Nonok Cewek Jilbab Disumpel Peler Gede

Nonok Cewek Jilbab Disumpel Peler Gede - dgn punya pacar bukan berarti saya ngga “ngobyek” dgn yang lain. Terus terang saya punya beberapa affair dgn dokter wanita di sini atau anak kedokteran yang masih koass. Tentu yang saya pilih bukan sembarangan, harus lebih mudan dan cantik. Sebenernya sudah banyak yang mencoba menarik hatiku tapi sejauh ini saya belum mau serius dan jika bisa saya manfaatin selama jauh dgn pacarku. Sudah banyak yang saya banyak yang saya perdaya tapi…

ada satu orang yang membuatku sangat penasaran. Namanya Rara, umurnya sekitar 19 tahun, dia anak koas dari perguruan tinggi negeri dari kota yang sama.Kebetulan saya jadi residennya. Wajahnya cantik dan tatapannya teduh, dia juga berjilbab lebar berbeda dgn anak lainnya, walaupun affairan saya pun sebenernya ada juga yang berjilbab, tapi tidak seperti dia. Tinggi semampai sekitar 165 cm, dgn tubuh yang padat tidak kurus dan tidak gemuk, sesuai seleraku. Jilbabnya pun tidak mampu menutupi lekukan dadanya, saya taksir jika tidak 36B mungkin 36C. Tutur katanya yang lembut dan halus benar-benar membuatku mabuk.

Apalagi dia sangat menjaga pergaulan. Sesekali saya coba berusaha bicara dengannya tapi dia selalu menundukkan wajahnya setiap bicara denganku. Dia pun tidak menyambut tangaku ketika saya ajak untuk bersalaman. Kulit putihnya sangat halus ketika saya coba perhatika di pipi dan ujung tangannya, tahi lalat di atas bibir semakin menambah kesan manis darinya. “Rara…kita makan bareng yuk, saya yang traktir. ujarku berusaha membujuk untuk bisa pergi bareng. Terima kasih Dok…saya dgn teman-teman aja.

Ujarnya halus. Jangan panggil Dok…panggil aja kak. “baik Dok…eh…kak”. “tapi terima kasih tawarannyaaku bareng teman aja…”, “jika begitu sekalian ajak aja teman kamu” setengah berharap dia mau menerima. “terima kasih Dok..eh kak, nanti merepotkan, teman-temanku makannya banyak lho” sahut dia sambil tetap menundukkan kepalanya. Kadang gurauan ringan itu yang tidak pernah saya dapatkan dari pacarku atau teman affair- saya. saya tersenyum kecil mendengar alasannya yang sangat lucu…humoris juga dia, “baiklah…mungkin lain kali” kataku “oh ya, jika ada apa-apa masalah administrasi di sini atau masalah kerjaan jangan sungkan bicara aja ya, nanti saya bantu” saya masih berusaha mencari celah.

“Terima kasi pak ehh..kak…saya pamit” sambil berlaluAku perhatikan dari belakang, roknya yang juga lebar tidak bisa menutupi lekukan pantatnya yang bergoyang mengikuti langkah kakinya..perfect…saya menggeleng. Dia berbeda sekali dgn nita…anak koas 2 tahun lalu yang pernah saya perawani juga. Sama-sama berjilbab walau gak selebar dia. Nita pun awalnya agak jual mahal…walau saya tau dari cara memandangnya dia suka saya. dgn beberapa rayuan akhirnya saya bisa memerawani dia di sebuah hotel. Tidak dgn paksaan dan sangat mudah. Affair kita berlalu dgn selesainya masa koas dia, juga karena dia tahu saya punya affair juga dgn temannya. Dia berbeda sekali, sulit sekali menaklukannya. Setiap saya melihat dia selalu saya lihat setiap geriknya, senyumnya, tawanya, selalu terbayang. Saat saya sedang melamun tiba-tiba dari arah belakangku ada yang memeluk dan terus menarikku. “Ngelamun nih…” dgn suara yang diparaukan “Mhh…Rasya…kamu nih ganggu aja” sambil melepaskan pelukan dia. “kamu sekarang jarang ke ruangku lagi” rengeknya.Rasya ini sesama dokter di sini, umurnya sekitar 27 tahun dan sudah bersuami.

Sayangnya suaminya bekerja di lepas pantai sehingga jarang bertemu dan memberikan nafkah bathin padanya.Memang saya sering ke ruangnya dulu…sekedar bercumbu dgn bumbu oral yang bisa membuat dia melayang. Tapi kita tidak pernah sampai melakukan jauh karena dia pun tidak mau, ya akupun tidak memaksa. Tidak semua affairku selalu saya tiduri…yang penting ada penawaran rindu dan bisa memuaskanku walau tidak sampai melakukan senggama. “saya sibuk Rasy… banyak yang melahirkan juga jadi residen” ujarku sambil memegang pinggangnya.“tidak ada waktu untuk saya?…sebentar aja…” lalu dia memagut bibirku dan selanjutnya kita pun bercumbu.Satu persatu saya buka kancing blousenya saya temukan dua gunung kembar yang jarang dijamah pemiliknya. saya cumbu dan ciumi dgn lembut.

Tapi… sepintas saya ingat Rara lagi dan akupun menghentikan aktifitasku. “Kok berhenti…” Rasya pasti sedang mulai terangsang. “Maaf Rasy…saya ga konsen banyak pekerjaan…”. “Ya sudah…” ujarnya tersungut sambil mengancing kembali blousnya terus berlalu. Sore itu saya sedang membantu persalinan, sengaja saya panggil Rara untuk mendampingiku. Wajahnya senang sekali karena jarang mendapat kesempatan untuk mendampingi dokter saat persalinan seperti ini.Tidak mungkin kan semua masuk, ya saya beralasan yang lain tunggu giliran. DIa berusaha menjadi asistenku dgn baik, saat memberikan gunting saya sengaja pura- pura tidak tahu menyentuh tangannya…tapi langsung dia tarik. Gagal lagi upayaku…tapi saya sudah senang dgn melihat wajahnya dari dekat selama persalinan itu. Sekeluar dari ruang bersalin “Terima kasih ya kak… jarang ada kesempatan begitu…”. “Kamu mau saya bikin begitu…” sambilku melirik seorang ibu hamil yang kebetulan lewat. “yee…ga lah, makanya cepet cari istri sana…”sambil tersenyum dan berlalu. saya kaget…kok dia tau ya… Sore itu langit mendung dan gelap sekali.

Cerita Sex Nonok Cewek Jilbab Disumpel Peler Gede

Hujan mulai turun rintik-rintik, saya memacu FORTUNER saya ke luar ruang parkir. saya melihat Rara berlari keluar sambil menutupi kepalanya dgn tas agar tidak terkena hujan.“kesempatan”… tin..tin..a saya klakson dia. “Mau pulang? bareng aja yuk…kayaknya mau hujan besar nih” selalu aja saya cari kesempatan. “Terima kasih kak…saya naik angkot aja… sudah biasa kok” katanya. hujanpun makin deras.“bener lho…ga apa-apa kok saya antar kamu sampe kos”.“Terima kasih kak, ga enak jika dilihat orang bisa jadi fitnah”mhh…gilaa…ini semakin membuatku jatuh cinta sama dia, saya janji dalam hati, jika aja saya bisa dapatkan dia saya akan putuskan semua affairku, saya benar-benar jatuh cinta pada dia.

Tidak berapa lama hujan semakin deras, bahkan saya sulit melihat jalan saking derasnya hujan. Sampai saya tertidur jam 10 malam ini hujan masih juga belum berhenti. Keesokan harinya, saya harus membantu persalinan lagi dan saya mencari Rara.“Rara tidak masuk hari ini dok” sahut Rinda teman sekampusnya sambil membedong bayi di ruang bayi.“Dia sakit? saya mau minta tolong bantu persalinan lagi” kataku.“Tidak tau dok…saya tidak dapat kabarnya” sahutnya sambil melihatku dgn sopan.saya lihat Rinda manis juga, berjilbab lebar sama dgn Rara, walau tidak secantik Rara, Rinda bisa juga dikatakan high quality. Tingginya paling cuma 155 atau 160 cm, tapi tubuhnya proporsional. Dadanya tidak sampai terlihat betul lekukannya seperti Rara, kulitnya kuning bersih, kacamata yang dia kenakan semakin membuatntya lebih terlihat anggun. saya pandangi seluruh tubuhnya, berbeda juga dgn Rara, dia tidak sungkan untuk berbicara langsung dan melihatku, walaupun dia juga sama-sama menjaga pergaulan. “Ya sudah kamu aja ya…bantu saya persalinan…”dia tersenyum senang “Terima kasih dok…”Keesokan harinya saya masih belum menemukan Rara. akhirnya saya di bantu Rinda lagi “Kamu tau nomor telepon atau kos Rara Rin..” “Tidak dok…kita beda kos…kenapa gitu?” “mhh..atau dokter…hihihi…suka sama dia ya” sahutnya sambil tersenyum “tidak… cuma dia itu cekatan dan pintar…makanya saya suka sekali jika diasisteni dia…lagian juga dia ngga akan mau sama saya ini”.

“Iya dok…banyak yang sudah mau khitbah dia..tapi dia tidak mau…dia mau selesaikan dulu kuliahnya…dia itu baik dan cantik lagi” sambil mengikuti langkahku di ruang persalinan. “Kamu juga cantik…” saya mulai mengeluarkan racunku, jika ga dapet yang poin 9 ya minimal 7 atau 8 juga tidak apa- apa. Yang penting saya pengen sekali bisa memerawani wanita berjilbab lebar ini. Karena setauku mereka selalu menjaga diri dan pergaulannya. Tantangan tersendiri untuk saya.Rinda tidak menjawab, cuma tersenyum sambil menunduk. Hari keempat baru kulihat Rara datang, namun gak seperti biasanya. Biasanya Rara selalu ceria, kali ini tidak. Wajahnya murung dan tatapannya kosong. Kulihat teman-temannya berusaha bertanya dan berkumpul di sekitarnya. Entah apa yang mereka bicarakan terkadang Rara tersenyum walau getir. Saat istirahat saya coba dekati. “Kamu sakit Rara?” “Nggak kak” lemah sekali bicaranya “Kenapa kamu murung, ada masalah?” “ah nggak kok” Rara mencoba tersenyum walau saya lihat tidak bisa menutupi kemurungannya. “Ngga ada masalah cuma agak kurang sehat aja, maaf saya mau makan dulu kak” sambil berlalu meninggalkanku. “Ya sudah jika kamu ngga apa-apa, jika kamu butuh bantuan jangan ragu minta tolong ke saya ya” “iya kak, terima kasih” Esokan hari-nya hari jum’at, saya berencana pulang agak cepat. Maksudku, saya mau tidur dulu sebelum agak malam nanti saya bangun dan pergi clubbing di club terkenal di kota ini.

Ketika saya sedang membereskan buku dan berkas yang saya masukkan ke tas, tiba-tiba pintu kantorku di ketuk, “Silahkan masuk”.“Maaf, apa saya mengganggu kakak…” saya lihat sesosok wanita dgn kemeja pink berbalut blazer putik khas dokter, jilbab pink dan rok putih. Cantik sekali dia terlihat. Wajahnya sambil agak menunduk walau dia coba beranikan diri melihat wajahku. “Ada apa Rara, tidak menggnggu kok, saya sedang membereskan berkas” ujarku santai. “Ada yang bisa saya bantu?” “Kakak besok ada acara?” saya tersentak, tumben sekali dia bicara ini. “Tidak…tidak…ada apa? besok saya bebas kok” saya melupakan janjiku untuk bertemu Dian, passienku yang pernah saya tolong persalinannya. Dia hamil oleh pacarnya, tapi kemudian pacarnya pergi tidak bertanggung jawab.

Karena saya yang menolongnya hubungan kamipun dekat, dan tidak perlu dijelaskan detail apa yang kita lakukan, karena bukan inti dari cerita ini, yang pasti kita lakukan dgn aman. “Saya mau minta tolong, besok saya mau pindah kos, apa kakak bisa bantu bawakan barang” “Oh… tentu, jam berapa?” “saya tunggu di kos saya ya kak, jam 9, sini alamatnya saya tuliskan dulu” Rara pun menuliskan alamat pada secarik kertas di atas mejaku, saya terus memandanginya tanpa berkedip. perfect girl.“Terima kasih kak, maaf sekali saya sudah merepotkan” sambi memberikan kertas kepadaku, sedikit nakal saya pura-pura tidak sengaja menyentuh tangannya. lembut sekali dan…gak seperti biasanya dia menarik tangannya, kali ini dia membiarkan tanganku menyentuh tangannya.

Rara pun berlalu sambil meninggalkan gerak pinggul yang sangat menarik, “saya harus memilikinya”. saya segara batalkan semua agenda dan janjiku, saya segera tidur dan tidak sabar menunggu datangnya esok. Saat pertama kali berdua dgn dia. Esokan harinya saya datang tepat waktu di alamat yang sudah diberikannya. Sebuah rumah kos yang cukup besar walau agak tua, bangunan inti pemilik rumah ada di depan, sedangkan bagian depannya gedung baru berlantai 2 dgn pola bangunan khas tempat kos. saya lihat beberapa orang berkumpul dihalaman depan juga Rara dgn mengenakan jilbab putih, kemeja biru dan rok panjang biru donker. “Kenapa pindah nduk…padahal ibu seneng kamu di sini, kamu suka bantuin ibu” kata seorang wanita berumur lebih dari separuh baya. “iya bu…saya mau cari suasana lain aja, supaya saya bisa tenang bikin laporan” “jika kak Rara ngga ada, jika diantara kita ada yang sakit siapa yang bantuin” seorang wanita muda yang saya tebak masih maha siswa juga menimpali.

Rara tersenyum sambil mengacak-acak rambut teman kosnya itu “kamu boleh kok main ke sana”. “Bu, kenalkan ini dokter Budi, yang bantuin saya pindahan” sambil mengenalkan saya tanpa sedikitpun mengenalkan saya pada seorang pria tua yang ada di sebelah ibu kosnya itu. Sama sekali wajahnya tidak bersahabat.“Oala saya kira bojo mu nduk…gantenge…” saya tersenyum dalam hati mendengarkan ucapan ibu kosnya itu.“ah ibu bisa aja…” Rara tersipu. saya berharap itu menjadi nyata, dan tidak cuma menjadi pacarnya tapi saya bisa mengambil semuanya dari dia.Semua temannya berusaha membantu memasukkan kardus ke dalam fortunerku, tidak lama cuma 1 jam semua barang sudah dimasukkan. kita pun segera pamit, pertama kali dia duduk bersebelahan denganku. saya menancap gas stelah sebelumnya melambaikan tangan dulu pada ibu kos itu dan teman-temannya, wajah pria tua yang saya kira adalah suami dari ibu kos itu masih tetap tidak bersahabat.

Mataku coba melirik nakal padanya, tatapannya kosong melihat pemandangan di sekitar jendela. Lekukan dadanya begitu nampak dan close up di hadapanku, napasnya naik turun semakin membusungkan dadanya yang tertutup jilbab putihnya. Rok biru donkernya berbahan lembut, sehingga gampang jatuh, saya lihat bagian tengah rok antara kedua pahanya jatuh ke paha sehingga menampakkan bentuk pahanya yang jenjang dan penuh. Rara masih menikmati pemandangan sisi jalan dan tidak sadar jika saya memperhatikan tubuhnya. saya memacu mobil menuju alamat yang sudah dia beritahukan sebelumnya. Di perumahan itu, rumah type 21 yang dia tempati. Luas tanahnya masih sangat luas belum termaksimalkan. Sisi kanan kiri rumah masih kosong dan membuat jarak dgn rumah disampingnya. saya pun segera membantu menurunkan barang dan membereskan barang di rumah tersebut, cuma berdua.

saya pandangi wajahnya, perhatikan tiap lekuk tubuhnya yang membuat peler saya tegang. Sore itu saya mandi di rumah kontrakannya, saya tidak pernah lupa membawa alat mandi di mobilku. begitu juga Rara yang mandi sebelum saya, meninggalkan bau harum menyengat di kamar mandi. “Kak, makan malam di sini aja ya, sudah saya masakkan” tawarnya “Baik lah, pasti masakannya enak sekali” timpalku, padahal saya masih ingin berlama-lama dgn dia.Selepas makan malam kita pun bercengkrama. Semua barang telah kita rapihkan bersama, hari itu saya habiskan waktu bersama. “Akhirnya selesai juga ya Rara, capek juga ya” sahutku mencoba mencairkan suasana, sambil duduk di sebelahnya yang sedang mengupaskan mangga untukku. Rara tersenyum manis sekali, “Iya kak, kakak capek ya, mau saya suapin mangganya?”.saya kaget dgn tawarannya saya berusaha tenang “boleh”. Dia pun memberikan mangga yang ada ditangannya, dgn nakal saya coba melahap mangga sampai ke jarinya, sehingga bibirku menyentuh jarinya.

Dia tarik jarinya dari mulutku pelan sekali, sambil tersenyum. “oh god…sweet” ujarku dalam hati. “Mangganya manis…apalagi sambil lihat kamu” saya memancing. Rara cuma tersenyum, “mau lagi?” tawarnya, akupun mengangguk. Suapan kedua ini jarinya lebih lama berada di dalam mulutku. Sengaja tidak saya lepaskan dan si empunya jari lentik itu tidak keberatan, dia cuma diam menunggu. Tangan kiriku menyentuh tangan kanannya itu lembut, dia tidak menolak. saya tempatkan telapak tangannya yang lembut di pipiku, sambil menatap wajahnya. Wajahnya bersemu merah. Mata kita saling menatap, wajah kita semakin mendekat…dekat dan dekat…sehingga saya rasakan nafasnya menentuh wajahku. Tangan kananku meraih dagunya yang lembut seolah tidak ada tulang di dagunya itu.

sedikit saya tarik dagunya sehingga bibirnya terbuka, sengal nafasnya bisa saya rasakan. Ini mungkin rasanya seorang wanita yang pertama kali melakukan kissing, wanita yang selama ini berusaha menjaga kehormatannya dan tidak pernah disentuh siapapun sebelumnya. Matanya terkatup, cantik sekali dia malam ini. Akupun mendekatkan bibirku dgn bibirnya, saya pagut lembut…dia tidak membalas juga tidak menolak.Kembai saya pagut bibirnya, lembut dan manis kurasakan. saya pagut bibir ats dan bawahnya bergantian. Kali ini dia mulai merespon, dia membalas pagutanku dgn memagut bibirku juga, basah dan indah.Pagutan kita semakin liar, saya pindahkan kedua tanganku disamping wajahnya dgn posisi jari jempol menempel ke pipinya yang lembut.Keempat jariku berada di bawah telinganya yang masih tertutup jilbab. saya semakin menarik wajahnya mendekatiku, kecupanku semakin liar yang saya yakin membangkitkan gairahnya.“mhh…ummm….aummmmm…” bergantian kita mengecupi bibir kita. Kini tangan kiriku melingkari leher hingga kepundak belakangnya, sedangkan tangan kananku menyusup melalui bawah jilbab putihnya yang lebar kemudian mencari gundukan lembut tepat di dadanya.

Tangan kananku menyentuh sebongkah gundukan lembut yang masih tertutup bra. “Mhh… payudara yang sangat indah”. Tangan kananku pun mulai meremas lembut payudara itu. “ehhhmmm…mhhmhh… mmhhhhh” Rara kaget dan mendesah sambil tetap berpagutan dgn bibirku. Sekitar 2 menit meremas-remas dada kirinya, tangan kananku mencoba mencari kancing kemejanya. Dan saya buka satu demi satu hingga meninggalkan beberapa kancing bagian bawah yang tetap terpasang.Tangan kananku lebih aktif lgi masuk ke dalam kemejanya, benar saj, gundukan itu sangat lembut, ketika kulit tanganku bersentuhan dgn kulit payudaranya yang halus sekali. Tanganku menyusup diantar bra dan payudaranya, meremas lembut dan sesekali memilin putingnya yang kecil dan nampak sudah mengeras.

“mhhh…ummmmm, ….aahhh,…mmhh…..m mmm….mmmmphh….” mulutnya terus meracau mencoba menikmati setiap remasanku, matanya masih aja terpejam seolah dia tidak mau melihat kejadian ini atau dia sedang berusaha benar- benar meresapi rangsangan yang saya buat. saya tarik pundaknya sehingga tubuhnya terbaring ke samping kiriku, dan saya pun menarik bibirku dari bibirnya dgn sedikit suara kecupan yang menggambarkan dua bibir yang sudah lengket dan sulit dilepaskan. “mhuachh…aahhh” wajahnya memerah dan matanya masih terpejam, cantik sekali. Kini tangan kananku mengangkat jilbabnya ke atas, memberikan ruang agar kepalaku bisa masuk kedalamnya. saya mencium bau harum dari keringatnya yang mulai mengalir. Dalam keremangan saya milihat leher jenjangnya yang putih dan halus, tanpa membiarkan waktu berlalu saya segera mengecupnya lembut dan kecupanku semakin ganas di lehernya “aahhh….eengg…ehhhh…aahhh ….aaa hhh….” mulutnya gak berhenti meracau. Tangan kananya meraih belakang kepalaku dan menekankan kepalaku agar semakin menempel di lehernya, sedangkan tangan kirinya mendekap punggungku. Untungnya jarang rumah ini dgn rumah sebelah lumayan jauh, sehingga desahan kita tidak terdengar oleh rumah sebelah. saya tidak lupa meninggalkan cupang di lehernya, lalu ciumanku pun turun ke dadanya. Tangan kananku mencari sesuatu di balik punggungnya, ya kait bra.

Setelah saya dapatkan langsung saya lepaskan. Terlepaslah bra yang selama ini menutupi keduap payudara indah itu agar tidak meloncat keluar. lalu tangan kananku menarik bra agak ke atas ke leher Rara, sehingga terpampang dua gunung kembar yang sangat mengagumkan. Benar aja 36C. saya mulai mencium payudara kanan Rara, saya lakukan masih di dalam jilbabnya, dan akupun tidak melepas semua kancing kemejanya, sehingga tidak semua bagian tubuhnya terlihat. Namun, itu membuat sensasi percintaan semakin terasa, tangan kananku sibuk meremas payudara kananya yang saat ini sudah tidak berpenutup lagi. “aaahhhh…kaaakk….ahhh…..m hhh…k ak…..aduuhh…..mhh….. ” Rara tidak kuat menahan rangsangan ini, kepalanya menggeleng ke samping kanan dan kiri, tangan kanannya semakin kuat membekap wajahku ke arah dadanya. Kini tangan kananku melepas remasan di dadanya, mulai turun ke bawah, menyentuh kakinya yang masih ber kaos kaki. tangan kananku menarik roknya menyusuri betis yang tertutup kaos kaki panjang hampir selutut, setelah itu tanganku menemukan kulit halus yang putih. Tangan kananku menyusuri paha kirinya dan membuat roknya terangkat sebatas perut. tangan kananku membelai- belai paha kirinya dan ciumanku sekarang sudah mendarat di payudara kirinya. “ahhh… kaaaakkk….kakaaa….k k…ahh …”, nafas Rara semakin tersengal-sengal, saya tidak lupa meninggalkan cupang juga di payudara kirinya yang sangat lembut. peler saya semakin tegang.

Lalu saya tarik wajahku dari dadanya, saya duduk di samping tubuhnya yang terbaring. Bulir keringat mulai membasahi wajahnya yang putih, nafasnya tersengal, matany amasih terpejam, bibirnya terbuka sedikit. Rok bagian kiri sudah terangkat sampai ke perut, menyisakan pemandangan paha putih jenjang nan indah, namun betisnya tertutup kaos kaki yang cukup panjang. Tangan kananku masuk ke bawah kedua lututnya, tangan kiriku masuk ke dalam lehernya, saya pun memagutnya lagi dan dia faham apa yang saya maksud. Dia kalungkan kedua tangannya ke belakang kepalaku. “Jangan di sini ya sayang…kita masuk aja ke dalam…” ujarku sambil mengangkatnya, birbir kita gak henti berpagutan. Lalu saya rbahkan tubuhnya ke kasur busa tanpa dipan khas milik anak kos. nafasnya terus tersengal, kedua tangannya meremas kain sprei kasurnya itu. Kini saya berada di kedua kakinya, saya coba tarik roknya sampai sebatas perut dan saya kangkangkan kakinya. Ciumanku mendarat di bagian bawah perut, “eenngg…ahhh…” saya tau dia merasa geli dan terangsang hebat, sambil kedua tanganku mencoba menurunkan celana dalamnya.

Gerak tubuhnya pun tidak menggambarkan penolakan, bahkan dia agak mengangkat pantatnya ketika tangan saya mencoba melepas celana dalamnya sehingga mudah melewati bagian pantan dan tidak berapa lama terlepas sudah celana penutup itu. nonok muda berwarna pink yang sangat indah, ditumbuhi bulu halus yang rapih tercukup. Baunya pun sangat wangi. Tapi saya tidak ingin buru-buru, saya ingin Rara membiasakan suasananya dulu. ciumanku jatuh ke pahanya, ke bagian sensitif paha belakang sambil mengangkat kakinya ke atas. lalu pada sat yang tepat saya mulai turunkan ciumanku di antara selangkangannya. “kaakk…ahh…”, saya mencoba menjilati bagian luar nonok nya dari bawah ke atas, nonok itu mulai lembab dan basah. Lalu saya renggangkan lebih luas lagi kakinya, dan saya sibak labia mayoda dan labia minora nonok nya, saya temukan lubang ke wanitaan yang masih sempit namun berwarna merah seakan bekas luka atau lecet. saya tidak mempedulukan, karena saya melihat cairan bening meleleh dari dalam lubang kewanitaan Rara, lalu saya jilati dan lidahku pun nakal mencoba masuk ke dalam lubang kewnitaan itu, terus mencari dan mencari…lalu kecupanku pindah ke atas menemukan benjolan kecil tepat di bawah garis nonok atas, saya gigit-gigit kecil, saya cium saya sedot, tidak ketinggalan tangan kananku mencoba sedikit demi sedikit masuk ke nonok nya. “aahhhhh… uuhhh….mhh….phhh …ahhh …akakak… aahh..kakak… aduuhh…aaahhh…ahhh…” kepalanya bergeleng tidak teratur ke kanan dan kekiri,kedua tangannya semakin kuat menggenggam sprei yang dikenakan pada kasur busa tersebut.

ciumanku semakin kuat dan ganas, cairan kewanitaan semakin deras keluar dari lubang kewanitaan Rara. secara bergantian lidahku merangsang lubang nonok dan clitoris, dan tangan kananku pun tidak tinggal dia. Jika lidahku sedang merangsang klitoris maka jari tangan kananku berusaha meransang pubang nonok , juga ketika lidahku bermain-main dan mencoba masuk lebih dalam ke lubang nonok , jempol tanganku merangang dgn menggesek dan menekan-nekan clitoris Rara. “aaahhh….aaaaa…uuuu…enhhh h… eee mmm…ahh…aaaa….” Tangan kananya sekarang meremas-remas rambutku dan menekan kepalaku agar lebih dalam lagi mengeksplorasi nonok nya. Sekitar 15 menit saya mengekplor nonok nya, dia menjambak rambutku dan kemudian mendorongku. Sekarang posisi kita sama-sama duduk, nafasnya tersengal-sengal tapi sekarang dia berani membuka matanya menatapku, keringat mengucur dari tubuh kita.

Tiba-tiba bibirnya langsung menyerbu bibirku, ciuman kali ini amat liar terkadang gigi kita beradu, lidah kita saliang bertukar ludah, lidahku coba masuk ke rongga mulutnya, menjilati dinding-dinding mulutnya. saya sangat kaget ketika tangannya menarik kaosku ke atas, melewati mulut kita yang tengah beradu, kemudian ciumannya turun ke leherku dan ke dadaku. Tanganya tidak berhenti sampai di situ, dia mulai membuka ikat pinggang celanaku, saat bibirnya masih menciumi dadaku, tangannya menurunkan celanaku dan kemudian celana dalamku. peler saya yang diameternya 6 cm dan panjangnya hampir 20 cm mengacung tegak, kini tangan kananya menggengam peler saya, saya pun berdiri dan kini wajah ayunya berada di depan peler saya cuma beberapa senti aja. saya lihat dia menelan ludah, apa mungkin dia kaget dgn ukuran ini atau mungkin dia masih ragu melakukan ini.

saya pegang kepalanya yang masih menggunakan jilbab putih yang mulai kusut. kudekatkan peler saya dgn bibirnya, bibirnya masih terkatup ketika ujung peler saya menempel pada bibirnya, mungkin dia masih bingung apa yang dilakukannya. “Kulum sayang…ciumi sayang… ayo…” lalu dia buka bibirnya sedikit dan mencium ujung peler saya, kaku, tapi menimbulkan sensasi yang dahsyat, selain karena bibirnya yang lembut, hangat dan basah menyentuh ujung peler saya, melihat seorang wanita yang masih berpakaian lengkap dgn jilbabnya itu hal yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. “cuup..mppuhmm..uhhmm…” bibirnya berkali-kali mengulum ujung peler saya, sedikit- demi sedikit kulumannya semakin masuk. saya lihat dia masih kaku dan belum lihat melakukan itu, tapi bagiku sensasi luar biasa. “mhhh…aauuuummm… uummhh”akhirny a mulutnya berani memasukkan peler saya, walau tidak sampai masuk semua, karena peler saya terlalu panjang dan itu akan menyakitkannya. “shh…ahh… terus Rara…keluar masukin…” Rara pun mengikuti perintahku dia memaju mundurkan kepalanya. “aahh…sayang… terus”…”mhh. .uhmm hh..cuuupp..muuh” Rara terus melakukan aktifitasnya. cuma 5 menit lalu dia berhenti. “Kak…Rara ngga tahan…” diapun menarik tubuhku dan saya kini sama-sama duduk berhadapan. saya tahu, dia dalam kondisi puncak, dia tidak dapat lagi menahan libidonya, akupun merebahkannya dan menindihnya. saya regangkan kedua kakinya. Rara tampak pasrah dia memandangiku dan memperhatikan peler saya yang tepat dihadapan nonok nya. saya lupa sesuatu, segera saya raih celanaku yang tercecer di samping dan mengambil sesuatu di dompet.

Ya, saya selalus edia kondom di dompet setelah saya buka dan akan kupasangkan, Rara menampik tanganku. “ngga usah pake itu kak…saya ingin jadi milik kakak seutuhnya” saya tersentak dgn ucapannya “Kamu yakin Rara?” Rara mengangguk. Kini kuarahkan ujung peler saya mendekati lubang kewanitaannya “Tahan ya Rara…agak sakit…” Tangan kananku menggenggam batang peler dan digesek-gesekkan pada clitoris dan nonok Rara, hingga Rara merintih-rintih kenikmatan dan badannya tersentak-sentak. saya terus berusaha menekan senjataku ke dalam kemaluan Rara yang memang sudah sangat basah itu. Perlahan-lahan kepala peler saya menerobos masuk membelah nonok Rara. “Tahan kaak…sakii..t” dia merintih sambi menggigit bibir bawahnya. saya pun menghentikan kegiatanku sementara, sambil menunggu saya maju mundurkan kepala peler saya ke nonok nya supaya nonok nya mulai menyesuaikan. Matanya masih terpejam dan terus menggigit bibir bawahnya, nafasnya tersengal. Sedikit demi sedikit saya masukkan kembali, pelan tapi pasti. Setiap peler saya masuk Rara melengguh menahan sakit. nonok nya masih sempit tapi tanpa halangan peler saya mulai masuk ke dalam. dgn kasar saya tiba-tiba menekan pantatku kuat-kuat ke depan sehingga pinggulku menempel ketat pada pinggul Rara. dgn gak kuasa menahan diri dan berteriak, mungkin sakit.

Dari mulut Rara terdengar jeritan halus tertahan, “Aduuuh!.., ooooooohh.., aahh…sakii… t..kaak..”, disertai badannya yang tertekuk ke atas dan kedua tangan Rara mencengkeram dgn kuat pinggangku. Beberapa saat kemudian saya mulai menggoyangkan pinggulku, mula-mula perlahan, kemudian makin lama semakin cepat dan bergerak dgn kecepatan tinggi diantara kedua paha halus gadis ayu tersebut. Rara berusaha memegang lenganku, sementara tubuhnya bergetar dan terlonjak dgn hebat akibat dorongan dan tarikan peler saya pada kemaluannya, giginya bergemeletuk dan kepalanya menggeleng- geleng ke kiri kanan di atas meja. Rara mencoba memaksa kelopak matanya yang terasa berat untuk membukanya sebentar dan melihat wajahku, dgn takjub. Rara berusaha bernafas dan …:” “kaa..kk…, aahh…, ooohh…, ssshh”, sementara saya tersebut terus mengentotnya dgn ganas. Rara sungguh gak kuasa untuk tidak merintih setiap kali saya menggerakkan tubuhku, gesekan demi gesekan di dinding liang nonok nya. Setiap kali saya menarik peler nya keluar, dan menekan masuk peler saya ke dalam nonok Rara, maka klitoris Rara terjepit pada batang peler saya dan terdorong masuk kemudian tergesek-gesek dgn batang peler saya yang berurat itu. Hal ini menimbulkan suatu perasaan geli yang dahsyat, yang mengakibatkan seluruh badan Rara menggeliat dan terlonjak, sampai badannya tertekuk ke atas menahan sensasi kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dgn kata-kata. Sementara tanganku yang lain tidak dibiarkan menganggur.

Tanganku merengkuh punggungnya yang melengkung menahan nikmat, kemudian saya sibak jilbabnya dan terlihat dua payudara indahnya yang masih sembunyi dibalik kemeja yang sudha terbuka kancing bagian atasnya, branya pun sudha tersingkap ke atas menambah sensualitas pemandangan saat itu. saya tarik punggungnya sehingga maskin melengkung ke atas, saya pun terus bermain- main pada bagian dada Rara dan Mencium dan kadang menggigit kedua payudara Rara secara bergantian. Ia berusaha menggerakkan pinggulnya, akan tetapi paha, bokong dan kakinya mati rasa. Tapi ia mencoba berusaha membuatku segera mencapai klimaks dgn memutar bokongnya, menjepitkan pahanya, akan tetapi saya terus mengentotnya dan tidak juga mencapai klimaks.

Ia memiringkan kepalanya, dan terdengar erangan panjang keluar dari mulutnya yang mungil, “Ooooh…, ooooooh…, aahhmm…, ssstthh!”. Gadis ayu itu Semakin erat mendekap kepalaku agar semakin rekat dgn payudaranya, saya tahu pelukan itu adalah penyaluran dari rasa nikmat dan klimaks yang mungkin sebentar lagi dia rasakan. Kedua pahanya mengejang serta menjepit dgn kencang, menekuk ibu jari kakinya, membiarkan bokongnya naik- turun berkali-kali, keseluruhan badannya berkelonjotan, menjerit serak dan…, akhirnya larut dalam orgasme total yang dgn dahsyat melandanya, diikuti dgn suatu kekosongan melanda dirinya dan keseluruhan tubuhnya merasakan lemas seakan-akan seluruh tulangnya copot berantakan. Rara terkulai lemas gak berdaya di atas kasur dgn kedua tangannya terentang dan pahanya terkangkang lebar-lebar dimana peler saya tetap terjepit di dalam liang nonok nya. Itu lah pertama kali dia merasakan indahnya orgasme.

Selama proses orgasme yang dialami Rara ini berlangsung, memberikan suatu kenikmatan yang hebat yang dirasakan olehku, dimana peler saya yang masih terbenam dan terjepit di dalam liang nonok Rara dan merasakan suatu sensasi luar biasa, batang peler saya serasa terbungkus dgn keras oleh sesuatu yang lembut licin yang terasa mengurut-urut seluruha peler saya, terlebih-lebih pada bagian kepala peler saya setiap terjadi kontraksi pada dinding nonok Rara, yang diakhiri dgn siraman cairan panas. Perasaanku seakan- akan menggila melihat Rara yang begitu cantik dan ayu itu tergelatak pasrah gak berdaya di hadapannya dgn kedua paha yang halus mulus terkangkang dan nonok yang kuning langsat mungil itu menjepit dgn ketat batang peler saya. Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian saya membalik tubuh Rara yang telah lemas itu hingga sekarang Rara setengah berdiri tertelungkup di dipan dgn kaki terjurai ke lantai, sehingga posisi pantatnya menungging ke arahku. saya ingin melakukan doggy style, tanganku kini lebih leluasa meremas-remas kedua buah payudara Rara yang kini menggantung ke bawah, tangunku menyusup lewat kemeja bagian bawah.

dgn kedua kaki setengah tertekuk, secara perlahan-lahan saya menggosok-gosok kepala peler saya yang telah licin oleh cairan pelumas yang keluar dari dalam nonok Rara dan menempatkan kepala peler saya pada nonok Rara dari belakang. dgn sedikit dorongan, kepala peler saya tersebut membelah dan terjepit dgn kuat oleh bibir-nonok Rara, Rara melengguh agak kencang..”aahhgg….” ketika peler saya mulai menyeruak ke dalam nonok nya lagi. Kedua tanganku memegang pinggul Rara dan mengangkatnya sedikit ke atas sehingga posisi bagian bawah badan Rara tidak terletak pada dipan lagi, cuma kedua tangannya yang masih bertumpu pada kasur. Kedua kaki Rara dikaitkan pada pahaku. Kutarik pinggul Rara ke arahku, berbarengan dgn mendorong pantatnya ke depan, sehingga disertai keluhan panjang yang keluar dari mulut Iffa, “Oooooooh… aahh…shhh…ahh…. !”, peler saya tersebut terus menerobos masuk ke dalam liang nonok nya dan saya terus menekan pantatnya sehingga perutnyaku menempel ketat pada pantat Rara yang setengah terangkat.

saya memainkan pinggulnya maju mundur dgn cepat sambil mulutku mendesis-desis keenakan merasakan peler saya terjepit dan tergesek-gesek di dalam lubang nonok Rara yang ketat itu. “Ahh…ahhh…aahh… kak..a.duu u..hh …mhh…teruss…” mulutnya terus mengaduh, tanda nikmat tiada tara yang dia rasakan. Tubuhny amaju mundur terdorong desakan peler saya. Karena bagian pantat lebih tinggi dari kepala sehingga kemejanya turn ke bawah memperlihatkan pungguh mulus dan putih yang sebelumnya tidak pernah dilihat siapapun. Tangannya sambil terus meremas seprei dan merebahkan kepanaya di kasur. “shhh… ahh..kakk…aahh..adu uhh…k ak….” semakin kencang teriakannya semakin menunjukkan jika dia akan merasakan klimaks untuk kedua kalinya. AKupun mempercepat doronganku. “terus..kak…ahh…jangan berhenti…ahh…kak,…” Rara meracau semakin tidak karuan. Dan….diapun mendongakkan kepalanya ke atas disertai lengguhan panjang “aaaaaaa……….hhhhhh….” dia klimaks untuk kedua kalinya. saya cabut peler saya dari lubang nonok nya, saya lihat cairan bening semakin banyak meleleh dari nonok nya. Tubuhnya melemas dan lunglai ketika saya lepaskan. Navasnya tersengal, pakaian dan jilbabnya kusut gak karuan. Keringat membuat pakaian dia yang tidak dilepas sama-sakeli menjadi basah. Namun dia memang wanita yang pandai merawat tubuhnya, bahkan keringatnya pun harum sekali baunya.

Setelah saya biarkan dia istirahat beberapa menit sambil meresapi orgasme untuk keduakalinya. Kemudian saya merubah posisi permainan, dgn duduk di sisi tempat tidur dan Rara kutarik duduk menghadap sambil mengangkang pada pangkuanku. saya menempatkan peler saya pada nonok Rara yang tampak pasrah dgn perlakuanku, Lalu saya mendorong sehingga kepala peler saya masuk terjepit dalam liang kewanitaan Rara, sedangkan tangan kiriku memeluk pinggul Rara dan menariknya merapat pada badanku, sehingga secara perlahan-lahan tapi pasti peler saya menerobos masuk ke dalam kemaluan Rara. Tangan kananku memeluk punggung Rara dan menekannya rapat-rapat hingga kini badan Rara melekat pada badanku. Kepala Rara tertengadah ke atas, pasrah dgn matanya setengah terkatup menahan kenikmatan yang melandanya sehingga dgn bebasnya mulutku bisa melumat bibir Rara yang agak basah terbuka itu.

dgn sisa tenaganya Rara mulai memacu dan terus menggoyang pinggulnya, memutar-mutar ke kiri dan ke kanan serta melingkar, sehingga peler saya seakan mengaduk-aduk dalam nonok nya sampai terasa di perutnya. Karena stamina yang sudha terkuras dgn dua klimaks yang didapatnya, goyangan Rara emakin melemah. saya pindahkan kedua tanganku ke arah pinggannya dan tanganku mulai membantu mengangkat dan mendorong pinggul Rara agar terus bergoyang. saya ihat peler saya timbul tenggelam dibekap lubang nonok nya yang hangat. Rintihan gak pernah berhenti keluar dari mulutnya. “shh…ah…sshhh…ahhh..” Goyangannya teratur, setelah sekian lama dgn posisi itu, Rara mulai bangkit lagi libidonya, dgn tenaga sisa dia mulai membantu tangaku dgn menggerakkan pinggulnya lebih cepat lagi. Kedua tangannya kini merangkul kepalaku dan membenamkannya ke kedua gunug kembarnya yang besar dan halus.

saya tahu dia akan mengalami klimaksnya yang ketiga. saya kulum dan lumat payudaranya, kepala Rara menengadah merasakan nikmat yang tiada tara atas rangsangan pada dua titik tersensitifnya. gak berselang kemudian, Rara merasaka sesuatu yang sebentar lagi akan kembali melandanya. Terus…, terus…, Rara gak peduli lagi dgn gerakannya yang agak brutal ataupun suaranya yang kadang-kadang nonokik lirih menahan rasa yang luar biasa itu. Dan ketika klimaks itu datang lagi, Rara gak peduli lagi, “Aaduuuh…, eeeehm..ahh… kaa..kk…aahhh…”, Rara nonokik lirih sambil menjambak rambutku memeluknya dgn kencang itu. Dunia serasa berputar. Sekujur tubuhnya mengejang, terhentak- hentak di atas pangkuanku. Kemudian kembaliku gendong dan meletakkan Rara di atas meja dgn pantat Rara terletak pada tepi dipan dan kasur, kedua kakinya terjulur ke lantai. saya mengambil posisi diantara kedua paha Rara yang kutarik mengangkang, dan dgn tangan kananku menuntun peler saya ke dalam lubang nonok Rara yang telah siap di depannya. saya mendorong peler saya masuk ke dalam dan menekan badannya.

Desah nafasnya mendengus-dengus seperti kuda liar, sementara goyangan pinggulnya pun semakin cepat dan kasar. Peluhnya sudah penuh membasahi sekujur tubuhnya dan tubuh Rara yang terkapar lemas dan pasrah terhadap apa yang akan saya lakukan. Badan gadis itu terlonjak-lonjak mengikuti tekanan dan tarikan peler saya. Rara benar- benar telah KO dan dibuat benar-benar tidak berdaya, cuma erangan-erangan halus yang keluar dari mulutnya disertai pandangan memelas sayu, kedua tangannya mencengkeram Sprei. Dan saya sekarang merasa sesuatu dorongan yang keras seakan-akan mendesak dari dalam peler saya yang menimbulkan perasaan geli pada ujung peler saya. saya mengeram panjang dgn suara tertahan, “Agh…, terus”, dan pinggulku menekan habis pada pinggul gadis yang telah tidak berdaya itu,sehingga biji peler saya menempel ketat dan batang peler saya terbenam seluruhnya di dalam liang nonok Rara. dgn suatu lenguhan panjang, “Sssh…, ooooh!”, sambil membuat gerakan- gerakan memutar pantatnya, saya merasakan denyutan-denyutan kenikmatan yang diakibatkan oleh air maninya ke dalam nonok Rara.

Ada kurang lebih lima detik saya tertelungkup di atas badan gadis ayu tersebut, dgn seluruh tubuhku bergetar hebat dilanda kenikmatan orgasme yang dahsyat itu. Dan pada saat yang bersamaan Rara yang telah terkapar lemas gak berdaya itu merasakan suatu an hangat dari pancaran cairan kental hangat saya yang menyiram ke seluruh rongga nonok nya. saya melihatnya lemas dgn jilbab dan pakaian yang sudah nggak keruan bentuknya lagi. saya melihatnya menunduk sedih sambil menangis. saya faham, gadis seperti dia tidak mungkin mudah untuk melakukan hal ini, tapi kali ini saya benar-benar membuatnya gak berdaya dan mengikuti nafsu duniawi. “Kak…” dia membuka perakapan ditengah hening kita menikmati pertempuran yang baru aja selesai. “Ya sayang…” sambil saya peluk dia. “Kakak mau tanggung jawab kan?” “Kakak mau menikahi Rara kan?” parau suaranya terdengar.saya tersentak saya gak menyangka jika dia langsungmengatakan itu. Tapi saya benar-benar tidak tega melihat kondisinya yang sudah menyerahkan semuanya kepadaku.


saya pun ingin memilikinya dan mengakhiri semua kebiasan burukku. saya berjanji meninggalkan pacarku jika dia mau menikah denganku, kenyataannya sekarang itu sudah di depan mata.“i..iya..Rara…kakak akan tanggung jawab…kakak akan menikahi kamu” sahutku. Dalam wajah sedihnya kuliah bibirnya menyunggingkan sedikit senyum. Dan kamipun tertidur dgn saling memeluk seakan berharap agar pagi gak segera hadir. Semenjak kejadian pertama ini, Rara jadi agresif dalam hal bercinta.Terkadang dia sendiri yang meminta di entot tanpa saya minta.Berbagai gaya sudah kita coba.Selang berapa tahun kemudian kita menikah dan mempunyai anak satu perempuan yang kita namai Yunita.
Nonok Cewek Jilbab Disumpel Peler Gede
Nonok Cewek Jilbab Disumpel Peler Gede, cerita sex , Cerita dewasa Nonok Cewek Jilbab Disumpel Peler Gede, cerita seks ngentot cewek jilbab, jilbaber dientot peler, kisah sex xxx, seks bokep, bacaan porno, kisah seks, cerita bokep cerita dewasa, Nonok Cewek Jilbab Disumpel Peler Gede


Aktifkan javascript tekan (F5), untuk membuka halaman
klik link cerita
serta membuka gambar lebih besar.
Cerita seks dewasa update setiap hari.
http://foto-video-cerita-dewasa.blogspot.com/