Ngga ah, nanti suamiku cemburu

“Ngga ah, nanti suamiku cemburu” kataku sambil menunjukkan cincin kimpoiku yang berkilat karena memang masih baru itu. Begitulah jawaban dan gaya yang kuberikan pada customer atau rekan kerja yang mencoba-coba dengan dialog-dialog menjurus, atau bahkan yang terang-terangan, dengan harapan dapat mengajakku ngentot.

Memang wajar saja jika banyak yang tergoda melakukan itu. Walau di kantor yang cukup bonafit di kota S* ini, saya selalu menjaga sikapku, namun tak dapat dihindari bahwa saya memang dikaruniai wajah yang cantik dengan tinggi 165 cm, berat 52 kg, kaki yang jenjang dan sepasang buah dada montok. Usiaku baru 24 tahun Vivian namaku.

Gelombang ajakan dan godaan menerpaku, namun masih mampu kutepis karena pada dasarnya saya memang mencintai suamiku. Hampir setahun menikah tanpa dikaruniai anak, pertahananku jebol saat muncul rekan kerja dari perusahaan mitra yang bernama Sutris. Walau beda perusahaan, tugas Sutris menuntutnya untuk sering datang ke kantorku dan kebetulan hubungan kerjanya sangat terkait erat denganku. Akibatnya kita sering menghabiskan waktu bersama. Dimulai dari pekerjaan di kantorku, lalu meeting di cafĂ© beramai-ramai, yang akhirnya sering kita lanjutkan berduaan setelah mitra kerja yang lain pulang, atau berjalan-jalan bersama di mal untuk mencari kebutuhan kantor. Lama kelamaan kudapatkan banyak kecocokan di antara Sutris dan saya yang tak kudapatkan dalam diri suamiku. Apalagi bidang kerja kita selaras sehingga komunikasi kita terasa lebih “nyambung”.

Suatu siang setelah mencari beberapa buku acuan untuk keperluan pekerjaan, kita melewati lokasi arcade di mal besar itu dan saya melihat permainan dance machine yang sangat kusukai, namun biasanya kumainkan sendiri karena suamiku tak menyukainya. Spontan kuajak Sutris untuk menemaniku bermain dan ternyata Dia menyambutnya dengan bersemangat karena Dia juga menyukainya. Bertambah lagi satu kecocokan di antara kita. kita pun bermain beberapa game hingga di tengah game terakhir, mungkin karena terlalu bersemangat mendapatkan teman bermain, saya terpeleset sampai kakiku terkilir. Tak ada lagi yang bisa kita lakukan selain pergi ke dokter. Sepulang dari dokter, masih dengan jalan tertatih-tatih, Sutris mengusulkan untuk mengantarku pulang saja, dan tak kembali ke kantor agar saya bisa beristirahat. saya setuju saja walaupun saat itu kakiku sudah tak terlalu sakit lagi, namun masih terasa sangat mengganjal.

Setiba di rumah, kuajak Sutris untuk mampir dan Dia menerimanya dengan senang hati. Sutris memapahku sampai ke kamar, lalu membantuku duduk di ranjang. Dengan manja kuminta Dia mengambilkan saya minuman di dapur, karena memang sebelum mendapatkan anak, saya dan suamiku telah sepakat untuk tidak memelihara pembantu, jadi saat itu rumahku kosong. Sutris mengambilkan minuman dan kembali ke kamar mendapatkan saya telah melepas blazer dan sedang memijat betisku. Dia agak tersentak melihatku, karena selain tinggal memakai blous “you can see” longgar yang membuat ketiak dan buah dadaku yang putih mulus itu mengintip nakal, posisi kakiku juga menarik rokku hingga pahaku yang juga putih mulus itu terbuka untuk menggoda matanya. Tampak sekali Dia menahan diri dan mengalihkan pandangan saat memberikan minuman kepadaku. Memang “gentleman” pria ini.

“Ris, pijetin kakiku dong, biar darahnya lebih lancar. Ini balutannya kenceng banget sih, sampe sakit. Pijetanku nggak ada tenaganya nih!” ujarku tulus. Sungguh mati, pada saat itu, sikap tubuhku dan kata-kataku sama sekali tidak bertujuan menggodanya. Memang itulah yang kuinginkan, hanya pijatan untuk melancarkan darahku yang terasa terbebat, tak lebih. Sutris duduk di pinggir ranjang dan mulai memijat betisku dari bawah lutut sampai hampir mencapai pergelangan kakiku yang dibalut perban.
“Kayaknya emang harus ketat, Vivian. Dokter bilang, supaya bengkaknya lebih cepet kempes,” tukas Sutris sambil terus memijatku.
“Mmm, iya kali,” jawabku sekenanya sementara mataku terpejam menikmati pijatannya yang memang membuat kakiku lebih nyaman. Tak lama Sutris memijat sampai kurasakan kenyamanan dalam tubuhku berangsur beralih menjadi perasaan berdesir yang aneh setiap kali tangan kekarnya menyentuh kakiku. Kubuka mata dan kutatap wajah Sutris yang tampak serius memijat kakiku. Sama sekali tidak tampan, bahkan cenderung keras, wajah Sutris sangat bertolak belakang dengan sikapnya yang demikian lembut memperlakukanku selama ini.

Tenaga dan penampilan keras serta sikap lembut, kombinasi yang tak kudapatkan dari suamiku, ditambah berbagai macam kecocokan di antara kita. Mungkin inilah yang mendorongku untuk menggeser posisiku mendekatinya, lalu mencium bibirnya. Sutris terkejut, namun tak berusaha menghindar. Dibiarkannya saya mencium bibirnya beberapa saat sebelum akhirnya Dia merespon dengan hisapan lembut pada bibir bawahku yang basah. kita saling menghisap bibir beberapa saat sampai akhirnya Sutris yang lebih dulu melepas ciuman hangat kita.
“Vivian..” katanya ragu. kita saling menatap beberapa saat. Komunikasi tanpa kata-kata akhirnya memberi jawaban dan keputusan yang sama dalam hati kita, lalu hampir berbarengan, wajah kita sama-sama maju dan kembali saling berciuman dengan mesra dan hangat, saling menghisap bibir, lalu lama kelamaan, entah siapa yang memulai, saya dan Sutris saling menghisap lidah dan ciuman pun semakin bertambah panas dan bergairah.

Ciuman dan hisapan berlanjut terus, sementara tangan Sutris mulai beralih dari betisku, merayap ke pahaku dan membelainya dengan lembut. Darahku semakin berdesir. Mataku terpejam. Entah bagaimana pria yang tampaknya sekasar dia bisa menyentuh selembut ini, saya tak peduli dan menikmati saja kelembutan yang memancing gairah ini. Kembali Sutris yang melepas bibirnya dari bibirku. Namun kali ini, dengan lembut namun tegas, Dia mendorong tubuhku sambil satu tangannya masih terus membelai pahaku, membuat kedua tanganku yang menahanku pada posisi duduk tak kuasa melawan dan saya pun terbaring pasrah menikmati belaiannya, sementara Dia sendiri membaringkan tubuhnya miring di sisiku. Sutris mengambil inisiatif mencium bibirku kembali, yang serta merta kubalas dengan hisapan bernapsu pada lidahnya. Mungkin saat itu gairahku semakin menggelegak akibat tangannya yang mulai beralih dari pahaku ke selangkanganku, meremas-remas memek saya yang masih terbalut celana dalam itu dengan lembut namun perkasa.

“Mmhhh… Harrissshhh..” desahku di sela-sela ciuman panas kita. saya agak tidak rela saat tangan kekarnya meninggalkan selangkanganku, namun Dia mulai menarik blousku hingga terlepas dari jepitan rokku, lalu Dia loloskan dari kepalaku. Buah dada montok yang mengintip menggoda dari BH-saya tak disentuhnya, membuatku semakin penasaran. Dia kembali mencium bibirku, namun kali ini lidahnya mulai berpindah-pindah ke telinga dan leherku, untuk kembali lagi ke bibir dan lidahku. Permainannya yang lembut dan tak tergesa-gesa ini membuatku sangat penasaran dan terpancing menjadi semakin bergairah, sampai akhirnya Dia mulai memainkan tangannya meraba-raba dadaku dan sesekali menyelipkan jarinya ke balik BH menggesek-gesek putingku yang saat itu sudah tegak mengacung. saya sendiri tidak tinggal diam dan mulai melepas kancing bajunya, dan setelah bajunya kulepaskan untuk menyingkap dada bidang dan kekar di depan mataku, Dia pun memutuskan untuk mengalihkan godaan lidahnya ke buah dadaku.

Dihisap dan dijilatnya buah dadaku sementara tangannya merogoh ke balik punggungku untuk melepas kait BH-saya. Dia melempar BH-saya ke lantai sambil tidak buang waktu lagi mulai menjilati putingku yang memang sudah menginginkan ini dari tadi. “Ooohhh…” desahku langsung terlontar tak tertahankan begitu lidahnya yang basah dan kasar menggesek putingku yang terasa sangat peka. Terus Sutris menjilati dan menghisap dada dan putingku di sela-sela desah dan rintihku yang sangat menikmati gelombang rangsangan demi rangsangan yang semakin lama semakin menggelora ini, sementara tangannya mulai melepas celananya, sehingga kini Dia benar-benar telanjang bulat.

Sutris melepas putingku lalu bangkit berlutut mengangkangi betisku. kontol nya yang besar dan berotot mengacung dengan bangga. Dia melepas rokku dan membungkukkan badannya menjilati pahaku. Kembali lidahnya yang basah dan kasar menghantarkan setruman birahi hebat yang merebak ke seluruh tubuhku pada setiap sentuhannya di pahaku. Apalagi bila lidahnya menggoda selangkanganku dengan jilatannya yang sesekali melibas pinggiran memek saya, semili lagi untuk menyentuh bibir memek saya. Yang bisa kulakukan hanya mendesah dan merintih pasrah melawan gejolak birahi penasaranku yang menginginkan lebih.

Akhirnya, dengan menyibakkan celana dalamku, Sutris mengalihkan jilatannya ke bibir memek saya yang telah begitu basah penuh lendir birahi. “Gggaaahhh.. Harrrissshh.. ohhh..” rintihanku langsung menyertai ledakan kenikmatan yang kurasakan saat lidah Sutris melalap memek saya dari bawah sampai ke atas, menyentuh klitorisku.

“Ohhh.. ohhh.. ngh.. ngh.. ngh.. ohhh..” saya memajumundurkan pantatku seirama dengan jilatannya pada memek saya, sementara tanganku mengacak-acak dan menjambak-jambak rambutnya. Lendir gairah mengalir dari memek saya, diterima oleh lidah dan mulut Sutris yang tak henti menjilat dan menghisap memek saya. Kenikmatan merebak perlahan, berpangkal dari memek saya ke seluruh tubuhku, membuat pandanganku gelap dan kepalaku terasa melayang. saya tahu saya hampir mencapai klimaks, padahal masih menginginkan lebih. Mungkin mengetahui itu juga, Sutris melepas lidahnya dari memek saya, dan melepas celana dalamku yang sudah basah kuyup tak karuan. Kini kita sama-sama telanjang bulat. Tubuh kekar Sutris berlutut di depanku. memek saya panas, basah dan berdenyut-denyut.

Sutris membuka kakiku hingga mengangkang semakin lebar, lalu menurunkan pantatnya dan menuntun kontol nya ke bibir memek saya. “Hngk!” kerongkonganku tercekat saat kepala kontol Sutris menembus memek saya. Walau telah basah berlendir, tak urung kontol Sutris yang demikian kekar berotot begitu seret memasuki liang memek saya yang belum pernah dilewati bayi ini, membuatku menggigit bibir menahan kenikmatan hebat bercampur sedikit rasa sakit. Tanpa terburu-buru, Sutris kembali menjilati dan menghisap putingku yang masih mengacung dengan lembut, kadang menggodaku dengan menggesekkan giginya pada putingku, tak sampai menggigitnya, lalu kembali menjilati dan menghisap putingku, membuatku tersihir oleh kenikmatan tiada tara, sementara setengah kontol nya bergerak perlahan dan lembut dalam memek saya. Dia menggerak-gerakkan pantatnya maju mundur dengan perlahan, memancing gairahku semakin bergelora dan lendir birahi semakin banyak meleleh di memek saya, melicinkan jalan masuk kontol berotot ini ke dalam liang kenikmatanku. Lidahnya yang kasar dan basah berpindah-pindah dari satu puting ke puting yang lain, membuat kepalaku terasa semakin melayang didera kenikmatan gairah.

cerita seks dewasa, istri selingkuh, istri ngentot kontol lain, suami cemburu, cerita seks istri doyan kontol, istri gak puas dengan suami, istri tukang ngentot kontol siapa aja
Cerita seks Ngga ah, nanti suamiku cemburu

Akhirnya seluruh kontol Sutris tertelan oleh memek saya, memberiku kenikmatan hebat, seakan memek saya dipaksa meregang, mencengkeram otot besar dan keras ini. Melepas putingku, Sutris mulai memaju-mundurkan pantatnya perlahan, sementara saya pun mulai membalas dengan gerakan pantat yang maju-mundur dan kadang berputar menyelaraskan gerakan pantatnya, sementara napas kita semakin tersengal-sengal diselingi desah penuh kenikmatan.

“Hhhh.. hhh.. hhh.. Vivian.. ohhh ..nikmmattthh sahyangghh..”
“Ohhh.. Harrizzz.. hhh.. hhhh.. hhh.. hhhh.. mmm..”

Terus kita saling memberi kenikmatan, sementara lidah Sutris kembali menari di putingku yang memang gatal memohon jilatan lidah kasarnya. saya sendiri hanya bisa menikmati semua itu sambil meremas-remas rambutnya. Rasa kesemutan berdesir dan setruman nikmat yang sempat terhenti kembali merebak perlahan berpusat dari memek dan putingku, ke seluruh tubuhku hingga ujung jariku. Kenikmatan menggelegak ini merayap begitu perlahan sehingga terasa seakan berjam-jam, walau sebenarnya hanya sekitar 20 menit. kontol Sutris semakin cepat dan kasar menggenjot memek saya dan menggesek-gesek dinding memek saya yang mencengkeram erat. Hisapan dan jilatannya pada putingku pun semakin cepat dan bernapsu. saya begitu menikmatinya sampai akhirnya seluruh tubuhku terasa penuh setruman birahi yang intensitasnya perlahan terus bertambah seakan tanpa henti hingga akhirnya seluruh tubuhku terpaksa bergelinjang tanpa bisa kukendalikan saat kenikmatan gairah ini meledak dalam seluruh tubuhku.

“Ngghhh.. nghhh.. nghhhhhh.. Harrrizzzhhhh.. Akkkk!!” pekikanku meledak menyertai gelinjang liar tubuhku dan ledakan kenikmatan klimaks dalam tubuhku, membuat Sutris semakin mengendalikan gerakannya yang tadinya cepat dan kasar itu menjadi perlahan dan kembali lembut. Ledakan kenikmatan orgasmeku yang terasa seperti berpuluh-puluh menit itu menyemburkan lendir orgasme dalam memek saya, sementara Sutris dengan menggoda terus menggerakkan kontol nya secara sangat perlahan, di mana setiap mili kontol Sutris menggesek dinding memek saya, suatu kenikmatan orgasme meledak dalam tubuhku.

Beberapa detik kenikmatan yang terasa seperti puluhan menit itu akhirnya berakhir dengan tubuhku yang terkulai lemas dengan kontol Sutris masih di dalam memek saya yang berdenyut-denyut di luar kendaliku. Tanpa tergesa-gesa, Sutris mengecup bibir, pipi dan leherku dengan lembut dan mesra, sementara kedua lengan kekarnya memeluk tubuh lemasku dengan erat, membuatku benar-benar merasa aman, terlindung dan sangat disayangi. Dia sama sekali tidak menggerakkan kontol nya yang masih besar dan keras di dalam memek saya. Dia memberiku kesempatan untuk mengatur napasku yang terengah-engah.

Setelah saya kembali “sadar” dari ledakan kenikmatan klimaks yang memabukkan tadi, saya pun mulai membalas ciuman Sutris, memancing Sutris untuk kembali memainkan lidahnya pada lidahku dan menghisap bibir dan lidahku semakin liar. Gairah Sutris yang sempat tertahan tampak semakin terpancing dan Dia mulai kembali menggerak-gerakkan pantatnya perlahan-lahan, menggesekkan kontol nya pada dinding memek saya. Respon gerakan pantatku membuatnya semakin liar dan berani melayani gairahnya yang memang tampak sudah mendekati puncak. Genjotan kontol nya pada memek saya semakin cepat, kasar dan liar. Walau sudah tak menikmati rangsangan lagi, hanya menikmati kebersamaan, saya tak merasa disakiti oleh genjotan kontol Sutris yang semakin bernapsu, semakin cepat, semakin kasar, hingga akhirnya ledakan lendir kental panas muncrat bertubi-tubi di dalam memek saya.

“Hngk.. ngggghhh.. Vivian..” Sutris melenguh menyertai ejakulasi puncaknya yang kubuat semakin nikmat dengan menekan pantatku maju, menancapkan kontol nya sedalam-dalamnya di dalam memek saya, sambil kupeluk tubuhnya erat. Setelah mengejang beberapa detik, tubuh Sutris melemas dan ambruk menindih tubuhku. Berat memang, namun Sutris menyadari itu dan segera menggulingkan dirinya, rebah di sisiku. Dua tubuh telanjang bermandikan keringat terbaring berdampingan di ranjang, tersungging senyum penuh kepuasan pada bibir kita berdua. Sutris memeluk tubuhku dan mengecup pipiku, membuatku merasa semakin nyaman dan puas.

Sekembali Sutris ke kantor, saya termenung sendirian di ranjang. Suatu kenyataan yang tadi sama sekali tak terpikir olehku mulai merebak dalam kesadaranku. saya telah menikmati perbuatan nista dan telah mengkhianati suamiku. saya mulai merasa berdosa, sementara di lain pihak, saya sangat menikmatinya dan sangat ingin melakukannya lagi.

Hati dan akal sehat terpecah dan menyeretku ke dua arah yang berlawanan. Pergumulan batin terjadi membuatku limbung dalam hidup. Akhirnya kuputuskan untuk menjauhi Sutris dan kuminta dia untuk menjauhiku. Kulimpahkan tugasku pada seorang bawahanku, sehingga saya tak perlu terlalu sering bertemu dengan Sutris lagi. Setelah beberapa minggu dalam kondisi seperti ini, Sutris berhenti bertugas di kantorku. Entah itu keinginannya sendiri atau memang Dia dialihtugaskan, saya tidak tahu. Namun hingga kini, pergumulan batin dalam diriku masih terus berlangsung. saya masih merindukan dan menginginkan sentuhan tangan kekar Sutris, sementara di lain pihak saya tetap mencintai dan ingin setia pada suamiku yang begitu baik hati, namun tak bisa memberikan yang telah diberikan Sutris padaku.
Ngga ah, nanti suamiku cemburu
Ngga ah, nanti suamiku cemburu, cerita sex , cerita seks dewasa, istri selingkuh, istri ngentot kontol lain, suami cemburu, cerita seks istri doyan kontol, istri gak puas dengan suami, istri tukang ngentot kontol siapa aja, bacaan porno, kisah seks, cerita bokep cerita dewasa, Ngga ah, nanti suamiku cemburu


Aktifkan javascript tekan (F5), untuk membuka halaman
klik link cerita
serta membuka gambar lebih besar.
Cerita seks dewasa update setiap hari.
http://foto-video-cerita-dewasa.blogspot.com/