilihannya yg tepat. gue masih ngekost tapi sudah tidak ada Santi yg menemani.

Ngentot Vagina Cewek Single Masih Anget, cerita seks , cerita dewasa bacaan porno, bokep terbaru cerita sex, Ngentot Vagina Cewek Single Masih Anget, cerita seks, cerita dewasa bacaan porno, bokep terbaru cerita sex
Ngentot Vagina Cewek Single Masih Anget
Ngentot Vagina Cewek Single Masih Anget, cerita sex , Ngentot Vagina Cewek Single Masih Anget, cerita seks, cerita dewasa bacaan porno, bokep terbaru cerita sex, bacaan porno, kisah seks, cerita bokep cerita dewasa, Ngentot Vagina Cewek Single Masih Anget


Aktifkan javascript tekan (F5), untuk membuka halaman
klik link cerita
serta membuka gambar lebih besar.
Cerita seks dewasa update setiap hari.
http://foto-video-cerita-dewasa.blogspot.com/