Ngintip Nonok Tante Eksibisionis

Ngintip Nonok Tante Eksibisionis | Kuparkir mobil di area pelataran parkir tempat peristirahtan itu, mencari tempat yaang teduh yaang aman dan nyaman, menyandarkan kepala sejenak ke sandaran jok. yangg terpikirkan padaku saat ini adalah kembali ke bungalow, mgkin disana kita dapat menenangkan pikiran sejenak.

Kulirik Tante Mawwar, terlihat terpekur menunduk dngn mata terpejam, aku menyadari bahwa sebenarnya ia tidak tidur, tapi mgkin kalut dngn pikiran-pikiran di otaknya. Aku membuka pintu mobil, keluar, kembali menutupnya perlahan, kemudian melangkah, mengitari bagian depan mobil, menuju pintu kanan mobil, membuka dngn perlahan, menggamit lengan Tante Mawwar seraya mengajaknya turun.

Tante Mawwar dngn muka lesu, mengikuti ajakanku. Aku membimbingnya berjalan keluar areal parkiran dan menuju bungalow tempat kita menginap. Berjalan melangkah pelan, terdiam seribu bahasa, tidak ada kata-kata yaang keluar dari mulut kami, menyusuri jalan berbatu yaang terlihat masih panas akibat sengatan matahari, menunduk, memikirkan apa yaang terjadi dan apa yaang hrs kita lakukan.

Tante Melatti dan Om Hank, aku sama sekali tidak menyangka bahwa mereka terlibat cinta terlarang. Ada perasaan kesal, sedih, sesak campur aduk di hatiku, aku yaang sangat menghormati dan menyayangi Tante Melatti, yaang hrs kulindungi dikala Om Jona pergi, ternyata membuat perselingkuhan dngn Om Hank, teman bisnisnya.

Namun disisi lain ada rasa cemburu dihatiku, kenapa hrs dngn Om Hank ? , kalau mmg hnya sekedar kebutuhan seks, kebutuhan akan birahi yaang terpendam, kenapa hrs dngn ia ? kenapa tidak dngn Aku ? aku mgkin jg sanggup utk memuaskannya !.

Mmg Om Jona, dngn segala aktifitasnya yaang selalu keluar kota, mgkin ini menyebabkan akan tuntutan hasrat birahi Tante Melatti kurang terpenuhi, yaang jelas aku sangat menyayangkannya. Kupapah Tante Mawwar, membuka pintu bungalow yaang terkunci, membiarkannya melangkah.

Aku menutup pintu kamar bungalow itu, ikut masuk kedalam dan menutupnya kembali. Kulihat Tante Mawwar melangkah pelan, duduk dipinggiran ranjang, menunduk, terdiam. Aku hnya memperhatikannya, tak ada kata-kata yaang keluar dari mulutku, baik utk membuka percakapan ataupun berkata-kata utk menenangkannya.

Tak lama kemudian, ia bangkit berdiri, penuh tanda tanya aku memandangnya, dia seolah tak menyadari bahwa ada aku didalam kamar tersebut. Aku terperangah dibuatnya, ngeliat apa yaang dilakukan oleh Tante Mawwar.

Kulihat Tante Mawwar perlahan membuka bajunya, membuka kaos ketat coklatnya, disusul kemudian dngn rok mini ketatnya, berikut celana dalamnya. Aku semakin terperanjat. Kulihat ia berjalan melenggok, membelakangiku, menuju lemari pendingin yaang ada di dekatnya, membungkuk mengambil minuman didalamnya.

Kuperhatikan dari botol minuman tersebut, itu adalah jenis minuman beralkohol kadar tinggi, meneguknya beberapa kali, seakan-akan haus mendera, cukup utk membuatnya mabuk, dan semua itu dilakukan didepanku tanpa busana.

Aku hnya terpaku ngeliat keadaannya, ada rasa iba, kasihan, tetapi aku tak tahu apa yaang hrs kulakukan, kulihat dia meneguk minuman dallam botol itu beberapa kali lagi, kemudian meletakkannya diatas meja kecil disamping tempat tidur, dngn muka terlihat kusut dan pandangan kosong, seakan tak peduli aku ada disitu ngeliat nya, memandanginya, memperhatikan segala tingkah lakunya, dan seakan memancing birahiku utk bangkit.

Menghampiri pembaringan, Tante Mawwar mengangkat kakinya, menjejakkan lututnya merangkak ke atas tempat tidur, makin terpana aku dibuatnya. Paha putih, mulus, panjang, bulat, mantap membelakangiku, seolah ingin memberi tahukan kepadaku bahwa ia mempunyai sesuatu yaang sangat indah, menyesallah orang yaang mengabaikannya.

Menyesallah Om Hank dngn apa yaang sudah dimilikinya tetapi tidak dimanfaatkannya. Tenggorokanku serasa tercekat, lidahku serasa kering, tak mampu mengeluarkan suara apapun, pandanganku semakin gelap dan nanar, ngeliat pemandangan yaang disuguhkan kepadaku, otakku semakin butek, ngeres, sementara sang iblis berbisik-bisik ditelingaku utk memanfaatkan kesempatan, seolah memberikan persetujuan dan pembenaran kepadaku utk melakukan sesuatu.

Aku bergerak bangun, kuhampiri tempat tidur dimana badan Tante Mawwar rebahan, Tante Mawwar ngeliat ku sekilas, memandangku dngn pandangan kosong, menatapku seakan memintaku utk mengerti apa yaang sedang terjadi padanya, mengetahui apa yaang berada dallam pikirannya.

Aku menghampiri meja kecil disamping tempat tidur itu, mengambil sisa minuman yaang tadi diminumnya, meneguknya beberapa kali hingga tandas tak tersisa. Aku duduk disisi tempat tidur, didekat kakinya, memandangnya yaang tidur tertelungkup, memperhatikan setiap lekuk tubuhnya.

Kuperhatikan matanya menerawang entah kemana, seakan tak sadar akan keadaan dirinya. Terdiam, tak peduli aku duduk didekatnya. Entah apa yaang ada di dallam pikirannya, kuperhatikan wajahnya, lesu, sendu, seperti hendak menangis, kemudian tersenyum sesaat, meringis, seolah akan berteriak tetapi tak terlaksana.

Tiba-tiba seakan terkaget, dia membalikkan badannya, telentang, menghadap keatas. Matanya kini memandangku dngn sayu, ngeliat kearah mataku dngn sorot matanya yaang memelas. Aku terpana menatapnya, ingin sekali aku memeluknya tetapi aku tidak mempunyai keberanian, aku hnya berani menatapnya, memandangnya saja.

Tante Mawwar mengangkat kedua tangannya, mengarahkannya ke kedua toket nya, memegangnya. Aku hnya berani menatapnya, kulihat dia meraba-raba kedua toket yaang montok, besar, putih dan kencang itu, meremas-remasnya sendiri, meraba kedua putingnya.

Aku hnya terpaku menatapnya. Tak lama kemudian Tante Mawwar mengangkat badannya, beringsut seakan menghampiri diriku, memindahkan posisi badannya, kini kepala ia berada di dekatku. Tersenyum menatapku, seakan ingin mengajakku berbicara, tetapi tidak ada kata-kata yaang keluar dari mulutnya.

Dia hnya menatapku tajam, menghampiri diriku yaang terpaku didekatnya. Didekatinya diriku, mendudukkan dirinya, dirangkulnya bahuku, mendekatkan wajahnya ke wajahku. Kurasakan hawa napas memburu di wajahku, hembusan napas tak teratur keluar dari hidung Tante Mawwar, semakin dekat dan semakin panas.

Entah aku hrs bertindak apa, aku hnya diam terpaku, malah kini kurasakan bibirnya menyentuh bibirku, menempel dan mengecup perlahan. Aku membuka mulutku ketika kurasakan ada dorongan lidah keluar dari mulutnya, kumiringkan wajahku dan tanpa aku sadari aku membalas ciumannya.

Kita berciuman lama sekali, tanganku tanpa kusadari ikut bermain, memeluk punggungnya, mengarahkan kebelakang kepalanya, agar lebih menekannya utk memberikan tekanan agar lebih merapat ke kepalaku. Entah dari mana datangnya keberanian aku memegang bahunya, mendorongnya kebelakang, jatuh terlentang, menjauh dariku.

Namun itu bukanlah penolakan dariku, aku kini malah menindihnya, memeluknya dngn kencang dan kembali menciumi bibirnya. Tante Mawwar terlihat terengah-engah, matanya kulihat semakin sayu. Aku memindahkan ciumanku dari bibirnya, kini kuarahkan kearah lehernya, menciuminya beberapa saat, dan kini aku memindahkan sasaran ciuman ketempat yaang aku suka.

Aku menciumi kedua toket nya, perlahan berputar mengelilingi putingnya, dan kemudian mengecup kedua putingnya. terlihat wajah Tante Mawwar makin tidak karuan, desahan-desahan halus terdengar, mengingatkanku akan desahan-desahan yaang kudengar tadi di tempat kerja Om Hank, desahan Tante Melatti.

Aku semakin meradang, kumainkan lidahku di ujung puting kanannya, sementara kedua tanganku meremas-remasnya, mengecupnya lg dan kemudian kuhisap perlahan, perlahan, dan kesentakkan utk menghisapnya secara keras. Terdengar lenguhan dari mulut Tante Mawwar, sepertinya dia menikmati permainanku.

Dan aku sepertinya ingin memberinya kenikmatan yaang diinginkan, seolah ada rasa dendam dari diriku, ingin membalas perbuatan Om Hank terhadap Tante Melatti, dngn ngentotin istrinya. Kuhentikan sasaranku pada toket nya, kini kuarahkan ciuman bertubi-tubi ke arah bawah dadanya, keperutnya, terus kebawahnya.

Menuju gundukan yaang menonjol diatas selangkangannya, ditumbuhi bulu-bulu halus yaang cukup lebat. Aku merabanya, merasakan tonjolan daging tersebut, menciuminya perlahan, kuangkat kepalaku sebentar utk ngeliat ekspresinya, kulihat dia mengengadahkan kepalanya memegang salah satu kepalanya dngn tangannya, seakan sangat menikmatinya.

Terlihat nya Tante Mawwar semakin terlena, sekarang kuciumi bagian dallam pahanya, menelusurinya dngn lidahku, menjilatinya. Bunyi napas tak teratur diiringi dngn suara lenguhan dan desahan-desahan semakin keras kudengar, dan semakin membangkitkan gairahku, kontol ku semakin keras dan tegang.

Kurasakan gelinjang tubuh Tante Mawwar, menggeliat-geliatkan kepalanya ketika lidahku menyentuh bagian dallam selangkangannya. Kurasakan ada cairan membasahinya, kuraba dngn jari-jariku, meraba-raba dan mengucek-uceknya perlahan, dan sedikit-sedikit kumainkan jariku disana.

"ahh. " kudengar suara desahan semakin jelas, tak ada rasa sungkan lg utk merasakan kenikmatan, tiba-tiba dia bangkit dari posisinya yaang rebahan, mengangkat kepalnya dan mendorongku agar jatuh terlentang, aku kaget dan khawatir, sepertinya dia hendak menghentikan semua ini.

Namun kekhawatiranku tidak terbukti, kutatap wajahnya, dia menatapku balik, tak perduli, merangkak melewati kakiku, mendudukkan pantatnya di atas selangkanganku. Tanpa berkata apa-apa, dia mengangkat pantatnya dallam posisi jongkok, memegang kontol ku yaang sudah tegang dan mengeras sejak tadi.

Rupanya Tante Mawwar udh tidak sabar, ingin segera mamasukkan kontol ku kedalam nonok nya. Pelan tapi pasti, dia mengarahkan kontol ku kedalam nonok nya, aku hnya menatapnya, menunggunya. Meleset sekali, dua kali, dan tak lama kurasakan kontol ku seperti memasuki ruang yaang sempit, perat mencengkeram dan basah licin, hangat.

Dan tak lama kemudian kulihat tante Mawwar mengangkat dan menurunkan pantatnya berulang-ulang, semakin kurasakan kenikmatan penuh sensasi ini. Tante Mawwar terus dan terus menaik-turunkan pantatnya, berulang-ulang, sesekali ia tidak mengangkatnya tetapi memutar dan menggoyang-goyangkannya diatasku, kemudian diangkatnya lagi, terus dan terus.

Kutatap keatas terlihat wajahnya menengadah, seakan-akan sangat menikmati sensasi seks nya, toket nya yaang putih dan ranum dngn putingnya yaang mengeras, coklat kemerah-merahan, memancingku utk memegang dan meremas-remasnya, agar kenikmatan yaang aku dan ia alami dapat lebih puas.

Beberapa menit berlalu, terlihat Tante Mawwar menjerit kecil, sepertinya ia udh mencapai orgasmenya, menjatuhkan badannya diatas dadaku, memelukku dan menciumiku sambill mengeluarkan suara desahan yaang sulit keterjemahkan. Aku terdiam sambill membalas pelukannya, aku belum merasa puas, belum merasakan klimaks dari persetubuhan ini, dan aku ingin mendapatkan lebih.

Kebalikkan tubuh tante Mawwar disisiku, kini berbalik aku berada diatasnya, Tante Mawwar sepertinya berusaha mencegahku, mgkin merasa bahwa dia belum siap stlah orgasmenya tadi, tetapi aku tak perduli, segera aja kuarahkan moncong kejantananku ke lobang nonok nya.

Menerobosnya, selagi lubang itu masih dallam keadaan licin, kurasakan kontol ku lebih hangat dari sebelumnya, mendorongnya perlahan hingga kepangkalnya. Pelan-pelan kudorong, dngn menaikkan dan menurunkan pantatku, sehingga kontol ku otomatis keluar masuk, bergesek-gesek dngn nonok nya, semakin lama semakin cepat.

Terlihat nya Tante Mawwar mulai kembali lg merasakan kenikmatan, kini desahan-desahan dan lenguhan-lenguhan mulai menghiasi lg suara-suara yaang keluar dari mulutnya, dengus napas tak teratur mulai terasa lagi, aku makin ganas, mengocok-ngocokan kontol ku didalam nonok nya.

Membuatnya semakin terlena. Aku menaik-turunkan pantatku, mengocok-ngocokkan kontol ku didalam nonok nya, cepat dan semakin cepat. Menindih badannya dngn badanku, memeluknya erat, diselingi ciuman-ciuman ganas disekujur tubuhnya, dibibirnya, dilehernya, didadanya.

Kadang aku menyentuh, meraba toket nya, meremas-remasnya, memainkan putingnya. Memelintirkannya dngn mulutku, dan kadang menggigit pelan keduanya, bergantian, dan itu jelas semakin membuatnya kalang kabut tak karuan. Menggelinjang-gelinjangkan badannya, menggeleng-gelangkan kepalanya kanan kiri.

Entah ide dari mana, ketika sedang asyiknya memaju mundurkan kontol ku, tiba-tiba aku menghentikan kegiatanku tersebut. Tante Mawwar memberikan reaksi dngn menjerit perlahan, seolah memprotes akan apa yaang aku lakukan.

Aku meringis ngeliat reaksinya, dia seolah memohon agar aku melanjutkan apa yaang sudah aku lakukan, menggenjotnya kembali. Aku mengiyakannya, tetapi aku memintanya utk membalikkan badannya, menyuruhnya utk menungging, mengangkat pantatnya membelakangiku dan aku akan mengarahkan kontol ku dari belakang, ke lobang nonok nya.

Dia menurutiku, membalikkan badannya, menungging, diam aku sesaat, memandang pantat bulat, montok, munjung ini dihadapanku, pantat indah yaang semula hnya menggodaku, dan aku hnya bisa memandangnya saja, kini sudah tersuguh dihadanku, malah menyuruhku utk merasakannya, menikmatinya.

Aku mengarahkan kontol ku tanpa menunggu lama, memasukkan kedalam nonok nya dngn segera, perlahan kudorong dan memasukkannya sekaligus. Tante Mawwar menjerit tertahan, mgkin kaget merasakan sentakan dari kontol ku, aku tersenyum kemudian menariknya perlahan, terlihat Tante Mawwar terpejam menikmati gerakanku.

Aku memeluknya dari belakang, seakan aku ingin menikmati sekujur badanya tanpa ada yaang terlewatkan. Aku memaju-mundurkan pantatku, agar kontol ku ngentot lobang nonok nya bergesekan keluar masuk. Memeluk sambill menciumi punggungnya, memegang toket nya dari belakang, meremas-remasnya dngn kasar, dan tidak ada penolakan apalagi perlawanan dari Tante Mawwar.

Kadang tanganku menarik rambut panjangnya yaang tergerai, berusaha memalingkan mukanya agar menghadap diriku, menyorongkan bibirku agar Tante Mawwar merasakannya, menciumi bibirku, mengadu lidah dengannya. Tante Mawwar seakan mengerti keinginanku, ia jg sepertinya ingin mendapatkan sensasi lebih, yaang mgkin sering didapatnya dari suaminya tetapi tidak dapat memuaskannya.

Entah berapa lama kita melakukan itu, kuakui mmg bila dilakukan dari belakang, rasa cengkeraman lobang nonok terhadap kontol ku semakin keras, seperti berat utk dimaju mundurkan, tetapi biar bagaimanapun ini hrs cepat dilakukan, aku takut bila sewaktu-waktu, pada saat aku belum mencapai titik puncak kenikmatan, Tante Melatti dan Om Hank datang, entah apa jadinya.

Aku mempercepat goyanganku, cepat, dan semakin cepat, tante Mawwar mgkin tahu akan keinginanku, kulihat ia jg udh mendesah-desah tak karuan, seakan sedang menjelang orgasmenya lagi, dia semakin ganas, menggoyang-goyangkan pantatnya kekiri dan kekanan, agar cengkeraman terhadap dedeku mgkin menjadi-jadi, aku kadang menepuk-nepuk dan meremas-remas pantat besar dngn pinggang kecil ini, menciumi punggungnya lagi.

Aku kembali menarik kepala Tante Mawwar, merengkuhnya agar aku dapat menciuminya lagi, mgkin kalau ada yaang menyaksikan, aku sepertinya sedang menyiksa cewek ini. Tersenyum aku membayangkannya, sementara peluh udh bercucuran membasahi tubuh kita berdua.

Aku terus menggenjotnya. terus. dan terus. Hinga beberapa waktu kemudian kurasakan denyutan diujung kontol ku, lava panas siap memancar, memuncratkan seluruh isinya, sementara Tante Mawwar jg sepertinya akan mengalami hal yaang sama.

Namun kemudian kulihat Tante Mawwar lebih dulu sampai pada puncak orgasmenya, ia kulihat menengadahkan kepalanya, menjerit tertahan dan kemudian menundukkan kepalanya. Aku takut ia akan segera menarik pantatnya dari tusukan kontol ku, aku memegang pinggangnya, seperti menyuruhnya unuk bersabar sesaat, memaju mundurkannya dngn cepat, cepat dan makin cepat.

Tante Mawwar memahamiku dia membiarkan pantatnya, menggoyang-goyangkannya, menunggu aku mencapai klimaksku. Beberapa menit kemudian, kurasakan sesuatu akan melesak keluar dari lobang kontol ku, kutarik cepat, menghindari agar muatannya tak tertumpah didalam.

Cerita Sex Ngintip Nonok Tante Eksibisionis

Kupegang erat kukocok-kocokan sebentar, kemudian kumuntahkan cairan putih kehijau-hijauan kental, ke pantat nya. Sesaat aku memandang cairan yaang menempel dipantatnya, selanjutnya kurebahkan badanku, meraih tubuh Tante Mawwar agar ikut rebah disampingku.

Tante Mawwar menempatkan kepalanya di dadaku, tersenyum kepadaku, mencium pipiku, seakan berterima kasih kepadaku krn sudah memberikan kenikmatan kepadanya serta membalaskan perbuatan om Hank. Aku memandang wajahnya, membalas senyumannya, membayangkan bahwa baru kali ini aku mendapat kepuasan dari seorang cewek paruh baya, yaang sangat cantik, dngn tubuh yaang sangat menggiurkan bagi setiap laki-laki, yaang mgkin hnya orang-orang kaya aja yaang layak mendapatkan tubuh seperti ini.

Namun hari ini, seorang cewek paruh baya, yaang sangat cantik, bersuamikan seorang pelaku bisnis yaang bonafid, menyerahkan tubuhnya kepadaku, seorang pria yaang jauh dari tampan, dan boro-boro mapan. Terdiam dan melamun aku utk sesaat, tiba-tiba kusadari bahwa apabila sekonyong-konyong Tante Melatti dan Om Hank kembali dari perginya dan ngeliat keadaan kita berdua seperti ini, mgkin akan fatal dan menambah masalah semakin runyam.

Aku menggeserkan badanku dari badan Tante Mawwar, seolah meminta ijin kepadanya bahwa aku akan meninggalkannya, dan Tante Mawwar sepertinya mengerti, membiarkanku turun dari ranjang. Aku mengambil bajuku yaang berceceran di tempat tidur itu, mengenakannya, memandang sekilas ke arah kaca, memastikan diri udh rapi dan berjalan kearah pintu.

Membuka pintu tersebut dan sekali lg memandang wajah Tante Mawwar, ngeliat nya tersenyum kepadaku, menutup pintunya dan berjalan kearah bungalowku. Didalam kamar aku merenung membayangkan kejadian-kejadian tadi, masih terbayang jelas diwajahku, urutan-urutan kejadian dari semenjak kita datang hingga saat ini.

Entahlah, pikiranku sepertinya kosong, aku berusaha memejamkan mataku, memaksakannya supaya hilang dari bayangan-bayangan tersebut. Kulihat dari celah-celah gorden, hari sudah menjelang senja. Akhirnya kuputuskan utk mandi, membersihkan sisa-sisa yaang menempel ditubuhku, menyegarkan badan.

Beberapa menit aku berendam didalam bathtub, kadang aku melamun, memikirkan sesuatu, tetapi entah apa, kosong. Aku melanjutkan mandiku, menggosok-gosokan badan, dngn sabun dan shampoo yaang sudah disediakan oleh tempat itu, memastikan bahwa dibadanku tidak ada bekas-bekas pertempuran tadi.

Cukup lama jg aku melakukan ritual ini. Selesai mandi, dngn hnya menggunakan celana pendek, yaang mmg sudah biasa aku lakukan sejak dulu, jarang aku menggunakan handuk melilit ditubuhku bila selesai mandi, lebih nyaman bila aku memakai pakaianku sejak dari dallam kamar mandi.

Aku keluar kamar mandi, terkejut aku sesaat, krn saat itu disofa sudah duduk seorang cewek cantik, sangat cantik, dngn baju terusan warna hitam, seolah sengaja menungguku selesai mandi. Aku mmg tadi tidak sengaja atau mmg terlupa utk mengunci pintu kamar bungalow ini, mgkin aku tidak mendengar ada ketukan ataupun panggilan dari luar, aku ngeliat kepadanya berusaha tersenyum agar tidak kelihatan kaget, tetapi tidak ada balsan senyuman diwajahnya, hnya memandangku, menunggu aku bertanya dan mengucapkan kata-kata.

"Loh Tan, udh pulang ? , kirain siapa "kataku sambill tersenyum kepadanya, tetapi tidak ada balasan senyuman yaang kudapat darinya, dia hnya ngeliat ku dngn pandangan biasa saja, kemudian dari mulutnya keluar kata-kata "Fan, kami pulang sekarang, kamu siap-siap, sekarang jg kami pulang".

Aku terdiam sambill memandangnya, ada pertanyaan yaang akan aku tanyakan kepadanya, tetapi sulit sekali aku mengucapkannya, krn kulihat wajah Tante Melatti sepertinya tanpa ekspresi dan terlihat nya ingin aku menurutinya tanpa banyakk bertanya.

Aku bergegas merapikan bajuku, membereskan dandananku, tanpa banyakk cakap, memeriksa seisi kamar takut-takut ada yaang tertinggal atau terlewatkan. sesudah memastikan semua beres, aku membantu membawa tas kecil Tante Melatti, mengatakan padanya bahwa semuanya sudah siap, dan berjalan mengikutinya keluar.

Kuperhatikan Tante Melatti, cewek cantik yaang kukagumi, terlihat bergegas melangkah. dngn dandanan baju hitamnya yaang seksi, dngn baju terusan yaang berbelahan rendah, aku hnya meliriknya sekilas sambill menelan ludah.

Sambill melangkahkan kakiku, menuju areal pelataran parkir, banyakk pertanyaan menghiasi otakku. Didalam mobil yaang kukendarai, ia jg tidak banyakk cakap, hnya sesekali bergumam, memastikan apakah mobil dallam keadaan laik jalan, udh cek air, oli atau bensin cukup utk digunakan sampai tujuan, dan aku hnya menjawabnya jg ala kadarnya.

Ada apa dngn Tante Melatti, dia keliatan tidak seperti biasanya, tidak ceria dan banyakk tersenyum seperti Tante Melatti yaang kukenal selama ini. Apakah sebenarnya yaang terjadi ? apakah ia saat ini sedang berada dallam posisi yaang tidak mengenakkannya ? apa yaang sudah terjadi saat aku mandi ? ataukah apa yaang terjadi saat Tante Melatti dan Om Hank dallam perjalanan pulang dari kantor Om Hank ? Apakah Tante Mawwar melabrak Om Hank kemudian berimbas kepada Tante Melatti ? Apakah Tante Melatti mengetahui bahwa kami, aku dan Tante Mawwar sudah memergokinya berselingkuh dngn Om Hank ? Lalu mengapa Tante Mawwar tidak ikut kembali dngn kita ? ada apa dengannya ? masih banyakk pertanyaan-pertanyaan yaang mengganggu dipikiranku, tetapi tak ada keberanian dari diriku utk bertanya kepadanya.

Kulirik jam ditanganku, jam setengah delapan kurang, kalau perjalanan dari sini menuju kerumah sekitar 3, 5 jam berarti kita akan tiba di rumah sekitar setengah sebelas, sedangkan perutku belum diisi sejak siang tadi, duh.

Bisa-bisa cacing didalam perutku ngamuk, krn belum mendapat upeti. Tante Melatti seperti mengerti akan pikiranku, ia ngeliat aku melirik jam dan akhirnya mengajakku utk nanti mampir di salah satu rumah makan bila kita melewatinya.

Sejam perjalanan yaang kita lewati dngn keheningan, dimalam ini lalu lintas cukup ramai, mgkin krn bertepatan dngn weekend, sehingga banyakk lalu lalang kendaraan dijalan yaang kita lalui. Jarak dari tempat kita tadi mmg cukup jauh, melewati perkebunan, sawah dan beberapa kota kecil, akhirnya ketika kita melewati sebuah kota yaang cukup ramai, kita memutuskan utk mencari rumah makan yaang dirasa menurut kita cukup enak, aman dan nyaman.

Akhirya kita memutuskan utk berhenti disebuah restoran yaang kelihatan cukup mewah, krn menurut Tante Melatti, tempat itu adalah tempat biasa dia makan, bila melewati kota ini. mmg kulihat tempat itu cukup bagus, banyakk mobil-mobil mewah terparkir disana, dan kulihat disebelahnya jg terdapat hotel yaang cukup bagus, mgkin kelas melati, tetapi cukup asri dan mewah utk sekelas penginapan di kota kecil seperti ini.

Kita makan di restoran itu tanpa banyakk berbicara, sampai saat ini aku tidak berani utk menanyakan apa yaang terjadi terhadapnya, aku hnya dapat mengira-ngira saja. Ada sedikit sesal dihatiku, mengapa Tante Melatti berselingkuh dngn Om Hank, aku sangat menyayangkannya, aku selalu memperhatikan gerak-geriknya yaang salah tingkah, ia sepertinya saat ini agak sungkan kepadaku.

Didalam hatiku ada kecurigaan, sepertinya Tante Melatti mengetahui bahwa aku memergokinya saat tadi Aku dan Tante Mawwar berkunjung ke Kantor Om Hank, mgkin Tante Mawwar marah besar terhadap keduanya, sehingga Tante Melatti berusaha menghindari keduanya dngn mengajakku pulang cepat.

Aku tersenyum getir, untungnya Tante Mawwar sudah memuaskanku, memuaskan birahiku, sehingga setidaknya Om Hank sudah membayar apa yaang sudah dilakukannya terhadap Tanteku sudah dibayar oleh istrinya. Dasar aku mmg sial, jarang pergi sama wanita cakep, sekalinya pergi dngn cewek cantik sexy didepanku ini malah membuat aku grogi.

Restoran yaang kita datangi ini adalah restoran continental dngn berbagai macam menu masakan luar negeri. Kulihat sekeliling sepertinya eksekutif-eksekutif yaang berpakaian necis, ganteng, dngn jas, dasi, sepatu mengkilap sedang makan malam disini, belum lg kulihat, beberapa meja dipenuhi dngn keluarga-keluarga kaya yaang turut bersantap.

Sepertinya hnya aku sajja yaang berani tampil beda, berani malu beda dari yaang lainnya, hnya kemeja lengan pendek, dngn celana jeans belel, belum lg muka yaang lecek beminyak, yaang membuat orang yakin, percaya dan berani taruhan gede2an kalo aku berpenghasilan gak lebih dari umr.

Dan yaang membuatku grogi adalah sepertinya semua mata memandang kami, Tante Melatti yaang berpenampilan cantik, sexy dngn berbelahan dada rendah, dngn buah dada besar membuat mata mereka sepertinya sebentar-sebentar kembali melirik kami, jelas ini membuat aku semakin kikuk, jangaan - jangaan membuat mereka berpikir kalo aku ini adalah pembantunya, kuya.

Ngeliat menu restoran semakin membuat aku puyeng, makanan dngn bahasa yaang tidak banyakk kumengerti semakin membuat aku bingung dallam memilih. Masa aku mau memilih gado-gado atawa karedok ? ada sih mmg , tapi bukannya itu nanti malah membuat mereka berpikir kalo aku biasa makan di emperor resto ? emperan trotoar !.

Gak la yau. Akhirnya stlah da. de. do. aku dngn tegas menunjuk menu makanan jepang shashimi, dngn harapan itu adalah makanan lezat khas jepang seperti di restorant cepat saji yaang biasa aku lihat dibrosur2 yaang disodori oleh spg cantik di depan mall-mall, yaang biasanya aku comot walaupun mereka tidak menyodorkan ke aku, (mungkin mereka menilai dari penampilanku yaang dallam pikiran mereka aku gak bakal mampir, gak kuat bayar, padahal sih iya, lah wong aku cuma ngarep di brosur itu mereka naruh nama dan no telp yaang bisa aku kerjain, kali sajja nyangkut.

Heheheh. ! ). Ada rasa kaget bercampur haru, kaget dan terperanjat ketika ternyata yaang aku pesan adalah makanan ikan mentah diiris-iris dngn dimasukkan ke bumbu cair yaang bau dan rasanya seperti air cuka tumpah dicomberan, dan terharu buat orang yaang ngeliat aku salah mesen.

Hiks. Terpaksa deh itu makanan aku makan juga, walau diselingi oleh coca-cola. Sehingga nanti kalo orang tanya bagaimana rasa shasimi aku akan cepat menjawabnya dngn jawaban "ikan mentah rasa coca cola" Hiks.

Kurang dari sejam kita selesai makan, tante Melatti memberi isyarat padaku agar segera pergi utk melanjutkan perjalanan stlah selesai membayar. Aku mengikutinya melangkah, tetapi aku agak kaget kupikir ia akan menuju mobil utk kita segera melanjutkan perjalanan menuju pulang, tetapi ia malah melangkah kedalam gedung hotel disebelah, ia memberi isyarat kepadaku utk mengikutinya.

Aku hnya memandangnya dan tanpa banyakk bertanya aku bergerak mengikutinya. "Fan, Tante agak pening nih, mgkin lebih baik kami menginap disini, besok sajja kami melanjutkan perjalanan, kalo dipaksakan tante bisa sakit nih", katanya kepadaku seolah ingin meyakinkanku.

Aku hnya mengiyakannya, dan seakan bahwa ini tidak masalah buatku. sesudah cekin dilobby, aku mengikutinya masuk kamar, jam menunjukkan kurang dari pukul 9 malam. Entah krn aku jg capek, letih atau apa, menyimpan tas yaang kuambil tadi sebelum dimobil kita masuk, melemparkannya dan merebahkan diriku di ranjang, duh, pegel bener.

Mengingat kejadian hari ini mmg cukup membuatku letih, ada tambahan tenaga stlah makan tadi, tetapi aktivitas hari ini cukup membuatku menguras tenaga, kulihat tante Melatti, merebahkan dirinya di bangku yaang tersedia dallam kamar, menyandarkan kepalanya sambill memejamkan mata.

Beberapa saat kita terdiam, aku melangkah bangun menyalakan televisi yaang berada didalam kamar, menggunakan remote yaang tersedia utk mencari siaran yaang kurasa enak ditonton dan kembali bermaksud merebahkan diri kembali di ranjang, tetapi langkahku terhenti, kulirik Tante Melatti, dan berkata "Tan, Tante sakit ? tiduran sajja dulu di ranjang, istirahat "kataku, sambill melangkah mendekatinya.

Tante Melatti membuka matanya sambill tetap memegangi keningnya, "Iya deh Fan, tante Melatti istirahat dulu" katanya sambill bangun dan beranjak mendekati sisi tempat tidur. Aku ngeliat nya, kita berganti posisi, kulihat ia membaringkan tubuhnya di ranjang, menggunakan bantal dikepalanya dan berusaha memejamkan mata, aku hnya terdiam ngeliat nya, entah apa yaang hrs kulakukan, tetapi sepertinya aku dapat menduga apa yaang terjadi padanya, mengalihkan pandangan darinya dan berusaha fokus pada televisi yaang aku tonton.


Cerita seks Ngintip Nonok Tante Eksibisionis
  • Beberapa lama kita terdiam seperti ini, aku seperti membayangkan kejadian tadi siang, persis seperti yaang dialami tante Mawwar. Membuat perutku seperti mendesir, mengingat kejadian tadi siang dimana aku dan Tante Mawwar melakukan persetubuhan, kembali aku melirik Tante Melatti, membayangkannya bersetubuh denganku, dan ini membuat dedeku semakin tegang.
  • Berusaha menepiskan segala pikiran dari benakku, kembali memusatkan pikiran ke arah televisi, kulihat tante Melatti, bangun dari ranjang, dan memandangku sambill berkata, "Fan, tante mo mandi dulu ah, mgkin nanti bisa lebih segar", katanya.
  • Aku memandangnya dan menganggukkan kepala seolah tak peduli tetapi seakan memberi persetujuan, tetapi aku tetap memandang televisi di kamar itu. Kulihat ia mengambil sesuatu dari tasnya, mengeluarkan beberapa barang, menaruhnya dekat kaca yaang berada disisinya dan kemudian kulihat ia melangkah ke arah pintu kamar mandi, sambill membawa sesuatu seperti pakaian, memasuki kamar mandi, dan menutup pintunya.
  • Duh, padahal aku mengharapkan kalo ia mandi dngn pintu terbuka seperti Tante Mawwar. Beberapa lama aku menunggunya mandi, sambill menonton televisi. ia keluar kamar mandi dngn muka terlihat segar melangkah keluar, mengenakan penutup pakaian seperti kimono, warna putih, dan yaang mebuatku deg-degan adalah, ia mengenakan baju tersebut seperti tidak dikancing atau diikat pinggangnya dan jelas membuat toket nya seperti hendak mencuat keluar.
  • Berjalan melangkah ke arah meja berkaca disebelah ranjang tempat tidur, mematut-matutkan diri sejenak. Kulihat ia seperti mengambil sesuatu dari pinggiran meja tersebut, seperti strip obat, mengambil beberapa kemudian memasukkan ke dallam mulutnya dan meneguknya dngn air yaang sudah tersedia disisi lain meja itu.
  • Aku memperhatikan dan Kemudian seperti tidak perduli ada diriku didekatnya, tanpa kuduga sama sekali, ia memelorotkan baju putih tersebut, membelakangi diriku. namun hal itu malah membuatku terbengong-bengong. mmg aku sering ngeliat dan memperhatikan Tante Melatti dallam keadaan polos tanpa busana, tetapi biasanya hal itu tanpa ia sadar bahwa aku ada didekatnya dan atau bila aku mengintipnya, tapi kalau ini jelas ia tahu aku ada disitu dan jelas-jelas ngeliat nya dari pantulan kaca didepannya.
  • Entah, jelas hal ini membuat aku terkesima, memandangnya terus seperti itu mgkin akan membuat aku gelap mata, berpikiran seolah-olah tante Melatti memancing aku, merayu aku utk menyetubuhinya, aku berusaha memalingkan pandanganku darinya, berusaha menepis bayang-bayang kotor yaang kian menguasai pikiranku.
  • Rambutnya yaang agak ikal panjang, disisir kebelakang, kemudian dngn menggunakan cairan yaang ada didekatnya, mengusapnya ketelapak tangan, membasuhnya di rambut kepalanya, selanjutnya menyisir kembali kebelakang, sesekali kedua tangannya diangkat kearah kepala, memegang kedua rambutnya, dan hal ini jelas membuat kedua toket nya seperti ditonjolkan keluar, seakan menyuruh aku utk ngeliat , memegang dan meminta aku utk memuji-mujinya betapa indahnya kedua bukit kembar tersebut.
  • Sering aku berpikiran, bahwa selama ini aku selalu dikelililngi oleh cewek cewek cantik dngn badan yaang bgitu indah, montok, putih, mulus dan tentu aja di anugrahi susu yaang jg montok, besar dan dngn bentuknya yaang menggiurkan, entahlah kadang aku heran apakah dngn aku yaang jelek, pendek, dngn tubuh yaang pas-pasan ini selalu mendapat godaan yaang rasanya sulit aku hindari.
  • Akhirnya tak berapa lama kemudian, ia berbalik, masih tak ngeliat ke arahku, diambilnya baju dari dallam tasnya, mengepasnya sebentar dikaca, kemudian memakainya. Kali ini Tante Melatti kulihat menggunakan Bh warna Pink, wow, bgitu serasi dngn kulitnya yaang putih, Bh yaang kulihat seperti transparant, mengaitkannya perlahan, menarik talinya kemudian mengepasnya agar menutupi seluruh toket nya.
Kemudian ia mamakai baju tadi yaang dipaskannya, mengangkat kaki kanannya, memasukkan baju tersebut dari bawah menahannya sebentar dipinggang. Kemudian menariknya keatas, serta memasukkan kedua tangannya agar tali bajunya berada tepat diatas pundaknya.

Tante Melatti, terlihat cantik dan anggun dngn memakai baju tersebut. Kulihat ia layaknya gadis yaang masih duduk dibangku kuliah, tidak nampak bahwa usia ia hampir mendekati kepala 4. Aku baru sadar, ketika tante Melatti menyemprotkan cairan pewangi ke tubuhnya, Tante Melatti sangat rapi dan cantik, dan hal itu jelas memberitahukan padaku bahwa Tante Melatti saat ini berencana utk pergi ke suatu tempat.

Ngintip Nonok Tante Eksibisionis kisah bokep indo sex, Ngintip Nonok Tante Eksibisionis cerita dewasa porno Ngintip Nonok Tante Eksibisionis
Ngintip Nonok Tante Eksibisionis

Dan tanpa kucegah dari mulutku keluar kata-kata "Tan, mo pergi kemana ? lah kirain pusing, bukannya tadi katanya gak enak badan ? "kataku seolah mengomentari penampilannya. "Udah agak mendingan nih Fan, stlah mandi barusan" sahutnya menjawabku tetapi masih tetap memandangi wajahnya dicermin, kemudian membalikkan badannya dari cermin stlah memastikan bahwa penampilannya Ok.

Aku tersenyum ngeliat nya, seperti ngeliat Moza, Mita atau Melatti yaang sering memintaku menilai pendapatnya kalau mereka akan pergi ke pesta atau akan jalan dngn temannya. "Fan, kami jalan yuk, kami ke sebelah, kan disebelah ada cafe dan music lounge, yuk kami kesana, santai sajja sebentar, mo gak ? " katanya sambill tersenyum kepadaku.

Aku agak terkaget mendengarnya, kupikir ia saat ini hendak kemana gitu, entah kesuatu tempat, keluar dari tempat ini atau sekedar berkunjung ke temannya. Tempat tujuan yaang bosen aku disuruh olehnya.

Namun kali ini berbeda, ia mengajak aku ke tempat dimana aku tidak menyangkanya. Aku hnya mengjawabnya singkat " blh " dan tanpa banyakk tanya aku mengikutinya berjalan, merapihkan bajuku satu-satunya yaang melekat dibadan, agar kelihatan rapih memasukkannya kedalam celanaku.

Tempat itu mmg tidak jauh dari ruang kamar kami, diseberang lahan parkir yaang ada, agak kebelakang, mgkin saat ini waktu sudah menunjukkan jam 10 lewat sedikit, jadi kulihat areal parkir sudah agak ramai dan penuh, lampu hias menyala silih berganti warna, seakan menjadi icon bahwa tempat itu adalah suatu arena hiburan.

Aku menurutinya, mengikutinya masuk, tetapi aku mendahuluinya ketika kita akan memilih tempat duduk, aku memeriksa ke sekeliling ruangan, bagaikan bodyguard yaang akan melindungi tuannya, memastikan semuanya aman, aman dari gangguan dan godaan yaang mgkin akan menimpa tante Malaku, memilih dan menuju salah satu meja yaang kurasa aman dan nyaman utk kita berdua.

Aku sengaja memilih posisi duduk yaang agak pojok, yaang agak gelap tetapi tidak jauh dari depan panggung, sehingga kita dapat menyaksikan grup pemusik yaang akan beraksi di depan. Seorang waitress menghampiri kami, cantik dngn kemeja warna putih dan celana jeans biru muda, menawarkan kita minuman.

Mulanya aku hendak memesan minuman ringan saja, lumayanlah utk mengisi suasana sambill mendengarkan alunan musik. namun ketika kupandang tante Melatti, kudengar kata-kata keluar dari mulutnya cukup jelas bahwa dia memesan salah satu minuman keras terbaik sambill menyebut salah satu merk terkenal dan memastikan bahwa pesananku sama dengannya.

Tercengang aku mendengarnya !. Aku hnya terdiam memandangnya, sambill memperhatikannya, aku berpikir, apakah tidak salah yaang aku dengar dan lihat ? , apakah Tante Melatti kini udh berubah ? Tante Melatti yaang dallam kesehariannya aku tahu, apakah kini sudah berubah liar ? apa yaang membuatnya demikian ? apakah ada sesuatu yaang sangat membuatnya seperti ini ? apakah ia khawatir bahwa perselingkuhannya dngn Om Hank, diketahui oleh Tante Mawwar dan akan membuat hal tersebut jg sampai ke telinga Om Jona ? sehingga hal ini membuatnya stress Satu demi satu lagu mengalir dibawakan oleh grup pemusik di depan sana, kulihat tante Melatti, beberapa kali menengguk minuman itu, menghabiskan gelas pertama dngn cepat, kemudian menuangkannya kembali dari botolnya.

Ia sesekali menyuruhku minum, meminta sebatang cigaret dariku, menyalakannya dan menghisapnya perlahan, agak terbatuk pada hisapan pertama, membuat aku tertawa krn baru kali ini aku ngeliat nya merokok. Teguk demi teguk, gelas demi gelas mengalir kedalam kerongkongan kami, seiring lagu demi lagu mengalir, tak terasa menit demi menit berlalu, mgkin 2 jam kita sudah berada disini.

Kulihat wajah tante Melatti sudah berubah memerah, sepertinya ia sudah mabuk, aku sendiri mmg merasa demikian juga, tetapi aku masih dallam keadaan sadar dan terkendali, ketika kulihat mata ia udh kelihatan seperti orang mabuk dan kadang berteriak sambill bertepuk tangan diiringi suara tertawa tak karuan, dan meminta lagu kearah depan dngn berteriak tetapi dngn suara tak jelas meracau, aku berpikir hrs bertindak cepat.

Kuraih Tante Melatti dallam pelukannku, perlahan aku mengajaknya berdiri, memapahnya, meninggalkan sejumlah uang utk membayar tagihannya dan menggiring tante Melatti keluar. Mulanya tante Melatti menolakku, berkata kepadaku agak keras agar menunggu sebentar lagi, tetapi aku takut ia akan semakin tak terkendali, sehingga dngn setengah memaksa aku memintanya utk kembali ke kamar.

Akhirnya ia menurutiku, dngn alasan yaang kelihatannya masuk akal baginya, aku akhirnya berhasil memintanya kembali ke kamar, dngn diiringi tatapan mata sejumlah pengunjung dan pelayan cafe itu. Aku tak perduli.

Memasuki kamar, Tante Melatti langsung merebahkan diri diranjang, wajahnya tersirat rasa kekesalan, tetapi entah apa yaang membuatnya seperti ini. Kututup pintu, kukunci dngn maksud agar dia tidak keluar menyelinap kembali ke tempat tadi, kupandang ke arahnya, dia sepertinya berusaha memejamkan matanya, ditutupinya dngn pergelangan tangannya.

Aku jg sepertinya setengah mabuk, kududukkan pantatku disofa, memandanginya, seakan menunggunya bereaksi, mataku kuusahakan jg terpejam. Kulihat ada gerakan dari tante Melatti, nampaknya dia berusaha bangun, turun dari ranjang, mengambil sesuatu dari tasnya, ternyata ia hendak mengganti baju yaang dikenakannya.

Kulihat dia berdiri disisi ranjang, mencium baju merah yaang dikenakannya, membaui ketiaknya, kemudian memelorotkanya, melepas Bhnya, dan mengenakan baju tidur warna hitam. dengaan wajah agak merah, akibat pengaruh minuman yaang diminumnya, tetapi itu jelas membuatnya terlihat lebih cantik, sexy dan menggiurkan.

Aku ngeliat nya, memandanginya sejenak, dngn baju tidur warna hitam, tanpa bra, kulitnya yaang putih, terlihat agak kecoklatan krn pengaruh lampu ruangan yaang agak temaram. Duduk disofa disebelahku, seolah menggodaku utk menjamahnya, memancing darah lelakiku bergolak, memompa napsu birahiku.

Kusingkirka pikiran itu jauh-jauh, kulihat dia memandangku, menunggu reaksiku, tetapi aku tak bergerak, berusaha memejamkan mata, menepis bayang2 indah didepanku. Duh mudah2an aku kuat menghadapi cobaan ini, biar bagaimanapun, walaupun jelas ia bukan muhrimku, tetapi ia adalah Tanteku, sepupu jauh dari mama ku.

Kulihat dia bangkit lg dari sofa disisiku, melangkahkan kakinya kearah pembaringan, membuka lemari pendingin disebelahnya dan kulihat dia mengambil minuman disana, membuka kalengnya dan meneguknya. Aku memperhatikannya sejenak, ada rasa haus jg menerpa, segera aku bangkit menuju lemari pendingin, mengambil botol minuman yaang kurasa cukup utk menambah rasa peningku.

Kita berdua sepertinya malam ini sama-sama mempunyai persoalan, tapi entahlah, seolah kita tak ingin saling membantu utk memecahkan persoalan itu. Seteguk demi seteguk, kuhabiskan minuman itu, membuat kepalaku semakin berat, bergerak limbung, merebahkan kembali tubuhku disofa.

Kulihat Tante Melatti sudah tergolek kembali di ranjangnya, memutar-mutar tubuhnya, bolak-balik, layaknya orang yaang resah. Kulihat pakaian tidurnya udh tidak karuan, bagian dadanya udh melorot kebawah, dan celakanya kulihat bagian bawahnya tidak menggunakan celana dlm, kini baju tidurnya hnya menutupi bagian pinggangnya aja !.

Tante Melatti memandangku, dngn mata yaang sayu, menatapku, "Fan, sini fan, temenin Tante Bobo, badan tante kok panas dingin begini ? " katanya kepadaku. Mataku kukejap-kejapkan, seolah hendak mengusir pening akibat pengaruh minuman yaang kutenggak, memandangnya nanar, berusaha bangkit.

Entahlah apa yaang ada didalam pikiranku, seakan blank didalam otakku dan ada iblis yaang membisiku utk memanfaatkan peluang ini. Melangkah dngn nanar, kubuka baju kemejaku, celana panjangku, dngn hnya bercelana pendek, kurebahkan tubuhku disisinya, mensejajarkan dngn badannya, seakan ingin membuatnya tenang dan berbaring disebelahnya, terpejam.

Rasa pusing akibat minuman keras membuatku lupa diri, ingin tidur pulas tetapi seolah ada beban dipikiranku, kupejamkan mata dngn menutupinya dngn lenganku, berusaha menepis bayang-bayang kotor yaang berkelebat. Beberapa menit berlalu, hingga.

Kudengar sayup-sayup seperti orang menggumam ditelingaku. "Mas, maafkan aku ya ? , jangaan marah ya Mas, aku gak akan mengulanginya lagi, Mas. maafin ya mas ? " , entah ditujukan kepada siapa hal itu, Tante Melatti tak mgkin mmg gil aku dngn sebutan Mas, tetapi siapa lg orang lain disini yaang diajaknya berbicara selain aku.

Dallam kepeningkanku, tak kuhiraukan gumaman dan ocehan2 Tante Melatti, aku tak peduli, yaang jelas saat ini didalam otakku adalah berusaha utk tidur dan berharap pening yaang melanda otakku dapat segera hilang.

Namun hal tersebut tak berlangsung lama, dallam kesadaranku yaang tidak sepenuhnya, kurasakan disebelahku Tante Melatti bangkit. Entah apa yaang akan dilakukannya, yaang jelas saat ini aku hnya fokus pada rasa pusing yaang melandaku, tapi ada rasa aneh melanda, aku berusaha membuka mataku yaang semakin berat, berusaha ngeliat apa yaang terjadi.

Tiba-tiba kurasakan celana pendekku seperti ada yaang menarik, memelorotkannya kebawah, mengeluarkannya dari kakiku, hingga membuatku telanjang bulat, entahlah sepertinya aku tak kuasa utk menahannya, seperti membiarkannya terjadi, serta menunggu apa yaang akan terjadi selanjutnya.

Aku layaknya cowok lugu, yaang tidak mengerti apa yaang sedang dan akan terjadi, berusaha membuka mata, tetapi seakan ngeri utk membayangkannya, dan berusaha memejamkan matanya kembali. Kulihat tante Melatti sedang memegang kontol ku, membelai-belainya, memegang batangnya mengocoknya perlahan, membuat kontol ku yaang semula rebah, bangkit, menegang dan membuatnya mengeras.

Ada rasa geli bercampur enak kurasakan, sulit utk kubayangkan, krn sepertinya ini baru pertama kali terjadi padaku. Seorang cewek cantik memegang kemaluanku dan membuatnya bangkit, membuat darah kelaki-lakianku bergolak, yaang biasanya aku lakukan sendiri, kini dilakukan oleh seorang cewek cantik yaang selalu menjadi imajinasiku dallam bercinta.

Terhenyak aku ketika kurasakan rasa nikmat yaang sangat, kutundukkan kepala utk ngeliat kearah bawah selangkanganku, kulihat saat ini Tante Melatti, layaknya seorang profesional, memegang kontol ku, mengarahkannya kepada toket nya, mengocok-ngocoknya, menekan kepala kontol ku menyentuh puting toket nya, kemudian ia menaruh diantara keduanya, dibelahannya dan memaju-mundurkan badannya, seakan akan kedua toket indah, putih, dan montok itu sedang mengurut-ngurut kontol ku.

Aku hnya bisa mendesah, merasakan kenikmatan yaang sulit kubayangkan, kontol ku semakin menegang. Tak lama kemudian, seperti ada yaang menarik kontol ku, agar lebih memanjang, mengurutnya perlahan, entah apa yaang ada, kudengar lenguhan dan dengusan tante Melatti, perlahan seolah menahan napas dan menghembusnya pelan, Tante Melatti terlihat sedang memasukkan kontol ku kedalam mulutnya !.

Aku menggelinjangkan badanku, merasakan sensasi yaang baru pertama kali kurasakan, menarik napas dlm-dlm dan menghembuskannya perlahan, merasakan kenikmatan yaang penuh sensasi. Aku hnya dapat mengejap-ngejapkan mataku seakan memintaku utk sadar, bahwa kenikmatan yaang kualami ini adalah benar-benar suatu yaang real, benar-benar terjadi.

Beberapa menit berlalu, kontol ku semakin menegang, ketika tiba-tiba kontol ku serasa dicengkeram, kurasakan Tante Melatti seperti menaikiku, mengangkangkanku seakan ingin menaruh pantatnya diatas kontol ku, dallam pandangan nanarku kurasakan kontol ku dipegang dan diarahkan kekemaluannya.

Perlahan tetapi pasti, Tante Melatti mengarahkan kontol ku kelubang nonok nya, seolah akan mendudukinya, mencobloskannya, hingga seluruh batang kontol ku seakan masuk tertelan oleh rongga itu. Ada rasa hangat dan basah ketika kontol ku masuk kedalamnya, dallam ketidaksadaranku, aku mencoba meraih tubuhnya, berusaha bangkit dari tidurku, tetapi aku seperti tak mempunyai tenaga utk bangkit, tak berdaya, hnya bisa pasrah menerima perlakuan ini.

Tak lama kemudian, kurasakan tante Melatti dngn bertumpu pada kedua kakinya, menaik turunkan pantatnya, sehingga kontol ku yaang berada dibawahnya seakan-akan keluar masuk, aku hnya bisa mendesah keenakan dan sesekali ikut irama pantatnya dngn mengangkat pantatku.

Pening yaang melanda kepalaku seakan menjadi beban tersendiri, menyesal aku tadi banyakk minum, sehingga apa yaang terjadi saat ini tidak sepenuhnya berada dallam kesadaranku. Tante Melatti sepertinya jg tidak dallam keadaan sadar, entah apa yaang dilakukannya itu, benar-benar terjadi seperti yaang diinginkannya atau diluar kesadarannya.

Desahan yaang keluar dari mulutnya semakin tidak teratur, terengah-engah, dngn desisan disertai lenguhan dan kata-kata yaang tak jelas, terdengar ditelingaku. Menit demi menit, berlalu kurasakan tante Melatti kulihat semakin liar tak terkendali, baru kudengar dan kualami sendiri, Tante Melatti terlihat menggoyang-goyangkan tubuhnya kekiri dan kekanan, menggoyang-goyangkan pantatnya naik turun, maju mundur, seakan hendak menggilas kontol ku dngn pantatnya, seakan kenikmatan yaang tiada tara sedang melandanya.

Memelukku, menindihkan badannya diatas tubuhku, sambill tak henti-hentinya menggoyang-goyangkan pantatnya, terus. terus. dan terus. Ketika kurasakan cengkraman pada kontol ku semakin keras, ketika kurasakan adanya goncangan dari tubuh Tante Melatti, ketika kurasakan adanya jeritan dan rintihan yaang keluar dari mulutnya, ketika kurasakan adanya getaran yaang melanda tubuhnya.

Entahlah mgkin ini sensasi yaang pertama kali kurasakan, ada kenikmatan tersendiri ketika ngeliat raut wajah kepuasan tergambar dimatanya, ketika kulihat ia menengadahkan kepalanya dngn menjerit dan merintih menandakan sudah dicapainya titik klimaks yaang diinginkannya.

Tak tahan aku menahan kenikmatan yaang kurasakan juga, serasa sesuatu akan meledak dari ujung kontol ku, ingin mencapai titik kulminasi sama seperti yaang dialaminya. Ketika cengkeramannya semakin ketat, kugapai tubuhnya, berusaha mendorongnya, ingin kuhindari hal yaang tak diinginkan, kupaksakan utk menarik cepat kontol ku keluar dari lubang kenikmatan itu, menghindari semburan maniku keluar dari rahimnya.

Namun rasanya aku tak kuasa utk membendungnya, beberapa saat menjelang tercabut dari lubang nonok nya, kurasakan semburan panas melanda, memuncratkan sebagian isinya, didalam lubang kenikmatan tersebut. Kurasakan kita berdua sama-sama lemas, tenaga kita seakan tersedot habis, aku hnya menatapnya, memandang wajahnya.

Wajah tanteku yaang cantik, yaang selama ini hnya dapat kubayangkan, yaang sering menjadi bahan imajinasiku dallam bercoli ria, yaang selama ini hnya dapat kunikmati tanpa dirinya mengetahuinya, kini berbalik malah beliaulah yaang menikmatiku, dallam keadaan diriku yaang setengah sadar.

Sosok cantik kini terbaring didalam pelukanku, rebah diatas tubuhku, dngn wajah terpejam, penuh kepuasan. Aku mencoba menyadarkan diri, berusaha utk bangun, mencubit diriku utk meyakinkan aku bahwa yaang kualami ini bukanlah mimpi.

Berusaha meyakinkan diriku bahwa cewek yaang kini dallam pelukanku ini adalah benar-benar dia, benar-benar tante Melatti. Kupandangi langit-langit kamar, kucoba menerawang kejadian-kejadian yaang terjadi pada diriku hari-hari terakhir ini.

Kulihat wajah bersimbah peluh didadaku, menggeserkannya, memindahkannya, dan merebahkannya disampingku. Kutatap wajah cantik polos disisiku, memiringkan tubuhku menghadapnya, terlihat tante Melatti terpejam, seperti tertidur pulas, wajahnya masih berona kemerah-merahan.

Bunyi napas teratur seperti keluar dari mulutnya, dan tak lama kulihat matanya terlihat terbuka sedikit, seperti diriku bertatapan aku dngn matanya. namun tak kulihat ekspresi kaget atau apa, yaang keluar tergambar dari wajahnya, sepertinya ia sendiri belum sepenuhnya sadar dngn apa yaang terjadi barusan.

Aku memandangi wajah cantik, putih dngn bibir sensual dihadapanku, menatapnya dan menuruni pandangan kebawah, keseluruh lekuk tubuhnya, mulai dari lehernya yaang jenjang, dadanya yaang membusung padat, lekuk pinggangnya dan perutnya yaang ramping terjaga, memandangi rambut tipis kehitaman yaang tumbuh dibukit kemaluannya, pahanya yaang mulus dan dngn betis yaang bentuknya bagaikan bulir padi.

Namun sungguh tak kuduga sama sekali memandang hal ini membuat dedeku yaang semula rebah, menjadi bangkit lg !. Entah dorongan dari mana, ingin sekali kupuaskan diriku lagi. Ingin merasakan tubuhnya lagi, sepuas-puasnya, seakan ada yaang mengatakan kepada diriku bahwa mgkin ini adalah kesempatan satu-satunya, kesempatan pertama dan terakhir yaang mgkin akan terjadi pada diriku.

Tak lama aku segera bertindak, berusaha membuat tegang dedeku, memegangnya dngn tanganku, mengurut dan mengocoknya perlahan, utk membuatnya semakin tegang dan mengeras. Tanpa menunggu lama, aku bergerak menindih tubuh Tante Melatti, menciumi wajahnya, bibirnya, dngn penuh napsu, mengulumnya, memainkan lidahku di dallam mulutnya.

Tak ada reaksi dari Tante Melatti, ekspresi wajahnya seakan pasrah, seakan menyuruhku utk memuasinya semampu yaang aku lakukan. Aku berpindah mengarahkan ciumanku ke arah lehernya, ketelinganya, memainkan lidahku dicuping telinganya, membuatnya tergetar dan kemudian mengarahkan ciumanku kearah dadanya.

Kukecup pelan dada putih, besar dan montok itu, menciuminya, memainkan lidahku mengelilingi putingnya. Kulihat kepala ia menengadah, menikmati kembali sensasi yaang kuberikan. Aku hentikan sejenak, tetapi kulihat diwajahnya seakan memprotes diriku, memintaku utk meneruskan apa yaang kulakukan dan bahkan menginginkannya lebih.

Aku memainkan lidahku kearah putingnya, memasukkan puting coklat kemerah-merahan itu kedalam mulutku, memainkannya dngn lidahku, kuhisap, kesedot dan sesekali kugigit perlahan. Kuremas toket itu dngn tanganku berganti-ganti dngn hisapan dan mainan lidahku, membuatnya kelihatan seperti orang yaang blingsatan.

Aku menuruni dadanya, mengarahkan ciumanku terus kebawah, mengecup seluruh tubuhnya, mulia dari bawah dada, perut hingga mencapai bukit indah dibawah. Kecium dan kumainkan lidahku disekitar paha dan kemaluannya, membuatnya menggelinjang krn geli tertahan.

Membangkitkan gairahnya kembali, ketika kecupan akan kuarahkan ke selangkannya, kurasakan bagian itu sudah basah kembali. Tak perduli dngn keadaan, kubuka kedua paha yaang panjang itu agar terbuka lebar, kususupkan kepalaku diantara kedua pahanya, kumainkan lidahku di sana, dibibir kemaluannya.

Kutengadahkan kepalaku keatas, kepandang wajahnya, kulihat wajah Tante Melatti udh menggambarkan keinginan yaang sangat. Keinginan agar kepuasannya terpenuhi. Kuhentikan sasaran lidahku pada area nonok nya, merangkak naik, meniti tubuhnya.

Kuarahkan kontol ku kelobang kenikmatan yaang sudah basah itu, perlahan kumasukkan dan kudorong masuk kedalamnya, sambill kupandangi wajahnya, kulihat Tante Melatti memandangku dngn sayu, seperti tak sadar dngn siapa dirinya bersetubuh, berusaha mengerenyitkan matanya utk mengetahui siapa sebenarnya diriku, tetapi disisi lain seolah meminta kepadaku agar segera melanjutkan apa yaang sudah aku mulai.

Kedesakkan kontol ku kedalam rongga kenikmatan itu, memaju mundurkannya perlahan, memegang kedua lututnya, seakan membantuku utk menahan tubuhnya agar tak terdorong kedepan. Perlahan kudorong, dan kulesakkan tiba-tiba, seakan aku ingin menyentuh ujung rahimnya dngn kepala kontol ku, memberikannya sentakan yaang membuatnya menjerit tertahan.

Kemudian kutarik perlahan dan kusentakkan kembali mendorongnya, berkali-kali. Aku seakan ingin mengatakan kepadanya, inilah kontol terbaik, kontol yaang mampu memberikan kenikmatan yaang lebih baik dibandingkan kontol yaang dimiliki oleh Om Jona dan Om Hank.

Kugoyang-goyangkan pantatku kekiri dan kekanan, memberikan irama yaang bervariasi kepadanya, memaju mundurkannya, perlahan , makin cepat, cepat, semakin cepat. Dada tante Melatti seolah ikut berguncang-guncang, toket nya seakan terbawa arus, kepalanya menengadah keatas, ia seakan berusaha menahan toket nya agar tak ikut bergoyang, memegang denga kedua tangannya, tetapi hal ini malah membuat seolah-olah tangannya membantu utk memberikan kepuasan kepada dirinya melewati remasan-remasan pada toket nya.

Indah sekali pemandangan yaang kusaksikan ini, wajah cantik, body mulus dihadapanku, tersaji dngn siap sedia, memberikan kenikmatan kepadaku dngn tiada taranya. Aku mendesah tak karuan menikmati sensasi yaang kualami ini, sensasi yaang biasanya kudapatkan tanpa perlawanan, kini terjadi sebaliknya, dimana cewek yaang selama ini menjadi bahan hasrat seksualku kini melayaniku, dngn hasrat birahinya.

Entah berapa lama ini terjadi, kulihat Tante Melatti udh mengerang tak karuan, merintih, mendengus, melenguh tak terkendali, kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan seakan kenikmatan yaang kuberikan sangat dahsyat.

Aku memandang wajahnya dngn penuh napsu, tiada kata yaang dapat kugambarkan saat ini, aku hnya dapat menggumamkan kata-kata "Ouugghh Tante. Ooughh. " sambill terus mendorong, menarik, memaju-mundurkan kontol ku kedalam nonok nya.

Bersamaan dngn jeritan dan erangan yaang keluar dari mulut Tante Melatti, kurasakan kontol ku seperti hendak kembali meledak, ingin mengeluarkan cairan putih kental, tak ada kesempatan bagiku utk berpikir, tetapi nalarku berjalan cepat.

Ingin segera kutarik keluar kontol ku dan mengeluarkannya diluar lubang kemaluannya, menghindari hal-hal yaang tak diinginkan. Ketika saat itu hendak terjadi, Tante Melatti seakan mengerti dan faham, ia bangkit hendak memelukku, seolah hendak memaksaku mengeluarkan cairan hangat kental itu didalamnya, sehingga aksi yaang bertolak belakang terjadi.

Kudengar jeritan tertahan keluar dari mulutnya "Mas", hnya itu yaang sempat kudengar, tetapi fokus pikiranku berada diujung kontol ku, kurasakan sesuatu sudah melesak keluar, kontol ku yaang semula hendak kutarik keluar dari lubang kenikmatan tersebut, sebelum keluar semua, sudah memuncratkan cairan tersebut didalamnya.

Ooh. Terhenyak aku dallam keterkejutan, terdiam, terduduk lemas, menarik napas dlm-dlm dan menghembuskannya perlahan. Kulihat Tante Melatti terlihat memancarkan senyum kepuasan, mengatur napasnya yaang tadi terengah-engah agar beraturan kembali.

Meletakkan tangan kirinya diatas perutnya sementara tangan kanannya tergolek lemah disamping tubuhnya kepalanya tergolek kekanan, tersenyum dngn mata terpejam. Aku merebahkan diri disamping kirinya, mensejajarkan tubuhku dngn tubuhnya. Tubuh kita berdua serasa mandi peluh, merasakan hembusan hawa yaang keluar pendingin ruangan, menunggu hingga tubuh kita mendingin.

Aku menarik selimut dibawah kaki kami, menutupi tubuh kita yaang polos tanpa busana, membuatnya agar tetap hangat. Aku memejamkan mataku, berusaha utk tertidur. Tak berapa lama kudengar dengkur halus disebelahku, diiringi bunyi napas teratur.

Masih pening kepalaku, berusaha menerawang dan fokus ke satu pikiran, banyakk bayangan berkelebat dallam kelopak mataku, semakin lama semakin gelap, gelap dan gelap. Pagi hari, terbangun aku dngn kepala masih terasa berat, kulihat tante Melatti masih tertidur pulas, matahari mgkin sudah meninggi, ada rasa mendesak yaang ingin keluar dari ujung kontol ku, memaksaku melangkahkan kaki ke kamar mandi.

Kubuang air seni dngn derasnya kedalam toilet, kemudian kuputuskan utk menyegarkan badanku dngn mengguyurnya dngn air, dingin menerpa seluruh badanku, segar. Entah berapa lama aku melakukan ritual pembersihan badan ini, dari mulai berendam, menyabuninya, menggosok seluruh badan, hingga mengeruk daki yaang menempel (dapet kali barang sekilo mah, ada yaang minat ? ).

Selesai mandi, kulihat tante Melatti jg terbangun, kulihat ia sama sepertiku ketika aku bangun tadi, layaknya orang linglung, aku mencoba tersenyum kepadanya, dibalasnya dngn senyuman juga, tetapi terasa hambar.

Dallam hatiku timbul pertanyaan, apakah Tante Melatti sadar dngn apa yaang sudah kita lakukan semalam, apakah ia sadar bahwa ia semalam sangat liar sekali ketika bersetubuh denganku ? apakah ia menyadari bahwa ia semalam melakukannya dngn aku ? keponakannya ? Entahlah.

Kulihat Tante Melatti menggeliatkan badannya, seolah berusaha menghilangkan rasa pegal yaang melandanya, tetapi sesaat kemudian ia seperti terpaku, duduk termenung. Entahlah, aku tak dapat membaca jalan pikirannya, saat ini yaang kupikirkan adalah nasibku, bagaimana nasibku jika seandainya ia tahu bahwa aku menidurinya ? apa yaang hrs kulakukan jika tiba-tiba aja Tante Melatti menyadarinya ? entahlah.

Berusaha aku melepaskan bayang-bayang itu, kulihat tante Melatti bangkit dari ranjang dan berjalan melangkah menuju kamar mandi.
Ngintip Nonok Tante Eksibisionis
Ngintip Nonok Tante Eksibisionis, cerita sex , Ngintip Nonok Tante Eksibisionis kisah bokep indo sex, Ngintip Nonok Tante Eksibisionis cerita dewasa porno Ngintip Nonok Tante Eksibisionis, bacaan porno, kisah seks, cerita bokep cerita dewasa, Ngintip Nonok Tante Eksibisionis


Aktifkan javascript tekan (F5), untuk membuka halaman
klik link cerita
serta membuka gambar lebih besar.
Cerita seks dewasa update setiap hari.
http://foto-video-cerita-dewasa.blogspot.com/