Lobang Bool Istri Diperawanin Banyak Kontol

Lobang Bool Istri Diperawanin Banyak Kontol | saya istri yang liar dan binal krn sering dientot threesome, sungguh ini bukan kehendakku tapi saya sangat menikmatinya. Cerita dewasa terpanas yang sampai kini menjadi rahasia dalam rumah tanggaku. Di dalam ruangan itu terlihat sunyi beberapa dari mereka tidak sanggup melihat dua orang suami istri terbujur kaku, sedangkan di sampingnya terdapat anak yang masih berusia 10 tahun yang sedang menangisi ke dua orang tuanya, krn merasa kasihan saya meminta izin suami ku utk menemuinya, setelah mendapat izin saya lalu menghampiri anak tersebut berharap dapat menenangkan hati anak tersebut,

ku panggil dia pelan sambil duduk di sampingnya, "sudah jangan nagis lagi, biarkan kedua orang tuamu beristirahat"
Anak itu tetap menangis, beberapa detik dia memandangku dan tidak lama kemudian dia langsung memelukku dgn air mata yang bergelinang,

"tante, hiks..hiks.. Fandi ga mau sendirian, Fandi mau mama, papa.." dgn penuh rasa kasih sayang saya mengelus punggungnya berharap dapat meringankan bebannya, "tante.. bangunin mama," katanya sambil memukul pundakku, saya semakin tak kuasa mendengar tangisnya, sehingga air matakupun ikut jatuh,

"Fandi, jangan sedih lagi ya? Hhmm.. kan masih ada tante sama om," saya melihat ke belakang ke arah suami ku sambil memberikan kode, suami ku mengangguk bertanda dia setuju dgn usulku, "mulai sekarang Fandi boleh tinggal bersama tante dan om, gimana?" tawarku sambil memeluk erat kepalahnya,
Sebelum lebih jauh mohon izinkan saya utk memperkenalkan diri, namaku Liana usia 25 tahun saya menikah di usia muda krn kedua orang tuaku yang menginginkannya, kehidupan keluargaku sangaatlah baik, baik itu dari segi ekonomi maupun dari segi hubungan intim, tetapi seperti pepata yang mengatakan tidak ada gading yang tak retak, begitu jg dgn hidupku meskipun saya memiliki suami yang sangat mencintaiku tetapi selama 4 tahun kami menikah kami belum jg dikaruniai seorang anak sehingga kehidupan keluarga kami terasa ada yang kurang, tetapi untungnya saya memiki seorang suami yang tidak perna mengeluh krn tidak bisanya saya memberikan anak untuknya utk membalas budi baik kakakku, saya dan suami ku memutuskan utk merawat anaknya Fandi krn kami pikir apa salah menganggap Fandi sebagai anak sendiri dari pada saya dan suami ku harus mengangkat anak dari orang lain,

Sudah satu minggu Fandi tinggal bersama kami, perlahan ia mulai terbiasa dgn kehidupannya yang baru, saya dan suami ku jg meresa sangat senang sekali krn semenjak kehadirannya kehidupan kami menjadi lebih berwarna, suami ku semakin bersemangat saat bekerja dan sedangkan saya kini memiliki kesibukan baru yaitu merawat Fandi,
"Bi... tolong ambilin tasnya Fandi dong di kamar saya," kataku memanggil bi Mar

Hari ini adalah hari pertama Fandi bersekolah sehingga saya sangat bersemangat sekali, setelah semuanya sudah beres saya meminta pak Jaja utk mengantarkan Fandi ke sekolahnya yang baru, beberapa saat Fandi terseyum ke arahku sebelum dia berangkat ke sekolah. Seperti pada umumnya ibu rumah tangga, saya berencana menyiapkan makanan yang special utk Fandi sehingga saya memutuskan utk memasak sesuatu di dapur, tetapi saat saya melangkah ke dapur tiba-tiba kakiku terasa kaku saat melihat kehadiran pak Bani yang sedang melakukan hubungan intim dgn mba Wati, mereka yang tidak menyadari kehadiranku masih asyik dgn permainan mereka,

"Hmm.. APA-APAAN INI?" bentakku ke pada mereka, mendengar suaraku mereka terlihat tanpak kaget melihat ke hadiranku, "kalian benar-benar tidak bermoral, memalukan sekali!"

Mereka tanpak terdiam sambil merapikan kembali pakaian mereka masing-masing, beberapa saat saya melihat kontol pak Bani yang terlihat masih sangat tegang, sebenarnya saya sangat terkejut melihat ukuran kontol pak Bani yang besar dan berurat, berbeda sekali dgn suami ku,
"maafin kami Bu," kini Wati membuka mulutnya, sedangkan pak Bani masih terdiam,

Cerita Seks Lobang Bool Istri Diperawanin Banyak Kontol

"Maaf.. kamu benar-benar wanita murahan, kamu tahu kan pak Bani itu sudah punya istri kenapa kamu masih jg menggoda pak Bani, kamu itu cantik kenapa tidak mencari yang sebaya denganmu?" emosiku semakin memuncak saat mengingat bi Mar istri dari pak Bani, "saya tidak menyangka ternyata anda yang sangat saya hormati ternyata tidak lebih dari binatang, betapa teganya anda menghianati istri anda sendiri," beberapa kali saya menggelengkan kepalahku, sambil menunjuk ke arahnya,

"maaf Bu ini semua salah saya, jangan salahkan Wati" kata pak Mar yang membela Wati,
"mulai sekarang kalian saya PECAT, dan jangan perna menyentuh ataupun menginjak rumah ini, KELUAR KALIAN SEMUA!!" bentakku
Mendengar perkataanku Wati terlihat pucat tidak menyangkah kalau kelakuan bisa membuatnya kehilangan pekerjaan, sedangkan pak Bani terlihat tenang-tenang saja malahan pak Bani tanpak terseyum sinis,
"he..he.. Ibu yakin dgn keputusan Ibu," pak Bani tertawa mendengar perkataanku, perlahan pak Bani mendekatiku, "jangan perna main-main dgn saya Bu," ancamnya dgn sangat sigap pak Bani menangkap kedua tanganku,

"apa-apaan ini lepaskan saya, atau saya akan berteriak," saya mencoba mengancam balik mereka yang sedang mencoba mengikat kedua tanganku,
"teriak saja Bu, tidak akan ada orang yang mendengar," timpal Wati sambil membantu pak Bani mengikat kedua tanganku,
Apa yang di katakan Wati ada benarnya jg, tetapi meskipun begitu saya tidak mau menyerah begitu saja dgn susah paya saya berusaha melepaskan diri tapi sayangnya tenagaku kalah besar dari mereka berdua, tanpa bisa berbuat apa-apa saya cuma dapat mengikuti mereka saat membawaku ke dalam kamar pak Bani. Sesampai di kamar saya di tidurkan di atas kasur yang tipis, sedangkan Wati mengambil sebuah Hp dan ternyata Hp itu di gunakan utk merekamku, sehingga kehawatiranku semakin menjadi-jadi.

"kalian biadab, tidak tau terimakasih ****** kalian!" air mataku tidak dapat kubendung lagi saat jari-jemari pak Bani mulai merabahi pahaku yang putih,
"ja-jangan, mau apa kalian lepaskan saya ku mohon jangan ganggu saya," kataku di sela-sela isak tangis,
"siapa suruh ikut campur urusan saya, he..he.. maaf bu ternyata hari ini adalah hari keberuntungan saya, dan hari yang sil bagi Ibu," semakin lama saya merasa tangannya semakin dalam memasuki dasterku,
"tidak di sangkah impian saya akhirnya terkabul jg,"" sambungnya sambil meremasi paha bagian dalamku,
"makanya Bu jangan suka ikut campur urusan orang," kini giliran Wati yang menceramahiku,

"ya, saya ngaku salah tolong lepasin saya," kini saya cuma dapat memohon agar mereka sedikit iba melihatku, tetapi sayangnya apa yang kuharapkan tidak terjadi, pak Bani tanpa semakin buas memainkan diriku
saya cuma dapat melihat pasrah saat dasterku terlepas dari tubuhku, kedua toket ku yang memang sudah tidak tertutupi apa-apa lagi dapat dia nikmati, jari-jarinya yang kasar mulai memainkan selangkanganku,
"sslluupss..sslluuppss.. hhmm... ayo Bu puaskan saya?" pinta pak Bani, sambil mengulum toket ku beberapa kali lidahnya menyapu putting susuku yang mulai mengeras,
"ko’ memek nya basah bu, he..he.." memang harus diakui, tubuhku tidak dapat membohonginya meskipun bibirku berkata tidak,
"wa..wa.. Ibukan sudah punya suami ko’ masih jg menggoda laki orang lain, ga malu ya Bu," Wati melotottiku seolah-olah ingin membalas perkataanku tadi, "dasar wanita munafik, sekarang Ibu tau kan kenapa saya menyukai pak Bani,"bentak Wati kepadaku, sehingga membuat hatiku terasa amat sakit mendengarnya,
"aahhkk.. pak, hhmm... pak sudah jangan di terusin.." kataku dgn kaki yang tidak dapat diam saat jarinya menyelusup kedalam nonok ku yang sudah banjir, perlahan kurasakan jari telunjuknya menyelusuri belahan nonok ku,
"oo.. enak ya? he..he.." pa Bani tertawa melihatku yang sudah semakin terangsang, leherku terasa basah saat lidah pak Bani menjilati leherku yang jenjang,
dgn sangat kasarnya pak Bani menarik celana dalamku, sehingga nonok ku yang tidak di tumbuhi rambut sehelaipun terlihat olehnya, saya memang sangat rajin mencukur rambut nonok ku agar terlihat lebih bersi dan sex i.
Wati berjongkok di sela-sela kakiku, kamera Hp di arahkan persis di depan nonok ku yang kini sudah tidak ditutupi oleh sehelai kain, tanpa memikirkan perasaanku pak Bani membuka bibir nonok ku sehingga bagian dalam nonok ku dapat di rekam jelas oleh Wati, beberapa kali jari telunjuk pak Bani menggesek clitorisku,
"ohk pak plisss.. jangan..? saya malu.." saya merasa sangat malu sekali di perlakukan seperti itu, baru kali ini saya bertelanjang di depan orang lain bukan suami ku sendiri,
"Ha..ha.. malu kenapa Bu? ****** aja tidak malu ga pake baju masa ibu malu si.." katanya yang semakin merendahkan derajatku, setelah puas mempertontonkan nonok ku di depan kamera, pak Bani bertukar posisi dgn Wati utk memegangi kakiku sedangkan pak Bani berjongkok tepat di bawa nonok ku,
dgn sangat lembut pak Bani menciumi pahaku kiri dan kanan secara bergantian, semakin lama jilatannya semakin ke atas menyentuh pinggiran nonok ku,
"aahkk.. sudah pak, rasanya sangat geli hhmm.." saya berusaha sekuat tenaga mengatupkan kedua kakiku tetapi usahaku sia-sia saja, dgn sangat rakus pak Bani menjilati nonok ku yang berwarna pink, sedangkan Wati tanpa puas melihat ke adaanku yang tak berdaya,
"nikmatin aja Bu, he..he.. saya dulu sama seperti ibu selalu menolak tapi ujung-ujungnya malah ketagihan" kata Wati tanpa melepaskan pegangannya terhadap kakiku,
Semakin lama saya semakin tidak tahan, tiba-tiba saya merasa tubuhku seperti di aliri listrik dgn tegangan yang tinggi, kalau seandainya Wati tidak memegang kakiku dgn sangat erat mungkin saat ini wajah pak Bani sudah menerima tendanganku, mataku terbelalak saat orgasme melandah tubuhku dgn sangat hebat, cairan nonok ku meleleh keluar dari dalam nonok ku, sehingga tubuhku terasa lemas,
"ha..ha.. bagaimana Bu, mau yang lebih enak..." pak Bani tertawa puas, saya cuma dapat menggelengkan kepalaku krn saya sudah tidak mampu lagi utk mengeluarkan suara dari mulutku, perlahan pak Bani berdiri sambil memposisikan kontol nya tepat di depan nonok ku,
"aahkk.. sakit.." saya memikik saat kepala kontol nya menerobos liang nonok ku, "uuhk.. hhmm.. pelan-pelan pak.." pintaku sambil menarik napas menahan rasa sakit yang amat sangat di nonok ku krn ukuran kontol pak Bani jauh lebih besar dari kontol suami ku,
"tahan Bu, bentar lagi jg enak ko’ " kata Wati yang kini melepaskan ikatan di tanganku, setelah ikatanku terlepas Wati kembali merekam adegan panas yang kulakukan,
dgn sangat cepat pak Bani menyodok nonok ku sehingga terdengar suara "plokkss...ploskkss.." saat kontol nya mentok ke dalam nonok ku yang mungil,
"aahhkk.. aahhkk.. aaahh.. oooo.."semakin cepat entotannya, suaraku semakin lantang terdengar,
"oh yeeaa.. enak Bu, hhmm.. ternyata memek Ibu masih sempit sekali meskipun sudah perna menikah," katanya memujiku, tetapi mendengar pujiannya saya tidak merasa bangga melainkan saya meresa jijik terhadap diriku sendiri,
saya merasa nonok ku seperti di masuki benda yang sangat besar yang mencoba mengorek isi dalam nonok ku, rasanya memang sangat sakit sekali tetapi di sisi lain saya merasa sangat menikamati perkosaan rehadap diriku, selama ini saya belum perna merasakan hal seperti ini dari suami ku sendiri,
"ayo sayang, bilang kalau kontol saya enak.." dgn sangat kasar pak Bani meremasi kedua toket ku,
"ti-tidak... ahk.. hhmm.." saya di buat merem melek olehnya,
"ha..ha.. kamu mau jujur atau tidak, kalau tidak hhmm.. saya akan adukan semua ini kepada suami mu, ha..ha.." katanya mengancamku dgn tawa yang sangat menjijikan,
"ja-jangan pak," saya memohon ke padanya, krn takut dgn ancamannya akhirnya saya menyerah jg "iya, aahhkk.. saya suka.." kataku dgn suara yang hampir tidak terdengar,
"APA.. SAYA TIDAAK MENDENGAR?" pak Bani berteriak dgn sangat kencang sehingga gendang telingaku terasa mau pecah mendengar teriakannya,
"IYA PAK, ENAK SEKALI SAYA SUKA SAMA kontol BAPAK...aahhk..uuhhkk!!" dgn sekuat tenaga saya berusaha tegar dan berharap semuanya cepat berlalu,
Setelah berapa menit kemudian tubuhku kembali merasa tersengat oleh aliran listrik saat saya kembali mengalami orgasme yang ke dua kalinya,
dgn sangat kasarnya pak Bani menarik tubuhku sehingga saya berposisi menungging, pantatku yang bulat dan padat menghadap dirinya,
"hhmm.. indah sekali pantatmu sayang" katanya sambil meremasi bongkahan pantatku,
"pak, saya mohon cepat lakukan,"
"ha..ha.. kenapa Bu, sudah ga tahan" berkali-kali pantatku menerima pukulan darinya, sebenarnya saya tidak menyangka dgn kata-kataku tadi bisa membuatku semakin renda di mata mereka, sebenarnya saya cuma bermaksud agar semua permainan ini segera berakhir tapi sayangnya pak Bani tidak menginginkan itu,
"tenang Bu, santai saja dulu?"
Pak Bani sangat pintar memainkan tubuhku, dgn sangat lembut jari kasarnya menyelusuri belahan pantatku dari atas hingga ke bawah belahan vagianaku, gerakan itu di lakukan berkali-kali sehingga pantatku semakin terlihat membusung ke belakang,
"ohhkk.. pak, hhhmm..." ku pejamkan mataku saat jarinya mulai menerobos lubang bool ku, dgn gerakan yang sangat lembut jarinya keluar masuk dari dalam bool ku, "ahhkk...ooo.. ssstt..uuuuu.. pak" ternyata rintihanku membuat pak Bani semakin mempercepat gerakan jarinya,
pak Bani dgn rakusnya kembali menjilati nonok ku dari belakang sedangkan jari-jarinya masih aktif mengocok bool ku. Pada saat saya sangat terangsang tiba-tiba kami mendengar suara ketukan yang kuyakini itu adalah pak Jaja yang baru pulang dari mengantar Fandi,
"Pak Jaja tolongin saya.." kataku berharap ia bisa membantuku utk lepas dari pelecehan yang ku alami, dgn santainya Wati membukakan pintu tanpa rasa takut kalau pak Jaja mengadukan kejadian ini ke pada suami ku, pak Jaja tanpak kaget saat melihat keadaanku yang sedang di gagahi oleh pak Bani,
"pak, tolong ku mohon," kataku memelas,
"Wa..wa... apa-apaan ini, " beberapa kali pak Jaja menggelengkan kepalahnya dgn mata yang tak henti-hentinya memandangi tubuh mulusku,
"Udah pak, jangan sok mau jadi pahlawan kalau bapak mau embat aja, dia sudah menjadi budaknya saya," pak Bani mulai membujuk pak Jaja dan saya cuma bisa berharap pak Jaja tidak memperdulikan tawaran pak Bani,
"kenapa bengong? sini ikutan!" ajaknya lagi
"jangan pak saya mohon tolongin saya," saya mengiba ke pada pak Jaja, tetapi pak Bani tidak mau kalah kedua jarinya membuka bibir nonok ku,
"bapak liat ni, memek nya sudah basa banget.. wanita ini munafik" pak Jaja terdiam seperti ada yang sedang di piirkannya,
"memek nya masih sempit lo, apa lagi bool nya kayaknya masih perawan," bujuk pak Bani berharap pak Jaja mau bergabung dengannya utk menikmati tubuhku,
Akhirnya pak Jaja tidak tahan melihat nonok ku yang becek terpampang di depannya,
"hhmm.. oke lah tapi boolnya buat saya ya, " tubuhku semakin terasa lemas, kini saya sudah tidak tau harus meminta tolong ke pada siapa lagi, perlahan pak Jaja mendekatiku,
"sekarang Ibu dudukin kontol saya, cepat.." perintah pa Bani sambil tidur telentang dgn kontol yang mengancung ke atas, dgn sangat pelan saya menuduki kontol pak Bani,
"eennnggkk... " saya menggigit bibir bawahku saat kepala kontol pak Bani kembali menembus nonok ku, perlahan kontol itu amblas ke dalam nonok ku, dgn sangat erat pak Bani memeluk pinggangku agar tidak dapat bergerak,
Setelah melepas semua pakaian yang ada di tubuhnya, pak Jaja mendekatiku dgn kontol berada di depan bool ku beberapa kali pak Jaja menamparkan kontol nya ke pantatku,
"pak sakit.. aahhkk.. aahkk.. ja-jangan pak saya belum pernah" saya berusaha melepaskan diri saat pak Jaja mulai berusaha memasuki bool ku, sempat beberapa kali ia gagal meembus bool ku yang memang masih perawan,
"ha..ha.. ayo dong Pak, masak kalah sama cewek si.." kata pak Bani mmemanas-manasi pak Jaja agar segera membobol bool ku, pak Jaja yang mendengar perkataan pak Bani menjadi lebih beringas dari sebelumnya,
"AAAAAA..." saya berteriak sekencang-kencangnya saat kontol pa Jaja berhasil menerobos bool ku, tanpa memberikan saya nafas ia menekan kontol nya semakin dalam, "aahkk... oohhkk.. pak, hhmm.." saya merintih ke sakitan saat pak Jaja mulai entot kontol nya di dalam bool ku,
"gi mana pak? Enak kan?" tanya pak Bani yang kini ikutan memaju mundurkan kontol nya di dalam nonok ku,
"eehhkknngg.. mantab pak, enak banget he...he.. hhmm..." semakin lama kedua cowok tersebut semakin mempercepat tempo permainan kami,
Sudah beberapa menit berlalu kedua orang cowok ini belum jg menunjukan kalau mereka ingin ejakulasi, sedangkan diriku sedah beberapa kali mengalami orgasme yang hebat sehingga tubuhku terasa terguncang oleh orgasmeku sendiri. Setelah beberapa menit saya mengalami orgasme tiba-tiba pak Bani menunjukan bahwa dia jg ingin mencapai klimaks. dgn sekuat tenaga pak Bani semakin menenggelamkan kontol nya ke dalam nonok ku dalam hitungan beberapa detik kurasakan cairan hangat membasahi rahimku,
"aahkk.. enak... hhmm.." gumamnya saat menyemburkan sperma terakhirnya, setelah puas menodaiku pak Bani melepas kontol nya di dalam nonok ku begitu jg dgn pak Jaja yang melepaskan kontol nya di dalam bool ku,
"buka mulutmu cepetan," perintah pak Jaja sambil menarik wajahku agar menghadap ke arah kontol nya yang terlihat berdeyut-deyut, saya sangat kaget sekali saat pak Jaja memuntahkan spermanya ke arah wajahku, sehingga wajahku ternodai oleh sperma pak Jaja,
Kini saya benar-benar sudah tidak memiliki tenaga sedikitpun, utk mengangkat tubuhku saja terasa sangat berat sekali, sedangkan mereka tanpa puas memandangku yang sedang berpose mengangkang di depan mereka krn kedua kakiku kembali dipegangi Wati, sperma yang tadi di muntahkan pak Bani terasa mengalir keluar dari dalam nonok ku,

saya duduk di atas sofa sambil melihat anak angkatku Fandi yang sedang di temani suami ku belajar, wajah mereka terlihat sangat cerah sekali bertanda bahwa mereka sangat bahagia, entah kenapa tiba-tiba di pikiranku terlintas kembali apa yang terjadi tadi pagi yang menimpa diriku, semakin saya berusaha melupakannya rasanya ingatan itu semakin menghantuiku, saya tidak bisa membayangkan kalau sampai suami ku mengetahui kalau saya di perkosa oleh ketiga pembantuku sendiri,
"hhmm.. gi mana Fandi sudah negerti belom" kataku sambil mengucek rambutnya yang sedang sibuk menghitung soal yang di berikan suami ku, "ya sudah kalau begitu mama bikinin minuman dulu ya, buat kalian," kataku yang di sambut dgn teriakan mereka berdua,
Baru satu langkah saya keluar dari kamar tiba-tiba pergelangan tanganku terasa sakit saat pak Jaja menarik tanganku,
"bapak apaan sih!?" bentakku dgn suara yang sangat pelan,
"ssstt.. jangan berisik.." kata pak Jaja dgn jari telunjuk di bibirnya, "nanti suami dan anak mu dengar, hhmm.. bapak cuman mau ini Bu," katanya lagi sambil mencubit toket ku, dgn sigap saya mundur ke belakang,
"jangan main-main pak," beberapa kali saya memandang pintu kamarku yang tidak tertutup rapat, tetapi pak Jaja tidak kehabisan akal dia balik mengancamku dgn mengatakan akan membongkar semua rahasiaku ke pada suami ku, sehingga nyaliku menjadi ciut,
"oke, hhmm.. kalau begitu bapak ikut saya" kataku dgn suara yang bergetar, krn sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa, dia terseyum puas melihatku tak berdaya dgn permintaanya,
"maaf Bu, saya inginnya di sini bukan di tempat lain," katanya dgn suara yang cukup jelas, setelah berkata seperti itu pak Jaja langsung memelukku dgn erat sehingga saya sulit bernafas, "hhmm.. bauh tubuh ibu benar-benar menggoda saya," perlahanku rasakan lidahnya menjulur ke leherku
"pak ku mohon, jangan di sini" pintaku ke padanya,
Pak Jaja yang mengerti kekhawatiranku langsung membalik tubuhku menghadap daun pintu kamarku yang sedikit terbuka,
"Ibu bisa bayangkan kalau sampai orang yang sedang di dalam kamar Ibu mengetahui apa yang sedang Ibu lakukan," ancamnya sambil menarik rambutku sehingga saya harus menutup mulutku dgn telapak tanganku agar suara terikanku tidak terdengar oleh suami dan anakku,
"Pak ku mohon jangan di sini," saya cuma bisa menurut saja saat pak Jaja menyuruhku utk menungging dgn tangan yang menyentuh lantai, sedangkan wajahku menghadap ke celah pintu kamarku yang terbuka,
"tahan ya Bu," katanya sambil menyingkap dasterku, sehingga celana dalamku yang berwarna hitam terpampang di depan matanya, dgn sangat kasar pak Jaja meremas kedua buah pantatku yang padat sehingga saya tak tahan utk tidak mendesah,
"aahkk.. pak hhmm.. ja-jangan di sini pak," pak Jaja diam saja tidak mendengar kata-kataku melainkan pak Jaja semakin membuatku terangsang dgn mengelus belahan nonok ku dari belakang,
"kalau kamu tidak mau ketahuan jangan bicara," bentak pak Jaja sambil memukul pantatku
"ta-tapi pak, oohhkk.. saya ga kuat," kataku dgn suara yang sangat pelan, "ku mohon pak mengertilah,"
Pak Jaja seolah-olah tidak mau tahu, kini dgn rakusnya pak Jaja menjilati nonok ku yang masih tertutup celana dalamku, sehingga saya merasa celana dalamku tampak semakin basah oleh air liurnya. Setelah puas menciumi nonok ku pak Jaja memintaku utk membuka celana dalamku sendiri masih dgn posisi menungging. Sangat sulit bagiku utk melepaskan celana dalamku dgn posisi menungging belum lagi saya harus bekonsentrasi agar suaraku tidak keluar dgn keras meskipun pada akhirnya saya berhasil menurunkan celana dalamku sampai ke lutut,
"hhuuu.. mantab..." katanya sambil merabahi nonok ku dari belakang, "kamu mau tahukan gimana rasanya ngentot di depan suami mu sendiri," katanya lagi sambil menunjuk ke arah suami ku yang sedang mengajari anaku Fandi,
"pak, ja-jangan.." saya sangat takut sekali kalau suami ku melihat ke arahku, tiba-tiba saya di kejutkan dgn jari telunjuk pak Jaja yang langsung memasuki nonok ku sehingga saya terpekik cukup keras,
"sayang.. ada apa?" kata suami ku dari dalam, saat mendengar suaraku.
"aahkk.. tidak pa, cuman hhmm.. tadi ada tikus lewat," jawabku asal-asalan agar suami ku tidak curiga ke padaku, tetapi untungnya suami ku tidak melihat ke arahku, dalam ke adaan terjepit seperti ini pak Jaja masih asyik mempermainkan nonok ku dari belakang,
"ada tikus??" katanya lagi seolah-olah tidak percaya, "apa perlu papa yang usir," mendengar tawarannya nafasku teras berhenti tetapi untungnya saya masih banyak akal,
"aahhgg.. ga usah hhmm.. pa.." kataku terputus-putus menahan rasa nikmat yang di berikan pak Jaja kepadaku, untungnya suami ku tidak curiga dgn suaraku,
"asyikan Bu, ngobrol dgn suami sambil di mainin memek nya," saya memandangnya dgn wajah yang memerah krn nafsuku sudah di puncak, "ko’ diam cepat ajak suami Ibu ngobrol," mendengar perkataanya saya langsung melotot ke arahnya, "Ibu mau kalau suami Ibu tau apa yang sekarang Ibu lakuin," mendengar ancamannya saya kembali terdiam,
dgn sangat terpaksa saya kembali mengajak suami ku mengobrol, meskipun di dalam hati saya merasa was-was takut kalau suami ku menyadari suaraku yang berubah menjadi desahan,
"paaa.. ma-mau minum apa?" tanyaku yang kini sedang diperkosa oleh pak Jaja, tanpa kusadari pak Jaja sudah memposisikan kontol nya di depan bibir nonok ku sehingga beberapa kali saya terpanjat saat pak Jaja menghantamkan kontol nya dgn sangat keras ke dalam nonok ku,
"terserah mama saja.. papa sama Fandi ikut aja,"
"iya ma, apa aja asalkan enak," sambung Fandi,
Waktu demi waktu telah berlalu sehingga sampai akhirnya sikapku berubah menjadi sedikit liar dan mulai menyukai cara pak Jaja memperkosaku meskipun pada awalnya hatiku terasa miris sekali di perlakukan seperti ini,
"aahk... pak hhmm.. enak," saya melenggu panjang saat orgasme melandahku, kini perkosaan yang ku alami berganti dgn perselingkuhanku dgn pembantuku,
"ohhk.. memek istri majikan ternyata enak sekali, ahhkk.." katanya yang terus-terusan menggoyang kontol nya di dalam nonok ku,
"pak.. aahhkk.. eehkk.. saya, hhmm.. ingin keluarrr, uuhhkk.." kali ini suaraku terdengar sangat manja
Beberapa menit kemudian kami mengerang bersamaan saat kenikmatan melanda kami berdua, setelah merasa puas saya dan pak Jaja kembali merapikan pakaian kami masing-masing, sebelum pak Jaja pergi meninggalkanku sempat terlihat seyumannya yang tersungging di bibirnya. Setelah membuatkan minuman saya kembali ke kamarku menemui anak dan suami ku, mereka terlihat tanpak senang sekali melihatku hadir dgn membawa minuman dan makanan kecil,
"ini di minum dulu, nanti baru di lanjutin lagi," kataku sambil meletakan cangkir dan piring di atas meja kecil yang di gunakan Fandi utk belajar,
"makasi mama.." kata Fandi yang langsung saja menyambar minuman yang baru ku bikin, entah kenapa setiap kali melihat Fandi hatiku terasa menjadi damai, dan semua masalah seperti terlupakan,
saya merasa sedikit aneh, saat suami ku memandangku dgn tatapan mencurigakan sehingga saya memberanikan diri utk bertanya ke padanya,
"ada pa, ko memandang mama seperti itu" kataku sambil mengupas jeruk utk Fandi yang sedang menulis,
suami ku mendekatkan mulutnya ke telingaku, "hhmm.. sayang ko kamu bau hhmm.. gitulah.." mendengar pertanyaannya jantungku terasa berhenti,

Cerita seks Lobang Bool Istri Diperawanin Banyak Kontol, cerita dewasa ngentot, kisah porno bokep terbaru lobang bool istri dientot rame, perawanin lobang bool istri
Lobang Bool Istri Diperawanin Banyak Kontol

"bau, bau apa pa?" tanyaku utk memastikan apa maksud dari pertanyaan suami ku,
"kamu tadi ko lama ma," kami terdiam beberapa saat, "mama abis dari kamar mandi ya, hhmmm.. papa jadi curiga ni," katanya sambil tertawa memandangku, mendengar perkataanya saya menjadi sedikit lega,
"Iya ni pa, abis kangen si.." kataku manja sambil mencubit kontol suami ku,
Setelah yakin Fandi tertidur pulas, suami ku mengjakku utk melayaninya semalaman suntuk. Tubuhku memang terasa lelah krn seharian harus mengalami orgasme, tetapi di sisi lain saya sangat senang krn suami ku tidak mencurigai saya krn bau tubuhku seperti bau orang yang habis bercinta.
Hampir tiap hari saya merengkuh kenikmatan bersama para pembantuku, kenikmatan yangh tidak saya dapatkan dari suami ku yang membuat saya semakin liar.
Lobang Bool Istri Diperawanin Banyak Kontol
Lobang Bool Istri Diperawanin Banyak Kontol, cerita sex , Cerita seks Lobang Bool Istri Diperawanin Banyak Kontol, cerita dewasa ngentot, kisah porno bokep terbaru lobang bool istri dientot rame, perawanin lobang bool istri, bacaan porno, kisah seks, cerita bokep cerita dewasa, Lobang Bool Istri Diperawanin Banyak Kontol


Aktifkan javascript tekan (F5), untuk membuka halaman
klik link cerita
serta membuka gambar lebih besar.
Cerita seks dewasa update setiap hari.
http://foto-video-cerita-dewasa.blogspot.com/